NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Malaikat

Perjalanan Sang Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Spiritual / Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arkara Novel

Dunia memiliki sistem mutlak yang ditetapkan jutaan tahun lamanya. Sistem rimba, yang terkuat dialah yang berkuasa dan yang lemah akan tersingkir. Sistem itulah awal terlahir kasta antara mahkluk hidup, sebuah hukum yang tidak dapat diubah dan akan terus berjalan. Tahun berganti, hukum mulai goyah. Keadilan tidak diberikan pada yang hak. Namun pada yang berkuasa. Jutaan tahun berlalu. Langit menciptakan hukum baru yang berpusat pada keseimbangan. Malaikat penyelamat bagi mereka yang tersingkir, memiliki tujuan menghancurkan sistem yang telah goyah. Dewa agung menjadi dakwa yang berdosa telah menciptakan iblis berwujud cahaya. Mereka yang berkuasa melawan mereka yang dibuang, terus bertahan hidup untuk melanjutkan perang tiada akhir demi jawaban kebenaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkara Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 011 —Cap Sepuluh Jari

Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Tidak terasa mereka sudah melewati waktu sebulan lebih bersama. dari berlatih, berburu, dan bersantai. Mereka melewati semua itu dengan candaan dan tawa, tanpa ada yang berubah. Walaupun sederhana tapi bisa membuat kenangan indah yang tidak akan terlupakan.

Ini sudah masuk sebulan sejak latihan zabarin dimulai, dan dalam waktu segitu ia masih tidak bisa melakukan perlawanan kepada Enki. Setelah latihan, tubuh nya dipenuhi lebam dan lukaa akibat tendangan dan pukulan pemuda itu, yang tidak menahan sedikitpun tenaga nya.

Namun ia tidak memprotes cara pemuda itu memperlakukan nya bagai samsak, menurut nya. Terluka adalah bagian dari latihan, jika tidak terluka maka ia tidak akan berkembang. Karena luka memberikan arti yang besar disetiap goresannya.

Itu semua terbukti saat ini, dimana ia sudah bisa melawan Enki walaupun tidak dapat mengalahkannya. Setidaknya bisa menahan serangan pemuda itu lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya, itu merupakan peningkatan yang bagus.

"Haha... Kau sudah mulai berkembang zabarin!" Seru Enki saat pemuda itu terdesak dengan serangan beruntun yang zabarin lancarkan, hingga terpojok ke pepohonan bambu dibelakangnya.

"Fokus lah pada serangan ini! Jika tidak, maka kau akan kalah Enki!" Balas zabarin masih tidak mengendurkan serangan nya, menggunakan tangan dan kaki ia tidak ingin membuat pemuda itu membalas serangan.

Dengan begitu percaya diri, ia terus memberondong pemuda itu sampai menabrak batangan bambu dibelakangnya, "Heh!, kena kau!" Seru zabarin dan melancarkan sebuah pukulan keras ke wajah pemuda itu, berniat mengakhiri pertarungan panjang ini dalam satu pukulan terakhir!.

Duaaaghh! Braaak! Pukulan itu membawa angin kencang di lintasan nya, sebuah pukulan yang di aliri energi panas membara. Yang dapat menghancurkan batu sekalipun. Namun, mata nya terbelalak saat didepan nya hanya tersisa potongan bambu yang hancur terbakar. Tak terlihat Enki didepan sana.

Degh! Jantung nya berdetak keras saat menyadari Enki tidak lagi dihadapan nya, angin dingin menusuk tengkuk leher nya saat sapuan angin ia rasakan tepat dibelakangnya.

"Kau masih terlalu lambat... Zabarin!" Gumam Enki sambil tertawa, membuka kedua tangan nya. Ia menyerang zabarin dari titik buta menggunakan teknik. Cap sepuluh jari.

Braakk! Tanpa bisa dihindari, tubuh zabarin mencelat kedepan. Terjatuh diantara tumpukan Batang bambu, rasa sakit dan perih ia rasakan di punggungnya saat merasakan teknik itu lagi.

"Aarghh! Sialan... Aku kena teknik itu lagi!" Teriak zabarin dan buru-buru bangun dari atas tumpukan bambu itu, ia segera membuka baju yang ia kenakan. Dan memperlihatkan tubuh nya yang sudah terbentuk begitu bagus, namun. Di punggungnya terdapat memar merah berbentuk kedua telapak tangan.

Yap, itulah teknik cap sepuluh jari milik Enki. Sederhana namun dapat membuat zabarin menderita seharian. Karena rasa perih dari memar itu sangat susah menghilang walaupun sudah berendam seharian didalam danau ataupun sungai.

