NovelToon NovelToon
女将军的命运之幕 ( Tirai Takdir Sang Jenderal Wanita )

女将军的命运之幕 ( Tirai Takdir Sang Jenderal Wanita )

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Ahli Bela Diri Kuno / Keluarga & Kasih Sayang / Action / Fantasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Syifa Fha

Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Mentari pagi merayap naik, menyinari hutan dengan kehangatan lembutnya. Yu Zhang membuka mata, merasakan embun pagi membasahi wajahnya. Ia meregangkan tubuh, lalu menoleh ke samping. Tempat Xin Lan kosong.

Jantung Yu Zhang berdegup kencang. Kecurigaan kembali menghantuinya. "Mungkinkah dia pergi? Meninggalkanku?" pikirnya cemas. Bayangan pengkhianatan berputar di benaknya. Ia bangkit berdiri, mengabaikan rasa kantuk yang masih mendera.

"Yun Xiao!" serunya, suaranya menggema di antara pepohonan. Tidak ada jawaban.

Dengan langkah tergesa, Yu Zhang menyusuri hutan, mencari jejak Xin Lan. Ia menemukan beberapa jejak kaki yang mengarah ke arah sungai. "Mungkinkah dia ke sana?" gumamnya.

Perasaan aneh mulai menyelimuti Yu Zhang. Ia merasa khawatir, marah, dan penasaran bercampur aduk. Ia mempercepat langkahnya, berharap segera menemukan Xin Lan.

Saat tiba di tepi sungai, Yu Zhang tertegun. Di balik rimbunnya semak-semak, ia melihat pemandangan yang membuatnya membeku. Xin Lan sedang mandi di sungai, tubuhnya yang dipenuhi bekas luka berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Waktu seolah berhenti berputar. Yu Zhang terpaku, matanya tak berkedip menatap Xin Lan. Pemandangan itu begitu mempesona yang membuatnya menelan ludahnya.

saat Xin Lan yang sedang menikmati kegiatan mandinya lantas berbalik, membuat mata mereka bertemu.

"AAAAAA!!!"

Teriakan Xin Lan langsung pecah yang sontak membuat yu Zhang tersadar dari lamunannya . Xin Lan dengan sigap menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, wajahnya memerah padam. Sementara Yu Zhang, dengan gerakan refleks, membalikkan badannya secepat kilat.

Serrr...

Yu Zhang memegangi hidungnya. Darah mengalir deras dari sana.

"Ma...maafkan aku nona! A-aku... aku benar-benar tidak sengaja!" seru Yu Zhang panik, masih memunggungi Xin Lan. "Aku hanya... aku hanya mencarimu!"

Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara gemericik air dan desahan napas yang terdengar. Yu Zhang masih memegangi hidungnya, berusaha menghentikan pendarahan.

Xin Lan hanya bisa terdiam menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

Xin Lan terdiam sejenak, mencoba menilai kejujuran Yu Zhang. Akhirnya, ia menghela nafas panjang. " Cepat Pergi," ucapnya dengan nada tegas. "Pergi dari sini sekarang juga."

Yu Zhang merasa lega mendengar ucapan Xin Lan. Ia segera berlari menjauhi sungai, meninggalkan Xin Lan yang masih terpaku di sana.

Setelah kejadian itu, suasana di antara Yu Zhang dan Xin Lan menjadi canggung. Mereka berdua berusaha untuk menghindari satu sama lain, seolah ada tembok besar yang memisahkan mereka.

Yu Zhang merasa sangat bersalah dan menyesal. Ia tahu bahwa ia telah merusak kepercayaan Xin Lan. Ia berusaha untuk meminta maaf, tetapi Xin Lan selalu menghindarinya.

Namun saat berbenah ,Yu Zhang memberanikan diri untuk berbicara dengan Xin Lan.

"A...anu ,Yun Xiao," panggilnya dengan lembut. "Aku ingin meminta maaf atas kejadian di sungai. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak bermaksud untuk mengintipmu."

Xin Lan menatap Yu Zhang dengan tatapan dingin. "Kau sudah melihatnya," ucapnya dengan nada datar. "Tidak ada yang bisa mengubahnya."

"Ti..tidak! Aku tidak melihatnya! " jawab Yu Zhang dengan panik sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi ak....."Xin Lan membungkam mulut yu zhang agar dia tidak mengoceh, wajahnya sudah benar benar memerah.

