Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Bramasta Menelpon Theo
Begitu sosok sang ayah sudah pergi, Theo langsung melemas. Dia ambruk di kursi kerjanya dengan jantung berdetak kencang
Theo meremas rambutnya frustrasi.
"Sial, hampir saja..." bisiknya dengan pelan.
Baru saja dia merasa di atas angin karena berhasil mengamankan dana 15 miliar dari Avalanka Group, Bramasta justru datang membawa bom waktu dengan menanyakan Zarlin.
Belum juga debar jantungnya kembali normal, ponsel di atas meja kerjanya kembali melengking nyaring.
Drtt... Drtt... Drtt...
Theo tersentak kaget. Nama yang berkedip di layar membuatnya sangat terkaget.
Ayah Zarlin
Jantung Theo rasanya mau copot. Ketakutan terbesar langsung menghantam kepalanya. Di otak Theo saat ini, tebakannya cuma satu,
"Pria tua ini menelepon pasti karena sudah tahu kalau Zarlin diusir dari rumah!"
Theo meneguk ludah kaku, tangannya gemetaran parah saat memandangi layar ponsel.
"Mati aku... kalau dia sampai tahu kami cerai, dia pasti akan ngamuk dan langsung mengadu ke Ayahku. Habislah riwayatku!" bisik Theo dengan wajah panik.
Sambil menata suaranya agar tidak gemetar, Theo terpaksa menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinga.
"H-Halo? Selamat siang, Pak..." sapa Theo, mencoba sewajarnya mungkin meski kegugupan melanda dirinya.
Dari telepon, tidak ada suara makian atau bentakan histeris dari mertuanya. Yang terdengar justru suara yang terlampau tenang dan santai seperti biasa.
"Theo," panggil Bramasta dari telepon sana.
"Zarlin sudah hampir dua bulan ini tidak pulang ke rumah kalian. Setiap kali ditanya, dia selalu bilang sedang sangat sibuk. Sebagai suaminya, apa kamu tahu anak perempuan saya sebenarnya sedang sibuk apa?" tanya Bramasta, merahasiakan bahwa sebenarnya Zarlin mengurus perusahaannya sendiri, Aricia Internasional.
Mendengar pertanyaan itu, Theo langsung mengembus napas lega yang luar biasa dalam hati. Ketakutan yang sempat mencekik lehernya seketika lega.
"Ternyata dia cuma nanyain biasa karena curiga anaknya tidak pulang dua bulan? Dia belum tahu kalau kami cerai!" batin Theo girang dalam hati.
Rasa percaya dirinya langsung naik lagi. Dia menyimpulkan kalau Zarlin ternyata belum menceritakan apa-apa pada orang tuanya.
"Ah... iya, Pak. Maaf kalau Zarlin membuat Bapak dan Ibu khawatir," ujar Theo, memutar otak mencari alasan yang paling aman.
"Zarlin belakangan ini memang sering bilang kalau dia sedang rindu sekali dengan orang tuanya. Dia sengaja menyibukkan diri di luar rumah atau menginap di tempat temannya untuk mengalihkan rasa rindunya itu. Beberapa hari yang lalu Zarlin pulang ke rumah Pak untuk menemui saya." ujar Theo.
"Oh, begitu? Mungkin dia sibuk mencari waktu luang."
"Iya, Pak. Saya juga tidak mungkin melarang Zarlin bertemu dengan orang tuanya."
"Baguslah kalau begitu. Tolong sampaikan pada Zarlin, kalau ada waktu luang sempatkan pulang ke rumah kalian, ya. Ya sudah, saya tidak akan mengganggu waktumu bekerja lagi, Theo."
Klik.
Telepon dimatikan. Theo menurunkan ponselnya perlahan, lalu mengembuskan napas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum lega yang kembali mengembang.
"Baguslah. Pria tua itu sama sekali tidak tahu apa-apa," gumam Theo meremehkan, benar-benar merasa tenang karena semua kebohongannya hari ini berjalan sangat mulus.
...****************...
Sementara itu, di lantai teratas gedung Aricia International justru sedang berada di puncak kesibukan.
Di dalam ruang rapat yang berdinding kaca, Zarlin Rahesa sedang berdiri di depan layar proyektor besar.
