Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11 Pertengkaran
Malam ini pesta anniversary Gunanto dan istrinya diadakan sangat mewah. beberapa tamu undangan adalah dari rekan bisnis dan juga teman lama mereka. di tambah kehadiran besan yaitu keluarga Antoro yang ikut memeriahkan suasana.
Maxime sudah bersiap dengan stelan jas berwarna burgundy warna kesukaan mamanya. ia berdiri di depan pintu kamar Aurora menunggu Rora yang belum juga selesai dengan penampilannya.
"Rora cepatlah!"
"Sabar Max"
Bagi Maxime Rora tidak perlu berdandan ia juga sudah terlihat sangat cantik. Max tidak keberatan jika Rora tampil polos apa adanya ia tetap suka. Maxime tersenyum membayangkan wajah Rora yang manis.
Ceklek
Pintu kamar terbuka Aurora berdiri memamerkan penampilannya. gaun panjang berwarna burgundy dengan belahan hingga ke atas menampakkan kaki jenjangnya yang mulus. bagian atas juga terbuka memperlihatkan bahu Aurora yang simetris dan sempurna serta menampakkan kulit putihnya yang halus. rambut panjangnya di cepol rapi membuat terlihat lebih formal dan elegan. Maxime sampai tidak berkedip menatap Aurora di hadapannya.
Aurora tersenyum mengamati reaksi Maxime memandang dirinya.
"Ganti gaun itu!" kata Maxime di luar prediksi Aurora.
"Apa?! jangan bercanda Max! ini gaun terbaik yang baru aku beli mahal-mahal dari desainer ternama khusus untuk acara mama dan papa"
"Aku tidak perduli cepat ganti gaun itu dengan yang lebih tertutup atau kita tidak akan pergi ke pesta!"
Maxime bersikeras Aurora harus mengganti gaunnya dengan yang lebih sopan dan tertutup jadi terkesan tidak mencolok dan memamerkan keindahan tubuhnya.
"Max ada apa dengan mu? kau tidak pernah melarang ku sebelumnya. mau aku pakai gaun terbuka, rok pendek atau apapun!" Aurora bersikeras mempertahankan gaun yang ia kenakan.
"Dulu aku tidak ber hak melarang mu Rora tapi sekarang aku suamimu dan aku bisa melarang mu!" Kali ini Maxime benar-benar marah, Aurora bahkan baru pertama kali melihat reaksi Maxime seperti itu.
"Apa? jangan pikir pernikahan ini mengikat kita berdua Max! kau sendiri yang mengatakan jika pernikahan ini tidak akan membuat kita terikat satu sama lain!"
"Jadi kau mau seenak mu sendiri? baiklah kalau begitu lakukan sesuka hatimu aku tidak akan peduli!" kata Maxime.
Maxime melangkah pergi dengan wajah kecewa meninggalkan Aurora yang berdiri mematung menahan tangisnya. ia kembali masuk kedalam kamar menangis sesenggukan. selama ini Maxime tidak pernah marah apalagi membentaknya tapi setelah ada pernikahan itu Maxime jadi lebih ketat dan banyak mengaturnya. Aurora merasa sangat kesal, ia memutuskan tidak pergi ke pesta Anniversary mertuanya dan memilih pulang ke rumah keluarganya sendiri.
Di pesta itu semua bertanya di mana Aurora. termasuk papa dan mama serta mertua Maxime tentunya.
Maxime hanya diam ia mengatakan ada sedikit masalah kecil yang membuatnya dan Aurora bertengkar. Para orang tua maklum memang dalam pernikahan terkadang pertengkaran tidak bisa di hindari.
"Sabar ya Max" kata Antoro, ia tahu tabiat putrinya yang keras kepala jadi ia tidak sepenuhnya menyalahkan Maxime.
"Max lain kali kau bisa lebih mengalah pada Aurora, emosinya sedang tidak stabil sejak pernikahan nya dan Andre batal. kau juga tahu sendiri bukan?" kata Gunanto.
"Iya pa"
"Yasudah sebaiknya kau pulang temani Aurora di rumah saja"
"Tapi pa ini pesta papa dan mama masa aku tidak ada"
"Tapi pernikahan mu juga penting bukan?"
Maxime terdiam lalu mengangguk ia menyesal sudah marah pada Aurora tadi. setidaknya mungkin ia bisa lebih halus menasehati Aurora lain kali.
Maxime memilih pulang lebih dulu ke rumahnya dan Aurora. saat tiba di rumah hanya sunyi yang terasa. mobil Aurora juga tidak ada di garasi. Max mulai panik ia menelpon Aurora beberapa kali tapi tidak di jawab.
Rora kau kemana?
Maxime menelpon Wisnu ia perlu bantuannya untuk mencari keberadaan Aurora.
"Hoammm iya bos?" Wisnu terdengar menguap sepertinya ia tertidur saat Max menelponnya.
"Wisnu cari dimana istri saya sekarang!"
"Istri bos?"
"Cepat!"
"Iya..iya baik bos"
Maxime pergi menuju mobilnya ia pergi ke rumah mertuanya ia pikir Aurora pasti disana.