NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dasar Bogang!

Ratusan suara langkah kaki memenuhi camp pelatihan mansion Pradipta, puluha kicauan burung memenuhi kebun binatang pribadi milik papa. Disaat inilah aku tengah melakukan latihan bela diri dengan bogang.

“Posisimu salah”. Bentak Bogang sembari menendang kakiku hingga tubuhku tersungkur, kejam, jangan tanyakan tentang itu terhadap Bogang bahkan bercanda saja membawa kekerasan fisik.

“Guru, ini sangat sakit”. Keluhku yang masih dalam posisi tengkurap, rasanya enggan untuk bangun sebab tulangku serasa patah berkeping-keping, dan otak ini serasa dicabut.

‘PLAK’

Satu tamparan mendarat di salah satu pipiki, haih itulah yang kudapatkan tatkala aku terus protes atau mengeluh.

“Kau sangat jahat guru”. Bogang tak memberi rasa iba ataupun simpati menolongku malahan berkacak pinggang menungguku beranjak bangun dari jatuh secara mandiri.

“Kau saja bisa mengalahkan Dieter Walter dan antek-anteknya, apa jangan-jangan kau pakai itu dukun”. Perkataan Bogang membuatku tertawa seraya beranjak berdiri, ada-ada saja yang ia pikirkan.

“Itu hanya keberuntungan dan keberanian”. Tukasku, kemudian aku mengambil posisi kuda-kuda yang sempurna.

“Keberanian?”. Bogang memiringkan kepalanya.

“Lawan aku dengan keberanianmu boss”. Bogang juga sudah memantapkan posisi kuda-kudanya, melihat itu salivaku terasa sulit untuk ditelan, tubuhnya yang tinggi sama denganku, lengan di otot terlihat sangat besar serta yang mengerikan lagi adalah bekas luka memanjang dari dahi kanan melewati kelopak mata kanan sampai sebagian pipi, kata papa saat itu Bogang sempat melakukan operasi mata.

Tubuh Bogang melesat cepat memukul bahuku, punggung dan juga pahaku, karena aku sedikit terkejut oleh serangan cepatnya sontak aku langsung kalah telak dengan jatuh berlutut di lantai.

“Apakah benar Dieter sangat lemah sampai bisa dikalahkan oleh dirimu yang seperti ini”. Sarkas Bogang, aku hanya menggeleng.

“Lagi”.

“Tidak bisa guru”. Cicitku. “Kenapa?”. Tanyanya.

“Karena kamu guruku”. Usai aku mengatakan itu tiba-tiba tanpa aba-aba Bogang melesat cepat, membabi buta menyerangku sampai tidak ada celah untukku menyerangnya. Setelah itu bogang berhenti menyerang dengan deru nafas yang naik turun sangat cepat, keringat juga bercucuran yang mampu menambah kesan sangarnya.

‘BUGH’

Sampai bogeman akhir dari Bogang di bawah daguku mampu membuatku terkapar tak berdaya.

“Jika suatu saat nanti aku menjadi penjahat, dan aku berbuat buruk kepadamu, apa kau masih akan berbelas kasih kepadaku selayaknya gurumu”. Aku diam termangu dengan netra yang sayup-sayup menatap langit-langit bangunan camp pelatihan.

***

Gemerlap lampu club memenuhi tiap penjuru ruangan itu, Bogang memang agak lain, mengajakku ke club usai berlatih di malam ini, aku duduk di sofa yang tersedia di club, sedangkan Bogang menuju ke bartender untuk memesan minuman beralkohol tentunya. Aku berkali-kali memijat seluruh tubuhku sebab rasa nyeri saat berlatih dengan Bogang tadi.

“Halo kak, this just for you”. Seorang ladies club menghampiriku dengan membawa sebotol vodka dan menuangkannya kedalam gelas untukku. Namun aku menghiraukannya dengan cara menghisap gulungan nikotin yang baru saja kunyalakan, menurutku mereka tak menarik karena mereka murahan. Akan tetapi tiba-tiba Ladies club tadi mengambil rokok ditanganku dan menghisapnya.

“Apa kau tidak menginginkan untuk bermain denganku”. Ucap ladies club tadi seraya menyentuh wajahku. “Ck”. Decakku, inilah salah satu alasan yang membuatku tidak suka ladies club.

