Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELARIAN KE PEDESAAN PRANCIS
Membekukan seluruh aset faksi Valois senilai empat puluh juta Euro menggunakan taktik "diplomasi opor ayam" ternyata memicu gelombang kejut yang terlalu masif di dunia bawah tanah Paris. Meskipun kepala ular telah dipotong, ekor-ekor kecil dari sindikat pengkhianat Marseille masih menggeliat liar, mencoba melakukan pembalasan buta. Marc mendeteksi adanya pergerakan beberapa tentara bayaran ( mercenaries ) kelas kakap yang mulai menyisir area urban Île-de-France.
Demi keselamatan mutlak sang permaisuri daster dan untuk memberikan jeda strategis bagi sistem pertahanan siber Aegis, Lucien mengambil keputusan taktis tertinggi: evakuasi mandiri ke wilayah selatan.
Tujuan mereka adalah sebuah desa kecil yang tersembunyi di kawasan Provence, jauh dari bisingnya mesin industri dan intrik politik Paris. Di sana, klan De Calvi memiliki sebuah rumah kebun tua peninggalan generasi pertama klan—sebuah mas tradisional Prancis berbahan batu alam yang dikelilingi oleh hamparan ladang lavender seluas mata memandang.
Perjalanan sejauh ratusan kilometer itu ditempuh menggunakan mobil SUV lapis baja yang dikemudikan oleh Julien dengan kecepatan konstan dan efisiensi rute yang luar biasa. Sepanjang jalan, Alya Putri tidak berhenti takjub memandangi pemandangan padang rumput hijau, perbukitan kapur, dan rumah-rumah batu beratap rumbia yang tampak seperti keluar dari dalam buku dongeng klasik Eropa.
Namun, estetika Eropa itu mendadak mengalami tabrakan budaya yang cukup ekstrem begitu mereka tiba di lokasi sore itu. Alya turun dari mobil, masih mengenakan daster batik motif parang andalannya yang berwarna hijau botol, dibalut kardigan rajut longgar untuk menghalau angin pedesaan yang sejuk.
"Ya ampun, Bang Lucien... ini tempatnya bagus banget! Tapi kok sepi ya? Nggak ada tukang bakso malang atau mamang cilok yang lewat apa di depan gang?" tanya Alya sambil meregangkan kedua tangannya ke udara, menghirup aroma wangi lavender campuran tanah basah pedesaan Prancis yang sangat menenangkan.
Lucien turun dari pintu kemudi, membetulkan letak kemeja flanel hitamnya yang sengaja digulung hingga siku, memamerkan lengan bawahnya yang kekar dan berurat. "Ini adalah zona demiliterisasi pribadi kita, Alya. Tidak ada musuh, tidak ada sinyal publik yang bisa dilacak, dan tidak ada distorsi urban. Di desa ini, kau hanya akan menemukan ketenangan."
Marc menyusul keluar sambil membawa beberapa perangkat pemindai sinyal satelit portabel yang langsung dia pasang di sudut pilar batu rumah kebun. Wajah ketampanan geniusnya tampak sedikit rileks, meskipun kacamata minusnya tetap bertengger kokoh di pangkal hidungnya.
"Aku telah mematikan seluruh fungsi transmisi aktif pada ponsel dan kendaraan kita," lapor Marc, membersihkan lensanya dengan gerakan ritmis yang konstan. "Rumah kebun ini beroperasi dalam mode blackout total. Probabilitas pelacakan oleh faksi Marseille selama kita berada di sini: nol koma nol dua persen. Ini adalah pelarian yang sempurna secara matematis."
Etienne melompat turun dari kursi belakang dengan gaya kasual yang sangat modis, mengenakan syal kasmir cokelat yang melilit lehernya dengan estetika Paris yang kental. Pria pirang gelap itu langsung berlari kecil mendekati Alya, merangkul bahu istrinya dari belakang dengan manja sambil memberikan senyuman menawannya yang paling cerah.
"Alya manisku, lupakan soal tukang bakso sejenak," bisik Etienne dengan nada puitis yang dramatis. "Lihatlah hamparan warna ungu di depan kita. Di tempat ini, aku akan menjadi pelayan pribadimu yang akan memetikkan bunga-bunga lavender terbaik setiap pagi untuk ditaruh di sela-sela rambut hitammu yang indah."
"Halah, gombal terus, Bang Etienne! Mendingan itu bantuin Bang Julien angkat kardus perbekalan dari bagasi, buruan!" sahut Alya gemas, menyikut pelan perut six-pack Etienne yang langsung disambut oleh tawa renyah sang aktor klan.
