NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Hati Yang Mulai Terbuka.

Malam itu, suasana di mansion keluarga Anderlecht terasa hangat, jauh berbeda dari biasanya. Udara tidak hanya membawa ketenangan, tetapi juga rasa kebersamaan yang jarang muncul. Di ruang utama yang luas, dua keluarga besar Wiliam Anderlecht dan Bram Alexander duduk bersama. Tidak ada sekat, tidak ada kecanggungan. Rasanya seperti persahabatan lama yang terjalin kembali, seolah waktu tak pernah memisahkan mereka.

Heron memandang putrinya dengan sorot lembut yang jarang ia tunjukkan di hadapan orang lain. Setelah menarik napas perlahan, ia akhirnya membuka percakapan yang sebenarnya sudah ia pendam sejak tadi.

“Sayang,” ucapnya pelan, penuh kehati-hatian. “Keluarga Om Bram… mereka ingin menjadikan kamu bagian dari keluarga mereka. Mereka ingin kamu menjadi menantu keluarga Alexander.”

Ia menatap Liora lekat-lekat, seakan ingin memastikan putrinya benar-benar mendengar setiap kata yang ia ucapkan.

“Bagaimana pendapatmu, putriku?”

Liora terdiam. Ruangan seakan ikut menahan napas. Tatapannya jatuh ke pangkuan, suaranya ketika akhirnya ia berucap begitu pelan hingga hampir tak terdengar.

“Om… maaf kalau aku bicara begini… tapi aku masih butuh waktu. Aku masih… sedih.”

Kepalanya menunduk lebih rendah.

“Apa Om marah?”

Bram Alexander langsung tertawa kecil—tawa yang ringan namun tulus.

“Hahaha… tentu tidak, putriku.” Senyumnya lembut, menenangkan. “Aku dan Tante Riana justru sudah lama menganggapmu seperti anak sendiri. Benar begitu, sayang?”

Riana mengangguk pelan, ekspresinya penuh kasih.

“Benar, Liora. Di mata kami, kamu sudah seperti putri kami sendiri.”

Liora menghela napas lega, rasa tegang di bahunya perlahan luruh.

“Terima kasih, Om… Tante. Terima kasih sudah mengerti keadaanku.”

Javi, yang duduk di sisi Liora, hanya tersenyum kecil senyum yang begitu akrab, hangat, dan penuh pengertian.

“Tidak apa-apa, Liora sayang,” ucapnya lirih. “Aku yang paling mengenalmu. Aku tahu bagaimana caramu menghadapi rasa sakit.”

Liora menatapnya, bibirnya melengkung tipis.

“Terima kasih, Javi. Kamu memang sahabat terbaikku.”

Namun senyum Liora tiba-tiba hilang, digantikan kekhawatiran.

“Jabi … bagaimana lukamu? Yang di lenganmu?” Tatapannya turun pada perban putih yang membalut lengan pria itu. “Kamu tidak cerita apa-apa.”

Liora hanya menghela napas pelan.

“Aku baik-baik saja.”

Tapi Liora menggeleng.

“Kamu itu keras kepala.”

Ia kemudian menjelaskan kejadian yang menimpanya.

“Aku cuma tergores sedikit karena hampir ditabrak mobil. Pengemudinya mabuk. Tapi aku bisa menghindar.”

Secepat kilat, tatapan Liora berubah. Mata ungunya menajam, dingin, seperti warna baja di bawah cahaya.

“Orang mabuk mengemudi?” Nada suaranya turun satu oktaf, terdengar berbeda. “Dia bisa membahayakan orang lain.”

Tanpa ekspresi, Liora berkata,

“Perlu aku bunuh saja?”

Ruangan langsung hening. Tidak ada yang sempat bernapas.

Javi justru tertawa kecil, seolah sudah sangat terbiasa mendengar ucapan seperti itu.

“Nah, ini dia.” Ia menoleh pada Wilia. “Tante dulu ngidam apa sampai punya anak seperti dia?”

Wilia hanya tersenyum santai, tanpa terkejut sedikit pun.

“Seingatku… waktu hamil Liora aku pernah ingin menembak pistol.”

Semua terdiam.

Lalu tawa kecil pecah hampir bersamaan.

Javi menggeleng sambil terkekeh.

“Pantas saja… dia bisa sedingin itu, sekejam itu… tapi tetap peduli.”

Setelah percakapan ringan itu, Liora kembali fokus pada luka Javi. Gerakannya terampil, lembut, namun tegas seperti seseorang yang sudah terbiasa merawat orang lain tanpa perlu banyak bicara.

