"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Mencoba Berdamai
Author Pov
Raina yang baru saja turun dari sebuah bus yang ia tumpangi, kemudian dibuat kaget dengan kehadiran Sindi yang langsung memberikannya sebuah bunga untuknya.
Wajah bingung tentu saja Raina tunjukkan, melihat tingkah Sindi pagi ini. Kemudian tanpa berbasa-basi Sindi langsung menutup mata Raina dengan menggunakan kain hitam.
“Kenapa harus ditutup sih?” tanya Raina yang masih tak mengerti, apakah yang akan dilakukan oleh Sindi kali ini.
“Udah.. ikut aja, aku jamin aman deh.” Jawaban singkat yang Sindi berikan semakin membuat Raina tak mengerti dan akhirnya pasrah tanpa berkomentar apapun pada Sindi.
Secara perlahan, Sindi mengarahkan langkah Raina yang tampak tercegat-cegat, karena was-was dan takut terjatuh.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya langkah Raina terhenti juga, ia tampak aneh karena merasa Sindi tak lagi berada di sampingnya.
Ya.. setelah Raina sampai, Sindi langsung kabur entah kemana, dan hanya meninggalkan Raina seorang diri di sebuah taman yang cukup indah ini. Agaknya, taman ini memang sengaja dihias oleh seseorang.
Secara perlahan kemudian Raina membuka penutup matanya dan betapa kagumnya ia melihat dekorasi apik, dengan tatanan penuh bunga serta balon di taman ini.
Raina kemudian tak sengaja menginjak sebuah kertas, yang kemudian ia baca. “Kamu harus maju 10 langkah dari tempat berpijakmu saat ini.”
1 2 3 4 5... 10, terus apalagi? - ucapnya bingung di dalam hati.
Kemudian Ia melihat ada sebuah kertas yang terselip di bukket bunga mawar putih yang indah, segera Raina mengambilnya, dan langsung membacanya.
“Terimakasih untuk sepuluh langkahmu yang tanpa ragu untuk maju, dan masih dengan semangat yang sama. Jangan tersenyum, udah simpan saja senyummu untuk nanti.” Tentu saja Raina tersenyum membaca surat ini, namun masih dengan rasa kebingungan dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Dan siapa yang bekerja sama dengan Sindi mempersiapkan ini semua? pertanyaan-pertanyaan ini lah yang terus menghinggapi kepala Raina.
Kemudian, setelah melihat arloji yang melingkar indah ditangannya, Raina teringat ada kelas pagi hari ini, dan berniat meninggalkan tempat ini.
Namun, langkahnya kembali tercegat oleh drone yang tiba-tiba menghampiri dirinya, masih dengan sebuah kertas, dan sebuah pesan untuknya.
“Jangan pergi, hari ini kelasmu diliburkan.” Setelah membaca pesan di surat aneh itu, untuk memastikan Raina langsung menghidupkan ponselnya untuk melihat informasi di grup kelasnya.
"Hah.. iya, libur ternyata. Hemm dosen sakit dan kuliah akan dialihkan di hari yang lain. Fine," ucap Raina pelan ketika membaca pengumuman di grupnya itu.
Lagi.. Raina malanjutkan membaca surat ditangannya. “Betul bukan? Hari ini kamu tidak ada kelas, jadi ikuti kataku. Kamu silahkan duduk di sebuah bangku yang berada di taman ini. Bangku yang paling indah, yang sudah berhiaskan bunga dan balon-balon.”
Seperti anak kecil yang mendapatkan perintah dari sang ibu, begitupun Raina, ia menuruti segala perintah yang seseorang tuliskan didalam sebuah surat itu.
Raina berfikir jika Sindi seorang diri melakukan ini semua, itu hal yang mustahil. Karena menurut Raina, Sindi bukanlah orang yang terampil dalam bermain kata ataupun menghias sesuatu.
Duduk seorang diri di sebuah bangku yang penuh bunga dan balon-balon, membuat Raina menjadi tontonan para mahasiswa. Untung wajahnya tertutupi cadar, jika tidak mungkin ia akan merasa malu karena wajahnya yang memerah.
