NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Aliansi yang Terpaksa

Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, meninggalkan sisa-sisa semburat jingga yang kian memudar di langit Jakarta. Di sebuah kawasan padat penduduk di pinggiran Jakarta Barat, sebuah sedan hitam dengan kaca gelap berhenti tepat di ujung gang sempit. Kehadiran mobil mewah itu sontak mencuri perhatian warga yang tengah bersantai di teras rumah mereka.

Farhan Al-Fatih dan Andini Larasati melangkah keluar dari mobil. Farhan mengenakan kemeja kasual gelap yang tampak simpel namun tetap berkelas, sementara Andini tampil sederhana dengan tunik abu-abu serta jilbab instan yang menutup dada. Di belakang mereka, dua asisten berbadan tegap mengikuti dengan langkah waspada sembari menenteng sebuah koper hitam kecil.

Andini memandangi sekeliling gang yang becek dan berbau lembap. Ada getaran halus di hatinya, bukan karena rasa jijik, melainkan rasa takjub pada putaran nasib. Lelaki yang beberapa tahun silam menghina asal-usulnya yang sederhana, kini justru terjebak di hunian yang jauh lebih kumuh daripada tempat tinggal lamanya.

"Kamu siap, Ndin?" tanya Farhan lembut, sembari menggenggam jemari istrinya untuk memberi penguatan.

Andini mengangguk mantap. "Siap, Mas. Mari kita selesaikan ini."

Mereka berjalan menyusuri gang sempit hingga berhenti di depan pintu kayu lapuk dengan nomor kontrakan yang ditulis menggunakan spidol usang. Farhan memberi isyarat kepada asistennya untuk mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

Tak butuh waktu lama bagi pintu itu untuk terbuka perlahan, menampakkan sosok Reno. Pria itu tampak sangat terkejut; matanya membelalak dan tubuhnya spontan mundur saat melihat siapa yang bertamu. Ketakutan jelas membayang di wajah kuyu Reno. Ia mengira Farhan datang membawa pengawal untuk menjebloskannya ke penjara akibat keributan yang ia buat di kantor Nadir Label tadi siang.

"Far... Farhan? Andini?" suara Reno bergetar hebat. "M-mau apa lagi kalian ke sini? Aku minta maaf soal kejadian tadi siang. Aku janji tidak akan mendatangi kantor Andini lagi. Tolong, jangan penjarakan aku..."

Farhan tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru memasang ekspresi datar yang penuh wibawa. "Kami ke sini bukan untuk menangkapmu, Reno. Ada hal jauh lebih penting yang harus kita bicarakan di dalam. Apa kamu mau membiarkan kami berdiri di luar dan menjadi tontonan tetangga?"

Reno menoleh ke kanan dan kiri, menyadari beberapa tetangga mulai berbisik-bisik. Dengan tangan yang masih gemetar, ia membuka pintu lebih lebar. "S-silakan masuk. Tapi maaf... rumahku sangat berantakan."

Saat melangkah masuk, aroma minyak kayu putih dan obat-obatan langsung menusuk hidung. Di atas kasur lantai yang tipis di sudut ruangan, Ibu Ratna terbaring lemah. Wanita paruh baya itu berusaha menoleh saat mendengar langkah kaki. Ketika matanya yang sayu menangkap sosok Andini, air mata langsung menetes di sela keriput pipinya. Bibirnya bergerak-gerak ingin meminta maaf, namun serangan stroke membuat suaranya hanya terdengar berupa gumaman pelo yang tidak jelas.

Dada Andini terasa sesak melihat kondisi mantan ibu mertuanya. Ia segera mendekat dan berlutut di samping kasur. Tanpa ada rasa dendam, Andini menyentuh lembut tangan kanan Ibu Ratna yang masih bisa bergerak sedikit.

"Ibu... ini Andini. Ibu tidak usah banyak bergerak dulu, ya. Istirahat saja," ujar Andini dengan nada tulus dan lembut.

Reno yang menyaksikan pemandangan itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya terguncang hebat menahan tangis penyesalan yang mendalam. Wanita yang dulu ia sia-siakan dan ia usir, kini justru menjadi satu-satunya orang yang memandang ibunya dengan penuh kemanusiaan.

Farhan duduk di satu-satunya kursi plastik di ruangan itu. Ia memberi kode kepada asistennya untuk meletakkan koper hitam di atas meja kayu kecil di hadapan Reno.

"Reno, duduklah. Buka kopernya," perintah Farhan tenang.

Dengan ragu, Reno duduk dan membuka kunci koper tersebut. Isinya bukan tumpukan uang, melainkan berlembar-lembar dokumen analisis finansial, salinan akta korporasi luar negeri, serta cetakan riwayat percakapan digital.

