Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagai Buah Simalakama
Rania benar-benar membawa Kenzie ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, sebenarnya tida ada yang salah dengan perbuatan Rania. Dia hanya menjalankan apa yang seharusnya dilakukan karena Kenzie tadi mengeluh jika kakinya kesakitan, dan Rania membawanya ke rumah sakit. Meskipun sudah berapa kali Kenzie meyakinkan jika dirinya baik-baik saja, tapi Rania tetap membawanya ke ruma sakit.
"Pak. Tolong ambilkan kursi roda," pinta Rania kepada seseorang satpam yang sedang berdiri di depan pintu IGD.
Rania secepat kilat turun dari mobil dan meminta bantuan kepada seorang satpam yang sedang berdiri di sana. Melihat ada yang datang membuat satpam menghampirinya dan membantu Rania mengambil kursi roda yang sudah tersedia di luar. Kenzie yang masih berapa di dalam mobil merasa bersalah karena kebohongannya telah membuat masalah seperti ini.
"Kenapa harus sampai ke sini, sih? Gue kan cuma bohongan aja," gumam Kenzie dalam hati dengan raut wajah gelisah yang masih duduk di dalam mobil.
"Ini, Mbak. Biar ku bantu, di mana pasiennya?" tanya satpam dengan perawakan tinggi berisi membawa kursi roda ke dekat pintu depan mobil.
"Di depan, Pak," jawab Rania masih dengan wajah terlihat kesal.
Sepertinya Rania memang sengaja membawa Kenzie ke IGD, Rania juga tahu jika Kenzie tidak mempunyai luka yang sangat serius. Dia hanya ingin memberikan Kenzie pelajaran atas perbuatannya yang membuat Rania sangat kesal. Dibawanya Kenzie ke dalam ruang IGD dan di tempatkan di suatu ruangan kecil yang hanya berbatasan kan tirai.
"Tunggu sebentar, ya," kata Rania lalu meninggalkan Kenzie yang sudah dipindahkan ke atas brankar IGD.
"Eh, tunggu!" panggil Kenzie terlihat kebingungan dan wajah sedikit gusar.
Sial, apa yang harus Kenzie ucapkan kepada dokter di sini. Keluhan sakit apa yang Kenzie rasakan sehingga harus berakhir di IGD. Suasana IGD terlihat sedikit ramai dengan pasien, hanya Kenzie yang tidak dalam kondisi serius. Dokter dan suster berlalu lalang memberikan pertolongan, sayu-sayu terdengar pembicaraan dari samping yang hanya berbatasakan tirai sebagai penutup.
Rasanya Kenzie semakin frustasi saja, tidak lama kemudian datang dia orang suster IGD menghampirinya. Seorang suster perempuan mendorong troli dressing yang berisi berbagai macam obat-obatan, perban, dan air infusan untuk pertolongan pertama dan yang satunya lagi membawa tensi meter digital ditangannya. Jujur Kenzie hanya terdiam tidak banyak bicara hanya terdiam menatapnya.
"Permisi, Pak. Izinkan kami memberikan pertolongan pertama dulu, ya," kata salah satu perawat yang membawa tensi meter digital menghampiri Kenzie dan mencoba mengukur tensi darah Kenzie.
"Tunggu, Mbak. Aku baik-baik aja dan nggak ada luka serius," kata Kenzie menghentikan perawat yang akan memeriksanya.
"Nggak akan sakit kok, Pak. Yang penting sekarang kita periksa dulu, ya," ucap perawat dengan nada halus dan lembut.
"Bagaimana lukanya?" tanya seorang perempuan tiba-tiba datang menghampiri kedua suster.
Kenzie menoleh ke arah suara yang sepertinya tidak asing, ia melihat perempuan cantik bermata tajam menggunakan jubah putih bersih biasa disebut juga jas snelli dengan stetoskop melingkar di lehernya, serta rambut yang panjang sedikit ikal terurai. Kehadirannya membuat Kenzie keheranan serat terus menatapnya dengan lekat, dia adalah perempuan yang baru saja ditemuinya tadi. Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti bidadari berjubah putih memakai jas dokter?
