NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Cahaya lampu neon di plafon rumah sakit tampak kabur. Adella mencoba menggerakkan tangannya, namun ia merasakan tarikan dingin di pergelangan tangan kirinya. Ia menoleh.

Bukan infus yang ia lihat pertama kali, melainkan borgol yang mengikat tangannya ke pagar tempat tidur besi.

"Sudah bangun, Adella?"

Suara itu bukan milik Pak Adwan. Itu adalah suara berat seorang pria paruh baya berseragam polisi yang duduk di kursi sudut ruangan. Di lencananya tertulis nama: IPTU DARMA.

"Kenapa... kenapa saya diborgol?" suara Adella pecah, nyaris tidak terdengar.

Iptu Darma berdiri, berjalan mendekat dengan raut wajah yang sulit dibaca—antara kasihan dan curiga. "Kamu dituduh melakukan penyerangan terhadap guru sekolahmu, Pak Adwan, dengan menggunakan cairan kimia berbahaya. Selain itu, kamu juga terlibat dalam perusakan properti yayasan perpustakaan kota."

Adella terbelalak. Sisi pandainya segera bekerja, memproses informasi ini dengan cepat. "Penyerangan? Dia yang menculik saya! Ada kakak Nadia di sana! Di mana dia? Di mana Pak Adwan?"

Iptu Darma menghela napas panjang, ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan beberapa foto. "Petugas pemadam kebakaran menemukanmu pingsan di gudang bawah tanah sendirian. Tidak ada orang lain di sana, Adella. Tidak ada pria bernama 'kakak Nadia', dan tidak ada Pak Adwan."

"Tidak mungkin! Dia ada di dalam ruang kaca! Dia mengunci diri di sana!" teriak Adella, membuat monitor jantungnya berbunyi semakin cepat.

"Ruang kaca itu kosong saat polisi tiba sepuluh menit kemudian," Iptu Darma menggelengkan kepala. "Yang kami temukan hanyalah rekaman CCTV dari mobil Pak Adwan yang memperlihatkan kamu menyemprotkan sesuatu ke wajahnya sebelum melompat keluar. Pak Adwan sendiri sudah melaporkan kejadian ini melalui pengacaranya. Beliau mengaku trauma dan sedang menenangkan diri di luar kota."

Adella merasa dunia di sekelilingnya runtuh. Dia melakukannya lagi. Pak Adwan menggunakan kuasanya untuk menghapus keberadaan kakak Nadia dan memutarbalikkan fakta dalam hitungan menit. Ruang bawah tanah itu kemungkinan besar sudah dibersihkan oleh orang-orang suruhan keluarga Adwan sebelum polisi masuk ke area inti.

"Tapi ada bukti..." bisik Adella. "Bros... bros burung walet."

"Bros itu ditemukan di kantong hoodie-mu, Adella. Pak Adwan bilang itu adalah hadiah prestasi yang kamu curi dari mejanya, yang kemudian memicu konfrontasi tersebut. Dia bilang kamu mengalami tekanan mental karena beban ujian."

Adella terdiam. Air mata kemarahan mengalir di pipinya. Pak Adwan benar-benar arsitek yang sempurna. Dia memberikan hadiah itu bukan sebagai cinta, tapi sebagai jebakan cadangan jika rencana penculikannya gagal. Di mata hukum, Adella kini hanyalah siswi yang terobsesi pada gurunya, mengalami gangguan jiwa, dan melakukan penyerangan.

"Boleh saya bicara dengan orang tua saya?" tanya Adella, mencoba mencari pegangan terakhir.

Iptu Darma menatapnya dengan tatapan iba yang menyakitkan. "Orang tuamu sedang dalam perjalanan dari luar kota. Tapi... pengacara keluarga Adwan sudah menemui mereka. Mereka setuju untuk tidak memperpanjang kasus ini ke pengadilan, asalkan kamu bersedia dikirim ke panti rehabilitasi mental untuk 'pemulihan'."

Rehabilitasi. Itu adalah kata halus untuk "pembuangan". Pak Adwan ingin mengurungnya di tempat di mana suaranya tidak akan pernah didengar lagi.

Namun, saat Iptu Darma berbalik untuk memanggil perawat, Adella merasakan sesuatu yang mengganjal di dalam lipatan perban di lututnya. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi pada borgolnya, ia meraba bagian bawah perban tersebut.

Jarinya menyentuh sebuah benda kecil, tipis, dan keras.

Itu adalah kartu akses emas milik Pak Adwan.

Adella teringat sesaat sebelum ia jatuh pingsan di gudang itu. Ia tidak menjatuhkan kartu itu. Ia berhasil menyambarnya dari meja saat Pak Adwan teralihkan oleh suara dobrakkan pintu, dan ia menyembunyikannya di balik luka lututnya yang berdarah—tempat terakhir yang akan diperiksa oleh petugas medis yang terburu-buru.

Sisi pandai Adella kembali menyala dengan api yang lebih besar. Kartu ini bukan sekadar kunci pintu. Ini adalah kartu akses VIP yang kemungkinan besar terhubung dengan server pribadi keluarga Adwan atau brankas penyimpanan data digital mereka.

Pak Adwan mengira dia telah menghapus semua bukti fisik, tapi dia kehilangan kunci menuju rahasia digitalnya.

"Bapak benar," ujar Adella tiba-tiba, membuat Iptu Darma menoleh kembali. Adella kini tampak tenang, sangat tenang hingga terlihat polos kembali. "Mungkin saya memang sedang tertekan. Saya akan ikut prosedur rehabilitasi itu."

Iptu Darma tersenyum lega, mengira gadis itu sudah menyerah. "Itu pilihan yang bijak, Adella. Kamu masih muda."

Adella membalas senyuman itu. Namun di dalam hatinya, ia sedang menyusun rencana untuk Bab 12. Ia tidak akan pergi ke panti rehabilitasi untuk sembuh. Ia akan menggunakan fasilitas internet di sana untuk membuka isi kartu emas ini.

Jika Pak Adwan ingin bermain di dalam labirin, maka Adella akan memastikan kali ini dia bukan lagi tikusnya. Dia adalah peretas yang akan meruntuhkan seluruh gedung dari dalam.

"Sampai jumpa di hari Senin, Pak Adwan," bisik Adella dalam hati, mengulangi pesan pria itu. "Tapi kali ini, saya yang membawa bukunya."

Di luar jendela rumah sakit, sebuah sedan hitam terparkir diam di bawah pohon. Di dalam mobil, seseorang sedang mengawasi jendela kamar Adella, memutar-mutar sebuah pulpen hitam elegan di jemarinya. Perang ini baru saja naik ke level yang jauh lebih tinggi.

Satu tarikan napas panjang dihirup Adella, meski dadanya masih terasa sesak. Ia memejamkan mata, membiarkan Iptu Darma percaya bahwa dia telah menyerah pada keadaan. Di bawah selimut rumah sakit yang kasar, jemarinya terus meraba kartu emas yang tersembunyi di balik perban lututnya. Kartu itu terasa dingin, namun bagi Adella, itu adalah satu-satunya benda yang masih terasa nyata di tengah dunia yang baru saja diputarbalikkan oleh Pak Adwan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!