NovelToon NovelToon
Pawang Iblis Jalur Orang Dalam

Pawang Iblis Jalur Orang Dalam

Status: tamat
Genre:Iblis / Persahabatan / Slice of Life / Komedi / Tamat
Popularitas:814
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Bima cuma anak SMA sekolah sihir biasa yang mager-nya kebangetan. Pas ujian praktek manggil familiar (hewan peliharaan sihir), dia malah kepeleset, lidahnya keseleo, dan nggak sengaja ngebaca mantra terlarang. Bukannya dapet kucing terbang yang lucu, dia malah manggil Lucifer, salah satu petinggi iblis dari kerak neraka. Apesnya, kontrak sihir mereka permanen! Sekarang Bima harus rela kamarnya diacak-acak sama cowok emo bersayap kelelawar yang ternyata cepet banget adaptasi jadi wibu, kecanduan main PS5, dan doyan seblak level 5. Tapi jujur, lumayan sih buat disuruh ngerjain PR Matematika Sihir dan ngusir preman sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seblak Level 5 dan Malaikat yang Salah Alamat

Keringat dingin mulai ngucur di pelipis gue, dan itu bukan karena gue takut bakal diculik organisasi rahasia atau apa. Bukan. Ini murni karena bau kencur yang menyengat dan uap panas dari mangkuk merah di depan gue.

Gue ngelirik Luci yang duduk di sebelah gue. Iblis yang kalau di buku sejarah sihir digambarin sebagai sosok menyeramkan pemakan jiwa itu, sekarang lagi sibuk niup-niup kerupuk basah dengan ekspresi muka yang serius banget. Winged-eyeliner-nya yang rada luntur kena keringat bikin dia makin kelihatan kayak anak punk yang lagi galau di pinggir jalan.

"Bim, ini beneran aman buat lambung gue?" tanya Luci pelan, matanya natap curiga ke kuah yang warnanya lebih merah dari merahnya bendera Jepang.

"Lo kan iblis, Luc. Masa takut sama gilingan cabe doang? Katanya lu pernah mandi di sungai lahar?" ejek gue sambil nyuap sesendok kuah. Anjir. Langsung kerasa di tenggorokan, kayak ada naga yang lagi latihan sembur api.

Luci nggak mau kalah. Dia langsung nyamber sesendok penuh makaroni dan ceker ayam. Sedetik, dua detik... mukanya yang tadinya putih pucat khas penghuni kegelapan langsung berubah jadi pink fanta.

"UHUK! ANJIR! BIM! GUE KAYAK LAGI NELEN BARA NERAKA TINGKAT SEMBILAN!" teriak dia sambil megap-megap. Dia langsung nyamber es teh manis gue sampe tandas.

"Santai dong, itu baru level lima. Belum level sepuluh yang cabenya udah kayak tumpukan dendam pribadi," kata gue sambil ketawa kecil, meskipun perut gue sendiri sebenernya udah mulai demo.

Di tengah kegaduhan kami yang nggak jelas itu, tiba-tiba tengkuk gue merinding. Bukan merinding horor kayak ada kuntilanak nempel, tapi rasa merinding yang beda. Dingin, bersih, dan... wangi sabun bayi? Aneh banget.

Luci tiba-tiba berhenti ngunyah ceker. Matanya yang tadi sibuk sama pedasnya seblak, sekarang berubah jadi tajam. Dia nggak ngomong apa-apa, cuma naruh sendoknya pelan-pelan ke mangkuk.

"Bim," bisik dia. Suaranya nggak receh kayak tadi. Ini suara 'Lucifer' yang aslinya. "Ada yang nggak beres."

Gue pura-pura tenang, padahal jantung gue udah kayak lagi konser drum metal. "Apaan? Polisi sihir? Atau preman yang tadi?"

"Bukan. Baunya... terlalu suci. Gue mau muntah."

