NovelToon NovelToon
Sekte Nomor Satu Di Alam Semesta

Sekte Nomor Satu Di Alam Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Darah di Tangga Awan dan Lahirnya Sepuluh Ribu Iblis Kecil

​Tiga hari tiga malam berlalu. Tangga Awan Sembilan Ribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan telah berubah menjadi tungku penempaan yang kejam bagi jutaan nyawa.

​Seiring berjalannya waktu, matahari Benua Tengah yang terik membakar kulit, disusul oleh angin malam yang membawa hawa dingin sedingin es abadi. Namun, musuh sejati para peserta bukanlah cuaca, melainkan tekanan Hukum Dao yang mengalir dari anak tangga itu sendiri.

​Di langkah ke-5.000, tekanan spiritual setara dengan memikul sebuah bukit besi. Di sinilah kepalsuan mulai terungkap. Para tuan muda dari klan bangsawan yang kultivasinya didongkrak menggunakan pil-pil suci mulai berguguran satu per satu. Dantian mereka berderit, Qi mereka berantakan, dan mereka memuntahkan darah sebelum terhempas kembali ke dasar gunung oleh kekuatan formasi yang lembut namun tak tertahankan.

​"Tidak! Aku adalah jenius dari Klan Wang! Bagaimana mungkin aku kalah oleh rakyat jelata?!" ratap seorang pemuda berbaju sutra sebelum tubuhnya terpental jatuh ke bawah awan.

​Di sisi lain, keajaiban dari tekad murni mulai bersinar.

​Langkah ke-9.990. Sembilan anak tangga terakhir menuju puncak.

​Jiang Han, pemuda berpakaian compang-camping dengan wajah penuh luka bakar, berlutut dengan satu kaki. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Darah segar merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menetes membasahi kristal transparan di bawah lututnya. Tulang-tulangnya mengeluarkan suara krak... krak... yang mengerikan, seolah hampir remuk menjadi serpihan.

​Namun, matanya yang menatap ke puncak tangga menyala bagaikan bara api di tengah badai salju.

​"Ibu... Ayah... aku berjanji tidak akan mati sebagai anjing di jalanan," geram Jiang Han dengan suara serak.

​Ia menancapkan kuku-kukunya yang patah ke anak tangga berikutnya dan menyeret tubuhnya naik. Hati Dao Besi Karat-nya beresonansi dengan tekanan formasi, perlahan-lahan memurnikan sisa-sisa Qi kotor di dalam tubuhnya yang dulunya dianggap sebagai 'Akar Roh Sampah'.

​Tidak jauh di sebelahnya, seorang gadis cantik berpakaian sederhana yang dipenuhi noda lumpur juga sedang merangkak naik. Namanya Su Qingxue. Dulunya ia adalah Nona Besar dari klan ternama, namun meridiannya dihancurkan oleh tunangannya sendiri demi merampas warisannya. Tanpa Qi spiritual setetes pun, ia mendaki murni menggunakan daya tahan fisik dan dendam yang membara.

​"Hanya... satu langkah... lagi..." Su Qingxue menggigit bibir bawahnya hingga robek.

​Di atas pelataran Benua Melayang, Ye Fan, Su Yue, dan Lin Tian mengawasi mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda.

​"Gadis itu tidak memiliki kultivasi sama sekali, namun tekadnya lebih tajam dari beberapa pedang yang pernah kulihat," komentar Ye Fan, matanya memancarkan secercah apresiasi.

​Lin Tian mendengus pelan, matanya tertuju pada Jiang Han. "Pemuda berwajah luka bakar itu memancarkan bau keputusasaan yang lezat. Jika dia berhasil naik, aku akan mengajaknya berlatih tanding untuk melihat seberapa keras tulangnya."

​DENGGG!

​Suara lonceng kuno bergema membelah langit sore. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang menyinari puncak Tangga Awan.

​Waktu telah habis.

​Tepat saat lonceng itu berdentang untuk ketiga kalinya, Jiang Han, Su Qingxue, dan beberapa pemuda lainnya menyeret tubuh mereka melewati anak tangga terakhir, jatuh tengkurap di atas pelataran giok putih Benua Melayang.

​WUSSHHH!

​Bagi jutaan peserta yang masih tertinggal di anak tangga bawah, sebuah embusan angin yang tak bisa dilawan menyapu mereka dengan lembut, memindahkan mereka kembali ke kaki gunung dalam sekejap mata. Tangga Awan perlahan memudar menjadi serpihan cahaya bintang dan menghilang.

​Di atas pelataran yang luas, tepat sepuluh ribu orang terbaring terengah-engah, bersimbah darah dan keringat. Mereka adalah yang terpilih. Sepuluh ribu monster muda dengan tekad sekeras berlian yang berhasil selamat dari seleksi paling brutal di Benua Tengah.

​Sebelum mereka sempat bersorak merayakan kemenangan mereka, langit di atas pelataran tiba-tiba bergetar.

