NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Maaf Yang Tidak Terduga

Kata-kata Kael terus berputar di kepala Aeros. 𝘒𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘬𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘤𝘰𝘸𝘰𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘬.

Aeros mengembuskan napas frustrasi, melirik piring Sael yang masih menyisakan roti dan telur setengah matang buatannya.

Aeros bangkit berdiri. Ia mengambil segelas susu cokelat hangat dan piring sarapan Sael yang baru, lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.

Di depan pintu kamar Sael, Aeros berdeham kaku sebelum mengetuk pintu kayu itu, menghilangkan kegugupannya.

𝘛𝘰𝘬 𝘛𝘰𝘬 𝘛𝘰𝘬

"Sael? Ini aku. Buka pintunya," panggil Aeros.

Tidak ada jawaban dari dalam. Sael benar-benar sedang merajuk.

Aeros tidak menyerah. Ia memutar kenop pintu yang tidak dikunci oleh Sael. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Sael sudah berganti pakaian rapi menggunakan kemeja kerja berwarna biru muda dan rok sepan hitam. Gadis itu sedang memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya dengan gerakan kasar.

Aeros melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu menaruh nampan berisi sarapan dan susu hangat itu di atas meja kerja Sael.

"Makan dulu. Tadi kamu baru makan sedikit kan," ujar Aeros.

Sael melirik nampan itu sekilas, lalu menatap Aeros kesal. "Nggak usah. Aku kan kerbau, makannya nanti aja kalau udah di kandang."

Sindiran itu membuat Aeros mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Aeros melangkah mendekat.

"Aku... nggak bermaksud ngomong gitu tadi," ucap Aeros pelan, matanya menatap lurus ke mata Sael. "Aku minta maaf. Semalam aku tahu kamu kecapean malah aku maksain kamu suruh bantu liat berkas ku. Maaf ini salahku."

Sael tertegun sejenak. Alisnya terangkat sebelah,

"Kerbau? Kakak ngatain aku kerbau, aku sejelek itu ya?" tanya Sael.

"Mulutku ini emang sialan kalau pagi. Maaf," jawab Aeros cepat dan jujur, sambil menepuk mulutnya.

"Kalau perlu, aku bakal berlutut di sini sampai kamu memaafkan aku" ujar Aeros sungguhan, ia bahkan sudah bersiap-siap untuk berlutut.

"Apaan sih, jangan kaya gini" Sael dengan cepat menarik lengan Aeros.

Aeros bangkit dengan senyum kecil lalu mengambil gelas susu cokelat hangat dan menyodorkannya ke depan wajah Sael. "Minum ini, terus habiskan rotinya. Setelah itu aku antar kamu ke kantor."

Sael menatap gelas susu itu, ia akhirnya menerima gelas itu. "Aku bisa berangkat sendiri, Kak."

"Sekalian aja bareng aku. Mobil ku udah siap di bawah," potong Aeros, "Buruan. Aku tunggu di mobil." Aeros bergegas keluar dari kamar Sael.

Sael menatap pintu yang tertutup dengan helaan napas pendek, lalu meminum habis susu cokelat buatan Aeros.

Sepuluh menit kemudian, Sael sudah duduk di kursi penumpang mobil hitam milik Aeros. Ia bersandar santai, menatap jalanan kota yang mulai padat melalui kaca jendela.

Aeros sesekali melirik Sael dari sudut matanya. Melihat Sael yang tampak lebih tenang.

"Nanti malam kamu lembur lagi?" tanya Aeros saat mobil mereka berhenti di lampu merah.

"Enggak tahu. Tergantung draf revisi dari klien," jawab Sael cuek, jemarinya sibuk membalas pesan di ponsel.

Melihat Sael yang fokus pada ponselnya, dada Aeros kembali berdenyut. "Lain kali kalau makan daging porsi banyak begitu, jangan malam-malam. Lambungmu bisa kaget, apalagi kalau habis itu kamu langsung tidur," ujar Aeros.

Gerakan jemari Sael terhenti. Ia menoleh, menatap samping wajah tegas Aeros yang sedang fokus menatap lampu lalu lintas. Sael menyipitkan matanya curiga. "Kak Aeros kemarin sore liat aku di rumah makan?"

"Hmm... Aku nggak sengaja lewat rumah makan itu kemarin sore. Jalanan macet," jawab Aeros melirik Sael sekilas.

"Oh," sahut Sael singkat, lalu kembali menatap ponselnya.

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan lobi gedung firma hukum tempat Sael bekerja. Sael melepas sabuk pengamannya, lalu meraih tas kerjanya.

"Makasih tumpangannya, Kak Aeros," ucap Sael membuka pintu mobil.

"Sael," panggil Aeros.

Sael berbalik, "Ya?"

"Nanti malam... kalau enggak lembur, aku jemput," ujar Aeros, kalimat itu meluncur begitu saja,

Sael mengerjapkan matanya, ia mengangguk sekali. "Hm, nanti aku kabari."

Gadis itu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung. Aeros terus menatap punggung Sael hingga siluetnya benar-benar hilang di balik pintu kaca lobi.

Ia menyandarkan punggungnya ke jok mobil, menyunggingkan senyum tipis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!