Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma
Fandyka
Aku duduk di sebuah ruang tamu sederhana milik paman parman, Adik dari bapak mertuaku. Aku duduk di kursi tunggal dekat pintu. Pandanganku kuedarkan ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan ini sangat sederhana. Jauh dari kata mewah. Namun suasananya sepertinya penuh dengan cinta dan kehangatan.
Aku menatap Nawal istriku yang duduk di kursi panjang di sebrangku. Ia menatap dua keranjang besar dagangannya dengan nanar. Aku tau apa yang ia pikirkan.
"Kamu jangan sedih na. Aku akan ganti semuanya".
"Bukan itu masalahnya mas. Makanan ini jadi mubadzir kan. Sayang kalau di buang. di luaran sana, banyak orang kelaparan dan butuh makanan. Sedang disini .... ",
Ya tuhan, mulia sekali hati istriku ini. Kenapa aku baru menyadarinya? bodohnya aku selama ini sudah menyia-nyiakan istriku dan mencampakkannya hingga titik terendah. Istriku yang berhati malaikat. Mengujinya di luar batas kesanggupannya. Hingga calon anakku lah yang menjadi korbannya.
Aku menghampiri Nawal dan duduk di kursi Nawal. meraih dan menggenggam tangannya yang sedikit lebih kasar dari sebelum dia pergi. "Na, Aku janji sama kamu. Aku nggak akan nyia-nyiain kalian lagi, kamu dan anak kita". Dia mendongak menatapku. "Aku akan ganti kerugian kamu. Makanan ini nanti di bagi-bagi ke tetangga aja. Kita berbagi".
"Kamu.... berhentilah bercanda mas, aku.... A. aku....." Ku lihat pipi dan hidungnya merona, terlihat imut dan menggemaskan. Ya tuhaaan aku kenapa baru sadar sih??
"Hei... aku nggak bercanda na. Aku serius". Nawal terpaku mendengar pengakuanku.
Sayup-sayup aku mendengar suara yang tak asing di telingaku. Paman parman dan bi Nanik. Ya. Aku sempet mengenal mereka waktu pernikahan ku dan Nawal.
"Lho le.. Nak fandy kapan datang?" Aku tersenyum lembut kearah beliau. menyalami paman dan bibi bergantian.
"Tadi pagi Paman. Istirahat di hotel sebentar . Baru ketemu Nawal selesai sholat asar tadi".
"Yoalah, kok istirahatnya di hotel sih? Kenapa Ndak langsung kesini saja? kan sayang to uangnya mending di tabung." Aku tersenyum kecut mendengar nasehat bibi. Gimana mau kesini? Wong aku di kerjain dulu sama si Malik sialan itu.
"Nggak papa bik".
"Ayo istirahat dulu. Paman dan bibik mau mandi dulu". Aku mengangguk dan tersenyum lembut.
🌌🌌🌌🌌
Saat ini, paman, bibi, Nawal dan aku tengah duduk di ruang tamu. Aku sudah menantikan saat seperti ini. Aku ingin membawa Nawal pulang ke rumahku. Memulai dari awal lagi hubungan yang sudah ku hancurkan sendiri.
"Jadi, bagaimana keadaan ayah sama ibu nak Fandy?"
"Alhamdulillah baik paman. Ayah dan ibuk nggak tau kalau Fandy menyusul ISTRI Fandy kesini", Aku sengaja menekan kan kata dia khir kalimat. Kulirik Nawal, ingin tau reaksinya. Dia menatapku sekilas kemudian mengalihkan tatapannya.
"Bibik turut menyesal karna Nawal pergi tanpa pamit. Biar bagai manapun, Kamu tetep suaminya le. Atas nama Nawal. Bibi minta maaf". Aku tersenyum pahit mendengar penuturan bibi. Bukankah disini, akulah yang bersalah?
"Enggak bi. Fandy yang salah. Fandy khilaf. Kalau boleh, Fandy minta satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Fandy baru sadar kalau Fandy mencintai Nawal. Fandy membutuhkan Nawal untuk menjadi pendamping hidup Fandy, untuk melahirkan dan membesarkan anak Fandy" Sekuat tenaga aku menahan gar air mataku tak tumpah. Tapi sia-sia saja. air mataku tetap tumpah juga.
Aku tersentak ketika menyadari Nawal yang tiba-tiba berdiri dan berpamitan ke belakang. "Maaf paman, bibik, Nawal pamit ke belakang". Suaranya nampak bergetar. Dia berjalan cepat menuju ke arah pintu belakang.
"Fandy, kamu yang sabar Yo le, tidak mudah menghadapi ibu hamil yang emosinya sulit di tebak. Kamu harus pengertian. Semenjak Hamil, dia jadi lebih sensitif dan selalu murung". kali ini, paman menimpali.
Aku mengusap air mataku yang tadi mengalir deras. " Fandy ngerti paman, bibi".
"Yo wis sana, susulin istrimu. Dia pasti ke kamarnya. Letak kamarnya di kamar yang pintunya cat hijau, Bujuk dia. Tenangkan hatinya. Dia pasti luluh nanti". Ucap bibi. Aku tersenyum dan mengangguk kemudian beranjak menghampiri kamar istriku.
Nawalisya
Aku setengah berlari menuju kamarku. Kututup pelan pintu dan segera berbaring dengan posisi miring ke kanan. Aku menangis sejadi-jadinya. Fandy ingin aku kembali padanya. Tapi aku masih terus saja mengingat kata-kata Fandy hari itu.
Ku dengar pintu berdecit pelan. Aku tidak peduli. Siapapun yang masuk ke dalam kamarku, aku tidak mau tau. Keadaanku sangat kacau. Aku menyedihkan. Aku enggak baik-baik aja. Tiba-tiba aja kasurku sedikit bergerak dan sebuah tangan melingkar diperutku. Aku terlonjak kaget dan berbalik menatap si pemilik tangan itu.
