NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Iblis

Istri Kontrak Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Terjebak dalam tubuh karakter figuran yang sakit-sakitan, seorang wanita harus bertahan hidup di dunia novel sebelum maut menjemputnya. Demi mendapatkan obat dan perlindungan dari keluarganya yang manipulatif, ia mengajukan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Axion, pria berjuluk "Iblis" kekaisaran.

Namun, pernikahan ini menjadi rumit karena setiap anggota keluarga menyimpan rahasia besar. Axion ternyata menyimpan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang penuh dendam, sementara putra angkat mereka adalah sosok misterius yang aslinya bukan berasal dari dunia manusia.

Meski awalnya penuh ketegangan dan instruksi untuk hidup saling mengabaikan, sikap sang suami perlahan berubah drastis. Pria yang semula dingin itu kini menjadi sangat protektif dan tidak segan bertindak kasar pada siapa pun yang merendahkan istrinya. Hubungan yang seharusnya berakhir dalam setahun kini berubah menjadi ikatan keluarga yang rumit namun tak terpisahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melewatkan Sarapan.

Meskipun perintah sudah di berikan, Gabriella tidak bisa begitu saja mengabaikan situasi ini.

Rasa khawatir akan adanya penyusup sungguhan membuat Gabriella menyerahkan persiapan sarapan Luceran kepada pelayan lain. Ia pun berkeliling memeriksa bagian dalam kastil bersama Hans.

Namun, usaha mereka tidak membuahkan hasil.

"Bukan hanya di dapur, di bagian lain pun sama sekali tidak ada jejak orang asing yang masuk," lapor Hans.

"Kalau begitu, pelakunya pasti orang yang sangat ahli, atau mungkin... orang dalam sendiri."

Mengingat betapa anehnya kejadian ini, Gabriella merasa keterlibatan orang dalam jauh lebih besar. Namun, ia memilih untuk menahan diri. Ia sadar posisinya di sini masih terhitung baru. Jika ia terang-terangan menuduh para pelayan, ia takut hal itu akan di anggap sebagai upaya mengadu domba atau merusak kepercayaan yang sudah lama terjalin di kastil ini.

"Untuk berjaga-jaga, aku akan memperingatkan dan mengawasi para pelayan," ujar Hans.

Sepertinya Hans memiliki pemikiran yang sama dengan Gabriella. Itulah sebabnya ia berinisiatif mencari tahu siapa "pencuri" di antara mereka sendiri.

"Sekarang sudah waktunya makan siang, lebih baik Nyonya beristirahat saja, dan sisanya biar saya yang urus."

Gabriella mengangguk, lalu melangkah kembali ke arah dapur. Tak lama kemudian, pelayan yang tadi di tugaskan mengantar sarapan untuk Luceran datang menghampirinya.

"Nyonya, mohon maaf... Tuan Muda menolak sarapannya."

"Dia sama sekali tidak makan?"

"Benar, Nyonya. Sepertinya Tuan Muda masih sangat pemalu dan waspada. Beliau bahkan tidak mau melihat wajah saya dan langsung meminta saya keluar."

"Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha. Makan siangnya biar aku sendiri yang mengantarnya."

Karena Luceran melewatkan sarapan, Gabriella yakin anak itu pasti sangat lapar sekarang. Setelah menyiapkan porsi makan siang yang cukup mengenyangkan, Gabriella bergegas menuju kamar Luceran.

Tok, tok.

Ia mengetuk pintu perlahan sebelum membukanya.

"Luceran, maaf ya, hari ini aku datang terlambat."

Gabriella melangkah masuk dengan hati-hati, namun seketika ia merasa ada yang aneh.

"Luceran?"

Kemarin, begitu mendengar langkah kaki yang mendekat, dia sudah lebih dulu keluar menyambut di depan pintu.

Tapi hari ini, jangankan berlari menghampiri, dia bahkan tidak bergerak sama sekali, hanya berbaring dengan selimut menutupi kepalanya sampai ke ujung.

'Apa dia merajuk karena aku datang terlambat?'

"Maafkan aku, Luceran. Tadi ada urusan mendadak sampai aku tidak bisa menemanimu sarapan," bujuk Gabriella lembut sambil mendekat.