Dia mengenakan blazer formal berwarna navy yang dipadukan dengan celana kain senada, memancarkan aura wanita karier kelas atas yang sangat berwibawa.
Di sekeliling meja panjang, belasan jajaran direksi dan manajer senior mendengarkan presentasi Zarlin dengan tatapan takjub sekaligus tegang.
"Saya ingin mengakui, sisa saham Falcon Corp yang beredar di publik diselesaikan dalam minggu ini. Lakukan secara rapi dan jangan sampai media mengetahui pergerakan kita," ujar Zarlin tegas. Suaranya yang tenang namun dingin langsung diangguk cepat oleh para bawahannya.
Tepat saat rapat baru saja ditutup, pintu ruang rapat diketuk perlahan. Christiana masuk dengan wajah agak sungkan.
"Maaf, Nona Zarlin. Di luar... ada Tuan Bramasta Rahesa yang ingin bertemu. Beliau menolak menunggu di ruang tamu dan langsung menuju ruangan pribadi Anda."
Zarlin langsung mendongak, Christiana mengerti apa maksud atasannya itu. Jangan sampai sang ayah mengobrak-abrik berkas di ruang pribadi Zarlin karena Akta Perceraian ada disitu.
"Aduh, gawat. Ayah belakangan ini selalu datang tiba-tiba." batin Zarlin
"Baiklah, rapat selesai. Kalian bisa kembali ke divisi masing-masing."
Zarlin keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju ruangannya. Begitu pintu terbuka, dia melihat sosok ayahnya, Bramasta, sedang duduk santai di sofa kulit sambil memandangi pemandangan kota dari balik jendela besar.
"Ayah? Tiba-tiba sekali datang ke kantor. Ada apa?" tanya Zarlin, berjalan mendekat lalu duduk di sofa seberang ayahnya setelah meletakkan map berkasnya.
Bramasta menoleh, lalu terkekeh pelan melihat putri tunggalnya yang tampak begitu sibuk dan berwibawa di kursi kepemimpinan. Pria paruh baya itu meletakkan ponselnya di atas meja kaca.
"Ayah baru saja menelepon suamimu, Zarlin," ujar Bramasta menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum heran.
"Ayah cuma iseng bertanya, kenapa kamu sudah dua bulan ini tidak pulang ke rumah suamimu. Ayah pikir kalian sedang ada masalah."
Zarlin menaikkan sebelah alisnya, meredam keterkejutannya dengan sangat rapi.
"Lalu, jawaban apa yang dia katakan pada Ayah?"
"Dia bilang kamu belakangan ini sering mengeluh rindu sekali dengan Ayah dan Ibu. Katanya kamu sampai menyibukkan diri di luar rumah untuk mengalihkan rasa rindumu itu," kata Bramasta polos, benar-benar mengira ucapan menantunya itu tulus.
"Makanya ayah langsung ke sini karena mengira kamu memang sedang sangat sibuk di kantormu yang baru ini."
Zarlin langsung terkekeh geli mendengar cerita ayahnya. Sebuah tawa renyah yang sarat akan ejekan mutlak untuk kebohongan Theo yang begitu manis namun palsu di balik punggungnya.
"Tapi ayah gak bilang kan kalau aku sedang mengurus perusahaan? Sesuai janji kita, tidak boleh ada yang tahu kalau ayah dan aku memiliki perusahaan ini kecuali ayahnya Theo, Paulus Falcon."
Bramasta kembali tersenyum
"Tentu tidak sayang, ada saatnya kita memberi tahu." ujar Bramasta.
Zarlin mengangguk paham, Ia sama sekali tidak berniat meluruskan fakta atau menceritakan soal perceraian mereka pada ayahnya saat ini.
"Baguslah, ayah." sahut Zarlin.
Zarlin menyandarkan punggungnya pada sofa, lalu menatap lurus ke arah jendela kaca besar.
"Nikmatilah kebohonganmu hari ini, Theo," batin Zarlin dengan senyuman dingin yang terukir di bibirnya.
"Aku ingin melihat seberapa tinggi kau bisa bertahan dengan pinjaman dan semua kepalsuanmu itu. Karena semakin kau sombong, maka akan semakin hancur pula kau saat aku mengempaskanmu ke dasar jurang nanti."
itu justru malah menguatkan kebenaran...