"Mas Fandy? Keluar kamu mas. Biarkan aku sendiri".
"Aku suamimu na. Biar bagaimanapun aku berhak atas dirimu", Katanya pelan sambil menyurukkan wajahnya di ceruk leherku. Aku menegang mendapat reaksi dari mas Fandy. Ada apa ini? Kenapa rasa ini masih tetap ada? Bukankah aku sudah mencoba untuk menjauh?
"Cukup mas". Aku tercekat.
"Na". Mas Fandy bangkit dan terduduk di lantai keramik, bersandar pada sisi dipan yang ku tempati. "Beginilah rasanya di tolak na? Di saat aku sudah membuka hatiku untukmu, kamu menolak ku", Mas Fandy tersenyum getir mendapati kenyataan ini. "Inikah yang kamu rasakan saat aku menolakmu mentah-mentah? ..... Maafkan aku, na. Maaf. Aku sadar. Aku sudah mendapatkan karmanya sekarang".
Ku lihat mas Fandy terkulai lemah dengan kepala mendongak. Memejamkan mata dengan tersenyum pedih. Mungkin, menikmati rasa sakit yang menjalar ke seluruh ulu hati. Sama seperti yang aku rasakan saat dia menolakku? Benarkah mas Fandy udah berubah? bukan semata-mata karna anak diantara kami? Tapi benar-benar mencintaiku? Ya Rabbi... ampuni aku, apa yang harus ku lakukan sekarang?
Aku bangkit dan menghampiri mas Fandy. "Benarkah mas? Kamu?". Aku tercekat, tak mampu melanjutkan kalimatku. Tangisanku semakin menjadi. Mas Fandy tidak merubah posisinya. Dia diam saja.
Aku meraih tangannya dengan gemetar. Seluruh tubuhku terasa gemetar. Kemudian mas Fandy membuka matanya. Menjulurkan tangannya untuk menghapus air mataku. "Jangan nangis. Aku pamit aja deh malam ini". Katanya sambil tersenyum. memaksakan senyum yang sebenernya menyiratkan kepedihan.
"Kenapa pulang?" Aku bertanya dengan lirih.
"Aku takut nggak bisa menahan diriku kalau aku tetep disini. Kamu jaga kesehatan ya. Jaga anak kita baik-baik". tangannya terjulur mengusap lembut perutku. kurasakan anakku bergerak lincah di dalam sana. Mas Fandy terkekeh pelan sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Seminggu lagi, aku datang jengukin kamu dan bayi kita. Ini ada sedikit uang. Gunakan ini dengan baik. Jangan nolak. Kamu berhenti jualannya. Aku nggak suka liat kamu kecapekan. Makanan yang tadi nggak ke jual, di bawa ke masjid aja, bagiin ke semua tetangga dan anak-anak yang ada di sekitar sini" Katanya sambil tersenyum.
"Mas...".
"Ini perintah. Kamu nggak boleh membantah".
aku paksakan untuk mengangguk.
Mas Fandy bangkit dari duduknya. Meraih pundakku untuk berdiri. Dia meraih tangan kananku dan memberikan uang tunai itu. "Ini cuma satu juta. Aku nggak bawa uang lebih. Minggu depan aku kesini lagi. Inget! Kamu nggak boleh Sampek kecapekan". Aku mengangguk saja.
Suara adzan isya' Berkumandang. Terlihat pak lek dan Bu lek sudah bersiap untuk ke musholla dekat rumah. Mas Fandy pun menyapa karna mau pamitan sama pak lek dan Bu lek.
"Paman, bibi.... Fandy mau pamit. Titip Nawal ya." katanya sambil tersenyum. Hatiku menceloos sakit mendengarnya. Dia akan pergi? Ya udah lah biarin aja. Toh nanti ketemu lagi Minggu depan. Itung-itung ngasi pelajaran lah buat dia. Biar lebih bisa menghargai perasaan orang lain. Meskipun aku ngerasa nggak terima juga sih ditinggal.
"Lho, kok udah mau pulang le?" bibi menatap mas Fandy menuntut penjelasan.
"ini bibi, Nawal nggak mau diajak pulang. Rumah makan milik Fandy nggak ada yang urus kalau terlalu lama Fandy tinggal" Katanya tersenyum lembut. "Minggu depan Fandy kesini lagi mengunjungi istri Fandy. Tolong di jagain yah bibi, paman.".
"Le, apa nggak sebaiknya besok saja?" Paman bertanya penuh harap, namun mas Fandy menggelengkan kepala sambil tersenyum. Kemudian mengeluarkan dompetnya lagi
"Ini ada sedikit rejeki buat paman sama bibi. diterima ya, jangan di tolak."
"Ndak usah le. Lha wong Nawal nggak ngerepoti bibik sama paman" bibi menolak dengan halus. Paman menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan mas Fandy.
Tapi, bukan Fandy namanya kalau harus kalah. Dia tetep keukeuh minta paman sama bibi menerimanya. Akhirnya ya paman sama bibi nurut deh. Kemudian berpamitan ke aku.
"Aku pamit ya. jaga diri kalian baik-baik" Katanya sambil mengecup keningku. Aku meraih tangannya dan menciumnya lama. Aku pasti akan selalu merindukannya. Mas Fandy tersenyum hangat. kemudian memasuki mobilnya hingga mobil itu hilang dari pandangan.
Aku sesak rasanya. Seperti nggak rela mas Fandy pergi begitu saja. Aku duduk di atas dipan depan rumah Bu lek dengan lemas. 'Jangan tinggalin aku mas' batinku menjerit.
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel