NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Bedak Tembok vs Helm Proyek

Matahari pagi menyapa dengan kehangatan yang pas, tidak terlalu menyengat namun cukup untuk membakar semangat.

Melan berdiri di pinggir lahan luas yang kini sudah dipenuhi oleh tumpukan material. Suasana di sini jauh lebih hidup daripada keheningan istana yang mencekik.

Suara dentuman palu, gesekan gergaji, dan teriakan instruksi dari Jaka menjadi musik yang merdu di telinga Melan.

Dia tersenyum lebar melihat para pria yang kini mengenakan rompi kulit tebal dan pelindung kepala dari rotan anyaman kuat. versi darurat dari helm proyek yang dia desain sendiri.

"Nah, gitu dong! Keamanan itu nomor satu, kawan-kawan!" seru Melan sambil bertepuk tangan.

Di sisi lain, aroma sedap mulai tercium dari dapur umum sementara. Ibu-ibu tampak sibuk mengaduk kuali besar berisi sup daging dan sayuran, sementara anak-anak kecil dengan riang membantu mencuci piring atau membawakan air minum.

"Yang Mulia Permaisuri!" Jaka menghampiri sambil menyeka keringat di dahinya.

"Semuanya berjalan lancar. Pondasi sisi timur sudah mulai digali. Ternyata orang-orang ini punya keahlian yang terpendam, mereka hanya butuh kesempatan."

Melan mengangguk puas. "Saya sudah bilang, Jaka. Manusia itu kalau perutnya kenyang dan masa depannya jelas, kerjanya bakal seribu persen. Terus pantau ya, jangan ada yang malas-malasan."

"Siap, Yang Mulia!"

Saat Melan sedang asyik menikmati pemandangan "proyek" pertamanya itu, tiba-tiba terdengar suara gemerincing kereta kuda yang mewah dan tawa cekikikan yang melengking.

Dari arah jalan utama, muncul tiga kereta kuda berhias bunga-bunga yang tampak sangat mencolok di lingkungan kumuh tersebut.

Pintu kereta terbuka, dan turunlah rombongan gadis bangsawan dengan gaun-gaun mekar yang menyapu debu jalanan.

Di barisan paling depan, tentu saja, ada Nona Fek Fe dengan kipas bulu-bulunya dan wajah yang tetap dempul seperti biasanya.

"Aduh, aduh... bau apa ini? Hidung saya bisa rusak kalau lama-lama di sini," ucap Fek Fe sambil menutup hidungnya dengan saputangan sutra, suaranya tetap dipencet ala tikus kejepit.

Gadis-gadis bangsawan di belakangnya ikut tertawa, menutup mulut mereka dengan kipas.

"Yang Mulia Permaisuri, apa yang Anda lakukan di tempat pembuangan sampah ini?" tanya salah satu gadis dengan nada meremehkan.

"Kami dengar Anda sedang bermain rumah-rumahan dengan para gelandangan? Sungguh memalukan bagi citra kerajaan."

Melan memutar tubuhnya perlahan, melipat tangan di depan dada sambil menatap rombongan itu dengan tatapan datar.

"Oh, ada rombongan sirkus lewat rupanya. Saya pikir tadi ada pasar malam pindah ke sini."

Fek Fe melangkah maju, menunjuk ke arah para pekerja dengan kipasnya. "Lihatlah mereka, kotor dan menjijikkan. Dan Anda, seorang Permaisuri, berdiri di tengah debu ini? Yang Mulia Raja pasti akan sangat malu memiliki istri yang lebih suka bergaul dengan kuli daripada menghadiri pesta teh kami."

"Pesta teh?" Melan tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat menghina bagi telinga para bangsawan itu.

"Maksud Anda, acara duduk diam sambil bergosip tentang siapa yang punya perhiasan paling mahal, lalu pulang dan meminta uang lagi pada Ayah kalian? Itu yang kalian banggakan?"

"Setidaknya kami menjaga martabat kami sebagai wanita terhormat!" seru gadis lain dengan wajah memerah.

Melan berjalan mendekati mereka, membuat para gadis itu refleks mundur karena takut gaun mahal mereka terkena debu dari pakaian praktis yang dipakai Melan.

"Wanita terhormat?" Melan menaikkan sebelah alisnya.

"Di mata saya, kalian tidak lebih dari hewan peliharaan yang dimanja. Kalian hanya bisa makan, dandan, dan menunggu diberi jatah. Jika Ayah atau suami kalian jatuh miskin besok, kalian bahkan tidak tahu caranya mencuci piring sendiri, kan?"