Gue nengok ke arah pintu masuk kedai yang cuma ditutupin spanduk bekas. Seorang cewek masuk. Dia pakai seragam SMA yang sama kayak gue, tapi rapinya minta ampun. Roknya nggak dipendekin, kaos kakinya putih bersih, dan rambutnya dikuncir kuda dengan rapi banget sampe nggak ada satu helai pun yang berani keluar jalur.

Dia celingak-celinguk bentar, terus matanya terkunci ke arah gue. Lebih tepatnya, ke arah bayangan gue tempat Luci biasanya 'nempel'.

"Bima Adiwangsa?" tanya cewek itu sambil jalan mendekat. Suaranya lembut banget, tapi entah kenapa bikin gue ngerasa kayak lagi disidang guru BK.

"Eh, iya? Siapa ya? Mau nawarin asuransi sihir?" jawab gue asal, mencoba buat tetep kelihatan santai.

Cewek itu narik kursi di depan gue tanpa permisi. Dia duduk tegak, tangannya ditaruh di atas meja dengan posisi sempurna. "Nama saya Seraphina. Saya dari perwakilan OSIS... bagian 'Urusan Luar Biasa'."

Gue ngerutin dahi. Perasaan OSIS sekolah gue nggak punya divisi serandom itu. Paling banter juga divisi olahraga atau kerohanian. "Urusan Luar Biasa? Kayak apa tuh? Ngurusin alien?"

Seraphina senyum tipis. Cantik sih, tapi senyumnya itu kayak robot yang baru diprogram buat ramah. "Sesuatu yang mirip seperti itu. Bima, kita perlu bicara soal 'peliharaan' baru kamu. Keberadaan dia di sini nggak terdaftar di database sekolah, apalagi di kementerian."

Luci yang dari tadi diem, tiba-tiba nyeletuk di deket telinga gue—tapi kayaknya Seraphina nggak bisa denger suara dia secara langsung kalau Luci nggak mau. "Bim, ini bocah bau surgawi banget. Fix, ini pasti malaikat magang yang dibilang di ramalan receh itu."

"Diem lu, Luc," gumam gue pelan.

"Apa, Bima? Kamu bilang sesuatu?" tanya Seraphina sambil miringin kepalanya sedikit.

"Enggak, ini... anu, gue lagi ngomong sama... eh, ini temen gue lagi sariawan," gue makin ngaco.

Seraphina tiba-tiba ngeluarin sebuah tablet transparan dari tasnya. Dia geser-geser layarnya dengan gerakan anggun. "Jangan bohong, Bima. Kamu nggak sengaja manggil entitas kelas tinggi saat ujian praktek kemarin. Menurut prosedur langit—eh, maksud saya prosedur sekolah—entitas tersebut harus dikarantina atau dipulangkan ke asalnya karena berpotensi merusak ekosistem remaja SMA."

Gue langsung ngerasa nggak terima. Oke, Luci emang berisik, tukang habisin kuota hotspot gue, dan doyan seblak. Tapi dia yang bantuin gue ngerjain PR tadi pagi (meskipun jawabannya agak sesat). "Eh, bentar. Ini kontrak permanen, Mbak Sera. Nggak bisa main pulangkan-pulangkan aja. Lagian dia nggak ganggu siapa-siapa, kok. Paling cuma ganggu tagihan listrik rumah gue doang."

Seraphina natap gue dalem, seolah-olah dia lagi nembus ke dalam jiwa gue yang berantakan ini. "Kamu nggak paham risikonya, Bima. Dia itu Lucifer. Kamu tahu kan siapa dia di literatur lama? Kalau pihak 'Sana' tahu dia ada di dunia manusia tanpa pengawasan ketat, sekolah ini bisa jadi medan tempur."

"Pihak 'Sana' itu siapa? Tuhan? Atau CEO-nya langit?" tanya gue mulai kesel. "Gini ya, Mbak. Gue cuma pengen sekolah tenang, lulus, terus kerja yang gajinya gede tapi kerjanya dikit. Gue nggak minta dipasangin sama raja iblis ini. Tapi sekarang udah kejadian, dan dia anteng-anteng aja tuh makan seblak."