"Apa dia harus diamputasi?" tanya Rania berdiri di samping suster sambil memperhatikan kaki Kenzie yang belum juga disentuh sejak tadi.
"Kamu?" Kenzie terkejut dengan kedua bola mata membulat sempurna menatap Rania yang terlihat begitu tenang dan santai.
Namun Rania tidak tertarik dengan reaksi Kenzie saat ini, ia tahu pasti lelaki penyuka mie instan itu akan terkejut melihatnya saat menggunakan jas berjubah putih. Kenzie masih tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini, ternyata Rania adalah seorang dokter di rumah sakit yang sedang Kenzie singgahi.
"Dia sepertinya harus diamputasi," tebak Rania lagi sontak membuat kedua suster dan Kenzie kaget bukan main.
"Apa!" teriak Kenzie sedikit kencang menoleh ke arah Rania, begitu juga dengan kedua dokter yang menoleh secara bersamaan.
"Jangan becanda deh." Kenzie mulai kesal dengan diagnosa Rania yang sembarangan.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau kakimu sakit dan harus diamputasi?" tanya Rania mengulang ucapan Kenzie dengan tatapan sinis terkesan menyindirnya seraya tersenyum simpul.
Tatapan sinis Kenzie begitu lekat menatap Rania yang sedang tersenyum simpul namun seperti menyindirnya, ternyata Rania adalah seorang dokter di rumah sakit ini. Bagaimana bisa Kenzie ceroboh seperti ini membuat dirinya semakin berada di posisi sulit untuk membela diri.
"Jadi kamu dokter di sini?" Kenzie sambil menunjuk ke arah Rania yang berdiri di sampingnya.
"Menurutmu aku pakai jas ini apa? Koki?" Rania balik bertanya dengan nada sinis.
"Wah, keterlaluan."
"Bagian mana yang keterlaluan?" Rania terus menyindir Kenzie yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa kamu nggak bilang sejak awal kalau sebenarnya kamu itu dokter?" Kenzie mulai mengganti topik pembicaraan mencari celah dan kesalahan pada Rania.
"Buat apa? Biar kamu nggak jadi bohong?"
"What? Kamu nuduh aku bohong setelah kamu menabrak aku?" Kenzie mulai tidak terima dan emosinya mulai memuncak.
Perdebatan mereka berdua hanya disaksikan oleh kedua suster yang sedari tadi berada di sana. Suara keduanya mulai terdengar satu ruangan.
"Maaf, Dok. Jadi bagaimana sama pasien ini?" tanya suster yang tangannya masih memegang troli dressing.
"Siapkan ruang operasi!" Titah Rania mulai mencoba menggertak Kenzie.
Candaan Rania sungguh diluar batas, kekesalannya kepada Kenzie dilampiaskannya di sini. Bagai disambar petir telinga Kenzie saat mendengar Rania menyuruh suster menyiapkan ruang operasi. Kali ini Kenzie tidak bisa diam lagi, apakah Rania sedang mengerjainya?
"Kamu lagi ngerjain aku?" tanya Kenzie mulai emosi namun Rania masih terlihat tenang dan santai menghadapi Kenzie yang masih terbaring duduk di atas brankar.
"Kenapa aku harus ngerjain kamu? Justru aku mencoba menolong mu di sini. Kamu sendiri yang bilang kalau kakimu harus diamputasi?"
"Aku baik-baik aja. Dan akan aku laporkan kalau kamu membuat diagnosa palsu!" Ancam Kenzie memutuskan untuk pergi dari sana karena keadaan sudah mulai tidak karuan.