"Lupakan saja, kita harus segera pergi!," ucapnya dengan nada datar."Yang penting, jangan pernah melakukannya lagi."

Yu Zhang mengangguk penuh penyesalan mendengar ucapan Xin Lan. Ia tahu bahwa ia telah mendapatkan kembali kepercayaan Xin Lan. Namun, ia juga tahu bahwa ia harus berusaha lebih keras untuk menjaga kepercayaan itu.

...

Perjalanan setelah kejadian di sungai terasa seperti siksaan bagi Yu Zhang. Xin Lan berjalan di depan, tegap dan anggun seperti biasa, namun aura dingin yang terpancar darinya membuat Yu Zhang bergidik. Setiap kali Yu Zhang mencoba mendekat, Xin Lan akan mempercepat langkahnya, seolah Yu Zhang adalah wabah penyakit yang harus dihindari.

Yu Zhang tahu, ia pantas mendapatkan perlakuan ini. Ia telah melanggar batas, mengkhianati kepercayaan Xin Lan. Rasa bersalah terus menggerogoti hatinya, membuatnya semakin tertekan. Ia ingin meminta maaf, menjelaskan semuanya, namun lidahnya terasa kelu setiap kali mencoba berbicara.

Mereka berjalan dalam diam, hanya suara langkah kaki dan desiran angin yang menemani perjalanan mereka. Yu Zhang merasa seperti orang asing di samping Xin Lan, padahal sebelumnya mereka begitu dekat. Ia merindukan tawa Xin Lan, senyumnya yang menawan, dan obrolan mereka yang hangat.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, tiba-tiba Xin Lan berhenti. Yu Zhang yang berjalan di belakangnya hampir menabraknya.

"Ada apa?" tanya Yu Zhang ragu-ragu.

Xin Lan tidak menjawab. Ia tetap memunggungi Yu Zhang, bahunya terlihat naik turun seperti sedang menarik napas dalam-dalam. Yu Zhang merasa jantungnya berdebar kencang. Apa yang akan terjadi? Apakah Xin Lan akan memarahinya? Atau bahkan meninggalkannya?

Dengan suara yang nyaris berbisik, Xin Lan akhirnya berbicara. "Apa tubuhku terlihat bagus?"

Pertanyaan itu bagaikan petir yang menyambar Yu Zhang. Ia terkejut, bingung, dan gugup sekaligus. Ia tidak menyangka Xin Lan akan menanyakan hal seperti itu. Otaknya langsung membeku, tidak mampu memproses apa pun.

Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, mulutnya sudah bergerak sendiri. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa bisa ia kendalikan.

"I... iya," jawab Yu Zhang dengan gugup. "bahkan Sangat bagus."

Seketika, Yu Zhang menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya langsung memerah padam. Ia ingin menarik kembali kata-katanya, namun sudah terlambat. Ia telah membuka kotak pandora, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Xin Lan masih memunggunginya, tidak memberikan reaksi apa pun. Yu Zhang merasa seperti sedang menunggu hukuman mati. Ia menahan napas, jantungnya berdegup semakin kencang.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Xin Lan akhirnya berhenti dan berbalik yang membuat yu zhang terkejut Wajahnya langsung masih memerah, Yu Zhang menelan ludah, menunggu dengan cemas apa yang akan ia katakan.

"Sangat bagus bagaimana?" tanya Xin Lan, suaranya pelan namun menusuk.

Yu Zhang merasa seperti sedang diinterogasi oleh seorang jenderal perang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa sangat bodoh dan malu.

"A... aku..." Yu Zhang tergagap, tidak mampu menyusun kata-kata. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya... aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Xin Lan menatap Yu Zhang dengan tatapan menyelidik. Ia mencoba mencari kebohongan di mata Yu Zhang, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran.

"Apakah sebagus itu sampai membuat hidungmu berdarah?"Ucapan Xin Lan membuat yu zhang menyeka hidungnya dan benar saja , hidungnya mengeluarkan darah.

Xin Lan menghela nafasnya pasrah dengan keadaan yang sudah terjadi,.

"Sudahlah,kita lupakan saja dan jangan sampai terulang lagi."Ucap Xin Lan dingin .

Yu zhang hanya bisa mengangguk.