​Bunga-bunga teratai emas yang terbuat dari Qi murni bermekaran di udara kosong. Suara musik surgawi mengalun pelan, meredakan rasa sakit di tubuh kesepuluh ribu peserta secara instan. Luka-luka luar mereka menutup, dan meridian mereka yang lelah kembali dipenuhi oleh energi yang menyegarkan.

​Dari dalam Kuil Kaca Bintang, Lin Chen melangkah keluar. Ia berjalan menuruni tangga udara dengan santai, jubah putihnya berkibar tanpa cacat. Di belakangnya, ilusi sebuah galaksi yang luas berputar dengan tenang, memberikan tekanan spiritual yang membuat sepuluh ribu peserta ujian itu secara naluriah berlutut.

​"Menyambut Yang Mulia Master Sekte!" teriak sepuluh ribu suara itu serempak, menggetarkan awan di atas Benua Melayang.

​Lin Chen mendarat di hadapan barisan Ye Fan dan yang lainnya. Ia menyapu pandangannya ke arah sepuluh ribu wajah yang kini memancarkan pemujaan dan harapan.

​"Kalian berhasil mendaki Tangga Awan," suara Lin Chen datar, tanpa emosi, namun menembus relung jiwa mereka. "Banyak dari kalian mungkin merasa bangga. Merasa bahwa kalian adalah naga di antara manusia, jenius di antara yang fana."

​Lin Chen tersenyum mengejek, sebuah senyuman arogan yang meruntuhkan ilusi mereka seketika.

​"Namun di mataku, kalian belum menjadi apa-apa. Di Sekte Puncak Awan, kalian hanyalah bentuk kehidupan paling rendah. Mulai hari ini, kalian adalah Murid Pelataran Luar (Outer Disciples). Status kalian bahkan lebih rendah dari Sembilan Naga Banjir Emas yang menarik kapalku."

​Mendengar itu, banyak yang menelan ludah. Status lebih rendah dari hewan peliharaan?

​"Di sekte ini, kami tidak peduli siapa ayah kalian, raja dari kerajaan mana kalian berasal, atau seberapa tragis masa lalu kalian," Lin Chen melanjutkan, melirik sekilas ke arah Jiang Han dan Su Qingxue. "Di sini, satu-satunya Hukum adalah Kekuatan, dan satu-satunya Kebenaran adalah kata-kataku."

​Lin Chen merentangkan tangannya, dan Hukum Dao di Benua Melayang beresonansi.

​"Namun, sebagai gantinya... jika kalian memiliki tekad untuk merangkak melewati lautan darah dan bertahan dari neraka pelatihan kami, Kursi Ini berjanji, bahkan kaisar dari Alam Abadi pun akan berlutut di hadapan kalian di masa depan!"

​Pidato yang arogan, kejam, namun dipenuhi oleh janji dominasi mutlak itu membakar darah kesepuluh ribu murid baru tersebut. Hati Dao mereka bergemuruh.

​"Hidup dan mati untuk Sekte Puncak Awan!" raung Jiang Han di barisan depan, suaranya serak namun menggelegar, langsung diikuti oleh sepuluh ribu suara lainnya yang menciptakan gema badai.

​Di dalam benak Lin Chen, sistem akhirnya berdenting merdu.

​[Ding!]

[Misi 'Membangun Dinasti Puncak Awan' - Selesai!]

[10.000 Murid Berbakat dengan Hati Dao di atas rata-rata telah direkrut!]

[Poin Reputasi +50.000!]

[Mendapatkan Hadiah Bangunan Sistem Tingkat Dewa (Menengah): 'Paviliun Sutra Segala Takdir' (Pavilion of All-Destiny Scriptures)!]

[Mendapatkan Hadiah Ekstra: 'Tungku Alkimia Surga Penelan Bintang'!]

​Mata Lin Chen sedikit berbinar melihat hadiah tersebut. Ia benar-benar membutuhkan fondasi seni bela diri dan pasokan pil untuk merawat sepuluh ribu "bayi monster" ini agar cepat tumbuh menjadi pasukan iblis yang mematikan.

​"Ye Fan," perintah Lin Chen, membalikkan badannya untuk kembali ke istana. "Bawa mereka ke asrama Pelataran Luar. Besok pagi saat matahari terbit, Kursi Ini ingin melihat mereka memulai penempaan tubuh. Jika ada yang mengeluh lelah, potong lidahnya."

​"Murid laksanakan!" jawab Ye Fan sambil tersenyum tipis, tangannya mengelus gagang pedangnya.

​Bagi kesepuluh ribu murid baru itu, mimpi buruk di Tangga Awan ternyata hanyalah sekadar pemanasan. Neraka yang sesungguhnya di Sekte Puncak Awan baru saja akan dimulai.

1
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Ress
Kurang ajar memang🤣/Sob/
Deevy Tresiyana
💪Thor karya mu sangat kereeen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!