NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Investasi Dewan Instruktur

Di gedung utama yang menjulang tinggi, sebuah ruangan berbentuk bundar dengan dinding marmer putih yang dilapisi oleh ribuan kristal mana bercahaya sedang dipenuhi oleh atmosfer yang sangat berat. Ini adalah ruang pertemuan Dewan Instruktur Pusat. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu bundar dikelilingi oleh tujuh orang petinggi akademi yang memiliki pengaruh besar di kerajaan. Di antara mereka adalah Master Eldrian yang mewakili para penyihir dan Sir Alistair yang mewakili para ksatria. Di tengah tengah mereka, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah berwarna ungu gelap yang menandakan posisinya sebagai Wakil Rektor Akademi, yang bernama Lord Varick.

Lord Varick mengetukkan jari jarinya yang panjang ke meja, menciptakan suara yang sangat teratur namun menekan. "Kejadian hari ini adalah sebuah anomali yang tidak bisa kita abaikan lagi. Arlan Vandermir bukan hanya sekadar anak tanpa berkah yang beruntung. Apa yang dia tunjukkan di hadapan Valen adalah teknik pertahanan yang melampaui logika ksatria tingkat menengah. Aku butuh penjelasan yang masuk akal."

Sir Alistair berdeham, wajahnya tampak sangat serius. Dia teringat kembali saat melihat tanah di bawah kaki Arlan retak melingkar namun tubuh Arlan tetap tidak bergerak. "Berdasarkan laporan saksi mata dan analisisku secara langsung, anak itu tidak menggunakan mana. Dia menggunakan semacam teknik pemindahan beban. Dia mengalirkan energi serangan musuh langsung ke tanah melalui struktur tubuhnya sendiri. Ini adalah teknik fisik tingkat tinggi yang sangat langka, bahkan di kalangan ksatria elit kerajaan pun hanya sedikit yang bisa melakukannya."

"Tapi dia tidak memiliki mana!" sela seorang instruktur wanita dengan nada tajam. "Bagaimana mungkin otot manusia biasa bisa menahan beban sebesar itu tanpa penguatan mana? Itu tidak mungkin, kecuali dia menggunakan semacam sihir hitam atau kontrak dengan iblis yang mampu menyamarkan keberadaannya."

Master Eldrian menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku sudah memeriksanya secara langsung saat ujian masuk. Tidak ada jejak mana hitam, tidak ada aroma iblis. Yang ada hanyalah energi kehidupan yang sangat padat. Aku mulai curiga bahwa dia sedang melatih teknik kuno yang sudah lama kita anggap punah, yaitu teknik pemurnian tubuh murni."

Mendengar kata teknik pemurnian tubuh murni, suasana di ruangan itu menjadi semakin sunyi. Mereka semua tahu bahwa ribuan tahun lalu, sebelum dewa memberikan berkah sihir kepada manusia, para pejuang menggunakan teknik tersebut untuk bertarung. Namun teknik itu ditinggalkan karena proses latihannya yang sangat menyakitkan dan memakan waktu terlalu lama.

"Jika benar dia melatih teknik itu, maka dia adalah sebuah ancaman bagi sistem berkah kita," ucap Lord Varick dengan nada yang sangat dingin. "Dunia ini dibangun di atas pondasi kepercayaan kepada dewa melalui sihir. Jika seseorang bisa menjadi sekuat itu tanpa dewa, maka otoritas kita sebagai pemegang berkah akan dipertanyakan oleh rakyat jelata. Kita harus menyelidiki siapa yang mengajarinya."

Pintu ruangan pertemuan tiba tiba terbuka. Profesor Silas masuk ke dalam dengan gaya santainya yang biasa, botol minumannya terselip di balik ikat pinggangnya. Dia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun di hadapan para petinggi akademi tersebut. Silas berjalan menuju kursi kosong di ujung meja dan duduk sambil menyandarkan kakinya ke meja.

"Silas! Jaga sopan santun mu! Kamu sedang berada di depan dewan instruktur!" bentak salah satu instruktur ksatria.

Silas hanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar serak. "Kalian memanggilku ke sini untuk membicarakan mahasiswaku, kan? Jadi berhentilah berteriak dan tanyakan apa yang ingin kalian tanyakan. Aku punya banyak urusan yang lebih penting, seperti tidur siang."

Lord Varick menatap Silas dengan pandangan yang sangat dalam. Dia tahu bahwa Silas bukan sekadar instruktur kelas sampah biasa. Silas adalah mantan komandan pasukan khusus kerajaan yang mengundurkan diri secara misterius sepuluh tahun lalu. "Silas, Arlan adalah mahasiswa mu di Kelas D. Apakah kamu yang mengajarinya teknik pertahanan itu? Apakah kamu yang memberikannya buku buku kuno yang seharusnya sudah dimusnahkan?"

Silas menatap Varick dengan senyum tipis yang penuh ejekan. "Teknik pertahanan? Aku bahkan tidak punya tenaga untuk mengajar mereka cara menyapu lantai dengan benar, apalagi mengajarkan teknik kuno. Anak itu sudah memiliki dasar yang kuat saat dia datang ke sini. Dia menghabiskan waktunya untuk membersihkan taman dan gudang bawah tanah. Jika dia menjadi kuat, mungkin itu karena debu di gudang Kelas D memiliki khasiat ajaib."

"Jangan bermain main dengan kami, Silas!" seru instruktur lainnya.

