Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Motivasi
Setelah berbagai pergelutan dengan otaknya, Arinta tetap pada keputusan pertamanya.
Pikirannya sudah larut dalam kabut gelap, segelap langit yang kini menaunginya. Ia tengah duduk di pinggir jalan, di depan sebuah toko parfum. Ia sengaja mencari tempat yang cukup ramai untuk merenung, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Arinta mungkin sudah berjalan cukup jauh, entah sudah sampai mana. Sambil menggenggam roti dan sebotol minuman, ia menatap lalu-lalang manusia, motor, mobil, serta angkutan umum.
Tunggu! Angkutan umum? Kenapa ia tidak kepikiran untuk naik angkutan umum saja?
Arinta langsung beranjak untuk menyetop angkot yang sedang lewat. Namun, sebelum niatnya terwujud, seseorang telah lebih dahulu menarik tangannya.
"Mbak, uangnya jatuh! Tadi saya panggil, nggak nengok-nengok."
Arinta melongo menatap laki-laki di hadapannya yang terlihat jauh lebih muda dibanding saat terakhir kali ia melihatnya.
"Ayah?" gumamnya.
Zaid mengernyit bingung.
Arinta buru-buru menyadarkan dirinya.
"Ah, maksudnya makasih."
"Sama-sama, mbak." Zaid buru-buru pergi, sepertinya takut dengan tatapan kagum perempuan aneh di depannya.
Arinta masih diam menatap punggung laki-laki itu yang sudah mendekat ke arah seorang perempuan berhijab penjaga toko parfum.
"Kok... S-salim? I-itu ibu?" gumam Arinta, sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat.
Saking cuek dan tidak pernah memperhatikan, Arinta sampai tidak bisa mengenali ibunya sendiri. Padahal ia pernah melihatnya lewat foto.
"Ibu? Ayah? Arinta di sini.." tanpa sadar, Arinta mulai meneteskan air mata.
"Arinta nggak mau tinggal sama orang asing... Arinta mau tinggal sama ibu, ayah," tambahnya.
Arinta tersentak dan otomatis menghapus air matanya saat mendengar klakson motor.
"Ngegalau jangan di tengah jalan, woi!"
Arinta menoleh, menatap sosok tak asing yang ada di atas motor.
"Arinta?!" ucapnya, sedikit tak menyangka.
"Kita ketemu lagi, Andre..." Arinta memaksakan tersenyum.
Kini keduanya ada di warung pinggir jalan, atas dasar permintaan Arinta yang masih tidak mau pulang.
"Kenapa kabur? Berantem lagi sama abang lu?" tanya Andre.
Arinta malah tersenyum getir.
"Kemana aja lu seminggu kemarin? Takut ketemu Deri?" tanya Arinta mengalihkan.
"Nggak, emang lagi malas sekolah aja."
"Emang sekolah punya nenek moyang lu? Sekolah itu kewajiban, bukan pilihan yang bisa suka-suka hati sekolah atau nggak."
"Halah. Pendidikan nggak menjamin kehidupanmu bisa berjaya. Banyak kok yang berpendidikan, tapi malesnya nutug, terus malah jadi sampah masyarakat. Yang nggak berpendidikan malah biasanya lebih rajin, karena mereka tahu, kalau mereka nggak berusaha apapun, mereka bakal lebih nggak dianggap lagi. Yang lebih parah, udah miskin materi, miskin otak, nggak rajin, miris banget rakyat Indonesia," ucap Andre.
"Emangnya lu rajin? Kayaknya yang barusan lu sebut ada didiri lu semua deh," ucap Arinta tanpa rasa bersalah.
"Iya juga ya."
Arinta tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi gua rajin kok."
"Rajin apa? Rajin bolos?" tanya Arinta meledek.
"Lu nggak tau apa-apa, Ta."
Atmosfer di sekitar mereka tiba-tiba terasa panas, sepertinya ada yang sedang terbakar api kemarahan.
"Apa yang gua nggak tau? Lu bisa cerita!"
"Gua bantu bapak gua kerja."
Tidak sesuai prediksi, ternyata Andre mau bercerita.
"Seminggu kemarin, bapak gua sakit, padahal lagi ada tawaran borongan. Jadi gua aja yang ambil."
Arinta syok mendengarnya.
"Jadi kuli? Tapi kan kemarin lu... Lu lagi sakit, lagi bonyok gitu, kok?" Arinta terlihat kesulitan merangkai kalimatnya.