Luci tiba-tiba menampakkan wujudnya tipis-tipis, cuma bisa dilihat sama gue dan (kayaknya) Seraphina. Dia nyender ke bahu gue sambil meletin lidah ke arah Seraphina. "Tuh, dengerin kata tuan gue, bocah sayap putih. Gue di sini lagi cuti panjang. Di neraka lagi renovasi AC, panas banget."

Seraphina mukul meja pelan, tapi suaranya kedengeran kayak dentuman lonceng gereja di telinga gue. "Ini bukan candaan! Bima, saya diutus buat mastiin kamu nggak diseret ke jalur kegelapan. Mulai besok, saya bakal ngawasin kamu 24 jam."

Gue melongo. "Hah? 24 jam? Maksudnya lo mau ngintilin gue ke kamar mandi juga?"

Muka Seraphina mendadak merah sedikit, tapi dia cepet-cepet balik ke ekspresi datar. "Jangan mesum! Maksud saya, saya akan berada di sekitar kamu. Sebagai mentor... atau pengawas. Intinya, kalau iblis ini mulai macem-macem, saya yang bakal ambil tindakan."

"Tindakan apa? Mau nyanyiin lagu rohani biar gue tobat?" Luci ngeledek sambil ketawa ngakak.

Seraphina nggak ngejawab Luci. Dia berdiri, ngerapiin roknya, terus natap gue lagi. "Bima, duniamu nggak sesederhana yang kamu kira. Ada orang-orang yang lagi ngincer kamu lewat teropong sihir sekarang. Kamu itu 'kelainan' dalam sistem. Dan sistem... biasanya suka menghapus kelainan."

Setelah ngomong gitu, dia pergi gitu aja ninggalin kedai seblak dengan langkah yang bener-bener simetris. Gue cuma bisa bengong sambil megang sendok yang udah dingin.

"Bim," panggil Luci pelan.

"Apa?"

"Cewek tadi... dia nggak main-main. Gue ngerasa ada kekuatan besar yang nahan dia biar nggak meledak di sini."

Gue ngehela napas panjang. Gue cuma mau makan seblak dengan tenang, kenapa malah dapet ancaman pengawasan 24 jam dari malaikat berkedok anak OSIS? Hidup gue yang tadinya cuma sebatas mikirin gimana caranya nggak remedial Matematika Sihir, sekarang nambah beban jadi: gimana caranya nggak mati di tengah perang langit dan neraka.

"Luc, kayaknya mulai besok kita harus rajin mandi deh," kata gue asal.

"Kenapa?"

"Biar kalau mati pas lagi diawasin malaikat, minimal mayat kita wangi."

Luci diem bentar, terus dia lanjut makan seblak yang udah dingin itu. "Bener juga. Eh, tapi Bim, seblak ini beneran enak ya. Besok beli lagi tapi yang level tujuh ya?"

"LO MAU MATI BENERAN APA GIMANA?!"

Gue bayar seblaknya dengan perasaan gundah gulana. Sambil jalan ke parkiran motor, gue ngerasa udara malam ini beda. Ada sensasi kayak ribuan mata lagi natap gue dari kegelapan. Gue nengok ke belakang, ke atap gedung-gedung tua di sekitar situ. Kosong. Tapi gue tahu, mereka ada di sana.

Pas gue mau nyalain motor, gue nemuin selembar kertas kecil di stang motor gue. Tulisannya rapi banget, baunya wangi melati.

*“Tidurlah yang nyenyak\, Bima. Besok jam 6 pagi saya jemput di depan rumah. Kita mulai latihan pengendalian entitas. Jangan telat\, atau saya laporkan ke kepala sekolah atas kepemilikan makhluk ilegal.” - Seraphina.*

Gue jedotin kepala ke stang motor berkali-kali.