Setelah itu, suasana di antara Yu Zhang dan Xin Lan mulai mencair. Mereka berdua mulai berbicara lagi, meskipun masih ada sedikit rasa canggung di antara mereka. Yu Zhang berusaha untuk bersikap seperti biasa, membuat lelucon dan menceritakan kisah-kisah lucu. Xin Lan pun mulai merespons, meskipun dengan senyum tipis dan komentar sinis.

Perlahan tapi pasti, hubungan mereka kembali membaik. Yu Zhang merasa bersyukur atas kesempatan kedua yang diberikan oleh Xin Lan. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah mengkhianati kepercayaan Xin Lan lagi.

Mereka berdua kembali berjalan dalam diam, namun kali ini keheningan itu tidak lagi terasa canggung.Namun,Yu Zhang memberanikan diri untuk bertanya kepada Xin Lan. "ke...Kenapa kau menanyakan hal itu tadi?"

Xin Lan terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Hanya penasaran ," jawabnya singkat.

Yu Zhang terkejut mendengar jawaban Xin Lan.

"Hah!?"

....

Yu Zhang dan Xin Lan akhirnya tiba di sebuah kota yang ramai. Hiruk pikuk pasar dan aroma makanan bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hidup.

"Kota ini adalah gerbang pertama menuju ibu kota Kekaisaran Qingshui," jelas Yu Zhang, "Namun, tujuan kita saat ini adalah perbatasan utara kekaisaran Qingshui. ."Jelas yu Zhang pada Xin lan.

Namun, kedamaian itu segera terusik. Tiba-tiba, sebuah anak panah melesat cepat, nyaris mengenai Xin Lan. Dengan sigap, Xin Lan menangkisnya menggunakan belati milik Yu Zhang.

"Mo Hui!" geram Yu Zhang, matanya memicing tajam, saat melihat kearah tanda pada panah itu.

Benar saja, dari balik kerumunan, para pasukan Mo Hui keluar dari persembunyian mereka. Jumlah mereka tidak sedikit, puluhan orang dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup kain. Mereka mengepung Yu Zhang dan Xin Lan, membuat para warga kota berlarian panik dan ketakutan. Jeritan histeris terdengar di sana-sini.

"Sial, mereka menemui kita di sini," desis Xin Lan, bersiap dengan belatinya.

Yu Zhang mengangguk, "Sepertinya perjalanan kita tidak akan semulus yang kita harapkan."

Saat situasi semakin kritis, tiba-tiba seorang pria tua dengan pakaian compang-camping muncul dari sebuah kedai. Dengan langkah sempoyongan, ia menendang botol arak yang dipegangnya. Botol itu melayang dan pecah, menyiram para anggota Mo Hui yang mengepung Yu Zhang dan Xin Lan.

"Arak sialan!" umpat salah seorang anggota Mo Hui, mengusap matanya yang perih.

Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, " BERISIK!!!!!"

Namun, tawa pria tua itu bukan hanya sekadar ejekan. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, ia meraih sebuah bangku kayu di dekatnya dan menghantamkannya ke arah anggota Mo Hui terdekat. Bangku itu hancur berkeping-keping, namun anggota Mo Hui itu langsung terkapar tak sadarkan diri.

Xin Lan dan Yu Zhang tertegun. Mereka tidak menyangka pria tua yang tampak lemah itu memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa.

Pria tua itu terus bergerak dengan lincah, menggunakan apa pun yang ada di sekitarnya sebagai senjata. Batu, pecahan botol, bahkan sendok pun menjadi alat mematikan di tangannya. Setiap gerakannya sulit diprediksi, namun sangat efektif. Para anggota Mo Hui kewalahan menghadapinya.

"Teknik apa itu?" bisik Xin Lan, takjub.

Yu Zhang menggeleng, "Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Tapi yang jelas, dia sangat kuat."

Dalam waktu singkat, pria tua itu berhasil melumpuhkan sebagian besar anggota Mo Hui. Sisanya melarikan diri dengan ketakutan. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, lalu berbalik menghadap Yu Zhang dan Xin Lan, dengan kondisi seperti orang yang mabuk berat.

"Terimakasih sudah menyelamatkan kami tuan" Ucap yu zhang dan Xin Lan sambil membungkuk hormat.

Namun pria tua itu tidak memperdulikan mereka.

Yu Zhang dan Xin Lan saling bertukar pandang, Pria tua itu, yang tadinya tampak seperti gelandangan biasa, ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.

