Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Jadi seperti itu cerita nya, karena itu saya pas lihat kalian bertiga hal yang terlintas di benak saya yah, Hendrik, jasper, dan Leo. Bapak kalian bertiga itu lah”
“Wah, kan benar gua bilang. Bapak kita bertiga itu besti sejati” ujar Dimas dengan bangga, berbanding terbalik dengan Bagas yang malu dengan tingkah random sahabat nya itu.
“Seperti itu yah, nah kalau di kejadian sekarang kan penyebab nya Alfin dan bunga. Kalau tahun tahun lalu itu siapa pak?”. Tanya pak yahman dengan penasaran.
“Dia adalah … ayah nya Alfin, dia dalang dari bangkit nya sosok pamali yang ada di kampung ini”
“Apa ayah nya Alfin” kaget mereka setelah mendengar jawaban dari pak Bayu.
“Iya,ayah nya Alfin veno dan karena itu lah sosok pamali di kampung bisa berkeliaran bebas dan yah para warga di sini pun mulai kembali melakukan persembahan kecil kecilan seperti sesajen” Jelas pak Bayu.
“Ternyata seperti itu yah pak, makasih banyak nih sekali lagi sudah membantu kami” Tutur pak Yanto.
Tidak terasa mereka sudah sampai di dekat villa. “Loh, pak rumah bapak kelewatan” kata pak yahman.
“Emang iya, istri saya minta tidur di rumah mama nya nek wekar. Sekalian jagain beliau kan sudah tua” jawab pak Bayu langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah mertua nya.
Pak yahman, pak Yanto, pak Rusdi dan ketiga nya langsung masuk kedalam.
“Langsung ambil stok garam di gudang” ujar pak Yanto memberikan arahan kepada ketiga murid cowok nya itu.
“Baik pak” Farhan, Dimas dan bagas langsung jalan cepat menuju gudang.
Sesampainya di gudang setiap dari mereka membawa satu plastik berisi garam.
“Pak ini kita langsung naburin garam sekitar villa yah?” Tanya Bagas.
“Iya langsung saja” jawab pak Yanto menyiapkan sesajen dibantu oleh pak Rusdi dan pak yahman.
Bagas, Farhan dan dimas mereka segera ke luar villa dan mulai menaburi garam setiap sudut luar villa, tanpa ada terlewatkan.
Dan butuh waktu 30 menit buat ketiga nya selsai menaburi garam di sekitar villa, pas di jam 3 sore.
“Lu nyangka gak kalo akar masalah yang bKal kita alami ini ternyata om veno si ayah nya Alfin?” Tanya Dimas dengan sedikit mencibir mulut nya.
Bagas dan Farhan yang melihat hanya bisa tepuk jidat. “Mirip emak nya sih dia”
“Bukan, tepat nyalebih mirip bapak sama emak nya sih” sahut Bagas.
“Ha? Sama aja jir mirip mak nya” bantai Farhan tidak sadar jika dari tadi Dimas memperhatikan mereka berdua dengan ekspresi tidak heran dengan kedua nya.
“Beda lah, lu cuma bilang si Farhan mirip emak nya lu gak nyebut dia mirip bapak nya juga. Yah konteks nya beda dong” jelas Bagas yang merasa ucapan nya lebih benar.
Sampai pak Yanto menghampiri Dimas karena mendengar perdebatan random itu. “Tumben sekali mereka debat, biasanya akur terus. Itu debat karena apa sih?”
“Debatin saya mirip mak saya, atau mirip bapak saya atau mirip mak dan bapak saya”
Pak yahman yang mendengar jawaban dari Dimas, hanya bisa menghela nafas panjang. ‘memang agak lain lah mereka berdua ini, bisa bisa nya debat kek gitu di situasi yang baru saja hampir bikin jantung copot’
“Dah, yuk masuk aja biarin mereka berdua selesai debat nya di situ” ajak pak yahman dan Dimas pun mengangguk setuju.
Hanya tersisa Farhan dan Bagas di depan pintu villa, “eh, Cok tinggal kita berdua. Masuk aja yu. Agak takut gua nih”
Ujar Bagas langsung ngibrit lari masuk kedalam villa di susul Dimas dari belakang yang juga takut.
Sesampainya di ruang tamu, tidak ada orang. “Mungkin lagi pada mandi kalo gak sholat ashar deh” tebak Dimas.
“Setuju, dah yuk ke atas aja” kata Bagas
Mereka melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua, dan sesuai dugaan mereka Bu Windy, Bu nana dan murid cewek lagi duduk santai di karpet yang cukup besar dekat tangga.
“Loh, kalian sudah pulang, mandi sana terus jangan lupa sholat ashar yah” sambut hangat Bu Windy.