"Bim, motornya jangan dirusak, gue belum sempet main PS5 hari ini!" protes Luci dari dalam bayangan.

"Diem lo! Ini gara-gara lo, hidup gue jadi kayak drama Korea genre supranatural yang budget-nya rendah!"

Gue pun ngegas motor, pulang dengan perasaan campur aduk antara pedasnya seblak yang mulai nyerang perut dan horornya hari esok. Gue nggak tau apa yang bakal terjadi, tapi satu hal yang pasti: hidup tenang gue udah resmi berakhir di mangkuk seblak level lima tadi sore.

Sesampainya di rumah, Luci langsung loncat ke kasur dan nyalain PS5 gue seolah itu barang miliknya. Gue cuma bisa duduk di pinggir kasur, ngeliatin punggung iblis yang lagi asyik main game bola itu.

"Luc, lo sebenernya tau nggak kenapa lo kepanggil sama gue?" tanya gue tiba-tiba.

Luci nggak nengok, tangannya lincah mencet tombol kontroler. "Gue rasa bukan kebetulan, Bim. Mantra yang lo baca itu bukan sekadar mantra salah sebut. Itu mantra panggilan jiwa yang paling murni. Lo lagi ngerasa kesepian banget ya pas ujian itu?"

Gue tertegun. Kesepian? Ya, mungkin. Gue selalu ngerasa jadi figuran di sekolah gue sendiri. Bukan yang paling pinter, bukan yang paling jago sihir, cuma 'Bima yang biasa aja'. Mungkin jauh di dalem hati, gue emang pengen sesuatu yang... luar biasa.

Tapi ya nggak 'Raja Iblis' juga kali yang dateng!

"Udah ah, jangan melow. Sini main bareng, kalau gue menang, lo besok harus beliin gue skin baru di game ini," kata Luci sambil nyengir licik.

Gue senyum tipis. Yah, seenggaknya untuk malam ini, gue masih punya temen buat main game, walaupun temen gue ini bisa bikin dunia kiamat kalau dia mau.

"Oke, siapa takut. Siap-siap kalah, Luci-peler!"

"NAMA GUE LUCIFER, BEGO!"

Malam itu berakhir dengan teriakan-teriakan nggak jelas dari kamar gue. Di luar, di bawah pohon mangga depan rumah, seorang cewek berdiri mematung, merhatiin jendela kamar gue yang masih terang. Dia megang walkie-talkie sihirnya lagi.

"Subjek masih dalam kondisi stabil. Iblisnya sedang... bermain simulasi sepak bola. Ya, saya serius. Tidak ada tanda-tanda agresi untuk saat ini. Saya akan melakukan pendekatan lebih dalam besok pagi. Laporan selesai."

Dunia emang udah gila, dan gue baru aja dapet tiket VVIP buat nonton kegilaan itu dari barisan paling depan. Atau mungkin, gue lah bintang utamanya. Sialan. Gue benci banget jadi pusat perhatian.

Gue matiin lampu kamar, nyoba buat merem meskipun perut gue makin melilit gara-gara cabe tadi. Besok bakal jadi hari yang panjang. Sangat panjang. Dan gue cuma berharap, Seraphina nggak beneran ngajak gue sholat tahajud atau semacamnya buat 'nyuci' pengaruh Luci.

"Bim, jangan lupa setting alarm jam 5.45 ya," gumam Luci sambil ngorok kecil di karpet bawah.

"Bacot, Luc. Tidur!"

Dan kegelapan malam pun nelan sisa-sisa hari itu, nyisain misteri tentang siapa sebenernya yang lagi mainin bidak catur di atas hidup gue. Gue cuma pion, tapi pion pun bisa jadi menteri kalau dia bisa sampe ke ujung papan, kan? Kita liat aja nanti.

1
Umi Saadah
seruuuu
Syruuu: aaaaa makasihhhh kalau kakak sukaaa❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!