NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase proyek

Piknik dadakan di empang kampung halaman memang sukses menyisakan tawa dan sisa bau lumpur yang baru hilang setelah Nayla membilas rambutnya sebanyak tiga kali. Namun, gelembung kebahagiaan itu pecah berantakan begitu roda mobil SUV mewah mereka kembali menyentuh aspal megah ibu kota Jakarta.

Dunia nyata, dengan segala intrik bisnis dan perang dingin keluarga Mahardika, sudah menunggu di balik pintu kaca lobi kantor.

Pagi itu, atmosfer di lantai 45 gedung Mahardika Group terasa sangat mencekam. Suhu AC yang biasanya disetel di angka standar terasa seolah turun drastis hingga minus nol derajat. Ketika Nayla melangkah keluar dari lift khusus eksekutif untuk mengantarkan segelas kopi hitam rendah gula pesanan suaminya, ia langsung disambut oleh kepanikan yang tergambar jelas di wajah Gunawan.

Asisten pribadi Gibran yang biasanya selalu tampil klimis dengan kacamata bertengger rapi itu kini sibuk bolak-balik menempelkan ponsel di telinganya dengan pelipis yang bercucuran keringat.

"Ada apa, Mas Gunawan? Kok mukanya panik begitu, seperti habis melihat hantu?" tanya Nayla, langkah kakinya melambat di depan meja sekretaris.

Gunawan menurunkan ponselnya, menatap Nayla dengan pandangan campur aduk antara cemas, bingung, dan ada semacam ganjalan yang besar. "Eh, Ibu Nayla ... Itu, dokumen cetak biru dan data analisis finansial untuk proyek eco-green resort di Bali ... hilang dari brankas penyimpanan internal ruangan Pak Gibran."

Nayla mengernyitkan kening. "Hilang? Kok bisa? Bukannya ruangan Mas Gibran itu dijaga ketat dan pakai akses kartu digital?"

Belum sempat Gunawan menjawab, pintu jati besar ruang kerja CEO terbuka dengan sentakan keras. Sosok Baskoro Mahardika melangkah keluar dengan wajah yang merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.

Di belakangnya, Gibran mengikuti dengan langkah tegap, namun garis rahangnya mengeras sempurna, sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan dengan dingin.

"Papa sudah bilang berkali-kali sejak awal, Gibran!" suara menggelegar Baskoro menggema di koridor lantai 45, membuat beberapa staf administrasi yang lewat langsung menundukkan kepala dalam-dalam karena takut. "Membawa orang asing yang tidak jelas latar belakangnya ke dalam pusaran kehidupan keluarga kita hanya akan membawa malapetaka! Proyek di Bali itu adalah pertaruhan nama besar Mahardika Group untuk kuartal ini, dan sekarang data rahasianya bocor ke tangan kompetitor utama kita, Pratama Group!"

Pak Baskoro menghentikan langkah kakinya tepat di depan Nayla. Pandangan matanya yang tajam bak pisau silet langsung menghujam ke arah gadis itu.

"Dan kamu tahu siapa orang terakhir yang masuk ke ruangan Gibran kemarin sore sebelum sistem komputer kita mendeteksi ada akses ilegal? Kamu, Nayla!"

Nayla tersentak mundur satu langkah, hampir saja menjatuhkan cangkir kopi yang dipegangnya. "Saya, Pa? Tapi ... kemarin sore saya ke ruangan Mas Gibran cuma untuk mengantarkan kopi dan berkas tanda tangan dari bagian logistik. Saya tidak tahu apa-apa tentang brankas atau cetak biru proyek!"

"Jangan berbohong!" bentak Baskoro lagi. "Gunawan sudah mengecek semua daftar akses kartu. Kemarin sore Gibran sedang ada rapat darurat di lantai bawah selama dua jam, dan dalam rentang waktu itu, hanya kartu akses atas nama kamu yang tercatat membuka pintu ruangan ini! Siapa lagi kalau bukan kamu? Apakah kamu sengaja mencuri data itu untuk membayar sisa utang-utang keluargamu di kampung, hah?!"

Tuduhan keji itu rasanya seperti tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Nayla. Dadanya mendadak sesak, dan air mata yang sejak kemarin berhasil ia bendung kini kembali mendesak ingin keluar di sudut matanya. Rasanya sangat sakit ketika semua usaha tulusnya untuk diterima di keluarga ini runtuh begitu saja akibat sebuah fitnah.

Nayla menatap Gibran, berharap pria itu akan mengatakan sesuatu untuk membelanya seperti yang ia lakukan di hadapan Pak Hartono kemarin. Namun, Gibran hanya diam mematung, menatap kertas laporan akses digital di tangannya dengan dahi berkerut dalam.

Kebungkaman Gibran membuat hati Nayla terasa seperti diremas sekuat tenaga. ("Apakah ... apakah Mas Gibran juga meragukanku?") batin Nayla perih.

