NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Berbeda

Kenapa Aku Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Saat melewati warung Bu RT terdengar suara radio tua muter lagu Melayu. Pas di depan warung, Bu RT ngeluarin kepala. Matanya melirik ke baju Resty yang kebesaran, ke sendal jepitnya yang solnya sudah tipis.

"Resty...! mau ke mana...Nak?" tanyanya pelan. Tidak ada nada mengejek atau hinaan.

Resty berhenti sedetik. Napasnya pendek. suaranya tidak kencang tapi jelas."Pulang....Bu RT!."

Bu RT diam, ia mengangguk pelan. Lalu mengambil kerudungnya, ngelapin tangan ke meja. Di seberang rumah Bu RT. bibi Resty yang baru sampai nyengir."Pulang ke mana? Rumah reot itu?"

Resty tetap jalan dan tidak menanggapi sindiran bibinya. Karena jika di ladenin, bibi nya akan semakin semena-mena. Resty tetap jalan. Langkahnya tidak berubah. Lima langkah, tidak ngebut karena disindir atau melambat karena kasihan. Map di dadanya dia peluk lagi, "tek", sampe bunyinya terdengar dirinya sendiri.

Di belakang, bibi nyengirnya makin lebar."Tuh kan....bisu! seperti bapaknya. Pulang mabuk, tidak bisa ngomong dan sekalinya ngomong malah mengamuk!"

Bu RT yang dari tadi mengelap meja, tangan nya berhenti. Dia tidak nyahut ucapan bibinya resty. Cuma melihat Resty yang punggungnya lurus, baju kebesaran berkibar kena angin sore. Tembok kanan-kiri menutup suara bibinya. Tapi kata-kata itu masih nyangkut di kuping. Rumah reot itu?...Iya...Reot!. Catnya sudah mengelupas. Atapnya bocor kalau hujan. Pintunya kalau ditutup harus diangkat dikit.

Tapi itu rumah yang Aminah sapu setiap pagi. Rumah yang ada bekas tangan Aminah di kusen pintu. setiap mau berangkat ngaji Resty selalu dicium keningnya di situ.

Resty berhenti pas di depan rumahnya. Angin masuk dari sela-sela pori-porinya, bawa bau got dan bau melati dari kuburan kecil di ujung gang. Dia sandar punggung ke tembok. Dingin. Map dibuka pelan. Jempolnya mencari foto Aminah yang menunduk malu. Dielus sekali, Dua kali.

"Bu," bisiknya, suaranya ketelen angin."Kalau di ladenin, nanti Resty lelah. Tenaga resty mau Resty pakai buat berdiri seperti yang Ibu bilang."

Dia tutup map lagi. "Tek". setiap langkah rersq ringan setiap kali melihat foto Aminah. Resty berhenti di depan pintu. tidak langsung masuk, Dia jongkok dan tangan kirinya megang map, tangan kanannya mengusap anak tangga yang sudah mengelupas karena dimakan rayap.

Dari jauh terdengar suara bibinya masih teriak."Dasar anak durhaka! tidak tau balas budi!"

Resty tidak menengok. Dia cuma tempelin kening ke map, di atas foto Awi dan Aminah.

Resty berdiri. Geser pintu pelan. "Assalamualaikum....Bu!"

Jawabnya cuma suara angin lewat jendela retak dan kerudung putih yang terus goyang. Awi belum pulang atau dagangan belum habis, mungkin juga tidak pulang dan Resty tidak tahu. Dia masuk, Map ditaruh di meja kayu yang kakinya ompong. Dia duduk di lantai, menyender ke dinding, Mata merem, dan napasnya panjang.

Di luar, suara bibi makin jauh. Karena Resty sudah tidak di jalan lagi. Dia sudah di rumah. Di tempat paling ngeri di dunia. tapi juga satu-satunya tempat yang Aminah peluk dia sampai tenang. Resty napasnya pelan dan kelelahan. Dia tidak melawan atau ingin menjelaskan, cuma jalan. setiap langkah itu jadi jawaban paling keras yang pernah ada. Rumah buat Resty bukan tembok. Rumah itu suara, "nak" yang terakhir kali dibilang ibunya. Rumah itu baunya, minyak rambut dan keringat yang menempel di baju. Rumah itu sabar, yang dia pilih setiap kali orang lain melempar kata kasar dan hinaan.

Resty bisa merasakan beratnya setiap kali dia memilih diam daripada berantem. tapi dia tetap pilih mengalah. Karena sekali dia membalas, "rumah" itu bisa runtuh.

Resty sudah di dalam sekarang. Kursi tidak ada, tapi ada kenangan yang jadi sandaran. Pintu ketutup dan dunia luar jadi redup. Mengalah itu berat. Beratnya bukan karena dia lemah, tapi karena dia masih mau jaga yang tersisa. Sekali dia meledak, bukan bibinya yang runtuh... tapi rumah yang ada bau melati dan bekas cium kening itu. Sekarang sudah aman. Dunia luar kedap. Yang ada cuma suara napasnya sendiri bunyi "tek" dari map, dan goyangan kerudung putih di jemuran. Lantai dingin, dinding ngelupas tapi di situ Resty tidak perlu jelasin siapa dia, tidak perlu mejadi kuat. Cukup jadi anaknya Aminah aja dan selalu menjadi diri sendiri.

1
Sarah Bagan
lnjut kak😊😊😊
glaze dark: oke kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!