NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Maria meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang cukup keras di atas meja.

Matanya menatap Onur dengan saksama, mencoba menembus dinding harga diri pria di hadapannya itu.

"Apakah kamu ingin memberitahukan kepada anak-anak kalau kita dulu mempunyai hubungan?" tanya Maria dengan suara rendah namun tajam. "Dan apa istrimu tahu kalau kamu di sini? Kamu tahu sendiri bagaimana Zaenab yang selalu mencari kesalahanku, Onur. Dia tidak akan tinggal diam jika tahu kita bertemu."

Onur menggelengkan kepalanya perlahan. Ia memijat pelipisnya, membayangkan reaksi Zaenab yang posesif dan emosional jika mengetahui pertemuan ini.

"Untuk sementara kita rahasiakan ini. Jangan sampai Emir dan Aliya mengetahuinya," jawab Onur tegas.

Ia menatap Maria dengan sorot mata yang sulit diartikan, seolah sedang menyusun rencana besar di kepalanya.

"Aku akan menikahkan mereka."

Mata Maria membelalak. Ia nyaris tersedak roti yang baru saja ia gigit.

"Onur, jangan gila! Putriku masih usia sekolah. Dia punya masa depan, punya mimpi yang ingin ia kejar. Kamu ingin mengikatnya begitu saja?"

"Aku akan menjaga Aliya," potong Onur dengan nada bicara yang mutlak, nada yang sama yang ia gunakan saat memimpin perusahaan raksasanya.

"Di rumah itu, dia akan aman di bawah perlindunganku dan Emir. Menikah dengan Emirhan adalah jaminan bahwa dia tidak akan pernah kekurangan sepeser pun dan tidak akan ada yang berani menyentuhnya."

Maria menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas.

Ia memijat keningnya yang mendadak terasa pening. Skema yang dibuat Onur terasa sangat cepat dan egois di telinganya.

"Ya Tuhan, kenapa dunia semakin gila..." ujar Maria putus asa.

"Dulu kamu meninggalkanku karena status, dan sekarang kamu ingin membayar rasa bersalahmu dengan menjodohkan anak-anak kita? Onur, mereka bukan bidak catur yang bisa kamu gerakkan sesukamu."

"Ini bukan soal rasa bersalah, Maria. Ini soal masa depan," balas Onur dingin.

Maria hanya bisa menatap keluar jendela kafe. Ia teringat Aliya yang sedang mengenakan seragam sekolahnya, dan Emirhan yang begitu protektif.

Ia terjebak di antara kebenciannya pada masa lalu dan kenyataan bahwa putrinya memang tampak sangat bergantung pada putra dari pria yang pernah menghancurkan hatinya.

"Dunia ini memang sudah gila," bisik Maria lagi, lebih kepada dirinya sendiri. "Dan kita adalah bagian dari kegilaan itu."

Maria bangkit dari kursinya tanpa menunggu jawaban lagi dari Onur.

Ia merasa setiap detik yang ia habiskan di depan pria itu hanya akan mengorek luka lama yang belum sepenuhnya pulih.

"Aku harus kembali ke rumah makan. Zartan tidak bisa menjaga tempat itu sendirian terlalu lama," ucap Maria dingin sambil menyampirkan tasnya.

Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dari kafe, meninggalkan Onur yang masih terpaku menatap meja kosong di depannya.

Onur menghela napas panjang, merapikan jasnya, dan melangkah menuju mobil hitamnya untuk kembali ke perusahaan.

Pikirannya masih dipenuhi dengan wajah Maria dan rencana pernikahan yang ia cetuskan tadi.

Baginya, menyatukan Aliya dan Emirhan bukan hanya sekadar perjodohan, melainkan cara untuk menebus dosa masa lalu yang tak pernah ia akui secara terbuka.

Sementara itu, di sekolah, suasana terasa sangat berbeda bagi Aliya.

Begitu ia melangkah masuk ke dalam kelas, ia seolah menarik garis tegas antara kehidupan pribadinya di mansion Karadağ dan statusnya sebagai seorang pelajar.

Aliya duduk di bangkunya, mengeluarkan buku catatan tebal dan mulai merapikan jadwal belajarnya.

Ia tahu, Minggu depan adalah ujian akhir—momen penentu masa depannya yang selama ini ia cita-citakan.

"Aku tidak boleh gagal," bisiknya pada diri sendiri sambil membuka buku pelajaran Biologi.

Aliya berusaha mematikan segala kebisingan di kepalanya. Bayangan anting-anting berlian di sakunya, wajah ketus Zaenab, hingga tatapan posesif Emirhan, semuanya ia tekan dalam-dalam.

Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar yang ia miliki jika suatu saat dunia mewah Emirhan berbalik membelakanginya.

Ia tidak mau sekolahnya terganggu karena masalah cinta atau konflik keluarga yang rumit.

Sepanjang jam pelajaran, Aliya menjadi murid yang paling tenang dan fokus.

Ia mencatat setiap penjelasan guru dengan teliti, seolah-olah setiap kata yang tertulis di papan tulis adalah mantra yang bisa menyelamatkannya dari kekacauan hidup yang sesungguhnya sedang menantinya di luar gerbang sekolah.

Namun, di tengah fokusnya, tangan Aliya sesekali masih menyentuh saku seragamnya, merasakan bentuk tajam anting yang tersimpan di sana—sebuah pengingat bahwa ketenangan ini mungkin hanya sesaat sebelum badai besar kembali datang.

Bel sekolah berdering nyaring, memecah kesunyian koridor dan menandakan berakhirnya jam pelajaran.

Aliya melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan tas ransel yang terasa berat, namun beban di pikirannya jauh lebih berat.

