NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Menjelang Festival

Satu bulan berlalu seperti angin yang menyapu dedaunan kering.

Arga kini berdiri di depan cermin perunggu kamarnya, menatap bayangan yang hampir tidak dikenalnya. Pemuda di cermin itu masih sama—rambut hitam kusut, wajah kurus, mata cekung. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Postur tubuhnya lebih tegak. Bahunya lebih lebar, meski hanya sedikit. Dan di matanya, ada nyala api kecil yang tidak pernah ada sebelumnya.

Ia mengepalkan tangannya. Benang Perak di Dantian-nya kini sepanjang hampir enam ruas jari.

Satu bulan di Hutan Timur telah mengubahnya. Puluhan monster telah ia hadapi—dari Serigala Bulan Sabit hingga Macan Kabut, dari Ular Beludak hingga Babi Hutan Bermata Merah. Setiap pertarungan memicu pertumbuhan Benang Perak. Setiap luka mengajarinya sesuatu yang baru.

Teknik Langkah Bayangan Bulan-nya kini jauh lebih lancar. Ia bisa bergerak seperti bayangan dalam radius tiga meter—cukup untuk menghindari sebagian besar serangan monster tingkat rendah hingga menengah. Dan yang lebih penting, retakan di sumbatan meridiannya kini semakin lebar. Qi yang bisa ia serap sudah setara dengan kultivator Pemurnian Qi tahap ketiga puncak.

Tapi itu belum cukup.

Festival Perebutan Warisan tinggal tiga hari lagi. Lawan-lawannya adalah kultivator terbaik dari berbagai klan dan sekte—banyak yang sudah mencapai tahap kelima atau bahkan keenam. Dengan kekuatannya saat ini, ia mungkin bisa bertahan. Tapi bertahan tidak cukup. Ia harus menang.

Atau setidaknya, menunjukkan sesuatu yang membuat mereka tidak bisa mengabaikanku lagi.

"Tuan Muda!" Suara Sari terdengar dari luar. "Ada tamu!"

Arga mengernyit. Tamu? Untuknya? Sejak kapan ada yang mau mengunjungi "sampah klan"?

Ia membuka pintu dan mendapati Bima berdiri di sana, tersenyum lebar. Di tangannya, sebungkus daun pisang yang menguarkan aroma daging bakar.

"Kau tidak kunjung datang ke hutan," kata Bima sambil menyodorkan bungkusan itu. "Aku jadi khawatir. Ternyata kau hanya bersembunyi di sini."

Arga mengambil bungkusan itu. "Aku tidak bersembunyi. Aku beristirahat."

"Tentu saja." Bima melangkah masuk tanpa diundang, duduk di lantai kamar yang beralas tikar usang. "Festival tiga hari lagi. Apa kau siap?"

Arga duduk di hadapannya, membuka bungkusan dan mulai makan. Daging rusa bakar dengan bumbu sederhana. Enak.

"Aku akan tahu saat hari H."

Bima terkekeh. "Jawaban yang sangat kau." Ia menatap Arga lekat-lekat. "Tapi serius. Lawanmu bukan monster hutan. Mereka kultivator terlatih dengan teknik dan strategi. Klan Wirya mengirim lima perwakilan terbaiknya. Yang terkuat adalah Surya, kakak dari Rudi yang kau hadapi waktu itu. Dia sudah Pemurnian Qi tahap keenam."

Arga mengunyah pelan. "Tahap keenam."

"Ya. Dan dia bukan satu-satunya. Sekte Awan Langit mengirim murid andalan mereka, seseorang yang katanya sudah menyentuh ranah Pondasi." Bima mencondongkan tubuhnya. "Aku tahu kau punya sesuatu yang spesial, Arga. Tapi ini bukan pertarungan biasa. Kalau kau tidak siap, kau bisa mati."

Arga menatapnya. "Kenapa kau peduli?"

Bima terdiam. Lalu ia menghela napas. "Karena kau satu-satunya orang di dunia ini yang membuatku penasaran setengah mati." Ia berdiri. "Aku akan ikut festival mewakili Sekte Hutan Lestari. Kalau kita bertemu di arena, aku tidak akan mengalah. Jadi kau harus kuat."

Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti. "Oh ya, satu hal lagi. Aku dengar pamannya Rudi dan Beni—seorang kultivator ranah Pondasi—sedang mencari orang yang mempermalukan keponakannya di hutan. Hati-hati."

Arga mengangguk. "Terima kasih."

Setelah Bima pergi, Arga duduk termenung. Kultivator ranah Pondasi. Itu level yang sama dengan Arman, pamannya sendiri. Jika orang itu menemukannya sebelum festival, ia dalam bahaya.

Tapi ia tidak bisa terus bersembunyi.

Ia meraih liontin giok di dadanya. Malam ini, ia akan mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan.

---

Malam harinya, Arga duduk bersila di ranjangnya. Liontin giok di tangannya berdenyut pelan, seirama dengan Benang Perak di Dantian-nya.

Hampir enam ruas jari. Jika aku bisa mendorongnya mencapai enam malam ini, teknik warisan kedua akan terbuka.

Ia menutup mata dan memulai Teknik Pernapasan Kaisar Kuning. Tapi kali ini, ia tidak hanya bermeditasi pasif. Ia memvisualisasikan pertempuran. Setiap monster yang pernah ia hadapi. Setiap gerakan yang ia lakukan. Setiap momen di mana ia didorong ke batas kemampuannya.

Benang Perak mulai berdenyut lebih cepat.

Ia memvisualisasikan Macan Kabut yang hampir merobek bahunya. Serigala-serigala yang menyerangnya dalam kawanan. Beruang Batu yang raungannya menggetarkan gua. Rudi dan Beni yang menatapnya dengan campuran takut dan marah.

Denyut. Denyut. Denyut.

Benang Perak merambat. Perlahan. Sangat perlahan. Dari hampir enam ruas jari, ia merayap menuju tepat enam.

Arga mendorong lebih keras. Ia memvisualisasikan sesuatu yang belum pernah ia visualisasikan sejak terbangun di tubuh ini.

Aula Keabadian. Singgasana dari inti bintang yang padam. Lian Xi yang tersenyum dingin. Hao Chen yang membentuk segel tangan. Cahaya putih yang melahap jiwanya.

Runtuhnya Langit Kesembilan.

KRAK!

Suara retakan terdengar dari dalam tubuhnya. Tapi kali ini bukan dari sumbatan meridian. Ini dari Benang Perak itu sendiri.

Arga membuka mata lebar-lebar. Benang Perak di Dantian-nya kini tepat sepanjang enam ruas jari. Dan ia... berubah. Warna peraknya menjadi lebih terang, hampir putih. Denyutnya lebih kuat, lebih stabil.

Dan bersamaan dengan itu, sebuah pengetahuan baru mengalir ke dalam benaknya.

Teknik Cakaran Naga Penghancur.

Sebuah teknik serangan. Bukan serangan biasa—ini adalah teknik yang menyalurkan energi Benang Perak ke ujung jari, menciptakan cakaran energi yang bisa merobek pertahanan lawan.

Arga mengangkat tangannya, menyalurkan sedikit energi Benang Perak ke ujung jarinya. Lima garis perak tipis muncul di udara di depannya, hanya sekejap, lalu menghilang.

Ini... luar biasa.

Teknik ini tidak membutuhkan banyak Qi. Ia menggunakan energi Benang Perak secara langsung—energi dari Langit Kesepuluh. Dalam kondisi saat ini, ia mungkin hanya bisa menggunakannya sekali atau dua kali sebelum kehabisan tenaga. Tapi kekuatannya... kekuatannya mungkin cukup untuk melukai kultivator tahap kelima atau bahkan keenam.

Arga tersenyum.

Satu kartu truf. Itu yang aku butuhkan.

---

Tiga hari kemudian, pagi Festival Perebutan Warisan tiba.

Lapangan Batu Hitam—sebuah arena luas yang dikelilingi batu-batu hitam alami—dipenuhi oleh ratusan orang. Klan Sanjaya, Klan Wirya, Sekte Awan Kelabu, Sekte Hutan Lestari, dan beberapa klan kecil lainnya berkumpul. Bendera-bendera berkibar, spanduk-spanduk terpasang, dan udara dipenuhi oleh suara percakapan dan tawa.