Pria tua itu menyeringai lebar, memperlihatkan giginya yang ompong dan kuning,Ia menggaruk-garuk kepalanya yang penuh kutu, lalu tiba-tiba berteriak, "Mana arakku?!"

Yu Zhang dan Xin Lan sedikit terkejut dengan perubahan sikap pria tua itu.

Pria tua itu tidak menggubris ucapan Yu Zhang. Ia malah berjalan sempoyongan ke arah kedai, mencari-cari botol arak yang masih utuh. "Arak... arak... di mana kau?" gumamnya sambil mengacak-acak barang di kedai.

Xin Lan mendekati Yu Zhang dan berbisik, "Sepertinya dia... sedikit tidak waras."

Yu Zhang mengangguk setuju.

...

Pria tua itu nampak menghela nafasnya,Kesal saat mendapati botol arak kesayangannya rusak akibat pertarungan tadi . Namun, saat hendak meneguk sisa arak itu, tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Xin Lan. Botol arak yang berada di tangannya langsung terjatuh, tumpah membasahi tanah.

Ia berjalan mendekati Xin Lan dengan ekspresi wajah menahan rindu yang teramat sangat pada seseorang. Langkahnya goyah, namun sorot matanya terpaku pada Xin Lan.

"Mei'er! Mei'er! Kau benar-benar Mei'er!" ucapnya lirih bernada penyesalan, air matanya mengalir membasahi pipi keriputnya.

Xin Lan tertegun. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Maaf, Tuan," ucap Xin Lan dengan hati-hati, "Saya bukan Mei'er. Nama saya Yun Xiao."

Namun, pria tua itu seolah tidak mendengar. Ia terus mendekat, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh wajah Xin Lan.

"Mei'er, ka....kau masih hidup?."

Xin Lan refleks mundur selangkah. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan dan sentuhan pria tua itu.

Tiba-tiba, seorang wanita yang merupakan pemilik kedai jajanan lokal menghampiri kakek tua itu. Wanita itu tampak khawatir dan meminta maaf kepada Xin Lan dan Yu Zhang.

"Maafkan Pak Tua Zhong ini," ucap wanita itu dengan nada menyesal. "Dia memang sering salah mengenali orang."

Wanita itu meraih lengan Pak Tua Zhong dan mencoba membawanya kembali ke kedai. "Pak Tua Zhong, ayo kembali. Dia bukan Mei'er. Anda lagi-lagi salah mengenali orang."

Pak Tua Zhong menoleh ke arah wanita itu dengan tatapan kosong. "Tapi... tapi dia sangat mirip dengan Mei'er. Senyumnya, matanya... semuanya sama."

"Tidak, Pak Tua Zhong. Dia bukan Mei'er. Mei'er sudah tidak ada," ucap wanita itu dengan lembut, namun tegas.

Pak Tua Zhong terdiam. Air matanya semakin deras mengalir. Ia menundukkan kepalanya dan membiarkan wanita itu membawanya kembali ke kedai.

Xin Lan dan Yu Zhang saling berpandangan. Mereka merasa kasihan pada Pak Tua Zhong. Kehilangan orang yang dicintai pasti sangat menyakitkan, hingga membuatnya kehilangan akal sehat.

....

1
Marini Dewi
ditunggu revisi nya KK. semangat
Dewi Asuma
oh Thor kau buat teka teki apalagi bikin penasaran. lanjut Thor 💪💪
Marini Dewi
semangat terusss untuk author y.💪💪💪
Marini Dewi
cerita y sangat menarik dan untuk author y tetap semangat
Marini Dewi
terus apa yang akan terjadi selanjutnya, ku tunggu update mu Thor
Marini Dewi
update lagi y thor.🙏🙏🙏
Marini Dewi
karyamu Thor sangat bagus. update lagi y🙏🙏
Marini Dewi
makin seru cerita y, up lagi y thor
Marini Dewi
bikin penasaran Thor
Marini Dewi
wow, siapa tuh
lanjut thor
Marini Dewi
cerita y sangat menarik. sukses selalu untuk author y. ditunggu kelanjutannya
Syaifudin Fudin
Sederhana namun dalam
RinSantorski
Jalan cerita hebat.
·Laius Wytte🔮·
Thor, aku sudah tidak sabar untuk baca kelanjutannya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!