'Sepertinya dia mencoba bersembunyi.'

Meski berusaha bersembunyi, gundukan bulat di balik selimut itu terlihat sangat jelas di mata Gabriella.

Gabriella menarik pinggiran selimut itu perlahan, ia berniat untuk membujuk dan melihat wajah mungilnya. Namun, senyum di bibir Gabriella seketika sirna. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat kondisi di balik selimut itu.

"Luceran!"

Dengan tangan yang mulai gemetar, Gabriella menyeka keringat yang membanjiri wajah pucat itu. Namun, saat telapak tangannya mendarat di dahi si kecil, Gabriella seketika tersentak.

'Panas sekali.'

Rupanya, tubuh Luceran sedang di landa demam tinggi yang hebat.

Begitu menyadari kehadiran Gabriella, Luceran mencoba membuka suara meski dengan susah payah.

"Sa... sakit..."

"Di mana? Bagian mana yang sakit? Katakan padaku," tanya Gabriella panik.

"Sakit..." rintih Luceran lagi sambil memegangi kepalanya.

'Apa karena aku tidak mengeringkan tubuhnya dengan benar setelah mandi kemarin?' batin Gabriella menyalahkan diri sendiri.

Meski merasa sudah mengeringkannya dengan cukup teliti, mungkin saja keterampilannya masih kurang.

Pikiran Gabriella seketika mendadak kosong.

"Tunggu sebentar! Aku akan memanggil tabib!"

Gabriella berlari keluar secepat yang ia bisa. Di saat darurat seperti ini, entah mengapa para pelayan yang biasanya berseliweran justru tidak terlihat satu pun.

Saat rasa kesal mulai muncul, ia akhirnya melihat Hans dari kejauhan.

"Hans!"

"Nyonya? Ada apa?"

"Luceran sakit! Sepertinya dia demam setelah mandi kemarin. Ini semua salahku."

Pikiran Gabriella berkecamuk hebat. Wajah Luceran yang menatapnya dengan penuh air mata terus terbayang di benaknya.

"Panggil tabib sekarang juga!"

"Baik, Nyonya."

Hans segera memberi instruksi kepada salah satu pelayan untuk menjemput tabib secepat mungkin.

"Sembari menunggu tabib datang, mari kita periksa kondisi Tuan Muda. Tapi sebelum itu, sebaiknya Nyonya tarik napas dalam-dalam dulu."

"Aku tidak apa-apa."

"Nyonya sebaiknya jangan terus menyalahkan diri sendiri."

"Aku hanya bicara kenyataan. Anak itu sakit tepat setelah aku memandikannya kemarin!"

"Lama tidak mandi pun bisa membuat seseorang jatuh sakit, Nyonya." Hans menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Jika bukan karena Nyonya, Tuan Muda mungkin sudah berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk. Kalaupun ini memang karena kesalahan Nyonya, kita hanya perlu lebih berhati-hati ke depannya. Jadi, tolong jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."

"Baiklah, terima kasih, Hans."

"Justru saya yang seharusnya berterima kasih kepada Nyonya," balas Hans dengan senyum tipis.

Mendengar itu, Gabriella akhirnya mengembuskan napas panjang, ia merasa sedikit lebih tenang sekarang.

......................

Tidak lama kemudian, tabib yang di panggil pun tiba dan mulai memeriksa Luceran.

Biasanya, begitu orang asing masuk, anak itu akan melarikan diri. Namun kali ini, ia tidak punya tenaga untuk melakukannya. Ia hanya bisa meringkuk lemah sambil menahan rasa sakit yang hebat.

Setelah memeriksa kondisi Luceran dengan saksama, sang tabib akhirnya angkat bicara.

"Tuan Muda hanya kekenyangan. Dia sedang mengalami gangguan pencernaan yang parah."

Tabib kemudian menekan pelan bagian ulu hati Luceran.

Dan seketika—

Glek. Errrp.

Luceran bersendawa kecil.

Baru sekarang Gabriella menyadari bahwa perut anak itu tampak sangat buncit, tidak seperti biasanya. Meski melihatnya dengan mata kepala sendiri, Gabriella masih sulit memercayai situasi ini.