Arga berdiri di antara perwakilan Klan Sanjaya. Ardi meliriknya dengan ekspresi jijik. Darmo tidak mau menatapnya. Hanya Raka yang memberinya anggukan kecil.

Di seberang arena, perwakilan Klan Wirya berdiri dengan angkuh. Arga mengenali Rudi dan Beni di antara mereka. Dan di depan mereka, seorang pemuda tinggi berambut perak—Surya, kultivator tahap keenam.

Pandangan mereka bertemu. Rudi berbisik pada Surya, menunjuk ke arah Arga. Surya menatap Arga dengan mata dingin, lalu tersenyum tipis.

Dia tahu.

Di tempat lain, Arga melihat Bima melambai padanya dari kelompok Sekte Hutan Lestari. Ia membalas dengan anggukan kecil.

Seorang tetua dari klan netral naik ke panggung di tengah arena. Suaranya menggema, diperkuat oleh Qi.

"Festival Perebutan Warisan hari ini akan menentukan pembagian sumber daya untuk satu tahun ke depan! Setiap klan dan sekte mengirim lima perwakilan! Sistemnya adalah pertarungan satu lawan satu, sistem gugur! Pemenang mendapat poin untuk klannya! Tidak ada aturan! Pertarungan berakhir saat salah satu menyerah atau tidak bisa melanjutkan!"

Sorak-sorai membahana.

Arga mengatur napasnya. Benang Perak di Dantian-nya berdenyut tenang. Liontin giok di balik bajunya terasa hangat.

Ini saatnya.

Nama-nama mulai dipanggil. Pertarungan pertama: Klan Sanjaya melawan Klan Wirya.

"Ardi Sanjaya melawan Rudi Wirya!"

Ardi melangkah ke arena dengan dada membusung. Tapi Arga bisa melihat tangannya gemetar.

Pertarungan dimulai. Rudi—yang pernah dipermalukan Arga di hutan—kini menunjukkan kekejamannya. Dalam tiga jurus, Ardi sudah terkapar. Darah mengalir dari hidungnya, lengannya terkilir.

"Klan Wirya, poin pertama!"

Penonton bersorak. Ardi digotong keluar arena dengan wajah memalukan.

Pertarungan demi pertarungan berlangsung. Klan Sanjaya terus kalah. Darmo tumbang di ronde kedua. Dua perwakilan lain juga kalah. Hanya Raka yang berhasil menang satu ronde, tapi kemudian ia dikalahkan oleh Surya dalam pertarungan sengit.

Klan Sanjaya nyaris tersingkir total. Hanya tersisa satu nama yang belum dipanggil.

"Pertarungan terakhir! Arga Sanjaya melawan Beni Wirya!"

Bisik-bisik memenuhi arena. "Si sampah klan?" "Mereka mengirim dia?" "Ini akan jadi hiburan."

Beni—si gemuk dari hutan—melangkah ke arena dengan seringai lebar. "Akhirnya kita bertemu lagi, sampah. Kali ini tidak ada kabut untuk kau sembunyikan."

Arga tidak menjawab. Ia melangkah ke arena dengan tenang. Di tepi arena, ia melihat Arman menatapnya dengan ekspresi dingin. Surya melipat tangan, matanya mengikuti setiap gerakan Arga.

Wasit mengangkat tangan. "Mulai!"

Beni langsung menyerang, tinjunya dialiri Qi. Cepat untuk ukuran tubuhnya.

Arga tidak menghindar.

Ia mengangkat tangannya, dan lima garis perak muncul di udara.

Teknik Cakaran Naga Penghancur.

Sraaat!

Beni terpental ke belakang, dadanya robek lima garis merah. Ia jatuh terduduk, menatap lukanya dengan tidak percaya.

Seluruh arena terdiam.

Arga menurunkan tangannya, menatap Beni dengan ekspresi datar. "Kau sudah selesai?"

1
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
Mommy Dza
Deg degan aku Thor 😁
Lanjutt
Mommy Dza
Mungkin ini saatnya 💪
Mommy Dza
Semoga lekas sembuh 🤲
Mommy Dza
Maju Arga 💪
Mommy Dza
Kita baru saja mulai 💪🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!