Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua mata yang saling bersaing=_=
Matahari telah condong ke barat. Cahaya senja merambat malas melalui celah jendela, menyapu ruang tamu apartemen Xinyao dengan warna jingga pucat. Di tengah ruangan itu, Li Fengyun masih duduk tegak di sofa tak bergerak, tak bersuara, bahkan tak bernapas lega seperti patung feng shui edisi mahal yang salah penempatan.
Tubuhnya terasa kaku, bukan lagi sekadar pegal, melainkan nyaris mati rasa. Dari leher hingga ujung kaki, otot-ototnya menjerit dalam diam.
Jika saja tatapannya bisa membunuh, maka jimat di dahinya sudah lama menjadi abu.
Sementara itu…
Di kamar tidur.
Tawa renyah Xinyao dan Qinglan terdengar bersahut-sahutan, sesekali diselingi suara benda dilempar entah bantal, entah boneka dan komentar-komentar tak penting yang terdengar sangat penting bagi mereka.
“Eh, kamu tau nggak ekspresi muka Gege tadi?” Qinglan terkekeh.
“Tau,” jawab Xinyao santai sambil rebahan. “Kayak lemari es kehabisan listrik.”
Mendadak—
“AKHHH!”
Teriakan Xinyao menggema.
Qinglan melonjak kaget, refleks melempar bantal ke arah sumber suara.
BUGH!
“Astaga!” Qinglan menepuk dada. “Ngagetin tau! Kenapa sih teriak-teriak?!”
Namun Xinyao sama sekali tidak menanggapi.
Wajahnya mendadak pucat. Matanya membulat. Tubuhnya melesat turun dari kasur seolah kasur itu tiba-tiba berubah jadi api.
Ia berlari keluar kamar.
Qinglan tertegun setengah detik, lalu ikut berlari di belakangnya.
“Mampus lah…”
“Mampus lah…”
Gumaman itu terus keluar dari bibir Xinyao, nadanya panik, ritmenya kacau—seperti mantra kutukan yang salah sasaran.
Begitu sampai di ruang tamu—
“AKH—!”
Kini giliran Qinglan yang menjerit kecil dan mundur satu langkah.
Fengyun masih duduk di sana.
Tegak.
Kaku.
Tak bergerak.
Namun bedanya, kini matahari sudah hampir tenggelam, dan cahaya senja membuat wajah Fengyun tampak lebih… tragis.
“Ge… Gege…” sapa Qinglan pelan, senyumnya kaku dan sangat tidak bersalah. “Hehehe…”
Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal lalu menunduk sedikit.
“Sepertinya… kami… lupa sama kamu.”
Fengyun berkedip cepat.
Sekali.
Dua kali.
Tatapan itu penuh tuntutan.
Cepat lepaskan.
Qinglan langsung berbalik, menempel manja di lengan Xinyao.
“Yao Yao…”
Nada suaranya dibuat selembut mungkin, seperti anak kucing yang minta ampun.
Xinyao mendecak kecil. “Iya, iya. Aku lepas.”
Ia mendekat, mengangkat tangan, dan dengan santai mencabut jimat dari dahi Fengyun.
Detik berikutnya—
BRUK!
Tubuh Fengyun langsung ambruk ke sofa, napasnya terengah-engah seperti orang yang baru kembali dari alam baka.
“Gege!” Qinglan buru-buru menghampiri, menepuk-nepuk bahu kakaknya.
Fengyun mengangkat tangan gemetar, menunjuk ke arah Xinyao.
“Kau—”
“Apa?” Xinyao menatap tajam, mata mereka saling mengunci.
Hening sejenak.
“Enggak,” jawab Fengyun lemah.
Nada suaranya kalah total. Wibawanya runtuh. Ia tampak seperti singa yang kehilangan surai dan harga diri sekaligus.
Xinyao mendengus, berbalik pergi.
Beberapa menit berlalu, Fengyun akhirnya bisa duduk dengan lebih normal. Rasa kebas perlahan memudar, digantikan nyeri yang sangat nyata dan memalukan.
Ia dan Qinglan saling pandang.
“Kayaknya kita pulang aja, Gege,” ujar Qinglan pelan.
Fengyun mengangguk. Ia baru saja hendak membuka mulut
TRIIING—
Bel apartemen berbunyi nyaring, memecah suasana.
Semua kepala refleks menoleh ke arah pintu.
Xinyao mengerjap.
“…Siapa lagi ini?”
Dan entah kenapa, perasaan tidak enak serentak muncul di hati Fengyun.
Xinyao membuka pintu apartemennya perlahan. Engsel pintu berderit halus, seolah ikut penasaran dengan tamu yang berdiri di baliknya. Begitu pintu terbuka sempurna, tampak seorang pemuda bersandar santai di ambang pintu, satu tangan di saku celana, sorot matanya malas namun penuh tuntutan.
“Chen,” sapa Xinyao refleks.
“Huh.” Wei Chen mendengus pelan, nada suaranya terdengar ringan namun jelas menyimpan kekesalan. “Nona, sepertinya kamu melupakan sesuatu.”
Xinyao mengernyit.
“Saat aku pulang,” lanjut Chen tanpa basa-basi, “piring di apartemenku masih kotor.”
Ia berhenti sejenak, lalu mengangkat bahu.
“Oke, oke. Lupakan itu. Sekarang sudah bersih.”
Tatapannya menyipit, menilai jam imajiner di pergelangan tangannya.
“Ini sudah jam makan malam. Kenapa kamu belum datang juga? Makanan akan dingin.”