Byuuurrrr! Setelah melempar baju nya ke sembarang tempat, ia langsung menceburkan dirinya kedalam danau. Dibawah tatapan dan gelengan kepala Enki yang duduk santai diatas kursi bambu.

"Haduh zabarin... Sudah berapa kali kau kena teknik itu?, apa kau tidak pernah belajar dari kesalahan-kesalahan mu sebelumnya?" Seru Enki dari kursi bambu itu, mengesalkan zabarin yang masih begitu mudah ditebak dalam menyerang.

"Hah!" Zabarin muncul di permukaan dan menatap kesal kearah pemuda itu, "Bagaimana caraku tau kau mengeluarkan teknik itu, sedangkan di setiap serangan selalu datang gak terduga!... Kurasa Shi Jian juga pasti terjebak dengan cara mu bertarung!" Balas nya kemudian.

"Haha... Dia tidak seperti mu!. Dari pengalaman dan kekuatan tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan mu itu... Dia pasti bisa menghindari nya!" Balas Enki, mencoba membakar emosi zabarin.

Namun, ia tidak lagi dapat dipengaruhi. Sudah terlalu sering ia di ejek seperti itu, sampai membuat nya berpikir lain. Kalau Enki ingin mengetes kesabaran nya dalam pertarungan, walaupun kemarahan bisa mengeluarkan kekuatan yang besar. Namun bisa juga membawa kehancuran pada dirinya sendiri.

"Kau ini... Untuk hari ini sudah cukup latihan nya, perkembangan fisik dan pengendalian energi mu sudah semakin baik!" Seru Enki kemudian, dan bangkit dari kursi bambu itu. Mendekat ke pinggir danau dan mengulurkan tangan nya.

Zabarin menyambut uluran itu, walaupun rasa perih dan panas masih terasa di punggungnya. Ia tau, mereka tidak ada banyak waktu untuk bersantai. Karena hari sudah mulai gelap, akan sulit kembali dengan tanpa penerangan sama sekali.

Tubuh basah zabarin seketika kering dengan cepat saat ia keluar dari danau, ini semua berat pengendalian energi miliknya. Cincin hitam panas itu dapat membakar apapun, dan bisa juga menghangatkan atau mendidihkan air selayaknya api pada umumnya. Itu sangat praktis daripada menggunakan cara manual.

Ia kemudian mengambil baju yang tergeletak diatas tanah, mengibaskan nya sedikit agar debu yang lengket hilang. Sebelum memakai nya.

Enki yang sudah menunggu nya dipintu masuk hutan bambu pun berbalik, saat ia berjalan kearah nya. Dengan cepat menyusul pemuda itu yang berjalan santai, tanpa terlihat lelah sama sekali. Wajar saja, pemuda ini adalah dewa... Walaupun dia tidak tau zabarin sudah mengetahui identitas asli nya.

Angin sore menerpa wajah mereka, dibalik keringat yang terus zabarin keluarkan, matahari sore ini selalu menjadi saksi seberapa keras latihan yang ia jalani bersama Enki.

Burung-burung berkicau mencari makan, serangga-serangga mulai berbunyi. Hewan-hewan hutan lain berkeliaran disetiap tempat, sibuk mempersiapkan semuanya demi melewati malam ini.

"Hah!. Tempat ini selalu membuat ku tenang, suasana yang aku inginkan... Aku harap aku bisa merasakan suasana seperti ini lagi, suatu saat nanti!" Gumam zabarin sambil memegang kepala belakangnya dengan kedua tangan.

Enki menoleh kearah nya dan bertanya "Kenapa kau berharap pada sesuatu yang sudah kau nikmati saat ini?" Zabarin menoleh kearah nya dan kemudian menatap langit jingga diatas mereka.

"Entahlah... Aku merasakan firasat bahwa kehidupan damai ini tidak bertahan lama, suatu saat semuanya akan berubah!" Jelas nya sambil tersenyum tipis, walaupun firasat itu memiliki kesan buruk.

"Ya... Kau ada benar nya, aku juga seakan merasakan sesuatu akan datang pada kita. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya... Apapun yang akan kita hadapi didepan sana, kita tidak memiliki jalan untuk kembali. Yang terbaik adalah melewati jalan itu dengan penuh keberanian" gumam Enki kemudian.

Beberapa menit suasana tampak hening, hanya gemerisik daun dan angin yang terdengar. Tanpa sepatah katapun yang keluar, namun. Setelah beberapa menit terdiam, Enki kemudian bertanya lagi.

"Zabarin... Apa yang akan kau lakukan, jika salah satu diantara aku dan Shi Jian pergi dari tim ini?" Tanya nya serius, seperti sesuatu yang besar akan terjadi diantara mereka berdua.

"Hah?... Kau bertanya seolah kita akan berpisah sampai disini. Tapi, memang nya apa yang bisa kulakukan?, semua orang memiliki hak nya masing-masing untuk memilih, aku tidak bisa menahan nya... Karena aku tidak memiliki hak untuk itu!" Jelas nya kemudian, dengan nada rendah dan helaan nafas ringan.

Enki tidak lagi bertanya saat mereka sudah tiba di rumah, jawaban dari zabarin itu seakan ia hanya pasrah dengan takdir. Walaupun pilihan seseorang tidak akan bisa diubah, setidaknya ia ingin zabarin menjawab. "Aku akan bertanya mengapa kita harus berpisah, kalau segala sesuatu bisa kita lakukan bersama" Jawaban itu sangat sederhana, namun Enki berharap itulah yang keluar dari mulut zabarin sebagai bentuk perlawanan pada takdir.

Setelah tiba dihalaman rumah, mereka berdua tidak mendapati Shi Jian dimanapun. Setelah membereskan hutan, pemuda itu tidak memiliki pekerjaan lain. Dan selalu berkeliaran entah kemana, dengan dalih menghilangkan kebosanan.

"Selagi menunggu dia kembali, bersihkan dirimu dulu... Aku akan membawa Azrealon untuk keliling selagi matahari masih bersinar. Sudah lama dia tidak jalan-jalan" Seru Enki dan berjalan menuju kandang baru Azrealon yang cukup bagus. Enki kemudian membuka pintu kandang itu dan menuntun monster itu untuk masuk kedalam hutan.

Zabarin menatap kepergian kedua nya, sekarang ia sendiri. Dan semakin terasa sepi, namun ia tidak ingin membuang waktu. Ia bergegas masuk kedalam rumah dan mengambil baju ganti untuk nya mandi, dan segera pergi ke samping gazebo dekat sungai.

Disana terdapat ruangan berbentuk segi empat dengan ukuran 3x3 meter, dengan tinggi 4 meter. Itu dinamakan kamar mandi, tempat mereka untuk membersihkan diri dan juga buang air besar atau kecil. Tanpa harus berendam diruangan terbuka seperti sungai.

Masuk kedalam nya, terdapat dua guci besar yang terbuat dari tanah liat untuk wadah air, juga gayung mandi Yang terbuat dari tempurung kelapa serta kayu sebagai gagang nya. Ia tidak tau bagaimana cara Enki bisa memikirkan ide bahan ini, menurut nya. Ia sudah sangat jauh ketinggalan zaman.

Saat semua orang sudah masuk ke zaman kekaisaran abad pertengahan, ia masih berada di zaman batu atau zaman purba. Itu membuat nya sadar ia masih belum beradaptasi dengan zaman, apalagi saat ini ia tinggal dikawasan hutan yang tidak tersentuh oleh peradaban. Membuat nya hanya melihat dunia dari gambar dan cerita, tanpa bisa melihat langsung kebenaran asli nya.

Tapi, yasudah lah... Saat ini ia hanya perlu menjalani apa yang perlu ia jalani, mungkin suatu saat ia akan melihat semua nya. Sedikit lama namun tidak masalah, karena hasil yang sempurna terlahir dari proses yang sulit dan melelahkan.

1
Anggi
😍
Beliau
mampir kak
Assai Saga
Ceritanya cukup asiik...
HNP_FansSNSD/Army
Yuk baca, like, komen dan follow nya saling 💪. bab baru sdh up, yang suka cerita alur time traveling. soal kaper nanti di perbaiki, baca aja dulu isinya.

judul : Professor & Student: Love Through Time.

ikuti setiap langkah bab barunya sampai tamat enggak setengah², terima kasih ☺️🙏🏻💪.
HNP_FansSNSD/Army
Yuk follback balik.
elica
aku udah like nih kak, jangan lupa like back cerita aku ya kak🙏🥺
🖤⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘƳ𝐀Ў𝔞
aku mampir, ceritanya keren 🫶
🖤⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘƳ𝐀Ў𝔞: siap 😊
total 2 replies
Drezzlle
di tunggu kelanjutannya
Arkara Novel: siap bg, awal rilis 3 bab... baru konsisten seminggu 3x —selasa,kamis, sabtu/Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!