"Papa, cukup," suara Gibran akhirnya terdengar, memotong rentetan makian ayahnya. Suaranya terdengar sangat rendah, datar, namun memiliki penekanan yang tidak bisa dibantah.

Pria itu melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Baskoro dan Nayla, persis seperti tameng hidup yang biasa ia lakukan.

"Gibran! Kamu masih mau membela perempuan ini setelah semua bukti digital menunjuk ke arahnya?!" seru Baskoro tidak percaya dengan kedegilan anaknya.

"Saya tidak membela siapa pun tanpa dasar, Pa," balas Gibran tenang, matanya menatap lurus ke dalam mata ayahnya. "Sistem digital memang mencatat kartu akses Nayla yang masuk. Tapi saya tahu persis siapa istri saya. Nayla tidak punya kapasitas teknis untuk meretas kode enkripsi brankas tingkat tinggi milik perusahaan, bahkan jika brankas itu dibiarkan terbuka sekalipun."

Gibran menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh orang di koridor itu mematung syok. "Saya bertaruh dengan jabatan saya. Jika dalam waktu dua puluh empat jam ke depan tidak terbukti bahwa Nayla tidak bersalah, saya sendiri yang akan mundur dari posisi CEO Mahardika Group dan menyerahkan seluruh saham gabungan saya kembali ke perusahaan. Tapi ... jika terbukti bahwa Nayla difitnah, Papa harus meminta maaf secara terbuka kepadanya di depan seluruh anggota keluarga besar."

Nayla melotot, ia menarik ujung kemeja Gibran dari belakang dengan panik. "Mas ... kamu gila ya? Jangan bawa-bawa jabatan kamu! Kamu sudah gila!" bisik Nayla dengan suara bergetar menahan tangis.

Mundur dari posisi CEO demi seorang gadis kampung? Itu adalah bentuk perjudian paling bodoh yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.

Baskoro mendengus kasar, rahangnya mengeras. "Baik! Papa pegang kata-kata kamu, Gibran. Dua puluh empat jam dari sekarang. Jika tidak ada bukti baru, kemas barang-barang kamu dan bawa perempuan ini keluar dari gedung Mahardika!"

Dengan langkah gusar, Baskoro berbalik dan masuk ke dalam lift bersama para pengawalnya, meninggalkan atmosfer koridor yang masih terasa membeku.

Di dalam ruang kerja CEO yang luas, keheningan terasa sangat mencekam. Nayla berdiri di dekat sofa dengan air mata yang akhirnya luruh membasahi pipinya. Ia menaruh cangkir kopi yang sudah mendingin di atas meja dengan tangan yang gemetaran.

"Kenapa kamu lakukan itu, Mas?" tanya Nayla di sela-sela isaknya. "Kenapa kamu harus mempertaruhkan posisi kamu yang sudah kamu bangun bertahun-tahun demi aku? Tuduhan Papa itu serius ... dan kartu akses itu memang milikku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membuktikan kalau bukan aku yang melakukannya."

Gibran berjalan mendekat, meletakkan berkas laporan di meja, lalu meraih kedua bahu Nayla dengan lembut.

Ia menundukkan wajahnya agar mata mereka sejajar. Penampilan Gibran saat ini tampak sangat lelah, namun sorot matanya memancarkan keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Nayla, dengerin gue," kata Gibran, suaranya melembut, mengikis habis sisa-sisa ketegangan dari mode CEO-nya tadi. "Gue tidak sedang berjudi. Gue cuma sedang menyatakan kebenaran. Pihak Kesatu tahu persis kalau Pihak Kedua itu penakut kalau urusan hukum. Lu pegang cacing saja gemeteran setengah mati di empang kemarin, mana mungkin berani membobol brankas isi dokumen negara?"

Nayla yang sedang menangis sedih mendadak mendengus setengah tertawa karena candaan konyol Gibran yang membandingkan brankas perusahaan dengan cacing empang. "Mas Gibran! Ini lagi serius tahu, jangan malah bawa-bawang cacing!" omel Nayla sambil memukul dada Gibran pelan.

Gibran tersenyum tipis, jemarinya bergerak lembut mengusap sisa air mata di pipi Nayla. "Nah, kalau lu sudah bisa ngomel, berarti otak lu sudah bisa diajak mikir jernih lagi. Sekarang, coba lu ingat-ingat dengan baik. Kemarin sore, dari jam empat sampai jam enam, di mana posisi kartu akses lu? Apakah pernah lepas dari dompet atau tangan lu?"

Nayla memejamkan matanya, mencoba memutar kembali memori kejadian kemarin sore. "Kemarin ... setelah aku antar kopi ke ruanganmu, aku pergi ke toilet di lantai ini. Di sana aku ketemu sama ... Mbak Valeria."