Nada bicaranya penuh tekanan, seperti suami cerewet yang menunggu istrinya pulang padahal jelas bukan.
Sebelum Xinyao sempat membantah, Wei Chen sudah lebih dulu menarik lembut pergelangan tangannya.
“Eh—tu-tunggu sebentar!” Xinyao refleks menarik diri.
Chen berhenti dan menoleh heran.
“Kenapa lagi? Apartemen kita sebelahan. Tidak perlu dikunci juga.”
“CK.”
Xinyao berdecak pelan, merasa situasinya mulai di luar kendali.
Belum sempat ia berkata apa-apa, dari dalam apartemen terdengar langkah kaki. Tak lama kemudian, Fengyun muncul dengan bantuan Qinglan. Gerakannya kaku, wajahnya tetap tenang, meski jelas tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
“Eh—”
Xinyao membeku.
Entah mengapa, pemandangan itu membuatnya merasa seperti istri yang tertangkap basah sedang bersikap mencurigakan. Rasa canggung menjalar dari ujung rambut hingga telapak kakinya.
Wei Chen menyipitkan mata, lalu menunjuk ke arah Fengyun.
“Oh, tamu tadi pagi?”
Nada suaranya berubah. “Belum pulang juga?”
Ia menoleh ke arah Xinyao, ekspresinya mendadak dramatis.
“Paman… sudah jam berapa ini? Kenapa belum kembali? Tunggu—tunggu kalian seharian di apartemen Yao Yao?”
“Iya,” jawab Qinglan singkat, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Paman?”
Alis Fengyun langsung bertaut, rahangnya mengeras. “Siapa yang kau panggil paman?”
“Paman,” ulang Chen santai sambil menunjuk lurus ke arah Fengyun.
“Aku…?” Fengyun menunjuk dirinya sendiri, jelas tidak terima.
“Iya.” Chen menatap Fengyun dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah sedang menilai barang di etalase. “Ganteng sih… tapi sayang, Anda sudah tua. Tidak cocok bergaul dengan kami.”
“Heheheh.”
Chen tertawa ringan, deretan giginya terlihat menyebalkan.
“Pffft—”
Qinglan langsung menutup mulut, bahunya bergetar menahan tawa.
Xinyao menyikut pelan pinggang Chen.
“Sttt!” bisiknya kesal. “Walaupun dia lebih tua dari kita, tapi dia sumber uangku.”
Chen terdiam.
“Eheheh…”
Xinyao buru-buru berpindah ke sisi Fengyun. Tangannya terangkat refleks, mengelus dada bidang pria itu dengan gerakan menenangkan atau setidaknya ia bermaksud begitu.
“Eheheh… em… jangan tersinggung ya,” bisiknya di telinga Fengyun. “Mulut Chen memang… a—gak rusak.”
Tangannya masih menempel di dada Fengyun.
“Uwah…”
Qinglan diam-diam mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto dengan penuh semangat, tentu saja tanpa sepengetahuan dua orang yang tengah sibuk menjaga harga diri itu.
Sementara itu, Wei Chen justru semakin terbakar. Dadanya panas melihat interaksi Xinyao dan Fengyun. Ia hendak menarik tangan Xinyao
Namun Fengyun lebih cepat.
Satu gerakan tegas, tangan Fengyun melingkar di pinggang Xinyao, menariknya hingga tubuh mereka rapat.
“Ekh—”
Tatapan mereka bertemu sekejap. Terlalu dekat. Terlalu sunyi.
Fengyun segera mengalihkan pandangan ke arah Chen, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis senyum kemenangan.
Namun Chen bukan orang yang kehabisan akal.
“BRUK!”
Ia menjatuhkan dirinya ke lantai dengan dramatis.
“Chen!”
Xinyao panik, langsung membantu Chen bangkit. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba jatuh?”
“Kepalaku… sedikit pusing,” jawab Chen lemah. Ia bergelayut manja di lengan Xinyao, sambil melirik Fengyun dengan ekspresi mengejek.
Xinyao menyentuh pergelangan tangan Chen, alisnya berkerut.
' Tidak ada yang salah dengan tubuhnya… lalu kenapa ? '
Ucapan batinnya terhenti.
' Atau jangan-jangan… akhh—mesum! '
Xinyao hampir menjerit dalam hati. Ia langsung melepaskan tangannya.
“Chen,” katanya cepat, “sebaiknya kamu kembali ke apartemenmu. Kamu pusing, kan?”
Lalu ia menoleh ke arah Qinglan, kedua tangannya saling bertaut.
“Tolong.”
Qinglan langsung mengangguk paham.
“Gege,” katanya lembut pada Fengyun, “sebaiknya kita pulang dulu. Biarkan Yao Yao istirahat.”
Fengyun menatap Xinyao sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Em.”
Tak lama kemudian, apartemen itu kembali sunyi.
Xinyao masuk ke kamarnya, menghempaskan diri ke kasur, lalu meraih ponsel dan menelpon Meimei.
📞 Sebenarnya aku sudah mau pulang… tapi begini saja. Aku tinggal di apartemenmu malam ini. Sebagai gantinya, aku belikan makanan banyak untukmu.
📞 Deal.
Tanpa berpikir panjang, Xinyao menyetujuinya.
Malam itu, apartemen Xinyao kembali ramai
bukan oleh konflik,
melainkan oleh dua wanita, satu ranjang, dan makanan yang tak pernah cukup.
Bersambung.....
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...
lbh kasihan hauron, uangnya sia2 😜