Cukup lama ia menunggu, kemudian muncullah seseorang dengan mengenakan jas yang lengkap dengan sepatu pantofel yang mengkilat di pandang mata. Dan juga seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sindi.
“Surprise!!” kata Sindi yang mencoba mengagetkan Raina, namun apa yang Sindi harapkan dari ekspresi terkejut Raina tidak terjadi.
Malah dengan wajah bingung dan penuh tanda tanya Raina menjuruskan pandangannya pada Sindi.
“Raina.. aku sama Dhuha, udah mempersiapkan ini semua sejak pagi, dan apa yang kamu lakuin?” tanya Sindi yang membuat Raina terkesiap, dan sepintas berfikir mungkinkah Sindi mengetahui tentang pernikahannya dan Fajar.
“A.. ak.. aku...” kata Raina terbata dan langsung di sanggah oleh Sindi.
“Udah.. ekspresi kamu itu loh datar banget sih, gak ada gitu terkejut-kejutnya,” ucap Sindi semakin kesal dengan tingkah polos Raina.
Sementara Dhuha yang berada di samping Sindi tampak terkekeh, melihat kepolosan Raina yang ditambah dengan kekesalan Sindi.
“Ya udah.. udah, kalian ini. Tujuan kita mengadakan ini semua adalah.. adalah..” ucap Dhuha yang tampak gugup ketika berbicara maksudnya mempersiapkan ini semua untuk Raina.
“Adalah...” kata Raina mengikuti perkataan Dhuha.
“Adalah nanti kita bahas, aku laper banget ini, nanti makanannya masuk angin lagi,” ucap Sindi yang langsung mengajak Raina dan Dhuha untuk duduk dan segera manyantap makanan yang dihidangkan.
Kali ini, makanan yang Raina makan tidaklah terasa seperti makanan biasanya, karena rasa penasarannya terhadap sikap aneh Dhuha pagi ini.
...*****...
Sementara Fajar, ditengah perjalanannya menuju ke ruang kelasnya, ia melihat Raina yang tengah menikmati makanannya bersama dengan Dhuha dan juga Sindi.
Dengan tatapannya yang tajam, ia meluapkan kekesalannya pada Dhuha. Bagaimana mungkin, dua wanita di masa yang berbeda terjebak diantara dirinya dan Dhuha. Namun bedanya adalah Raina bukanlah wanita yang seperti Citra.
Raina yang tersadar ada seseorang yang melihatnya dengan tatapan seperti singa yang ingin menerkamnya, langsung menghentikan suapannya.
Kemudian ia mencoba berdiri untuk menghampiri Fajar, namun Fajar langsung berjalan cepat dan tak ingin mendengarkan apapun itu dari gadis yang sudah dinikahinya kemarin itu.
“Kak Dhuha, Sindi.. aku pergi dulu. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan,” ucap Raina yang kemudian beranjak dengan sedikit berlari meninggalan dua orang yang tampak bingung dengan tingkah gugup Raina.
“Biar aku aja yang ikutin,” kata Dhuha pada Sindi yang masih bingung dengan semua yang terjadi.
Setiap lorong kampus Raina lewati, namun sosok pria es yang menatapnya dengan tajam tadi tak juga ia temukan.
Raina juga tidak sadar, bahwa sedari tadi ada Dhuha yang mencoba mengikutinya dari belakang.
Apa kak Fajar marah padaku, karena makan bersama kak Dhuha? Tapi.. aku tidak sendiri bukan? Sindi ada bersama dengan ku. Dan kenapa dia harus marah, bukankah dia membenciku? Aduh.. dasar pria es! Sehari saja tidak membuat kesabaranku diuji bagaimana ya? – ucap Raina di dalam hati sambil terus mencari keberadaan Fajar.
Dengan banyak pertanyaan yang tentu saja tidak akan ada jawaban yang ia temukan, kecuali Fajar sendiri yang menjawabnya.
