Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Kretek!
Informasi yang sebelumnya didapatkan oleh Faza beserta bawahannya langsung dikirim dini hari itu juga ke Satria. Tengkuk terasa berat yang sebelumnya Satria rasakan. Semakin bertambah berat saat melihat rekaman video dari Faza.
Teg… teg.
Suara ketukan kursor laptop terdengar beberapa kali. Ukuran serta kualitas video tidak terlalu bagus, memutuskan Satria menggunakan cara lain untuk memperjelas. Hingga matanya terfokus pada satu sosok yang diyakini menjadi dalang tragedi kehidupannya.
“Dia?” gumam Satria sambil mengepal kuat tangannya.
Tatapan matanya mengarah ke layar laptop. Tajam hingga giginya saling bergesekan saat emosinya hampir meledak.
“Akhirnya keluar juga kamu,” gumam Satria menatap sosok laki-laki misterius yang tanpa sengaja masuk dalam laporan Faza.
“Mungkin dulu aku hanya bisa diam saat kamu terbebas dari semua tuduhan. Menikmati kehidupan di luar negeri disaat jerat dosa menghantui diriku,” geram Satria pada sosok tersebut.
“Tapi, untuk kali ini aku pastikan kamu tidak akan terbebas lagi. Jangankan menikmati hasil pekerjaan bisnis gelapmu. Untuk sekedar menghirup udara aku akan mempersulit.”
Dendam lama kembali mencuat di pikiran Satria. Meskipun sudah belasan tahun silam berlalu. Tapi, Satria masih ingat tentang sosok laki-laki penghancur masa depan dirinya sekaligus Nimas.
Sosok yang sebelumnya menjadi target karena aktivitas ilegal. Justru kini berubah menjadi sosok penghancur kehidupan Satria.
“Aku harus melakukannya dengan cepat dan rapi. Jangan sampai yang aku lakukan tercium oleh kelompok mereka. Karena waktuku tidak banyak.”
Satria yang tahu konsekuensi dari perbuatannya di masa lalu. Harus berpacu dengan waktu menyelesaikan segala masalah yang ada.
Jadi, detik itu juga Satria bergerak untuk bisa menghalau laki-laki misterius agar tidak bebas keluar negeri. Bagi Satria cukup kejadian tempo dulu laki-laki itu lolos berlenggang menikmati bisnis gelapnya. Namun, tidak untuk sekarang.
***
Setelah beberapa hari tidak masuk sekolah. Dira akhirnya mulai kembali ke aktivitas.
“Biarkan Mbah saja yang mengantar pesanan.”
“Jangan, Mbah. Biarkan Dira saja,” tolak Dira sambil mengikat pesanan nasi uduk dan gorengan di keranjang sepeda.
“Lagian masih satu jalur. Mbah jaga ibu saja.”
Mbah Sekar menatap Nimas yang tengah duduk di kursi depan. Menatap interaksi antara dirinya dan juga Dira.
“Ibumu makin hari semakin membaik. Senang Mbah lihatnya,” ucap Mbah Sekar penuh syukur.
“Dira juga senang, Mbah. Ibu sudah mulai tenang. Apalagi sekarang sering tersenyum. Dira lihat semakin cantik.”
“Iya, kamu benar, Nduk.”
“Dira berangkat, Mbah.”
“Ya, hati-hati di jalan.”
“Siap.”
Dira langsung mencium punggung tangan Mbah Sekar dan juga Nimas. Setiap kali melihat Nimas dari jarak dekat, ada rasa haru menyelimuti hati Dira.
“Dira sangat sayang Ibu.”
Cup.
Satu kecupan di pipi kanan dan kiri. Direspon Nimas dengan senyum tipis yang membuat hati Dira sangat bahagia.
Setelah berpamitan, Dira mulai mengayuh sepeda menuju beberapa warung untuk mengantar pesanan nasi uduk. Kini Dira menuju sekolah.
Sreeet… sreeet.