"Anda... beraninya Anda berkata begitu!" Fek Fe menjerit kecil.

"Saya berani karena saya benar," sahut Melan tajam.

"Lihat orang-orang di belakang saya ini. Mereka mungkin kotor, mereka mungkin bau keringat. Tapi mereka sedang membangun sesuatu dengan tangan mereka sendiri. Mereka menghasilkan sesuatu. Sedangkan kalian? Kalian hanya menghasilkan polusi bedak di udara."

Melan menunjuk ke arah gedung yang mulai dibangun. "Tempat ini akan menjadi pusat perdagangan terbesar. Dan saat itu terjadi, kalian semua pasti akan mengemis pada saya agar diizinkan menyewa satu lapak di sini untuk memajang barang-barang kalian. Tapi ingat ya, saya tidak akan memberikan diskon untuk orang-orang yang mulutnya lebih berisik daripada palu bangunan."

Gadis-gadis itu terdiam, mereka saling berpandangan dengan wajah malu sekaligus kesal. Fek Fe mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Tetap saja, ini sangat tidak pantas! Yang Mulia Raja pasti akan menghentikan kegilaan ini!"

"Silakan lapor pada Raja," Melan mengangkat bahu santai.

"Bilang padanya kalau istrinya lebih pintar cari duit daripada cari perhatian. Oh, dan Fek Fe... saran saya, kurangi bedak Anda. Cuaca sedang panas, saya takut kalau bedak Anda meleleh, para kuli saya mengira itu adalah semen putih yang tumpah."

Para pekerja yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak, membuat suasana semakin memojokkan rombongan bangsawan tersebut.

"Kurang ajar! Ayo kita pergi dari sini! Tempat ini benar-benar tidak beradab!" teriak Fek Fe sambil menghentakkan kakinya, berbalik menuju keretanya dengan wajah merah padam.

Rombongan "burung merak" itu pun pergi dengan terburu-buru, meninggalkan kepulan debu di belakang mereka.

"Yang Mulia," Jaka mendekat dengan wajah sedikit khawatir.

"Apakah tidak apa-apa menyinggung mereka seperti itu? Mereka adalah anak-anak dari orang berpengaruh di kota ini."

Melan mengibaskan tangannya. "Alah, tenang saja, Jaka. Orang-orang seperti mereka itu cuma berani di belakang. Begitu mereka butuh barang bagus, mereka bakal menjilat kaki saya. Lanjutkan kerjanya! Jangan biarkan rombongan bedak tadi merusak mood kita!"

"Ah, dan mereka hanyalah anak dari orang yg berpengaruh, saya adalah permaisuri kerajaan ini jadi sayalah yg berpengaruh daripada mereka"

Melan kembali memperhatikan pembangunan dengan senyum puas. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia tahu ini baru permulaan.

Nolan mungkin belum bergerak, tapi cepat atau lambat, dia harus menunjukkan hasil nyata agar mulut-mulut besar di istana itu benar-benar terkunci.

"Lin!" panggil Melan.

"Ya, Yang Mulia?"

"Besok saya mau ke pasar tekstil. Saya mau cari bahan untuk seragam mereka. Kalau mereka kerja di mall saya, penampilan mereka juga harus keren. Jangan sampai kalah sama pengawal istana," ujar Melan penuh semangat.

Gue bakal bikin mall ini jadi sejarah, batin Melan. Kinan yang dulu mungkin cuma bisa mimpi punya toko sendiri, tapi Melan yang sekarang bakal punya satu distrik bisnis!

Sambil terus memantau, Melan tidak menyadari bahwa di sudut jalan yang gelap, seorang pria dengan pakaian ksatria sedang mencatat semua kejadian tadi ke dalam sebuah gulungan surat.

Sebuah laporan yang akan segera sampai ke meja kerja Raja Nolan sebelum matahari terbenam.

Tapi Melan tidak peduli. Dia terlalu sibuk menghitung jumlah kayu yang masuk, karena baginya, satu batang kayu jauh lebih berharga daripada seribu kata rayuan dari raja yang hatinya sudah beku.

"Hidup bebas tanpa drama cinta ternyata asyik juga ya," gumam Melan sambil menggigit roti bakar selai cerinya yang tersisa.

"Cuma kurang satu aja... koneksi Wi-Fi!"

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!