Sementara Dhuha yang sedari tadi mengukuti langkah cepat Raina, tampak terhenti ketika ada seseorang yang memanggil namanya. Akhirnya ia menjadi kehilangan jejak Raina dan kemudian Dhuha memutuskan untuk menunggu Raina di sebuah lobi, yang ia anggap pasti nantinya Raina akan melewati lobi tersebut.
Setelah berlari cukup jauh, dan mencari keseluruh ruang kelas yang ada, akhirnya Raina menemukan sosok Fajar yang tengah berdiri dengan tatapan yang jauh kearah pemandangan dari atas roff top ruang kelas Kampus.
Fajar tampak terdiam dan masih dengan amarahnya yang memuncak karena memikirkan tindakan yang dilakukan oleh Dhuha, yang ia anggap melakukan hal yang sama pada dirinya dimasa lalu.
Walaupun Fajar belum bisa menerima kehadiran Raina sepenuhnya, tapi sebenarnya hari ini ia berniat untuk berdamai dengan keadaan dan mencoba berteman dengan dirinya sendiri juga Raina.
Itu semua berkat Arkan. Yah.. malam tadi, Arkan mengajak Fajar untuk merencanakan sesuatu demi meyakinkan Fajar bahwa Raina dan Citra itu berbeda.
Bahkan demi kelancaran usahanya untuk membuka hati pada seorang gadis yang kini telah menjadi istrinya, ia rela berpura-pura mabuk dan sedikit menguji Raina.
...*****...
Flashback On
Setelah perdebatan dan emosi yang saling Arkan dan Fajar ungkapkan di dalam mobil malam itu, kemudian Arkan tampak serius membicarakan rencananya untuk kebahagiaan sang adik, Raina.
“Gini Jar.. bagaimanapun elo akan menampik semua hubungan kalian yang baru saja kalian mulai hari ini. Akhirnya, lo pasti akan sadar bahwa nggak semua gadis itu sama. Dan jika lo meragukan Raina, lo bisa mengujinya dahulu sebelum loo merubah sikap lo,” ucap Arkan sambil merangkul pundak saudara iparnya itu.
Sejenak, Fajar tampak diam dan tak menanggapi Arkan, kemudian ia membuka suara, “Gue ikutin saran dari lo Kan. Lo bener, Raina dan Citra memang berbeda. Bahkan cara bersikap mereka sangat bertolak. Beberapa kali gue sempat acuh dan terkesan kasar, mungkin untuk Raina gue adalah makhluk paling kasar yang pernah dia temuin.”
Kali ini, Fajar memang tampak berbeda, mata yang tajam miliknya seolah nanar, ketika mengingat sikap kasarnya pada gadis yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa, Fajar terlalu berlebihan dalam meluapkan amarahnya pada Raina.
“Kalau gitu.. malam ini adek gue pasti nunggu lo.”
“Lo yakin? Setelah semuanya dia mau nunggu kepulangan gue?” ucap Fajar yang tak percaya dengan perkataan Arkan mengenai Raina.
“Adek gue, bukan tipe orang yang pendendam. Bahkan dalam satu detik pun dia mampu melupakan kesalahan orang lain, apalagi lo suaminya.”
Masih dengan nada ketidak percayaannya pada pernyataan Arkan tentang Raina, Fajar langsung bertanya, “Ok.. apa rencana lo?”
“Begitu lo keluar dari mobil ini, elo harus terlihat seperti orang mabuk berat. Lo harus yakinin semua orang yang ada di dalam rumah lo. Terserah mau gimana akting lo nanti, gue serahin semuanya sama lo.”
Mungkin akting mabuk bagi Fajar bukanlah hal yang sulit, apalagi ia sangat handal dalam urusan mabuk-mabukan. Dan dengan penuh percaya diri, Fajar mengiyakan rencana dari Arkan.
...*****...
Setelah sampai di depan gerbang rumah mewah Admajaya, Fajar kemudian keluar dan langsung melancarkan rencananya. Dan benar saja, kedua asisten rumah tangganya sangat percaya bahwa Fajar benar-benar mabuk berat malam ini.
Dengan perlahan mereka membopong tuan mudanya itu. Kemudian, Pak Maman dan Mbok Asih menidurkannya di atas kasur.