Hanya tawa ringan terkesan sinis Rania mendengarnya, ingin rasanya Rania menjambak rambut Kenzie sekarang juga tapi ia harus ingat jika dirinya sedang bertugas. Sebisa mungkin Rania meredam rasa amarah dan emosinya saat masih menghadapai Kenzie.
"Justru aku yang akan melaporkan kamu karena membuat berita palsu dan membuat kegaduhan di IGD!" Rania balik mengancam membuat Kenzie terdiam sesaat menyadari kesalahannya.
"Bawa dia ke ruang operasi!" Titah Rania kepada kedua susternya sambil pergi meninggalkan Kenzie tanpa pamit kepadanya.
"Hah!" Kedua suster itu terlihat kaget dan bingung apa yang harus dilakukan setelah melihat perdebatan antara Rania dan Kenzie.
"What! Are you crazy!" Teriak Kenzie kaget begitu marah kepada Rania yang meninggalkannya begitu saja.
Amarah Kenzie mulai memuncak tanpa berpikir panjang ia turun dari brankar untuk mengejar Rania. Melihat pasiennya yang pergi begitu saja tentunya membuat kedua suster tadi merasakan keheranan dan kebingungan apa yang harus dilakukan, mereka berdua hanya bisa saling menatap satu sama lain dengan pikiran kebingungan.
Langkah kaki Kenzie begitu cepat menyusul Rania yang berjalan begitu cepat di depan sana. Ternyata Rania berjalan menuju lift ke lantai 5 menuju ruangannya. Saat Kenzie hendak menghampiri Rania, seseorang sudah menghentikan langkahnya lebih dulu, dia adalah security yang menjaga area itu. Area khusus masuk para tenaga medis terutama para dokter.
"Maaf, Pak. Anda nggak boleh masuk," ucapnya sambil menghalangi langkah Kenzie menggunakan tangan kanannya.
Sial, padahal jarak antara Kenzie dan Rania hanya beberapa meter saja tapi memang sepertinya area ini adalah area terlarang untuk pasien. Wajah Kenzie mulai terlihat kebingungan, bagaimana juga ia harus bisa mengejar Rania meski harus memakai seribu alasan.
"Tapi, Pak. Saya mau bertemu sama calon istri saya," ucap Kenzie mencoba meyakinkan security yang kini wajahnya sedikit ragu dengan ucapan Kenzie.
"Calon istri?" security itu mengulang ucapan Kenzie seolah masih tidak percaya.
"Iya, itu calon istriku," jawab Kenzie sambil menunjuk ke arah Rania yang sedang berdiri tidak jauh darinya sedang menunggu di depan lift.
"Sayang!' Teriak Kenzie begitu kencang sambil melambaikan tangan kanannya kepada Rania.
Mendengar suara teriakan membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arah suara tersebut, begitu juga dengan Rania. Betapa terkejutnya Rania saat melihat kehadiran Kenzie di sana, apalagi sambil tersenyum melambaikan tangan kepadanya seolah memanggil dirinya.
"Sayang!" Teriak Kenzie lagi mengulang ucapannya sambil tersenyum manis menatap Rania.
Mendengar ucapan Kenzie membuat Rania kaget bukan main, apalagi semua orang yang ada di sana menatapnya sambil tertawa ringan seraya berbisik seakan menggunjing dirinya. Sayang? Sayang, dia bilang? Kenzie mulai menjadi perhatian dokter dan perawat yang sedang berlalu lalang di sana, dan juga seseorang dokter yang sama kagetnya dengan Rania yang sedari tadi sudah memperhatikan kehadiran Kenzie di sana.
"Ngapain kamu ikutin aku?" tanya Rania yang langsung berlari menghampiri Kenzie karena sudah membuat keributan.
Senyuman Kenzie merekah saat berhasil membuat Rania terlihat panik dan kesal, balas dendam sepertinya terbalaskan. Namun Rania semakin kesal dibuatnya dengan sikap arogan Kenzie yang mengaku-ngaku sebagai calon suaminya.