Julien sendiri sudah mulai bergerak dengan efisiensi mesin pertempuran yang tak terbantahkan. Pria yang biasanya memegang belati titanium itu kini memanggul dua kardus besar berisi bahan makanan logistik lokal yang sempat mereka beli di pasar tradisional komunal kota Avignon tadi siang. Sambil berjalan masuk ke dalam rumah batu, mata abu-abu gelap Julien terus memindai garis cakrawala perbukitan, memastikan tidak ada perimeter penembak runduk ( sniper ) yang mengancam rumah kebun mereka.
Begitu masuk ke dalam rumah kebun tua tersebut, Alya langsung mengambil alih kendali domestik. Rumah batu itu memiliki dapur tradisional Eropa yang sangat luas, dengan perapian kayu bakar yang besar dan meja kayu ek kuno yang tebal di tengahnya.
Meskipun ini adalah pedesaan Prancis, insting daster Palmerah Alya Putri menolak untuk tunduk pada gaya hidup barat yang hambar. Alya langsung membongkar belanjaan mereka: beberapa potong daging sapi bagian sengkel yang segar, wortel, kentang, bawang bombay, dan beberapa ikat rempah daun herbes de Provence asli lokal yang aromanya sangat kuat.
"Malam ini dingin banget, udara pedesaan bikin perut cepat laper," ujar Alya sambil mengikat rambutnya dengan jedai plastik merah andalannya. "Karena kita nggak punya bumbu instan Indonesia di sini, Alya bakal masak sup daging sapi hangat tapi dikawinkan sama gaya masak semur lokal Palmerah. Abang-abang sekalian, kerja bakti dimulai!"
Perintah domestik sang permaisuri adalah hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh status militer apa pun.
Lucien ditugaskan untuk membelah kayu bakar di halaman belakang menggunakan kapak besar. Suara hantaman kapak Lucien yang ritmis ganda menggema di udara sore yang sunyi, memamerkan kekuatan otot punggung dan bahu bidangnya yang bergerak elastis di balik kemeja flanelnya. Setiap kali kayu terbelah sempurna menjadi dua bagian, Lucien akan menyeka keringat di dahinya dengan lengan bajunya, memancarkan ketampanan maskulin yang sangat primitif namun matang.
Marc mengabaikan laptopnya untuk sementara waktu, duduk di meja kayu dapur dengan pisau dapur di tangannya. Dia bertugas memotong wortel dan kentang. Menggunakan logika geometrisnya yang presisi, Marc memotong setiap sayuran dengan ukuran ketebalan yang sangat konsisten hingga tingkat milimeter. "Analisis ketebalan potongan: tiga belas milimeter adalah ukuran optimal agar wortel mencapai tingkat kematangan sempurna tanpa merusak struktur nutrisi intinya saat direbus selama empat puluh lima menit," gumam Marc dengan ekspresi wajah yang sangat serius seolah sedang merakit bom kuantum.
Sementara itu, Etienne bertugas membantu Alya menumis bawang bombay dan menghancurkan lada hitam di dalam cobek kayu lokal. Setiap kali aroma tumisan mulai menguar, Etienne akan sengaja mengarahkan uap masakan tersebut ke arah Alya dengan kibasan tangannya yang anggun, mencoba memanipulasi penilaian masakan dengan pesona visualnya. "Alya, kehangatan sup ini mengingatkanku pada pelukan pertamamu saat aku mengalami masa-masa sulit di Marseille," goda Etienne dengan kedipan mata abu-abunya yang adiktif.
Julien bertugas mengawasi api di dalam perapian batu besar. Pria yang biasanya bertindak sebagai eksekutor berdarah dingin ini duduk bersimpuh di depan tungku, meniup bara api dengan sabar, memastikan panas yang dihasilkan tetap konstan untuk mengungkep daging sapi pilihan Alya. Aura predatornya melunak sepenuhnya di bawah temaram cahaya api jingga, menyisakan ketampanan sunyi seorang penjaga malam yang setia.
Satu jam kemudian, sup daging sapi semur gaya Provence-Palmerah ala Alya Putri matang sempurna. Mereka berlima duduk melingkar di meja kayu ek kuno, dengan satu wadah keramik besar berisi sup yang mengepulkan uap panas di tengah meja. Di sampingnya, tersedia beberapa potong roti baguette Prancis yang renyah di luar namun lembut di dalam sebagai pengganti nasi.
"Ayo makan, semuanya!" seru Alya, menyendokkan potongan daging sapi yang sudah empuk beserta kuah cokelat pekat yang kaya akan aroma lada hitam dan rempah daun pedesaan ke dalam piring Lucien terlebih dahulu.
Lucien mengambil potongan roti baguette, mencelupkannya ke dalam kuah sup buatan Alya, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Seketika itu juga, sepasang mata abu-abu sang jenderal mafia membelalak lembut. Rasa manis gurih dari karamelisasi bawang bombay yang berpadu dengan kehangatan lada hitam dan kelembutan daging sapi yang lumer di lidah langsung memberikan gelombang kenyamanan emosional yang luar biasa, menghalau seluruh rasa dingin dan ketegangan taktis dari pertempuran Paris kemarin.
