Istri yang Tak Dianggap
Sinopsis
Azkia gadis berlesung pipi, gadis penyuka warna abu-abu itu tidak bisa menolak, saat lelaki yang dipanggilnya ayah itu menjodohkannya dengan anak sahabatnya.
Lelaki bernama Herman mendatanginya dua hari sebelum pernikahannya digelar, dia meminta kepada Azkia, agar membatalkan perjodohan ini, Azkia yang ingin berbakti pada ayahnya, dan tidak ingin membuat malu keluarganya, tentu saja menolak keinginan Herman, Herman sangat kecewa dengan penolakan itu, dia pun akhirnya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya.
Anjeli gadis cantik, pacar Herman sekaligus sahabat Azkia, dia mendatangi Azkia, Anjeli sangat marah padanya, karena menganggapnya telah menjadi pengkhianat, di saat Anjeli menampar dan memakinya, Herman yang sudah sah menjadi suaminya, malah memaki dan menyalahkannya. Azkia hanya diam tertunduk atas tuduhan-tuduhan yang dihujatkan padanya. Anjeli bahkan mengacamnya, tidak akan membiarkannya hidup bahagia.
Bagaimana kehidupan Azkia selanjutnya
Ayo, kepoi di sini
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmaiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Anjeli
"Kesabaranku terus diuji, entah sampai kapan, semoga Tuhan memberiku hati sekuat baja"
By Rajuk Rindu
Jantung Azkia bergemuruh, cemburu itu ternyata sangat menyakitkan dan menyiksa, dengan langkah berat Azkia meninggalkan tempat yang sudah membuatnya terbakar amarah.
"Wanita itu pasti Anjeli, mereka kelihatan sangat senang, bercengkrama sambil tertawa cekikikan, dasar perempuan tak tahu malu, sudah bercerai masih saja berduaan dengan suami orang.
Hatinya kembali perih, lebih perih dari biasa-biasanya. Kenapa dia sekarang begitu sakit ketika melihat Herman bersama Anjeli, dulu ketika anjeli masih menjadi madunya, dia biasa saja Herman dan Anjeli bermesraan di depannya.
Enam tahun kepergian Anjeli, menjadi bumerang bagi Herman, semua kesalahan selalu ditumpukan ke dirinya, Herman menganggapnya penyebab kepergian Anjeli.
Semua perlakuan Herman selama ini, diterima Azkia dengan lapang dada, dia tidak pernah memaki takdir yang terjadi dalam hidupnya. Karena dia berharap suatu saat suaminya itu akan mencintainya.
Azkia menepis kenangan manis yang baru dimulai, mungkin dia saja yang terlewat kebawa perasaan, hingga begitu senang mendapat perlakuan romantis dari Herman.
"Ah... sudahlah, jangan terlalu berharap, Kia." gumamnya sambil masuk ke kafe di mana Kayra sudah menunggunya dengan nasi goreng yang sudah tersaji.
"Maaf, antri, jadi kelamaan." ujarnya sebelum pertanyaan terlontar di mulut comel Kayra.
"Ayuk cepatan dimakan, ntar keburu dingin." Kayra menyodorkan sepiring nasi goreng kehadapan Azkia, merekapun makan sambil bercerita apa saja.
Sejenak Azkia melupakan masalahnya, setelah selesai makan, dia dan Kayra keluar masuk butik, toko perhiasan dan tas, tapi tak satupun barang yang dibelinya, dia memang beda dengan Kayra, tidak akan membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkannya, sementara Kayra akan membeli apa saja yang diminatinya.
Setelah wara wiri, merekapun memutuskan mengakhiri shoping hari ini, saat keluar dari pakiran, tanpa sengaja, Azkia melihat Herman membukakan pintu mobil untuk wanita itu, lagi-lagi Azkia tidak bisa melihat jelas, apakah itu Anjeli atau tidak, karena wanita itu keburu masuk mobil.
Sepanjang perjalanan ke kantor pikiran Azkia terus saja galau, dia memijat kepalanya yang sedikit terasa pusing, keringat mulai mengucur di dahinya.
"Kia!, kamu kenapa, wajahmu pucat sekali."
"Tidak apa-apa, Kay!."
"Aku antar kamu pulang saja ya, biar istirahat di rumah."
"Tapi Kay, kerjaan ku masih banyak."
"Tidak usah dipikirkan, nanti aku yang hendel semuanya ya."
"Terima kasih, ya Kay."
Beruntung Azkia punya teman sebaik Kayra, selalu siap saat dibutuhkan, memang takdir Kayra lebih baik dari dirinya, punya karir yang bagus, hidup mapan, punya anak-anak yang manis, dan punya suami yang sangat perhatian.
Beda jauh dengan kehidupan Azkia, karir biasa saja, anak gak punya, bagaimana mau punya anak, sampai sekarang saja dia masih perawan, tujuh tahun dia dianggurin sama suaminya. Hehehe...kasian kamu Kia, udah kayak barang rongsokan saja.
Hidup lumayan mapan, selain dia punya gaji sendiri, setiap bulan Herman tetap memenuhi kebutuhan dengan memberinya uang belanja yang lebih dari cukup, bahkan dia sudah punya tabungan yang disiapkannya, jika sewaktu-waktu Herman menceraikannya.