"Aku tidak bermain main," suara Silas tiba tiba menjadi sangat berat dan dingin, auranya seketika memenuhi ruangan tersebut, membuat beberapa instruktur merasa sesak napas. "Anak itu adalah bakat alami yang tidak kalian hargai. Kalian menempatkannya di Kelas D karena kesombongan kalian terhadap potensi mana. Sekarang saat dia menunjukkan taringnya, kalian justru ingin menghancurkannya karena takut akan perubahan. Bukankah itu sangat memuakkan?"

Lord Varick mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar semua orang tenang. "Cukup. Silas, kami tidak akan menghancurkannya untuk saat ini. Namun, kami akan menempatkan Arlan di bawah pengawasan khusus. Besok, aku ingin dia melakukan tes kemampuan ulang di hadapan dewan penguji secara tertutup. Jika dia benar benar hanya menggunakan teknik fisik, maka dia diizinkan tetap di akademi. Namun jika ada jejak energi terlarang, dia akan segera dieksekusi."

Silas bangkit dari kursinya tanpa berkata apa apa lagi. Dia berjalan keluar dari ruangan tersebut. Namun sebelum dia benar benar pergi, dia menoleh sedikit. "Lakukan tes sesuka kalian. Tapi ingat satu hal, jangan mencoba memojokkan predator yang sedang lapar jika kalian tidak ingin kehilangan tangan kalian."

Sementara itu, di gudang bawah tanah Kelas D, Arlan sedang berdiri di tengah lingkaran batu. Dia tidak tahu tentang pertemuan dewan instruktur, namun instingnya sebagai Adit yang pernah menghadapi ratusan investigasi pajak dan audit hukum memberitahunya bahwa kejadian tadi pagi akan membawa konsekuensi besar. Dia menyadari bahwa dia sedang menjadi pusat perhatian yang sangat berbahaya.

"Mereka pasti akan memeriksaku," gumam Arlan dalam hati. "Aku harus segera menyempurnakan kontrol energi kehidupanku agar terlihat seperti energi fisik biasa."

Arlan mulai melakukan meditasi Napas Bumi dengan intensitas yang lebih tinggi. Dia mengarahkan energi Gerbang Ketiga untuk menyatu dengan struktur tulang dan ototnya secara permanen. Dia mencoba menghilangkan pancaran energi yang terlalu mencolok. Di kehidupan keduanya ini, dia belajar bahwa kekuatan terbaik adalah kekuatan yang tidak terlihat sampai saat serangan itu mendarat.

Liora dan Hans sedang berlatih di sudut ruangan, mengikuti instruksi Arlan untuk mengangkat beban batu hitam. Mereka melihat Arlan sedang sangat serius dan tidak berani mengganggunya. Mereka menyadari bahwa kemenangan Arlan tadi pagi adalah sebuah pernyataan perang terhadap seluruh sistem akademi, dan mereka sebagai pengikutnya harus siap menghadapi badai yang akan datang.

"Arlan," panggil Liora dengan suara pelan setelah sesi latihan mereka selesai. "Apakah kamu merasa diikuti? Sejak kita kembali dari lapangan tadi, aku merasa ada bayangan yang selalu mengawasi gedung kita."

Arlan membuka matanya. "Itu adalah Ksatria Bayangan kerajaan. Mereka sedang mengawasiku. Tapi jangan khawatir, mereka tidak akan menyerang di dalam lingkungan akademi secara terang terangan. Teruskan saja latihan kalian. Fokuslah pada Gerbang Pertama kalian sendiri. Semakin kuat kalian, semakin sedikit beban yang harus aku tanggung."

Arlan kembali memejamkan matanya. Dia bisa merasakan ada seseorang yang sedang berdiri di luar pintu gudang bawah tanah, namun orang itu tidak masuk. Arlan tahu itu adalah Silas. Arlan merasa sedikit tenang mengetahui bahwa gurunya itu setidaknya berada di pihaknya untuk saat ini.

Malam itu, Arlan kembali ke rumahnya dengan perasaan yang sangat waspada. Dia melihat ibunya, Elena, yang sedang menyiapkan makan malam dengan wajah yang sangat bahagia karena mendengar kabar keberhasilan Arlan di lapangan. Arlan tidak ingin merusak kebahagiaan ibunya dengan menceritakan tentang investigasi dewan instruktur. Dia hanya tersenyum dan menikmati makan malamnya dengan tenang.

"Arlan, tadi sore ada seseorang yang mengirimkan surat ini ke rumah," ucap Elena sambil memberikan sebuah amplop berwarna ungu dengan stempel kerajaan.

Arlan membuka surat itu. Isinya adalah panggilan resmi dari dewan instruktur untuk melakukan tes ulang besok pagi di Ruang Uji Utama. Arlan meremas surat itu hingga hancur menjadi debu di tangannya.

"Sudah dimulai," bisik Arlan dalam hati.

Di kehidupan lamanya, Adit selalu memenangkan audit karena dia selalu lebih bersih dari para auditornya. Kali ini, Arlan akan membuktikan bahwa kekuatannya adalah murni miliknya sendiri, sebuah hasil dari penderitaan dan latihan neraka, bukan dari pemberian dewa atau iblis mana pun. Dia akan membuat dewan instruktur itu terdiam dan tidak punya pilihan lain selain mengakuinya.

Arlan melangkah ke balkon kamarnya, menatap ke arah menara utama akademi yang bercahaya. Dia tahu bahwa besok adalah ujian yang sesungguhnya untuk masa depannya di ibu kota. Dan dia sudah siap untuk menunjukkan kepada mereka semua bahwa seorang monster tanpa berkah adalah mimpi buruk yang tidak bisa mereka kendalikan.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!