Mata Gibran langsung menyipit tajam mendengarnya. "Valeria? Dia ada di lantai ini kemarin sore?"

"Iya," Nayla mengangguk cepat, ingatannya mulai sinkron. "Dia keluar dari salah satu bilik toilet. Terus, dia sempat menyenggol bahuku sampai tas kecilku jatuh dan isinya berhamburan di lantai marmer. Dia sempat bantu aku merapikan barang-barang yang jatuh, termasuk kartu akses itu. Setelah itu dia buru-buru pergi karena katanya ada janji temu."

Gibran melepaskan tangannya dari bahu Nayla, lalu berbalik menatap meja kerjanya dengan pandangan yang dipenuhi kalkulasi bisnis yang dingin. "Senggolan yang sengaja direncanakan untuk menukar atau menduplikasi kartu akses. Klasik sekali."

Gibran menoleh ke arah pintu, lalu berteriak memanggil asistennya. "Gunawan! Masuk sekarang!"

Gunawan membuka pintu dengan cepat. "Ya, Pak Gibran?"

"Panggil Januar ke sini sekarang juga. Suruh dia bawa semua peralatan digitalnya dari divisi pengembangan teknologi. Dan satu lagi... kunci semua pintu keluar-masuk lantai 45. Mulai detik ini, tidak ada satu pun data atau rekaman kamera pengawas yang boleh dihapus atau dimodifikasi oleh siapa pun sebelum tim kita selesai memeriksa," perintah Gibran dengan nada yang penuh otoritas mutlak.

Nayla menatap suaminya yang kini sedang bergerak cepat menyusun strategi serangan balik. Rasa sedih dan terhina yang ia rasakan tadi perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa percaya diri yang baru. Jika Gibran bersedia mempertaruhkan seluruh dunianya demi melindunginya, maka Nayla juga bersumpah tidak akan tinggal diam membiarkan suaminya jatuh miskin akibat kelicikan ular berbaju merah itu.

"Mas," panggil Nayla tegas, mengikat rambutnya ke belakang hingga membentuk kunciran ekor kuda yang rapi mode siap tempur andalannya. "Aku mau ikut bantu. Aku yang paling tahu apa saja barang yang disentuh Valeria di toilet kemarin. Jangan biarkan perempuan cabai merah itu menang."

Gibran menatap perubahan aura istrinya dari mode cengeng menjadi mode siap perang, dan sebuah seringai bangga muncul di wajah tampannya. "Oke, Nyonya Mahardika. Mari kita tunjukkan pada mereka, apa akibatnya kalau berani mengusik ketenangan rumah tangga kita."

1
Shinta Apriyani
🥰
Shinta Apriyani
sehat² Bumil n calon Debay🥰
Shinta Apriyani: sama²🥰
total 2 replies
Rio Mario
cerita nya bagus banget.... semangat ka othor nulis nya
MayAyunda: siap kak terimkasih
total 1 replies
Shinta Apriyani
Alhamdulillah selamat Nay
Shinta Apriyani: sama²☺️..ttp semangat ya👍
total 2 replies
gibran salamun
makin seru aja jalan ceritanya Nayla gak bisa diremehkan biar dari keluarga sederhana
MayAyunda: terimkasih🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
bhsnya ganti Ghibran jgn gw lo lg ya
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Shinta Apriyani
Akhirnya...haaah ikut lega👍☺️
MayAyunda: he he 😄🙏
total 1 replies
M. T🌻
semngat Thor, jangan lupa mampir yar😊
MayAyunda: siap.terumkasih kak
total 1 replies
M. T🌻
semngat Thor💪
Rio Mario
kok cerita nya kaya ngulang ya ?? bknnya seharusnya momen bapaknya minta maaf Nayla dihadapan banyak orang,,🤔
MayAyunda: maaf ..uthornya lagi kurang AQua🙏😁😁
total 1 replies
Preic
kenapa bab ini kayak bab awal2 ya pembicaraan mereka, pleasw thor untuk kembangkan kembali ceritannya.. sudah mulai menarik padal
sory ya thor 🙏
MayAyunda: siap kak .terimakasih sarannya 🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
🤭😄
Shinta Apriyani
Bagus ceritanya..Ringan..menghibur g bikin hari esmosi
Shinta Apriyani
lanjutttt👍
Shinta Apriyani
👍👍🙂
mbaa An
selamt pagi thor,mumpung ini hari minggu apa ga pengen thor kasih doubel up😄🤭😍 trimaksih kak,sehat slalu dan tetap semangat😍
MayAyunda: di usahakan kak ..tapi kadang otak nggk mampu kak soalnya nggak cuma satu buku disambi buruh kak 😀😀🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
ehemmm
MayAyunda: hai kak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Shinta Apriyani
Bagus ceritanya..sy suka..sy suka👍👍👍👍🙂
MayAyunda: terimakasih 🙏🙏
total 1 replies
Shinta Apriyani
👍👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!