“Sudah,” ucapnya. “Jangan biarkan hal seperti ini terjadi lagi.”

Javi hanya tersenyum, matanya menatap Liora lebih lama dari biasanya.

“Aku senang kamu peduli, Liora.”

Dari kejauhan, Heron memperhatikan keduanya, bibirnya tersenyum tipis.

“Anak ayah akhirnya tersenyum lagi…”

Wilia mengangguk pelan. Ada rasa lega yang sulit disembunyikan.

“Selama dua bulan ini dia tenggelam dalam duka… setidaknya sekarang Javi bisa membuatnya bernapas lagi.”

Malam pun perlahan berakhir, dan keluarga Bram Alexander bersiap pulang.

“Liora, aku pergi dulu ya,” ucap Javi sambil berdiri.

Tapi sebelum ia melangkah…

“Javi.”

Langkahnya terhenti. Ia menoleh.

Liora mendekatinya, lalu mengulurkan sebuah Gelang kecil. Gelang itu dihiasi batu permata berwarna ungu warna yang sama dengan mata Liora.

Javi terdiam, terkejut sekaligus tersentuh.

“Terima kasih, Liora. Aku… aku akan menjaganya.”

Tanpa diduga, ia menunduk dan mengecup kening Liora.

Cup.

“Javi!” Liora memucat, lalu berangsur memerah. “Jangan… tiba-tiba begitu.”

Javi hanya tersenyum tenang, penuh keyakinan.

“Aku cuma ingin kamu tahu…” Ia menatapnya lembut. “Aku akan selalu ada. Entah sebagai sahabat… atau sebagai lelaki yang mencintaimu.”

Lalu ia pergi.

“Selamat tinggal, Liora.”

Begitu pintu menutup di belakangnya, Liora langsung masuk ke kamarnya. Begitu sampai di ranjang, tubuhnya jatuh begitu saja, tenggelam dalam perasaan yang sulit ia jelaskan.

Jantungnya berdegup kencang… terlalu kencang.

“Apa yang terjadi denganku…?”

Ia menempelkan tangan ke dadanya.

“Kenapa rasanya seperti ini…?”

Ia memejamkan mata, lalu berbisik sangat pelan hampir seperti doa.

“Mas Adrian… apakah ini yang kamu maksudkan?”

“Apakah Javi… orang yang kamu kirim untukku?”

Tidak ada air mata kali ini.

Namun hatinya… mulai terasa berbeda.

Seperti pintu lama yang terkunci rapat… perlahan mulai terbuka.

Pagi Hari

Saat turun ke ruang makan, Liora tampil berbeda. Tatapannya tidak lagi suram. Ada ketenangan di sana dan sedikit cahaya baru yang belum pernah terlihat selama dua bulan terakhir.

“Pagi, Ayah. Ibu.”

Heron dan Wilia menatap putri mereka, terkejut. Senyum muncul begitu saja di wajah mereka.

“Sayang…” ucap Wilia lembut, “kamu terlihat… berbeda.”

Heron mengangguk setuju. “Apa yang membuatmu bahagia?”

Liora menarik napas panjang, kemudian menatap mereka dengan ketegasan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

“Aku sudah membuat keputusan.”

Ia diam sejenak.

“Aku akan menerima Javi.”

Keduanya membeku.

“Serius, sayang?” tanya Heron hati-hati.

Liora mengangguk mantap.

“Iya, Ayah. Aku rasa… aku mulai mencintainya. Atau setidaknya… aku ingin mencoba.”

Senyum lembut muncul di wajah Heron.

“Kalau itu keputusanmu, ayah dan ibu akan mendukungmu.”

Heron kemudian menambahkan,

“Nanti kita akan bicara dengan keluarga Bram.”

Di Kantor

Hari itu, Liora kembali bekerja seperti biasa. Namun kali ini wajahnya tampak lebih cerah, langkahnya lebih ringan. Ada kehidupan baru dalam sorot matanya sesuatu yang telah lama hilang.

John yang melihatnya dari jauh langsung terpaku.

“Liora… kamu…”

Ia berhenti, seolah mencari kata yang tepat.

“Kamu terlihat lebih bahagia hari ini.”

Liora tersenyum tipis namun tulus.

“Aku sedang mencoba sembuh, John. Dari semua luka yang selama ini kutahan.”

John menghela napas lega.

“Aku senang melihatmu seperti ini. Kamu… terlihat jauh lebih hidup.”

Liora menatapnya dan mengangguk.

“Terima kasih, John.”

Dan hari itu menjadi hari pertama hari di mana Liora benar-benar terlihat seperti seseorang yang mulai kembali hidup.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!