"Tapi... dia tidak bilang kalau perutnya sakit. Dia terus-menerus mengeluh kepalanya pusing," sanggah Gabriella bingung.

"Jika gangguan pencernaannya sudah parah, gejalanya memang bisa menyerupai flu; suhu tubuh meningkat drastis dan disertai sakit kepala yang hebat," jelas sang tabib. "Apalagi untuk anak sekecil ini, mereka sering kali kesulitan menjelaskan dengan tepat bagian mana yang terasa sakit."

"Tapi Luceran melewatkan sarapannya pagi ini. Kemarin malam pun dia tidak makan apa-apa. Bagaimana mungkin dia kekenyangan setelah seharian tidak makan?"

Gabriella tertegun. Ia ingat betul, kemarin Luceran tertidur sangat pulas karena kelelahan setelah mandi, sampai-sampai melewatkan makan malamnya.

Lantas, apa yang dia makan sampai bisa kekenyangan seperti ini?

"Kalau begitu, mungkin ada orang lain yang memberinya camilan di tengah malam?" tanya tabib.

"Tidak mungkin. Anak ini tidak membiarkan siapa pun mendekatinya selain diriku," jawab Gabriella yakin.

"Tapi, tadi saya melihat ada noda kuning di sudut bibirnya. Sepertinya itu bekas ubi manis atau semacamnya...."

Mendengar kata "ubi", jantung Gabriella seakan berhenti berdetak. Ingatannya langsung melayang pada kejadian di dapur tadi.

'Tunggu sebentar.'

"Jangan-jangan..." gumam Gabriella pelan.

-

Ternyata, "hantu kelaparan" yang membuat para koki ketakutan itu bukanlah penyusup ahli atau makhluk halus, melainkan sosok mungil yang sekarang sedang meringkuk kesakitan di depannya.

......................

Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, kita harus memutar waktu kembali ke dini hari tadi.

Setelah sesi mandi yang melelahkan semalam, Luceran tertidur lelap dan terbangun jauh lebih awal dari biasanya. Ia terbangun saat hari masih gelap gulita.

Begitu membuka mata, ia langsung terduduk dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar dengan gelisah.

Tidak ada.

Sosok cantik itu tidak ada di sana.

Padahal seingatnya, sebelum terlelap tadi, ia masih meringkuk hangat dalam pelukan wanita itu. Meski ia tahu Gabriella akan datang kembali saat jam makan nanti, rasa cemas tetap saja menyergap saat menyadari orang yang baru saja mendekapnya kini telah menghilang.

Luceran mulai mondar-mandir di dalam kamar, langkah kecilnya berputar-putar tanpa henti seolah sedang mencari jalan keluar. Sampai akhirnya, ia terpaku di depan pintu besar yang tertutup rapat.

'Kalau benda itu diputar, aku bisa keluar!'

Ia ingat betul, setiap kali orang-orang masuk atau keluar, mereka selalu memegang benda menonjol di tengah pintu itu lalu memutarnya.

Dulu, saat masih tinggal bersama neneknya, letak benda itu jauh di atas kepala sehingga tangannya tidak mungkin bisa menjangkau. Tapi di sini, kelihatannya benda itu cukup rendah untuk ia gapai.

'Aku pasti bisa!' pikirnya penuh tekad.

Luceran perlahan meraih gagang pintu dan membukanya.

Krieeet—.

Setelah berhasil meloloskan diri dari kamar, Luceran mulai mencari wanita itu.

'Sepertinya ke arah sini...'

Namun, di tengah usahanya mencari Gabriella, Luceran tiba-tiba menoleh ke arah lain.

'Baunya... enak sekali.'

Tujuan utamanya untuk mencari "wanita cantik" itu seketika lenyap dari pikirannya. Langkah kaki kecilnya kini justru membawa Luceran tepat ke depan pintu dapur.

Glek.

Di atas meja sana, tumpukan ubi manis tampak sangat menggoda. Jika dalam kondisi biasa, ia mungkin akan ragu-ragu untuk mendekat. Namun, karena ia melewatkan makan malam ditambah rasa lapar yang sudah melilit perut sejak tadi, pertahanan diri Luceran akhirnya runtuh total.