"Luar biasa, Alya," ucap Lucien dengan suara baritonnya yang berat, rendah, dan penuh getaran kasih sayang yang tulus. "Ini bukan sekadar makanan untuk bertahan hidup. Ini adalah definisi dari kedamaian yang sesungguhnya. Aku belum pernah merasakan daging se-empuk dan se-kaya rasa ini di pedesaan Prancis sepanjang hidupku."
Marc menyusul, menyendok kuah sup dengan presisi tinggi. "Tingkat viskositas kuah dan kelembutan serat daging sapi berada pada angka kepuasan sembilan puluh sembilan persen. Kombinasi rempah lokal Provence dengan teknik ungkep daster Palmerah menciptakan harmonisasi rasa yang sangat efisien untuk memulihkan sistem imun tubuh kita."
Julien memakan bagiannya dalam porsi besar dengan tenang namun rakus, suara kunyahannya yang teratur menandakan kepuasan biologis yang mendalam ( food coma ). Dia tidak banyak bicara, namun mata abu-abu gelapnya menatap Alya dengan binar kehangatan yang sangat dalam, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa masakan istrinya adalah rumah terbaik bagi jiwanya yang lelah.
Etienne mengunyah rotinya sambil tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di bahu Alya yang sedang sibuk mengunyah wortel. "Ah... rasanya aku ingin selamanya bersembunyi di desa ini bersamamu, Alya manisku. Menjadi petani lavender sederhana dan makan sup ini setiap malam bersamamu jauh lebih mewah daripada seluruh harta kekayaan klan De Calvi di Eropa."
Malam semakin larut di pedesaan Provence. Angin malam bertiup kencang di luar, menggoyang dedaunan pohon zaitun tua di sekitar rumah batu, namun di dalam ruang tengah rumah kebun, suasana terasa begitu hangat dan intim.
Setelah selesai membersihkan meja makan bersama, mereka berlima berkumpul di depan perapian batu yang masih menyala hangat. Sebuah kasur busa besar sengaja digelar di lantai, beralaskan selimut wol tebal yang nyaman.
Alya duduk di tengah-tengah, bersandar pada dada bidang Lucien yang kokoh dan luas. Tangan kanan Lucien merangkul pinggang Alya secara protektif, sementara tangan kirinya perlahan mengusap jemari mungil istrinya dengan kelembutan seorang suami pertama. Di sisi kanan Alya, Etienne tidur menyamping sambil memeluk kaki Alya dengan manja seperti seekor kucing besar yang manja.
Di depan mereka, Marc sedang duduk bersandar pada pilar kayu sambil membaca sebuah buku tua tentang arsitektur pedesaan Prancis, dengan kepala sesekali menoleh ke arah Alya untuk memastikan istrinya merasa nyaman. Sementara Julien berbaring telentang di sisi kiri Alya, menjaga perimeter terdekat dengan sepasang mata yang terpejam namun seluruh inderanya tetap siaga untuk melindungi tidur sang permaisuri.
"Bang Lucien... Bang Marc... Bang Julien... Bang Etienne..." bisik Alya pelan, suaranya mulai terdengar mengantuk karena kekenyangan dan kehangatan ruangan. "Terima kasih ya, udah bawa Alya jalan-jalan jauh sampai ke desa ini. Biarpun kita lagi lari dari masalah di Paris, tapi kalau bareng kalian berempat, rasanya di mana pun kita berada... tempat itu bakal selalu kerasa aman kayak di ruko Palmerah."
Lucien mengecup puncak kepala Alya dengan penuh rasa takzim dan cinta yang tak terbatas, mengunci tubuh mungil istrinya dalam dekapan pelukannya yang paling hangat.
"Tidurlah, permaisuriku," bisik Lucien dengan suara baritonnya yang sangat lembut, bergetar penuh janji perlindungan mutlak. "Di balik dinding batu tua ini, di bawah langit Provence, tidak akan ada satu pun bayangan masa lalu yang bisa menyentuhmu. Kau adalah rumah kami, dan kami adalah perisaimu sampai akhir hayat."
Dan malam itu di pedesaan Prancis ditutup dengan keheningan yang sangat suci, sebuah pelarian taktis yang tidak lagi dipenuhi oleh ketakutan atau strategi militer dunia bawah tanah, melainkan sebuah jeda domestik yang indah tempat klan De Calvi dan Alya Putri saling mengunci hati mereka dalam pelukan keluarga yang tak terpatahkan, bersiap menghadapi hari esok dengan kekuatan cinta lokal yang akan selalu menang atas kegelapan dunia mana pun.