“Don’t touch me”. Aku menepis kasar tangannya.

“Dan perlu anda ketahui Vodka bukanlah gayaku”. Imbuhku yang mampu membuat ladies club tadi pergi meninggalkanku, menyisakan sebotol Vodka dan gelasnya, tatkala kuhirup Vodka tadi dari dekat, dapat kuketahui ada campuran obat perangsangnya.

“Bahkan kamu tidak tergoda olehnya”. Tukas Bogang sembari menyodorkan satu gelas minuman beralkohol kepadaku kepadaku.

“Apa ini?”. Tanyaku seraya menerima sloki tadi.

“Tequila”. Celetuk bogang.

“You know, it’s my style”. Kemudian aku meminum satu gelas Tequila tadi hingga habis tak tersisa. Dua puluh menit berlalu, aku sudah menghabiskan dua puluh gelas Tequila, tentunya membuat kesadaranku dilahap oleh alkohol-alkohol tadi.

“Bogang”. Panggilku dengan kesadaran yang hilang kepada Bogang yang memapahku keluar dari tempat tersebut.

“Aku.., aku”. Ucapanku tidak usai sebab diiringi gelak tawa juga aku sedang mabuk.

‘SHE MUST BE MINE’

Bogang terperanjat oleh teriakanku yang secara tiba-tiba terlontar, Bogang mungkin tidak habis pikir dengan sikapku saat mabuk. Salahnya memberiku Tequila yang memabukkan, aku terus meracau tak karuan sampai Bogang bingung harus membawaku kemana.

***

Ranjang yang empuk disertai semilir air conditioning yang dingin terasa sangat nyaman. Namun aku merasakan ada percikan air mengenai wajahku, apa aku berada di dalam mimpi?, namun ini terasa sangat nyata, atau jangan-jangan aku tertidur di pinggir jalan dan kehujanan.

“Bumi”. Panggilan itu membuatku sedikit sadar, bukankah itu suara papa dan panggilan khusus itu.

“Bangun !, sampai kapan kamu meracau seperti ini”. Benar itu suara papa, sontak aku sadar sepenuhnya dan membuka mataku lebar-lebar.

Kedua netraku mengerling manatap sekitar, dapat kulihat dengan jelas bunda yang tampak khawatir di sampingku, dan juga papa yang jengah menatapku, disisi lain kulihat Bogang membawa sebotol air mineral dengan tatapan sangarnya. Tunggu, sebotol air mineral dan sudah terbuka, jangan-jangan Bogang yang memercikkan air di wajahku.

“Dua hari kamu jangan pergi kemanapun untuk intropeksi, banyaklah belajar dan berlatih”. Ujar papa yang membuatku berkerut bingung.

“Jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting”. Lanjutnya sebelum melenggang pergi bersama Bogang, mendengar ucapan papa seperti itu sontak lidahku kelu.

“Kaisar”. Bunda beralih duduk di sampingku, kemudian menangkup kedua pipiku serta menghadapkan wajahku sepenuhnya menatap dua netra lembut itu.

“Ada apa denganmu nak?”. Tanya Bunda, aku berkerut bingung, pasti bingung sebab aku merasa aku baik-baik saja, tidak sakit, meninggal apalagi. Ingin menjawabnya namun terlanjur terbawa arus kelembutan bunda yang buatku lemah tak berdaya.

“Elisia, siapa itu nak?, mengapa dia memenuhi otakmu?”. Tiba-tiba nada bunda terkesan tegas.

“Sial”. Umpatku dalam hati.

“Bunda tidak memaksamu untuk bercerita sekarang, istirahatlah, bunda akan buatkan sup pengar untukmu”. Ucap bunda sebelum pergi. Tidak bunda ataupun papa selalu mengakhiri ucapan yang menekanku.

Aku mengerang frustasi, meringkuk , memeluk tubuhku sendiri. Andaikan aku menolak ajakan Bogang, andaikan aku tidak meminumnya, andai aku minum sampai tidak hilang kesadaran. Tentang Elisia tidak akan diketahui bunda ataupun papa, sialnya lagi bagaimana aku bisa meracau tentang Elisia, ini semua karena Bogang.

Dasar Bogang!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!