Setelah kedua asistennya keluar dari kamar, Fajar kemudian secara diam-diam bangkit dan mencari keberadaan Raina.
Setelah memeriksa kamar mandi, ruang ganti, namun nihil gadis itu tidak ada. Kemudian ia melihat ke balkon, dan betapa terkejutnya Fajar ketika mengetahui Raina tampak tertidur sambil duduk di sebuah sofa.
Jadi.. apa gadis aneh ini menunggu kepulanganku? Sampai dia tertidur di sofa – batin Fajar yang mendekatkan dirinya pada wajah Raina yang masih terbalut indah oleh cadarnya.
Namun, untuk melancarkan rencananya, Fajar langsung pergi dan tak mengutik Raina sedikitpun.
Kemudian Fajar sengaja menutup seluruh bagian tubuh dan wajahnya yang tertutup, yang hanya menampakkan kakinya yang masih terpasang sepatu. Ia sengaja tidak melepaskannya untuk menguji keseriusan Raina tentang pernikahan mereka. Dan akhirnya Fajarpun benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Dan mengenai ngingaunya tentang perasaan kebenciannya pada Raina malam itu, juga termasuk kedalam rencana yang sudah Fajar susun. Yang tanpa Raina sadari, Fajar terbangun ketika Raina membukakan sepatu miliknya.
Serta, tentang gadis yang mengirimkan pesan yang tidak pantas itu juga termasuk rencana Fajar dan Arkan.
Flashback Off
...*****...
Semuanya berjalan lancar sampai pagi ini. Namun, semuanya kacau berantakan ketika ia melihat orang yang sama beberapa tahun silam melakukan hal yang serupa pada dirinya, walaupun tidak secara langsung.
Menyadari kehadiran Raina dari belakang, masih dengan sikap dinginnya ia membuka suara.
“Stop!! gak perlu lo maju atau jelasin apapun,” katanya singkat, yang membuat Raina seketika terdiam menjadi batu dan tak tahu harus bagaimana. Raina belumlah mengenal bagaimana sifat Fajar dan bagaimana untuk menenangkan amarahnya.
“Lo boleh pulang. Dan satu, gak usah nunggu gue dan jangan tidur di sofa.” Mendengar kalimat yang terlontar di mulut Fajar, Raina tampak bingung, dan dengan penuh kehati-hatian ia melontarkan pertanyaan kepada Fajar yang masih tak membalikkan tubuhnya, untuk menghadap kearah Raina.
“Apa kak Fajar akan menghabiskan malam di bar seperti tadi malam?”
“Gue minta lo pulang! bukan bertanya!” lagi-lagi Fajar berbicara ketus pada Raina.
Ok fine, aku pulang. Aku nurut karena kamu suamiku kak Fajar, dan agama yang mengajarkan ku untuk menghormatimu bagaimanapun sikapmu padaku – batin Raina yang tampak sekali diraut wajahnya ia mencoba untuk tetap sabar menghadapi sifat dingin Fajar.
Kemudian dengan berjalan pelan, Raina meninggalkan Fajar. Namun, kali ini Fajar menghentikan langkahnya.
“Tunggu..” katanya singkat tanpa memberi tahu ada hal apa yang membuatnya mencegat kepergian Raina.
Ada apa lagi ini? tadi nyuruh pergi sekarang nyuruh nunggu, – cicit Raina pelan sambil memutarkan matanya malas.
“Gue udah pesen taxi online, warna hitam plat XXXX, lo naik itu untuk pulang,” jelas Fajar pada Raina, yang membuat gadis bercadar itu sedikit tersenyum.
Karena bagaimanapun Fajar sebagai seorang suami, ia paham akan keselamatan istrinya, walaupun dengan nada yang datar ketika berbicara pada Raina.
Setelah mendengarkan perintah Fajar, Raina langsung turun dari roof top, untuk memastikan taxi yang Fajar pesankan untuk menghantarkannya pulang.
Ketika berjalan menuju lobi, samar-samar ia mendengar Dhuha memanggil namanya.