Arinta masih menatap Andre tak percaya. Hatinya seperti diremukkan ketika beradu pandang dengan mata lelah dan wajah kusam terbakar matahari itu.
Dunia terlalu keras pada anak laki-laki di hadapannya ini. Namun, tetap saja Arinta tidak bisa memaklumi kenyataan kalau Andre adalah seorang kriminal, ya walaupun saat ini Andre belum melakukannya.
Mata Arinta memanas. Terharu?
"Nggak usah ngeliatin gua begitu. Gua nggak semenyedihkan itu kok menurut orang-orang."
"Siapa yang bikin lu bisa sekuat ini? Kenapa lu bisa seterima ini sama takdir Tuhan yang nggak adil?" tanya Arinta dengan suara bergetar menahan tangis, memang agak cengeng anaknya.
Andre tidak memprediksi pertanyaan tersebut, ditambah dengan air yang tidak terbendung dari kedua mata teduh gadis di sebelahnya.
"Kenapa luu nangis? Ada yang salah? Gua salah?"
Arinta menggeleng, berusaha menghilangkan jejak-jejak air matanya.
"Lu hebat." Arinta berusaha tersenyum.
"Gua nggak sehebat yang lu pikir. Gua juga masih sering marah sama Tuhan, gua juga masih sering ngelawan dan nyalahin emak sama bapak, gua juga masih sering ngelanggar aturan sekolah, gua masih sering ngelanggar aturan Tuhan."
"Gua cukup tau diri buat nggak minta kebahagiaan sama Tuhan. Raga yang Tuhan kasih nikmat penglihatan, pendengaran, dan ribuan nikmat lainnya, malah gua pake buat ngelakuin hal-hal nggak bener yang bertentangan sama aturan-Nya. Apa masih pantes gua nuntut dikasih kebahagiaan kalo gua aja jadi hamba yang pembangkang?" tanya Andre dengan sedikit meninggikan suaranya, seolah mengomeli dirinya sendiri.
"Lu pantes dapet kebahagiaan kalo lu berusaha memantaskan diri, Ndre!" ucap Arinta.
"Udah telat, Ta. Gua udah terlalu lama jauh dari Tuhan. Dan ini mungkin hukuman Tuhan buat gua. Gua udah ngerasa nggak pantes, gua malu sama Dia."
"Nggak ada kata telat, Ndre. Tuhan masih nunggu lu sampai seumur hidup lu, kapanpun itu."
"Gua juga malu kalo tiba-tiba gua berubah jadi alim, rajin ibadah, taat peraturan, pasti jadi bahan omongan. Yang ada nanti gua diceng-cengin sama temen-temen."
Arinta berdecak tak percaya.
"Sekarang lu nyari alasan lain buat dijadiin pembenaran? Omongan orang, penilaian lu terhadap diri lu sendiri, terus alasan apa lagi?"
"Lu itu bukan malu, tapi emang diri lu sendiri yang nggak punya kemauan! Kalo lu niat, lu nggak akan mikirin hal negatif apapun, karena yang lu pikirin cuma gimana caranya supaya diri lu bisa ngelakuin hal itu."
Andre tidak membantah lagi. Raut wajahnya malah terkesan malas.
"Kenapa jadi sesi dakwah begini sih?"
Arinta menghembuskan napas kasar, frustasi lebih tepatnya.
"Lu tuh ya... Apa sih sebenernya yang ada di dalam pikiran lu? Kenapa bisa sekeras kepala itu?"
"Tadi lu muji gua hebat. Sekarang ngatain keras kepala. Haha... Bukti nyata kalo manusia bisa berubah secepat itu." tawa Andre garing.
"Lu sendiri yang bikin penilaian gua berubah," sahut Arinta tak terima.
Andre kembali terkekeh.
"Iya iya maaf. Gua bakal ngikutin apa kata lu kok, tapi ada syaratnya."
"Syarat buat siapa? Gua?" tanya Arinta menunjuk dirinya sendiri.
"Tepat." Andre mengangguk.
"Kok jadi gua? Kan ini urusan lu sama Tuhan! Kenapa bawa-bawa gua?!"
"Ya udah. Kayaknya gua mau jadi pembangkang terus deh kalo gitu."
"Dih. Lagian segala ada syarat segala. Emang apa sih?" tanya Arinta yang akhirnya ingin tahu juga.
"Lu nggak boleh kabur-kaburan dari rumah lagi. Kasian abang lu."
Arinta tidak menyangka permintaan itu keluar dari mulut Andre.
"O-oke. Setuju!"
Andre menjabat tangan Arinta sebagai tanda persetujuan.
***