NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Roti Ban Karet dan Perdebatan Bisnis

Lin Cheng segera membuka keranjang herbalnya. Dengan panik, ia mengeluarkan dua potong roti keras yang tadi malam ia dan kakeknya makan dengan susah payah. Ini adalah roti 'ban karet' yang terkenal sulit ditelan.

Xiao An, yang kini sudah duduk bersandar seperti pengemis di bawah pohon, menerima roti itu dengan tangan gemetar. Tanpa ragu, ia mulai mengunyahnya. Namun, rasa roti itu memang sekeras dan sekaku karet ban.

INI

Xiao An harus mengunyah dengan susah payah, rahangnya terasa pegal. Air matanya kembali keluar deras, bukan hanya karena kelaparan, tetapi juga karena betapa menyedihkannya keadaan ini.

Bahkan dia harus memutuskan makan roti ini mesti di samping telaga kecil. Setiap kali gigitannya terasa terlalu kering dan sulit ditelan, ia segera mencondongkan tubuhnya ke telaga, meneguk air.

Air sangat membantu mendorong roti ini menuju perutnya, sedikit melancarkan proses "makan" yang menyedihkan itu.

Setelah beberapa potong roti keras berhasil masuk ke perutnya, Xiao An akhirnya merasa sedikit lebih baik. Rasa lapar yang menyiksa sedikit mereda, meskipun sisa roti di tangannya masih terasa seperti mengunyah ban bekas. Ia menatap Lin Cheng dengan tatapan polos.

"Apakah kalian sangat miskin?" tanya Xiao An tanpa basa-basi, mungkin teringat rumah Lin Cheng yang bobrok dan roti keras yang mereka santap.

Lin Cheng mendengus pelan, seolah pertanyaan itu adalah sesuatu yang sudah ia dengar ribuan kali. Ia menyilangkan tangannya di depan dada.

"Ya, tentu saja!" jawabnya dengan tegas, tanpa keraguan sedikit pun.

"Sudah kubilang, keluarga Lin sudah bobrok. Kami tidak punya apa-apa lagi selain kuil tua dan desa yang ditinggalkan ini."

"Lalu, bagaimana kalian mencari nafkah?" tanya Xiao An, menatap sekeliling pondok yang relatif nyaman ini, lalu membandingkannya dengan gambaran desa Lin Cheng yang ditinggalkan.

Lin Cheng mendengus, mengangkat keranjang bambu di punggungnya sedikit.

"Ya seperti ini," katanya sambil menepuk keranjang.

"Aku setiap hari pergi ke bukit ini dan hutan di sekitarnya untuk mencari herbal dan jamu. Lalu, Kakek akan menjualnya di kota terdekat. Itulah satu-satunya cara kami bertahan hidup."

Dia menjelaskan lebih lanjut.

"Kadang kami beruntung menemukan jamu langka yang harganya tinggi. Tapi lebih sering, yang kudapatkan hanyalah herbal biasa yang harganya pas-pasan. Cukup untuk membeli roti kering dan sedikit teh. Kalau sakit ya cari jamu sendiri."

Xiao An mengerutkan kening. Dia harus berpikir keras. Jika Lin Cheng saja kesulitan mencari nafkah, apalagi dirinya yang benar-benar tidak punya apa-apa. Dia harus segera memperoleh uang dan bahan makanan.

Mengingat benih yang ia tanam di ladang akan panen beberapa bulan lagi, itu bukan solusi jangka pendek. Jadi seperti itu rupanya, untuk mencari uang... mencari herbal.

"Bagaimana dengan berburu binatang dan ikan?" tanya Xiao An, mencoba mencari alternatif lain. Di hutan, bukankah banyak hewan liar? Dan telaga di dekat pondoknya juga bisa jadi sumber ikan.

Lin Cheng menggelengkan kepala.

"Mustahil," katanya tegas.

"Hutan di sini sudah terlalu sering dijelajahi para pemburu. Hewan buruan besar seperti rusa atau babi hutan sudah sangat langka. Paling-paling hanya kelinci atau burung kecil, dan itu tidak cukup untuk menghidupi kami."

Lin Cheng menjelaskan lebih lanjut,

"Dan untuk ikan... Telaga-telaga di bukit ini kecil dan dangkal. Ikan-ikannya juga kecil-kecil dan jumlahnya tidak banyak. Butuh waktu seharian penuh untuk mendapatkan beberapa ekor saja, dan itu pun tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. Jadi, mencari herbal adalah satu-satunya cara yang paling konsisten dan memungkinkan bagi kami."

Wajah Xiao An menghitam, dan kedua tangannya memegang kepalanya erat-erat. Sebuah gelombang keputusasaan melandanya. Jadi, tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan makanan atau uang di sini. Benar-benar sulit! Dia putus asa.

Melihat temannya terpuruk dalam keputusasaan, Lin Cheng segera menghibur.

"Jangan khawatir, Xiao An!" katanya, menepuk bahu pemuda itu.

"Aku akan membawakan roti ban karet untukmu beberapa hari sekali. Setidaknya kau tidak akan kelaparan sampai benihmu panen."

Ia melanjutkan, dengan nada yang lebih ceria,

"Lagipula, kakekku sekarang menjadi sehat kembali, dan bahkan lebih kuat dari sebelumnya! Jadi, mencari nafkah berdua akan lebih baik daripada aku seorang diri sebelumnya. Pasti akan lebih mudah mendapatkan herbal."

Namun, mendengar tawaran itu, Xiao An merasa sungkan. Dia tidak mau hanya menjadi beban bagi Lin Cheng, apalagi setelah tahu betapa sulitnya hidup pemuda itu. Rasa malu dan tidak enak hati merayapi benaknya. Dia tidak ingin hidup mengandalkan belas kasihan temannya yang baru ia kenal.

Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benak Xiao An. Matanya berbinar. Ia teringat pohon-pohon di kebunnya yang mulai berbuah. Beberapa apel dan jeruknya mulai matang pohon.

"Tunggu!" seru Xiao An, bangkit berdiri dengan semangat yang baru.

"Aku punya ide! Bagaimana kalau kita menjual buah-buahan ini di kota terdekat?" Ia menatap Lin Cheng.

"Mengingat kemarin kamu sangat takjub dengan apel, dan kakekmu juga begitu... mungkin ini akan menjadi komoditas yang bernilai mahal di sana!" Xiao An membayangkan tumpukan koin emas dari buah-buahan yang ia anggap biasa saja di dunia asalnya. Ini bisa menjadi solusi untuk masalah keuangan dan pangannya!

INI

Namun, gagasan Xiao An yang penuh semangat itu justru membuat Lin Cheng seperti disambar petir. Seketika, kepala Lin Cheng langsung memutih, raut wajahnya berubah pucat pasi seolah melorot darah dengan segera. Pandangannya dipenuhi kengerian.

Lin Cheng menghela napas, mencoba mencari alasan lain yang mungkin lebih bisa diterima Xiao An, selain ancaman bahaya yang terlalu menyeramkan. Ia menatap kebun buah Xiao An.

"Lagipula, Xiao An," Lin Cheng mencoba melarang dengan nada yang lebih ramah.

"Buah-buah ini... mereka milik tuanmu, kan? Kamu harus menjaganya, alih-alih menjualnya." Ia kemudian mencoba argumen lain.

"Dan lagi, orang kampung pasti akan menolak buah aneh itu. Mereka sangat kolot dan udik, tidak mau menerima hal-hal baru. Jangankan buah ajaib, mereka melihatku membawa jamu yang sedikit berbeda saja sudah curiga. Mereka tidak akan mau membelinya."

Lin Cheng menunjuk ke arah apel dan jeruk yang tergantung.

"Sebaiknya buah-buah ini untuk tuanmu saja, sebagai tanda kamu sudah menjaga perkebunannya dengan baik. Atau kamu makan sendiri, biar tidak kelaparan seperti tadi." Lin Cheng tersenyum kecil, lalu menambahkan,

"Atau... aku saja yang makan! Hahahaha!" Ia mencoba mencairkan suasana dengan candaan, berharap Xiao An akan mengurungkan niatnya.

"Betapa bahayanya mengundang singa dan naga jika kabar tersiar tentang kemunculan buah surgawi dalam jumlah banyak di perkebunan bukit ini!" ucap Lin Cheng, suaranya tercekat.

Ia bergidik ngeri membayangkan skenario terburuk. Pemandangan Lin Cheng yang ketakutan itu menunjukkan betapa seriusnya ancaman tersebut, jauh melampaui sekadar uang atau makanan.

Xiao An menghela napas panjang, tatapan Lin Cheng yang penuh ketakutan itu akhirnya membuatnya sadar akan bahaya yang mungkin tidak ia pahami sepenuhnya. "Sudahlah," gumamnya, pasrah.

Namun, meskipun ia mengiyakan, otaknya masih berpikir keras. Dia masih belum menyerah mencari solusi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!