"Halo sayang," balas Kenzie melambaikan tangannya tanpa rasa bersalah dan tersenyum manis membuat security percaya jika Kenzie adalah calon istri Rania.
"Maaf, Dok. Aku nggak tahu kalau dia calon suaminya," ucap security itu meminta maaf kepada Rania.
Semua kacau balau dan security-nya sudah termakan ucapan Kenzie, semoga saja tidak akan menjadi gosip di sini karena akan sangat berbahasa sekali. Rania hanya bisa bersabar menghadapi Kenzie yang semakin berulah.
"Bukan, Pak. Dia bukan calon suamiku," jelas Rania dengan wajah hendak menangis karena kesal.
Belum sempat security itu menjawab, seseorang lebih dulu memanggil nama Rania. Seorang dokter setengah baya yang sedang berjalan bersama dengan beberapa dokter senior di sana. Tatapannya sangat dingin dan tajam sedari tadi menatap ke arah Kenzie dan Rania.
"Rania." Panggilnya sambil berjalan menuju ke arah Rania yang tidak jauh jaraknya berdiri tadi.
Rania menoleh saat tahu ada yang memanggilnya, dan lagi-lagi Rania terkejut serta kaget ketika melihat seseorang yang memanggilnya seolah dunia hendak runtuh. Tatapannya dingin dan tajam menghardik Kenzie serta Rania. Kali ini sepertinya tamatlah sudah cerita Rania.
"Dokter Alex!" Wajah Rania ketakutan saat tahu yang memanggilnya adalah calon mertuanya.
Ya, dia adalah dokter senior di sini yang juga menaruh saham bersama dengan orang tua Rania. Dia adalah dr. Alex spesialis penyakit dalam yang sudah menjadi senior. Papanya Rania dengan dem Alex berteman sejak lama dan mereka merencanakan untuk menikahkan Rania dengan salah satu putranya yang juga berprofesi sebagai dokter, yaitu dr. Biyan.
Semoga saja dr. Alex tidak mendengar apa yang sedang terjadi sejak tadi di sini. Wajah Rania mendadak pucat dan gelisah, berbeda dengan Kenzie yang terlihat sangat bahagia karena berhasil membuat Rania kesal.
"Siapa kamu?" tanya dr. Alex menatap Kenzie dengan tatapan tajam dan dingin.
"Aku calon suaminya dr. Rania, Dok," jawab Kenzie singkat sambil mengingat nama perempuan yang ada di hadapannya.
Entah apa yang ada dipikiran Kenzie sampai bisa berbicara seperti itu membuat Rania kaget bukan main, dan rasanya dadanya seperti hendak terkena serangan jantung. Masalah besar pasti akan datang menimpa Rania saat ini juga. Terlihat wajah dr. Alan sedikit memerah dan mulai tidak bersahabat menatap Kenzie dan juga Rania. Hanya diam yang dilakukan olehnya lalu beranjak pergi tanpa pamit sepatah kata terucap di mulutnya, Rania bisa menembak reaksi apa itu.
"Jangan bicara sembarangan kamu! Gara-gara kamu, sekarang juga aku dapat masalah!" Rania terlihat sangat marah dan murka kepada Kenzie.
Namun sayang Kenzie tidak terpengaruh dengan ekspresi Rania, saat ini terlihat wajah Kenzie begitu tenang tidak perduli apa yang akan terjadi kepada Rania.
"Aku nggak peduli," kata terakhir Kenzie sambil pergi meninggalkan Rania yang masih terlihat kesal sendirian.
Di tempat lain Jeevan tidak bisa mengajak Valerie ke rumah sakit, karena Valerie tetap ingin istirahat di rumahnya saja. Meskipun sudah merasa lebih baik tapi tetap saja Jeevan begitu sangat mengkhawatirkannya.