Hup!

Dengan satu lompatan lincah, ia sudah berada di atas meja.

Tanpa membuang waktu, Luceran langsung melahap habis semua ubi itu sendirian. Kesadarannya baru benar-benar pulih setelah tidak ada lagi ubi yang tersisa untuk dimakan.

Ah! Benar juga!

Tadi kan tujuannya keluar untuk mencari wanita cantik itu!

Meski masih kecil, Luceran cukup cerdik. Ia tahu jika dirinya kembali ke tempat asalnya sekarang, ia pasti bisa bertemu lagi dengan wanita itu besok pagi. Maka, dengan perut yang sudah sangat buncit dan terasa penuh, ia pun bergegas kembali menyusuri jalan yang tadi ia lalui.

Semuanya tampak berjalan lancar, sampai tiba-tiba....

Dunia di sekelilingnya terasa berputar hebat. Perutnya mendadak terasa sakit, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk dari dalam.

Setelah lama menderita dalam kesakitan, seseorang yang disebut "tabib" akhirnya datang. Luceran di paksa menelan obat yang rasanya sangat pahit agar bisa sembuh, tapi rasa nyamannya hanya bertahan sebentar saja.

Sepanjang hari itu, Luceran hanya bisa meringkuk lesu di atas tempat tidur sambil merintih menahan sakit. Rasa sedih pun mulai membuncah di hatinya.

Hiks.

'Aku kangen Nenek.'

Saat ia sedang terisak, seseorang mengusap punggungnya dengan lembut.

'Nenek?!'

'Sentuhan ini... terasa seperti tangan Nenek!'

Begitu ia membuka matanya, ia melihat sepasang mata emas yang bersinar terang layaknya cahaya.

"Kamu sudah meminum obatnya, jadi sebentar lagi pasti akan membaik."

Ternyata bukan Nenek.

Itu adalah Gabriella, yang tetap setia berjaga dan merawatnya hingga larut malam setelah tabib pergi. Dengan suara lembut, ia menenangkan Luceran yang baru saja terbangun setelah sempat tak sadarkan diri karena rasa sakit.

Namun, bukannya merasa tenang, bisikan lembut itu justru membuat perasaan Luceran semakin emosional dan tak karuan.

"Rumah... aku mau pulang ke rumah...."

Glek.

Bersamaan dengan bunyi sendawa, Luceran meluapkan isi hatinya. Namun, bukan hanya kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Huek.

Cairan asam dari perutnya naik dan ia memuntahkan semuanya.

Deg!

Instingnya langsung menjerit bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar. Dengan sisa tenaga yang ada, Luceran melirik takut-takut ke arah Gabriella, berusaha membaca ekspresi wajah wanita itu.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪🍊
Mita Paramita
tuh kn keluarga Valencia masuk aja gangguin hidup Gabriela 😈😈😈
Mita Paramita
untung aja topeng kejahatan Grayson ketauan 🤣🤣🤣 rasain tukang bohong ngaku2 jadi ayah nya Gabriela
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
@Biru791
kapan up pagiii
@Biru791
thour kapan upp lagi
lady parasol: author up besok ya, bbrp hari ini lagi drop hihi, makasih udh baca 🤍
total 1 replies
@Biru791
thour semngagt yukk up lagi💪
@Biru791
semngatt truss double upppp💪
@Biru791
cemungutt up
lady parasol: sambil nunggu up, baca novel terbaru berjudul Violetta : Menulis Ulang Akhir Hidupku 😄

di jamin seru
total 1 replies
@Biru791
cepat capatt uppp seruuu abiss
Mita Paramita
keluarga bahagia 🤣🤣🤣tapi sayang Gabriela umur nya pendek 😭
lady parasol: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor🔥🔥🔥
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor sering update 🔥🔥🔥💪💪💪
@Biru791
gk ada niat lanjut kah
Mita Paramita
axion masih gengsi aja kalo naksir sama Gabriella 🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
@Biru791
semngatt dong kapan upp
Mita Paramita
axion simpati dikit sama Gabriella 🤨 obatin penyakitnya 😭 umur ny gak lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!