Di seberang jalan, mobil mewah Emirhan sudah terparkir rapi. Pria itu bersandar di pintu mobil, tampak begitu mencolok di antara kerumunan siswa lainnya.

Begitu Aliya mendekat, Emirhan membukakan pintu dengan senyum hangat yang biasanya selalu berhasil membuat jantung Aliya berdesir.

"Bagaimana sekolah hari ini? Lancar belajarnya?" tanya Emirhan sambil mulai melajukan mobilnya membelah kemacetan.

Aliya hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil, matanya menatap lurus ke depan.

Tangannya merogoh saku seragamnya, menggenggam benda kecil yang sejak semalam membuatnya tidak bisa memejamkan mata.

"Emir, bisa kita bicara sebentar?" suara Aliya terdengar sangat pelan, namun mengandung keseriusan yang membuat Emirhan seketika waspada.

Emirhan melirik Aliya, lalu menepikan mobilnya di sebuah area yang cukup tenang di bawah naungan pohon-pohon besar.

Ia mematikan mesin dan memutar tubuhnya menghadap Aliya.

"Iya Sayang, ada apa? Kamu kelihatan pucat sekali," ucap Emirhan lembut, tangannya terulur ingin mengusap pipi Aliya, namun Aliya sedikit menjauh.

Aliya menarik tangannya dari saku. Ia membuka kepalan tangannya, menunjukkan sebuah anting berlian yang berkilau tajam di bawah sinar matahari siang itu.

Ia meletakkannya di atas telapak tangan Emirhan yang terbuka.

"Sepertinya ini punya kekasihmu yang tertinggal di kamarmu semalam," ucap Aliya dengan suara yang mulai bergetar.

"Aku menemukannya jatuh di dekat tempat tidurmu saat aku ingin menemuimu semalam."

Emirhan mematung. Matanya menatap anting itu dengan rasa terkejut yang luar biasa.

Ia tahu itu milik Laura, namun ia tidak menyangka Aliya akan menemukannya di saat yang begitu krusial.

"Aliya, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku bisa jelaskan—"

"Tidak perlu, Emir," potong Aliya dengan air mata yang mulai tumpah membasahi pipinya.

Ia menarik napas pendek yang terasa sesak. "Lebih baik kita akhiri saja, Emir. Aku tidak mau semakin sakit."

Aliya menoleh ke arah jendela, mencoba menyembunyikan isak tangisnya.

"Dunia kita memang berbeda. Rumahmu, keluargamu, dan wanita-wanita di sekelilingmu. Aku tidak akan pernah bisa menyesuaikan diri. Sebelum aku semakin jauh terjatuh dan hancur, biarkan aku pergi sekarang."

Emirhan mencengkeram anting itu dengan kemarahan pada dirinya sendiri dan pada Laura.

Ia merasa dunia yang baru saja ia bangun untuk Aliya tiba-tiba retak hanya karena sebuah benda kecil yang tak berarti baginya, namun sangat menghancurkan bagi Aliya.

Emirhan tertegun, tangannya yang masih memegang anting itu menggantung di udara.

Keheningan di dalam mobil mewah itu mendadak pecah oleh suara pintu yang dibuka dengan kasar.

Aliya keluar dari mobil dengan langkah seribu. Ia tidak menoleh lagi, meski hatinya terasa seperti disayat sembilu.

Di saat yang sama, sebuah taksi kuning melintas di jalanan yang cukup ramai itu.

Aliya mengangkat tangannya dengan panik, seolah-olah taksi itu adalah satu-satunya sekoci penyelamat di tengah badai.

"Aliya, tunggu! Aliya, dengarkan aku dulu!" teriak Emirhan sambil melompat keluar dari mobilnya.

Namun, Aliya sudah menutup pintu taksi dengan bantingan keras.

"Jalan, Pak! Cepat!" perintah Aliya pada sopir taksi, suaranya parau karena tangis yang ia tahan di tenggorokan.

Taksi itu melesat, meninggalkan Emirhan yang berdiri mematung di pinggir jalan dengan wajah yang hancur.

Ia ingin mengejar, namun arus lalu lintas yang padat membuatnya kehilangan jejak dalam sekejap.

Di dalam taksi, Aliya menyandarkan kepalanya ke kursi belakang.

Ia mengeluarkan secarik kertas dari tasnya, berisi alamat sahabat dekatnya.

"Antarkan aku ke alamat ini, Pak," ucap Aliya sambil memberikan kertas itu.

Aliya memutuskan untuk pergi ke rumah Leyla. Sahabatnya itu hari ini tidak masuk sekolah karena tidak enak badan, dan saat ini, Leyla adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya untuk menumpahkan segala sesak di dadanya.

Ia tidak mungkin pulang ke rumah ibunya dalam kondisi seperti ini; Maria hanya akan semakin menyalahkan pilihannya.

Sepanjang perjalanan, Aliya hanya menatap kosong ke luar jendela.

Bayangan anting-anting itu kembali menghantui pikirannya.

Ia merasa bodoh karena sempat percaya bahwa seorang pria seperti Emirhan benar-benar bisa setia pada gadis kecil seperti dirinya.

"Kamu harus kuat, Aliya. Minggu depan ujian. Jangan biarkan mereka menghancurkan masa depanmu," bisiknya pada diri sendiri, meski air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

Taksi itu pun berhenti di depan sebuah rumah sederhana namun asri di pinggiran kota. Aliya turun, mengusap wajahnya yang sembab, dan melangkah menuju pintu rumah Leyla.

Ia berharap, di balik pintu itu, ia bisa menemukan sedikit ketenangan sebelum ia benar-benar harus menghadapi kenyataan pahit di mansion Karadağ nanti.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!