Ayunan sepeda mulai kembali menemani Dira. Namun, entah kenapa hatinya merasa ada sesuatu tidak beres.
“Kenapa aku merasa ada yang mengikutiku?”
Dira menengokkan kepalanya ke kanan maupun ke kiri memastikan dugaannya. Namun, tidak ada yang mencurigakan.
“Tidak ada siapa-siapa,” gumam Dira saat tidak mendapati siapa-siapa.
“Ah, lebih baik aku mempercepat laju sepeda agar sampai ke sekolah.”
Dira mengayuh sepedanya semakin cepat. Agar semakin menjauh dari sosok yang sengaja mengawasi. Sosok dari bawahan laki-laki misterius sejak Dira keluar dari kampung padat penduduk.
Informasi dari Wilona tentang keberadaan keluarga Nimas. Langsung ditindaklanjuti oleh sosok laki-laki misterius. Apalagi tekanan juga diberikan oleh Sisil kepada Wilona untuk segera menyingkirkan Dira.
Bukan karena takut dengan ancaman Wilona. Melainkan sosok laki-laki misterius itu memiliki rencana lain. Rencana yang tidak akan pernah Wilona sangka sama sekali.
“Kirim ke Tuan besar, sekarang juga!”
“Baik.”
“Apakah kita terus membuntutinya?” tanya rekan laki-laki itu.
“Jangan, dia dalam perlindungan seseorang,” ucap laki-laki di bagian kemudi sambil mengawasi sekitar.
Jarinya menunjuk ke arah laki-laki berseragam putih abu-abu yang kini pandangannya mengarah ke mereka. Jadi, sudah bisa dipastikan jika mereka pun dalam pengawasan.
“Waspada! Dia sangat berbahaya. Karena bisa membaca keberadaan kita.”
Yang diutarakan oleh laki-laki itu memang benar. Sebab, laki-laki berseragam putih abu-abu berjalan mendekati mereka.
“Kita pergi dari tempat ini sekarang juga.”
“Baik.”
Buru-buru laki-laki itu menyalakan mesin kendaraan. Dia beserta temannya pergi menjauh melewati sosok laki-laki berseragam putih abu-abu. Menghindar adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
“Nomor kendaraan B78..TU, Jeep hitam dengan aksesoris pelindung lampu bagian belakang, terdapat baret di bagian kanan belakang. Cari dan lacak siapa pemiliknya,” perintah Faza melalui sambungan telepon pada bawahannya. Sambil mengawasi jeep tersebut.
Ya, laki-laki berseragam putih abu-abu itu adalah Faza. Niat hati hanya ingin memastikan keadaan Dira pasca sakit. Justru mendapati hal tak terduga di luar prediksi.
“Sialan, mereka benar-benar bergerak jauh lebih cepat dari dugaanku.”
Rasa gugup tergambar jelas pada wajah Faza. Apa yang dilihat Faza saat ini, menggambarkan jika sosok laki-laki misterius itu memiliki pengaruh dan kekuasaan. Bergerak seenaknya meskipun pihak berwajib tengah memantau.
“Aku harus melapor ke Ndan Satria.”
Untuk memperkuat laporan, tidak hanya nomor serta jenis kendaraan. Melainkan juga foto yang didapatkan oleh Faza secara sembunyi-sembunyi.
Setelah selesai memberikan laporan ke Satria. Faza menuju ke sekolah, tak ingin terjadi pembullyan pada Dira maupun hal lainnya setelah tersebarnya video Nimas.
GREEENG!
Suara khas motor Faza mencuri perhatian Dira yang baru sampai di parkiran. Perempuan cantik itu lebih memilih diam di tempatnya.
Sedangkan Faza setelah memarkirkan motor, buru-buru menghampiri Dira. Menggapai pergelangan tangan yang terhalang baju seragam.
“Ayo aku temani menuju kelas!” ajak Faza tanpa menunggu persetujuan Dira.