"Kamu pulang saja, aku sudah mendingan," kata Valerie meyakinkan Jeevan yang sedari tadi begitu setia menemaninya di dalam kamarnya.
Jujur, Jeevan masih sangat takut untuk meninggalkan Vale sendirian di sini. Takut terjadi apa-apa lagi dengannya.
"Izinkan aku di sini sebentar lagi," pinta Jeevan membuat Valerie tidak bisa menolak keinginannya.
"Baiklah," angguk Vale tidak bisa menghindari permintaan Jeevan.
Sejak kemarin di pikiran Jeevan dipenuhi pertanyaan tentang Valerie, rasa penasaran tentang kehidupan Valerie sangat mengganggu pikirannya sampai saat ini. Ada yang ingin diketahuinya tapi apakah Vale akan menjawabnya.
"Ada yang mau aku tanyakan sama kamu," kata Jeevan mengganti topik pembicaraan ketika mereka berdua sedang duduk sambil meminum teh hangat di kamar Valerie.
"Apa?" jawab Vale dengan suara sedikit parau dan wajah yang terlihat sangat pucat.
Jeevan menatap Valerie begitu sangat lekat, berharap jawaban yang didapat olehnya tidak akan membuat hatinya terluka dan kecewa. Tapi jika dirinya tidak bertanya soal ini tentunya Jeevan akan dibuat penasaran seumur hidupnya.
"Kenapa kamu menolak ajakan Nathan buat menikah?"
Deg, kini giliran Valerie yang terdiam tidak bisa berkata-kata. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, Valerie terlihat kebingungan saat harus menjawab pertanyaan Jeevan. Tidak mungkin jika Valerie harus mengatakan yang sebenarnya. Beberapa saat mereka berdua terdiam sehingga membuat Jeevan sedikit kesal dan tidak sabaran untuk menunggu jawaban dari Valerie.
"Apa sudah ada seseorang yang sangat kamu cintai?" tebak Jeevan bertanya karena merasa penasaran.
Buka, tentunya bukan itu alasan Valerie menolak lamaran Nathan, tapi karena alasan lain. Ucapan Jeevan membuat Valerie mendapatkan ide agar tidak terlihat mencurigakan, dan akhirnya Valerie mengiyakan ucapan Jeevan meskipun sebenarnya salah.
"Iya. Aku memang sudah mencintai seseorang sejak lama, dan dia nggak bisa aku miliki," jawab Valerie membuat Jeevan kecewa.
Hati Jeevan hancur berantakan, dadanya sakit bukan main, rasanya ia sulit untuk bernapas, tubuhnya lemas dan kepalanya mendadak pusing. Apa ia salah mendengar? Jeevan berharap jika semua yang Vale ucapkan tidak benar. Jeevan hanya bisa menahan rasa sakit dan kecewanya, ingin rasanya ia melampiaskan semua amarahnya. Tapi tidak bisa sekarang, kenapa Jeevan harus sekecewa ini mendengarnya.
Jeevan teringat foto yang beberapa menit lalu yang dilihat di dalam kamar ini. Sebuah foto yang berada di antara lemari sekat, di sana tidak ada foto lain selain foto Valerie bersama dengan seorang lelaki yang diambil sejak mereka berdua masih duduk di bangku SMA. Mereka berdua tampak cukup bahagia di saat difoto menggunakan seragam SMA.
Jeevan bisa melihat dengan jelas bahwa Valerie sangat bahagia, begitu juga dengan lelaki yang ada difoto bersamanya. Siapa lelaki itu? Apakah dia cinta pertama Valerie? Lalu kenapa mereka berpisah? Jika memang Valerie tidak lagi memiliki perasaan kepadanya, tidak mungkin foto itu masih berada di kamar ini. Dan herannya lagi Jeevan tidak menemukan satupun foto Vale bersama Nathan selama ini. Padahal mereka sudah menjalin hubungan sejak lama.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