"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Catatan yang Tertinggal
Pagi ini, Aurora tidak merasakan apa-apa. Bukan hanya perasaannya yang mati, tapi lidahnya pun kehilangan fungsi. Bubur yang disiapkan Nenek Lastri terasa seperti gumpalan pasir yang hambar di mulutnya. Ia tahu, ini adalah tanda bahwa organ-organnya mulai menyerah satu per satu setelah ia memutuskan untuk benar-benar berhenti menyentuh obat-obatan yang disita Eros semalam.
Di sekolah, Aurora duduk di bangku paling belakang perpustakaan, tempat yang paling sunyi untuk sekadar mengatur napas. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Kepalanya mendadak terasa sangat berat, dan sensasi hangat mulai mengalir dari
lubang hidungnya.
Tetes... tetes...
Warna merah pekat menghiasi meja putih perpustakaan. Aurora segera menutup hidungnya dengan sapu tangan, namun darah itu seolah menolak untuk berhenti. Ia mencoba bangkit, bermaksud menuju toilet, namun kakinya lemas. Saat ia berusaha menopang tubuh pada meja, buku catatan kecil bersampul biru miliknya tersenggol dan jatuh ke lantai, tergeser jauh ke arah lorong
rak buku.
Aurora tidak sanggup memungutnya. Ia fokus pada darah yang terus mengalir, menembus kain sapu tangannya. Dengan sisa tenaga, ia berjalan tertatih menuju toilet, meninggalkan buku itu di sana.
Beberapa menit kemudian, Arvin masuk ke perpustakaan. Ia tidak sedang ingin membaca; ia hanya mencari tempat untuk bolos dari pelajaran sejarah yang membosankan. Langkah kakinya terhenti saat ia melihat sesuatu yang berwarna biru di bawah rak buku.
Ia memungutnya. Itu buku catatan Aurora.
Arvin hendak melemparnya ke tempat sampah—menganggapnya hanya sampah penuh keluhan—namun rasa penasarannya menang. Ia membuka halaman pertama yang tidak bertanggal.
... "Hari ini Papa memukulku lagi karena aku tidak sengaja menjatuhkan bingkai foto Mama. Aku minta maaf, Ma. Aku hanya ingin membersihkan debunya karena aku rindu. Aku tidak tahu kalau tanganku akan gemetar sehebat ini hanya karena melihat wajah Mama."...
Arvin terdiam. Ia membalik halaman demi halaman. Isinya bukan makian, bukan kutukan untuk keluarga mereka yang jahat, melainkan doa.
..."Tuhan, tolong kuatkan jantungku satu hari lagi. Beri aku waktu untuk melihat Kak Arvin tersenyum padaku, bukan sebagai musuh, tapi sebagai adik. Kalaupun aku harus mati, biarkan aku mati setelah mereka tahu bahwa aku sangat menyayangi mereka, meskipun mereka sangat membenciku."...
Tangan Arvin gemetar. Kalimat-kalimat itu terasa seperti tamparan yang lebih keras dari apa pun. Ia sampai pada halaman terakhir yang ditulis semalam, dengan tulisan tangan yang sangat berantakan dan lemah.
..."Kak Eros mengambil obatku. Mungkin ini memang jalan yang Tuhan mau. Tanpa obat, perjalananku menuju Mama akan lebih cepat. Aku lelah bersandiwara seolah-olah aku sehat. Ma, tunggu Aurora ya? Aurora sudah hampir sampai."...
"Sialan..." umpat Arvin pelan. Matanya terasa panas. Ia menutup buku itu dengan kasar, namun hatinya tidak bisa lagi menolak
kenyataan.
Ia segera berlari keluar perpustakaan, mencari keberadaan adiknya. Firasatnya memburuk. Ia teringat darah yang dilihatnya di meja perpustakaan tadi—darah yang ia kira milik orang lain, ternyata milik Aurora.
Di toilet siswa, Arvin tidak peduli lagi pada aturan. Ia mendobrak pintu toilet wanita yang sepi. Di sana, di depan wastafel, ia menemukan Aurora sedang berusaha membasuh wajahnya yang berlumuran darah. Wajah itu sudah tidak lagi memiliki warna kehidupan.
"Aurora!" Arvin menghampiri, memegang bahu Aurora yang kurus. "Apa-apaan ini? Kenapa darahnya nggak berhenti?!"
Aurora menatap pantulan wajah Arvin di cermin dengan pandangan kabur. "Kak... Arvin... kembalikan buku itu," bisiknya parau.
"Buku sampah ini nggak penting! Kita ke rumah sakit sekarang!" Arvin hendak menggendong Aurora, namun adiknya menggeleng lemah.
"Jangan, Kak... Nanti Papa marah kalau tahu Kakak bawa aku ke rumah sakit lagi. Nanti Kakak dihukum," ucap Aurora dengan sisa kesadarannya. Ia bahkan masih memikirkan keselamatan Arvin di saat nyawanya sendiri di ujung tanduk
"Gue nggak peduli sama Papa! Gue nggak peduli sama semua orang!" bentak Arvin, air matanya kini benar-benar jatuh. "Lo harus hidup, Ra! Lo dengar gue? Lo harus hidup!"
Aurora tersenyum, senyum paling tulus yang pernah Arvin lihat selama enam belas tahun ini. "Terima kasih... Kakak sudah panggil namaku... tanpa kata pembunuh."
Setelah mengatakan itu, tubuh Aurora lemas sepenuhnya dalam pelukan Arvin.
Di saat yang sama, Bimo masuk ke toilet dengan wajah pucat.
"Vin! Kaila... Kaila nyari Aurora! Dia bawa anak-anak kelas dua belas buat labrak Aurora karena video susu cokelat kemarin!"
seru Bimo.
Arvin mendongak, matanya yang merah kini memancarkan amarah yang luar biasa. "Bilang sama Kaila, kalau dia berani sentuh adik gue lagi, gue nggak akan segan buat hancurin hidup dia. Dan Bimo... tolong hubungi dokter pribadi keluarga diam-diam. Bawa dia ke apartemen gue, jangan ke rumah. Jangan sampai Papa tahu."
Arvin membawa Aurora keluar lewat pintu belakang sekolah, menghindari semua orang. Ia telah memutuskan untuk berhenti menjadi pengecut. Namun, ia tidak tahu bahwa di jantung Aurora, sebuah lubang besar sudah terbentuk, dan waktu yang ia miliki untuk menebus dosa-dosanya kini hanya tinggal hitungan bulan.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