“Siap Bu” Bagas dan dimas langsung melipir menuju kamar mereka yang berada di samping kanan tangga.
“Gimana itu si Dinda badan nya udah gak panas kayak pas selesai kesurupan kan?” Tanya Bu nana.
Bu Windy menempelkan tangannya di kening Dinda yang masih nampak lemas, dan tidak banyak bicara.
“Alhamdulillah sudah tidak begitu panas Bu, dan Risma juga seperti nya sudah agak baikan”
Mendengar itu Bu nana akhirnya bisa bernafas lega sebentar.
“Sedih banget rasanya, ngeliat mereka kayak gini” ujar Cantika yang dari tadi menggenggam erat tangan Risma.
“Iya, kita semua juga sedih. Tapi apa boleh buat semua sudah terjadi dan aku harap kedepannya kita bisa menjaga satu sama lain lebih baik lagi, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi” ucap putri yang duduk tepat di dekat Cantika.
“oh, iya Risma kan lagi haid yah?” Tanya Bu Windy mencium bau amis darah haid.
Semua murid cewek serempak mengangguk. “Iya buk, ini hari kedua Risma haid”
“Oke, setiap Risma habis ganti softex kalian para murid cewek pastikan softex bekas ibu tidak ada darahnya lagi dan buang nya jangan sembarang yah, sama plastik nya dobel” kata Bu nana yang tahu kalau wanita haid lebih rentan akan kesurupan lagi.
Untuk beberapa saat suasana akhirnya kembali tenang setelah berbagi insiden menyeramkan beberapa jam yang lalu.
“Eh, sudah mau magrib. Cek ada jendela yang ke buka gak? Kalau ada langsung tutup. Dan taburi garam dekat jendela nya sama letakkan ini di ventilasi jendela”
Sahut pak yahman menghampiri para murid dan guru perempuan. Mendengar itu putri langsung berinisiatif untuk mengecek semua jendela di lantai dua.
Dan benar saja ada beberapa jendela yang belum tertutup, putri langsung menutup semua jendela dengan rapat.
“Dah pak, tadi iya ada jendela yang belum tertutup rapat” pak yahman langsung memberikan toples kecil berisi garam dan dua bawang putih yang masih utuh.
“Letakan satu bawang putih ini di jendela sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri, lalu taburi garam di setiap celah jendela. Sama di setiap depan kamar dan dari dalam pintu kamar kalian”
Mendengar arahan itu putri tidak banyak bertanya, karena ia tahu ini dilakukan untuk berjaga-jaga dari sesuatu yang tidak diinginkan.
“Ayo, aku temenin” ucap Tia, dan putri pun mengangguk setuju.
Keduanya pun langsung melakukan apa yang sudah diarahkan oleh pak yahman tadi.
Untuk saat ini villa cukup aman dari sosok pamali yang bisa datang kapan saja, tanpa peringatan.
“Akhirnya selesai juga yah pak Rusdi, lah kata nya situ gak tau cara bikin sesajen pak?” Kata pak Yanto.
Mendengar itu pak Rusdi hanya bisa terkekeh kecil. “Dulu pas kecil pernah sekali di ajarin ibu saya, habis itu yah udah gak pernah lagi sih. Dah yuk jangan kebanyakan ngobrol, langsung kita taruh di depan pintu villa aja nih”
“Iya ayo bentar lagi jam enam nih”
Dengan hati-hati pak Yanto dan pak Rusdi gotong royong membawa sesajen ke depan pintu villa.
Keduanya meletakkan sesajen itu tepat di depan pintu. “Oke, sekarang tinggal kita kunci pintu nya.”
Pak Yanto teringat sesuatu dan ia segera berlari ke gudang, lalu kembali lagi menghampiri pak Rusdi. “Itu kayu buat apa pak?”
“Ini dia palang pintu ini pak, dikunci saja tidak cukup. Apalagi di depan pintu pas kan ada sesajen” jawab pak Yanto langsung memasangkan palang itu di pintu serapat mungkin.
“Ouh, baik mari saya bantu juga” pak Rusdi pun ikut membantu pak Yanto memasang palang pintu.
“Ouh, yah kata pak yahman harus di kasih bawang putih utuh juga yah?” Tanya pak Yanto merogoh saku celana nya dan memberikan satu bawang putih utuh ke pak Yanto.
“Iya betul pak itu saya yang minta” pak Yanto langsung meletakkan bawang putih utuh itu di lantai.
“Itu tujuan nya sama kayak garam bukan sih pak?” Tanya lagi pak Rusdi.
“Iya, tepat sekali ini sebagai penangkal. Karena sosok yang kita hadapi ini lebih kuat dari sosok lain nya” jawab pak Yanto untuk sejenak akhirnya ia bisa bernafas lega.