Mungkin ini memang takdir yang harus dijalaninya, hidup dengan suami yang tak pernah menganggapnya istri, hidup dengan orang yang dicintainya tapi tak pernah mencintainya.
"Kamu tidak mampir dulu." ujar Azkia turun dari mobil yang sudah parkir di depan rumahnya.
"Gaklah, kamukan mau istirahat, kalau aku mampir, ntar tak jadi istirahatnya." balas Kayra sambil tertawa. diapun menutar balik mobilnya kembali ke butik.
Azkia masuk ke dalam rumah, setelah mengucapkan salam, sunyi tidak ada yang menjawab salamnya, mungkin mang Udin lagi di kebun belakang, tapi Arta mana?, biasanya dia yang berlari menyambut kedatangan Azkia.
Sayup terdengar suara orang berbicara dan tertawa, Azkia melangkah menuju sumber suara, suara itu dari kamar Arta, siapa teman Arta berbicara. Azkia menempelkan telinganya kedaun pintu kamar Arta.
"Suka gak ditemani sama tante."
"Suka dong tante, Arta jadi ada temannya."
"Besok, apa boleh tante kesini lagi."
"Wah... senang bangat kalau tiap hari ditemani sama tante." terdengar suara Arta sangat riang.
Penasaran Azkia semakin kuat, perlahan dia memutar grandel pintu, tidak langsung masuk, tapi dia mengintip dari balik pintu, Deg... jantung Azkia bergemuruh, Anjeli sedang memeluk Arta dengan erat dengan posisi membelakangi, sejak kapan wanita itu di sini, apakah Anjeli sudah mengatakan yang sebenarnya pada Arta, mereka terlihat sangat akrab. Azkia menutup kembali pintu kamar Arta. Dan berniat menjauh.
Karena kurang fokus, Azkia tersinggol lemari kaca yang bertengger di samping kamar Arta, dan malangnya tubrukan tubuhnya menjatuhkan pot bunga kesayangannya. Hingga hancur berpuing di lantai, Tentu saja suara gaduhnya terdengar sampai ketelinga Arta.
Benar saja, pintu kamar Arta terkuak, kepala Arta menjulur melihat apa yang terjadi. di susul Anjeli.
"Bunda!" teriak Arta, Azkia yang ingin beranjak keruang dapur menoleh memandang Arta.
"Jangan ke sini sayang, banyak bling." Azkia membawa sapu dan skop, kemudian membersihkan pecahan kristal yang berserakan dan membuangnya ke tong sampah , kemudian masuk kembali menemui Arta. Anjeli sudah berdiri di samping Arta.
"Bunda! ini tante Anjeli." Arta menarik tangan Anjeli mendekati mamanya.
"Kata tante Anjeli, bunda sama tante sahabatan dari dulu, iya ma!."
Azkia memandang Anjeli, seakan meminta penjelasan apa saja yang sudah diceritakannya pada Arta.
"Kita sudah sahabatan sejak kecil, iyakan." Anjeli menjawab pertanyaan Arta yang dilontarkan ke Azkia.
"Iya, sayang, Bunda sama tante Anjeli, udah lama sahabatan." ujar Azkia sambil berjongkok memegang buhu Arta.
"Ketemunya tante Anjeli di mana sayang." tanya Azkia mulai menyelidik. Karena tadi dia melihat kalau Anjeli bersama Herman di mall.
"Mang Udin jemput Arta tadi sama tante, Bun!" jawab Arta sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Azkia.
Azkia berdiri dan mengangkat tubuh Arta, sambil berpelukan, mereka berputar dan tertawa bersama. Azkia kembali berjongkok menurunkan Arta, kemudian mengecup kedua pipinya.
"Mau dong dicium juga." spontan Anjeli berjongkok di samping Azkia, kemudian menyodorkan pipinya ke arah Arta. Arta memandang mamanya, seakan meminta persetujuan dari permintaan Anjeli, Azkia mengangguk.
Melihat kemanjaan Arta pada Azkia, membuat Anjeli terbakar cemburu dan iri, dadanya terasa sesak, Arta begitu bahagia bersama Azkia, seharusnya dia yang berada diposisi Azkia.
Anjeli menelan salivanya sendiri, melihat anak kandungnya begitu menyayangi Azkia, ada rasa perih di hatinya, anaknya sendiri tidak tahu kalau dia ibu kandungnya.
"Bersabarlah Anjeli, nanti ada waktunya buatmu merebut hati Arta." gumam Anjeli dalam hati, kalau sekarang dia sampaikan yang sebenarnya ke Arta, bisa jadi Arta malah membencinya, dia harus pelan-pelan membuat Arta percaya kalau dia ibu kandungnya.
"Pasti Azkia selama ini, menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya pada Arta." batin Anjeli.
Sementara Azkia diliputi beberapa pertanyaan, bayangannya kembali ke mall, dua jam yang lalu. Kalau Anjeli sudah dari tadi di sini bersama Arta, jadi siapa wanita yang bersama Herman di mall tadi?
****
Jangan lupa tekan like
Terima kasih🙏🙏
udah gak dianggap suami, di rendahkan, di maki2, di sakiti, dikasari, di beri madu, jagain anak madu lagi...sempurna ketololan mu sbg wanita