NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 — Raja Obat Kecil Elemen Api

Li Yao tiba di sebuah lembah kecil yang tersembunyi di antara tebing-tebing curam. Air terjun tipis jatuh dari ketinggian sekitar dua puluh meter, menciptakan kolam kecil di bawahnya. Uap air membentuk kabut tipis yang berkilau diterpa cahaya matahari—matahari yang untuk pertama kalinya dalam dua hari benar-benar ia lihat.

Li Yao menarik napas dalam-dalam. Udara di lembah ini berbeda. Lebih segar. Lebih hidup. Seperti sedang bernapas di dalam gua yang penuh dengan kristal energi spiritual.

Dan di tengah kabut itu, di tepi kolam, tumbuh sebuah tanaman.

Kecil. Hanya setinggi lengan orang dewasa. Batangnya ungu keemasan, daunnya berbentuk hati dengan cahaya menyala samar di urat-uratnya. Di puncaknya, tergantung buah sebesar telur ayam, merah menyala dengan bintik-bintik emas yang berdenyut pelan—seperti jantung kecil yang masih hidup.

"Raja obat kecil Elemen Api!"

Li Yao tidak tahu nama pastinya. Tapi dari buku-buku yang ia baca di Lingxu Dongtian, dari ilustrasi usang yang ia pelajari di bawah bimbingan Wu Qingfeng, ia yakin—tanaman ini sudah berusia minimal dua puluh ribu tahun. Mungkin lebih.

Aromanya begitu kental hingga ia bisa merasakan energi spiritual mengalir di udara seperti sungai tak terlihat yang melingkari lembah ini, memutari tanaman itu, melindunginya dari dunia luar.

Ini dia.

Tapi ia tidak bergerak.

Karena di samping tanaman itu, di atas batu besar yang ditutupi lumut tebal, seekor binatang sedang tidur.

Singa. Tapi tidak seperti singa biasa. Bulunya hitam legam, mengkilap seperti baja cair yang membeku. Cakarnya yang terlipat di bawah tubuhnya sebesar pisau pendek—cukup untuk merobek perut manusia dalam satu ayunan. Dadanya naik turun perlahan, dan di ujung ekornya—api. Bukan api merah biasa. Biru pucat, menyala tanpa suara, bergoyang-goyang mengikuti ritme napasnya.

Istana Dao puncak.

Li Yao terkejut, tetapi ia tidak takut.

Anehnya, detak jantungnya tetap stabil. Napasnya tidak berubah. Ia hanya berdiri di balik batang pohon besar, sekitar tiga puluh langkah dari lokasi tanaman, mengamati dengan saksama.

Bukan karena Li Yao nekat. Bukan karena ia meremehkan lawan. Tapi karena dalam perjalanannya selama ini, ia sudah belajar satu hal bahwa takut tidak menyelesaikan masalah. Yang menyelesaikan masalah adalah sebuah rencana!

Li Yao mulai mengamati pola tidur singa itu.

Binatang itu tidur miring ke kanan, ekornya melingkar di sisi kiri tubuh. Jika ia mencoba mendekat dari sisi kanan, ia akan tepat di depan hidung binatang itu—risiko membangunkannya sangat tinggi.

Jika dari sisi kiri, ekor api itu bisa menyambar dalam sekejap tanpa peringatan. Setiap sepuluh napas, telinga singa itu bergerak—sedikit berkedut, seperti sedang memindai suara sekitar. Setiap dua puluh napas, api di ekornya berkedip sedikit lebih terang. Mungkin binatang ini tidak tidur nyenyak. Mungkin ia dalam keadaan siaga meskipun matanya terpejam.

Tidak ada jalan masuk yang aman.

Li Yao mengamati lebih jauh.

Tubuh binatang itu besar—mungkin dua kali lipat ukuran singa biasa. Perutnya sedikit menggembung, mungkin baru saja makan. Itu bisa menjadi keuntungan. Binatang yang baru kenyang cenderung lebih lambat bereaksi, lebih malas bergerak. Tapi apakah cukup untuk mengambil risiko? ia tidak yakin.

Li Yao memikirkan berbagai kemungkinan.

Jika ia berlari sekencang mungkin, mengambil buah itu dalam satu gerakan, lalu kabur—mampukah ia menghindari sambaran singa api Istana Dao puncak? Kecepatannya mungkin cukup. Tubuh Kekacauan-nya sudah terlatih dengan baik selama bertahun-tahun. Tapi ia tidak punya teknik lari khusus. Tidak punya mantra percepatan. Hanya mengandalkan otot dan refleks alami.

Mungkin cukup. Mungkin tidak.

Jika Li Yao mencoba melepaskan energi spritual unik tubuh Kekacauan untuk menenangkan binatang itu—seperti yang ia pikirkan sebelumnya—mampukah ia mempertahankan efek itu cukup lama? Ia belum pernah mencoba teknik seperti itu sebelumnya. Tidak ada jaminan berhasil.

Tapi tidak ada salahnya mencoba.

Li Yao memejamkan mata. Ia mengumpulkan energi spiritual di sekujur tubuhnya, lalu melepaskannya perlahan—bukan ke depan, tapi ke segala arah. Seperti uap air yang menguap dari permukaan kolam saat fajar. Energi itu menyebar, tipis, hampir tidak terdeteksi, bercampur dengan energi sekitar menciptakan lapisan yang menenangkan.

Perlahan.

Ia merasakan denyut energi singa api di kejauhan—kuat, panas, stabil. Tidak ada perubahan signifikan. Tapi telinga singa itu berhenti bergerak.

Apakah ia merespon? Li Yao tidak yakin.

Ia terus melepaskan energi selama beberapa menit. Lalu, perlahan, ia membuka mata. Singa itu masih tidur. Tapi posisinya sedikit berubah—perutnya terlihat lebih tenang, napasnya lebih dalam.

Mungkin ini bekerja. Perlahan.

Tapi ia tidak bisa terus berdiri di sini selamanya. Energinya tidak akan habis, tapi kesabarannya bisa luntur. Ia harus memutuskan.

Baiklah. Aku akan coba besok pagi. Saat matahari terbit, binatang ini mungkin lebih lambat karena perubahan suhu. Aku akan datang lebih awal, sebelum kabut hilang, dan mencoba mengambil buah itu.

Ia tidak mundur. Ia hanya menunda.

Dan jika rencanaku gagal, jika singa itu terbangun dan menyerang...

Bah! Lari saja!

Meskipun Li Yao tidak takut, tetapi kemungkinan terluka cukup tinggi, jadi tidak perlu mengambil resiko di hutan purba ini.

Di balik batang pohon besar, di bawah kabut tipis lembah tersembunyi, Li Yao terus mengamati. Ia mencatat setiap gerakan kecil singa api itu, setiap kedipan api di ekornya, setiap tarikan napasnya.

"Besok. Besok pagi, sebelum matahari naik terlalu tinggi, aku akan bergerak."

Li Yao telah mengambil keputusan.

Di kejauhan, air terjun terus jatuh. Kabut berputar pelan.

Dan singa api hitam itu terus tidur, ia tidak tahu bahwa seorang pemuda berusia sepuluh tahun ingin mencuri Raja obat kecil kesayangan nya.

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!