"A-apa ini, Farhan?" tanya Reno kebingungan saat membaca beberapa baris dokumen hukum itu.

"Itu adalah bukti bahwa kebangkrutan perusahaan properti milik keluargamu bukan sekadar karena fluktuasi pasar atau nasib buruk," jawab Farhan dengan tatapan tajam. "Perusahaan Apex Horizon Ltd yang meminjamkan modal besar dengan bunga mencekik hingga menyita seluruh asetmu, ternyata dikendalikan langsung oleh Karina dan Tante Sofia dari luar negeri."

Reno tertegun, napasnya seolah tercekat. "K-Karina? Tante Sofia? Tapi... untuk apa mereka menghancurkanku? Aku bahkan tidak pernah punya urusan bisnis dengan mereka!"

Andini bangkit dari sisi Ibu Ratna dan berdiri di samping Farhan. "Mereka tidak mengincar hartamu, Reno. Mereka mengincarku dan Mas Farhan. Mereka sengaja membuatmu jatuh miskin agar kamu terdesak, frustrasi, dan akhirnya datang mengemis kepadaku untuk memicu skandal publik."

Farhan kemudian menggeser selembar draf berita palsu yang berhasil dicegat oleh tim humas Al-Fatih Group sore tadi ke hadapan Reno.

"Lihat ini," kata Farhan dingin. "Jika rencana mereka tadi siang berhasil—entah karena Andini memberimu uang cuma-cuma atau karena aku memukulmu di depan umum—media bayaran mereka sudah siap menggoreng isu bahwa Andini adalah wanita angkuh yang menelantarkan mantan mertuanya yang sedang sakit. Mereka ingin menghancurkan reputasi Nadir Label dan menggoyang saham Al-Fatih Group. Kamu hanyalah pion yang sengaja mereka korbankan demi balas dendam."

Menyadari fakta bahwa dirinya dan sang ibu yang sakit hanya dijadikan alat politik korporasi oleh Karina, kemarahan luar biasa membakar dada Reno. Wajahnya memerah, tangannya mengepal erat hingga buku jari-jarinya memutih.

"Sialan! Mereka benar-benar iblis!" umpat Reno dengan suara bergetar menahan murka. "Aku memang bersalah pada Andini, tapi berani-beraninya mereka memanfaatkan penyakit ibuku untuk taktik kotor ini!"

Reno menatap Farhan dengan putus asa. "Lalu... aku harus bagaimana, Farhan? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk melawan mereka. Uangku habis, asetku ludes!"

Farhan menegakkan punggungnya, bersiap menyodorkan kesepakatan strategis.

"Aku menawarkan kerja sama, Reno. Malam ini juga, tim medis dari rumah sakit swasta terbaik milik Al-Fatih Group akan datang menjemput Ibu Ratna. Kami akan menanggung seluruh biaya perawatan ruang VIP, obat-obatan, hingga terapi fisik terbaik sampai beliau pulih. Aku juga akan menyiapkan tempat tinggal yang layak untukmu," papar Farhan, menawarkan jaminan yang sangat berarti.

Reno membelalak, tak percaya dengan kemurahan hati pria di depannya. "S-syaratnya apa, Farhan? Apa yang harus kulakukan?"

"Syaratnya, kamu harus menjadi saksi kunci bagi tim pengacara internasional kami," jawab Farhan tegas. "Serahkan seluruh ponsel lamamu, draf kontrak dengan Apex Horizon, dan semua bukti komunikasi rahasia dari orang-orang Karina. Kamu harus berdiri di pengadilan untuk membongkar praktik pencucian uang dan penipuan korporasi yang mereka lakukan."

Reno menatap dokumen di depannya, lalu menoleh ke arah ibunya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca seolah memberi restu. Tak ada alasan bagi Reno untuk menolak. Ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa ibunya sekaligus membalas perbuatan orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.

Reno mengangguk kuat-kuat. Air matanya kembali menetes, namun kali ini adalah air mata keikhlasan untuk menebus dosa masa lalu.

"Baik... aku setuju, Farhan. Akan kuserahkan semua bukti yang kupunya. Aku akan lakukan apa pun yang kalian minta. Terima kasih... terima kasih banyak telah menyelamatkan ibuku. Andini... maafkan aku..." Reno menunduk dalam-dalam di depan mantan istrinya, meruntuhkan sisa-sisa kesombongan masa lalunya hingga menjadi abu.

Farhan berdiri, lalu menggandeng tangan Andini dengan erat. Langkah awal untuk menjatuhkan komplotan Tante Sofia dan Karina kini dimulai dari sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!