Jika sebelumnya Dira memilih menundukkan kepalanya karena malu saat identitasnya terbongkar. Namun, tidak untuk kali ini. Berdiri tegak percaya diri pada kebenaran identitasnya.
“Terima kasih, tapi aku bisa jalan sendiri menuju kelas,” ucap Dira sambil tersenyum dan melepaskan genggaman di pergelangan tangan. Lalu berjalan menuju kantin untuk menitipkan barang dagangan meninggalkan Faza yang terus memandanginya.
Dira mengangkat kepalanya memandang para murid yang saat ini menatap ke arahnya. Mengawasi Dira mulai dari atas kepala hingga ujung kaki. Benar-benar ingin menguliti betapa rendahnya Dira di mata mereka.
“Kenapa dia hobi sekali membuatku tidak tenang?” gerutu Faza mengikuti Dira dari belakang.
Kekhawatiran Faza memang ada alasan. Sebab, di kelas Sisil sudah menunggu untuk mempermalukan Dira.
Setelah selesai menitipkan barang dagangan. Kini Dira menuju ke kelasnya.
“Akhirnya masuk juga kamu?” Suara Sisil menyambut kedatangan Dira di kelas.
Karena Dira tidak ingin membuat keributan. Ia lebih memilih berlalu melewati Sisil untuk duduk di bangkunya. Sepertinya biasa, diamnya Dira memancing kemarahan Sisil.
“Selain keturunan haram. Ternyata kamu juga tuli,” sindir Sisil yang lagi-lagi tidak ditanggapi Dira.
Emosi yang beberapa hari dipendam Sisil. Akhirnya meledak saat ini juga ketika melihat tingkah laku Dira yang dianggap songong.
Dalam keadaan emosi meledak. Sisil berjalan cepat mendekati Dira. Tangannya sudah siap menarik kerudung yang dikenakan oleh Dira.
“Berani sekali kamu mengacuhkanku. DASAR PEREMPUAN…”
Kretek!
Arrg!
“Faza sakit!” teriak Sisil saat pergelangan tangannya ditahan Faza.
Sangking kuatnya Faza menahan tangan Sisil. Hingga terdengar suara pergeseran tendon.
“Mau ngapain kamu?” geram Faza menatap tajam Sisil.
Melihat reaksi yang diberikan oleh Faza ke Sisil. Buru-buru Dira menahan tangan Faza.
“Faza, sudah lepaskan tangan Sisil,” pinta Dira sambil melepaskan cekalan di tangan Sisil.
Bukannya melepaskan cekalan pada tangan Sisil. Justru cekalan semakin kuat.
“Faza, sudah cukup!”
Meskipun rasa kesal masih menyelimuti. Namun, terpaksa Faza melepaskan cekalan itu. Apalagi saat melihat kekhawatiran di wajah Dira.
“Auh…,” keluh Sisil sambil memegangi tangannya.
Kini pandangan matanya ke arah Faza yang kini menatap ke arahnya. Jantung Sisil berdetak tidak karuan saat melihat ada amarah pada diri Faza.
“Jangan berlagak seperti perempuan suci tanpa dosa. Tunggulah, sampai waktu membongkar kebusukan dirimu.”
Sisil terdiam, kata-kata Faza menusuk hatinya. Hingga dirinya kesulitan bernapas.
‘Apa maksud dari ucapan Faza?’ batin Sisil bingung.
‘Kenapa ia mengatakan hal itu padaku? Apakah dia tahu apa yang aku lakukan diluar sana?’ lanjut Sisil tidak tenang.
‘Tidak mungkin, Faza tidak akan pernah tahu apapun yang aku lakukan. Sebab, Mama mengatakan jika ada Om misterius yang akan melindungi kita. Jadi, kata-kata Faza hanya sebatas gertak sambal saja.’
Sisil mencoba menyakinkan dirinya. Meskipun hatinya tidak sepenuhnya tenang. Karena ada penekanan pada ucapan Faza yang menggambarkan keseriusan.
Ceritanya keren 👍