“Raina.. Raina tunggu,” teriak Dhuha sambil sedikit berlari menghampiri Raina yang masih berdiri membelakangi dirinya.
Menyadari Dhuhalah yang memanggilnya, Raina kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat sosok Dhuha yang tampak akan menghujaminya dengan banyak pertanyaan, setelah mendadak tadi ia pergi meninggalkan Sindi dan Dhuha di taman.
“Kak Dhuha, saya minta ya kak.. tadi saya langsung pergi,” ucap Raina sedikit bersalah karena meninggalkan mereka tanpa memberikan alasan.
“Nggak apa-apa, kami salah juga tadi, karena tanpa memberitahukan kamu, langsung memberikan surprise seperti itu ke kamu,” kata Dhuha yang sama seperti Raina, ia juga tampak menyesal.
Sebenarnya, tujuan Dhuha mempersiapkan itu semua ditaman adalah, ia ingin mengungkapkan niatnya dan melamar Raina, di taman. Tapi.. belum juga niatnya tersampaikan, Raina tiba-tiba pergi tanpa alasan.
It’s ok.. mungkin kali ini gagal, tapi aku akan mencoba lagi nanti – batin Dhuha ketika mengingat kejadian tadi pagi.
“Kalau gitu saya pamit pulang duluan ya kak Dhuha, tolong sampaikan juga sama Sindi saya harus pulang duluan, assalamu’alaikum..” kata Raina yang kemudian dengan langkahnya yang cepat segera berlalu meninggalkan Dhuha, tanpa mendengarkan jawaban salam darinya.
Tak butuh waktu lama, taxi yang di pesan oleh Fajar untuk Raina tiba juga. Kemudian sang supir taxi yang ternyata seorang wanita membuka kaca mobil dan mempersilahkan Raina duduk di sampingnya.
“Mbak Raina bukan?” tanya wanita itu ramah pada Raina.
“Oh iya Mbak, saya Raina,” ucap Raina yang kemudian masuk dan duduk di depan, tepatnya di samping supir.
“Mbaknya beruntung banget, punya suami yang sangat peduli sama Mbaknya,” kata wanita itu yang membuat Raina heran.
Padahal selama ini Fajar tidak pernah memperlakukannya dengan istimewa, bagaimana mungkin wanita itu berkata bahwa Raina adalah gadis yang beruntung.
“Maksud Mbaknya, saya beruntung kenapa mbak?”
“Iya.. Masnya tadi, ngehubungi pihak taxi online kami, sampai-sampai Masnya maksa harus supir wanita yang mengantarkan Mbaknya pulang. Dan wajar saja dia berbuat seperti itu, wong istrinya terjaga seperti ini, dan pasti masnya gak mau deh istrinya diganggu laki-laki lain. Itu yang namanya definisi cinta yang tulus mbak.”
Mendengarkan penjelasan yang tak masuk akal dari supir disampingnya itu, Raina tampak sedikit terkekeh.
Cinta yang tulus? Bahkan Kak Fajar menatap mataku saja enggan, bagaimana mungkin dia memiliki cinta yang tulus untukku. Dan semua itu hanya bayangan dan angan-angan yang semu saja antara aku dan Kak Fajar. – batin Raina dengan sedikit kekehan tragis yang cukup menguras emosionalnya, sebagai seorang wanita dan istri dari seorang Fajar yang memiliki sikap susah ditebak, namun cenderung dingin padanya.
...-----♡●♡----'...
Alhamdulillah bisa up lagi😁
Dan untuk episode kemarin yang banyak keanehan, semoga di episode ini bisa menghilangkan sedikit keanehan itu ya, hehe😅
Oh iya.. terimakasih untuk teman-teman yang sudah sudi meluangkan waktunya untuk mampir di lapak cerita ini, semoga ada sedikit pembelajaran dari kisah ilusi ini yah😍
Jangan lupa terus dukung author dengan cara tekan jempol merahnya🖒 dan jangan ragu untuk memberikan kritikan dan saran di kolom komentar ya🤗
Jazakillah Khair 💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa