NovelToon NovelToon
Kala Takdir Menyapa Lagi

Kala Takdir Menyapa Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Janda / Teman lama bertemu kembali / Menikah Karena Anak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Digital

Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.

Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.

8 tahun berlalu...

"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.


"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.

"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."

*******

Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.


Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KTML019~

_______________

|

|Enaknya sehari Up berapa bab ya? 1 atau 2 bab?

|_______________

________________

|

| Jawab di kolom komentar yaaa.

|________________

Satu jam berlalu, Pak Alex mengetuk pintu rumah Alena.

"Om!" sambut Ziya saat membukakan pintu.

"Om kenapa? Kok luka-luka?" tanya Ziya.

"Ayo masuk dulu, Mama lagi di dapur." Ziya menarik tangan Pak Alex.

"Apa Om membuat Ziya terkejut?" Pak Alex iseng bertanya.

"Iya, tangan Om kenapa luka gini? Celananya juga sampek bolong. Duduk disini dulu, Ziya ambilin obat." Ziya meminta Pak Alex duduk dengan tenang, sementara itu ia langsung berlari mengambil kotak berisi beberapa jenis obat dan peralatan lainnya.

"Ziya, ada tamu?" tanya Alena dari dapur.

Ziya menghampiri Ibunya dengan membawa kotak berisi obat.

"Loh, kok bawa kotak itu?" tanya Alena.

"Om ganteng yang dateng, tangan sama kakinya lecet, Ma." jawab Ziya.

"Astaga, Kak Alex kenapa?" Alena membuka celemek dan mematikan kompor, ia menghampiri Pak Alex yang berada di ruang tamu.

"Kak Alex." panggil Alena, Pak Alex menoleh saat namanya dipanggil.

"Alena," Pak Alex berdiri saat Alena menghampirinya.

"Om duduk aja, Ziya obatin ya." ujar Ziya yang menarik tubuh Pak Alex agar kembali duduk.

"Kak Alex kenapa?" tanya Alena, tersirat rasa khawatir pada raut wajahnya saat melihat beberapa luka di tangan dan kaki Pak Alex.

"Hanya sedikit luka, tidak apa-apa." jawabnya dengan tenang.

Ziya membuka kotak obat dan mulai membuka kapas yang masih belum dibuka.

"Om tahan ya, ini bakalan perih." kata Ziya dengan obat merah di tangan kanan dan kapas di tangan kirinya.

"Ziya tidak jijik?" tanya Pak Alex, Ziya menggeleng dan duduk di sebelah Pak Alex.

"Bajunya tolong dilipat ya, Om."

"Aku buatin teh hangat dulu," Alena segera pergi ke dapur.

"Om habis jatoh ya?" tanya Ziya sambil meneteskan obat merah.

"Sakit, nggak?"

Pak Alex menggeleng.

"Kalau yang mengobati semanis Ziya, lukanya tidak sakit."

"Hissss, jangan becanda, Om." kini wajah Ziya yang periang itu berubah menjadi serius, Pak Alex tersenyum melihat ekspresi serius Ziya yang mirip dengan Alena.

"Kak, diminum dulu." Alena menyodorkan segelas teh hangat.

"Terima kasih, Alena."

Alena hanya mengangguk, ia memandangi Ziya yang sedang serius mengobati Pak Alex.

"Mama, obatnya habis." kata Ziya.

"Oh, habis ya? Tunggu ya, Mama beli dulu bentar."

"Alena, tidak perlu. Nanti lukanya juga akan kering."

Alena berkacak pinggang.

"Kita ke rumah sakit aja gimana?"

Ziya mengangguk sedangkan Pak Alex menggeleng.

"Ini hanya luka kecil." ujar Pak Alex.

"Om udah peduli sama Mama, khawatir sama Mama pas Mama terluka. Emang nggak boleh kalau Mama khawatir sama Om?"

"Oh, jadi Mamanya Ziya sedang khawatir ya sama Om?" goda Pak Alex.

"Iya."

"Dasar Ziya, dia nggak bisa pilih kata-kata." batin Alena.

"Om tidak apa-apa, kok." Pak Alex tersenyum dan mengelus kepala Ziya dengan lembut.

"Ya udah mangkanya nggak usah nolak, aku ke luar dulu beli obat." Alena langsung pergi ke kamar untuk mengambil kunci motor.

"Tante, Papa sudah datang?" tanya Axan yang keluar dari kamar Ibunya.

"Xan udah selesai ya mandinya?" Alena bertanya balik dan ditanggapi anggukan.

"Oh iya, Papanya Xan udah dateng. Itu lagi di bawah sama Ziya."

Axan bergegas menuju ruang tamu, memang benar ia mendengar suara Ayahnya yang sedang berbicara dengan Ziya. Axan terkejut melihat kondisi Ayahnya yang terluka dan sedang diobati Ziya.

"Papa, apa yang terjadi?" tanya Axan yang khawatir, Axan duduk disebelah Pak Alex.

"Tidak apa-apa."

Alena pamit keluar untuk membeli obat, melihat Alena yang sudah berangkat, Axan memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu.

"Papa, apa benar Ibu Xan masih ada?" tanya Axan dengan ragu, ia takut kalau Ayahnya akan marah.

Ziya diam dan menyimak saja.

"Xan, Papa sering mengatakan ini padamu. Nanti, kalau waktunya tiba, Papa akan mengatakan semuanya."

Axan menghela napas berat.

"Xan bingung dan penasaran. Apakah Xan ini anaknya Tante Alena atau bukan?"

"Uhukkk!" Ziya tersedak air liurnya sendiri saking terkejutnya saat mendengar ungkapan Axan barusan.

"Maaf-maaf, Ziya ke dapur dulu mau minum." Ziya langsung berlari ke dapur.

Pak Alex mengedipkan mata beberapa kali, terkejut pastinya. Entah darimana muncul pertanyaan diluar dugaannya ini. Bisa-bisanya Anaknya yang baru bertemu Alena beberapa hari sudah berpikir Alena adalah Ibunya.

"Papa jawab jujur saja, kalau memang Xan anak kandung Tante Alena, Xan tidak akan marah, Xan akan bersikap baik."

"Xan... Kenapa bisa berpikir seperti itu?" Pak Alex merangkul Axan.

"Papa menyuruh Xan menjaga Ziya, kami kan baru saja saling mengenal. Papa juga sepertinya ada hubungan dengan Tante Alena."

"Xan... Tante Alena itu Ibumu."

Mata Axan membulat, Ziya yang baru saja tiba serta mendengar jawaban Pak Alex tentu ikut terkejut.

"Apaaaaa?!!!" Ziya mulai heboh.

"Papa, sungguh?" tanya Axan meyakinkan.

"Ya... Doakan saja."

Antusias Ziya dan Axan seketika memudar.

"Jawaban macam apa itu, Om?" Ziya memasang wajah malas.

Axan yang merasa kesal langsung menekuk wajah dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya.

"Papa, Xan serius."

"Soalnya tadi di sekolah ada perempuan yang ngaku Ibunya Xan, Om." sambung Ziya.

Tawa Pak Alex seketika memudar, ia menatap Ziya dan Axan bergantian dengan serius.

"Kalian berdua tidak sedang bercanda, kan?" tanya Pak Alex, bisa saja kedua bocah ini sedang membalas dirinya.

"Serius, Om."

Axan mengangguk sebagai klarifikasi, ekspresi wajah Pak Alex langsung dingin.

"Kalau Om nggak percaya, nanti tanya aja sama Mama."

Axan kembali mengangguk.

"Xan dibawa kesini soalnya Ziya khawatir perempuan itu mau menculik Axan, jadinya dibawa kesini deh." sambung Ziya.

"Lalu apa yang dia lakukan pada kalian tadi?" tanya Pak Alex.

"Dia bilang sama Pak Satpam katanya Xan itu anaknya dia." jawab Ziya.

"Perempuan itu hampir memeluk Xan, Pa. Tapi Ziya mencegahnya." Axan ikut menjawab.

"Eh, satu lagi. Perempuan itu tau namanya Xan, Om. Untungnya Mama cepet dateng terus bawa Xan pergi."

Kedua tangan Pak Alez mengepal, rahangnya mulai mengeras saat mendengar penjelasan dari Axan dan Ziya.

"Jadi Xan bingung, Ibu Xan ini yang mana?"

"Siapa nama perempuan itu?" tanya Pak Alex.

Ziya dan Axan mengendikkan bahu tanda tidak tahu, Ziya tidak mendengar jelas pembicaraan perempuan itu dengan Alena tadi, sedangkan Xan dalam kondisi setengah sadar, jadi pendengarannya sedikit kabur dan tidak fokus.

"Mama yang tau, Om."

"Baiklah, kita tunggu dulu." kata Pak Alex, ia mencoba untuk kembali tenang.

"Tangan Om keluar darah lagi, haduhhh." Ziya langsung mengambil kapas dan mengelap darah dari luka Pak Alex.

Tidak berselang lama Alena datang dengan kantong plastik di tangannya.

"Eh, kenapa ini? Kok pada diem?" tanya Alena, Ziya langsung meminta obat yang di beli Alena.

"Alena, aku ingin bicara empat mata saja." pinta Pak Alex, perkataannya terdengar sangat serius.

"Oke. Nanti Ziya sama Xan main berdua dulu ya."

"Waduh, ada apa nih? Kak Alex mukanya keliatan tegang banget. Apa Ziya ngomongnya ngawur?" batin Alena.

1
M S Abdl
pejuangan tidak akan menghianati akan hasil 💪semangat toor aq padamu pokoknya ....salangheyoo❤❤❤
Siti Musyarofah
belum up
aku baca dulu
Siti Musyarofah
buat Alena trima a
lex kak
Siti Musyarofah
langsung baca
🍒⃞⃟🦅•§¢•𝓛𝓲𝓵𝓲𝓽𝐀⃝🥀
maaf teman², hari ini lambat up nya, author lagi kurang sehat🙏🙏🙏
Suanti
kenapa mira ngak adopsi ank aja di panti asuhan buat pancingan supaya cpt hamil 😂😂😂
Siti Musyarofah
2x up kak
Suanti
sehari up 2 bab🙏🙏🙏
Suanti
kayak nya axan ank adopsi, pak alex belum nikah 🤣🤣🤣
Sundel Bolonk _Lilit: Belum tentu, siapa tau Axan anak kandungnya. Bisa jadi emaknya selingkuh, mangkanya Pak Alex ogah ngakuin dan kasih tau Axan tentang Ibunya
total 1 replies
kalea rizuky
hmmm aq dr awal uda g setuju soalnya ahen iku bodoh plin plan mending ma Alex akhirnya doa ku di denger author/Curse//Curse//Curse/
kalea rizuky
si ahen mana mati kaj
🏘⃝Aⁿᵘ𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
ngakak akuu 😭😂😂
🏘⃝Aⁿᵘ𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
yaampun yaampun mulutnya belum di cocolll sambel yak 😤
🏘⃝Aⁿᵘ𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
hadeeuhh esdeh udah pd juliiddd
🏘⃝Aⁿᵘ𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
jgn mikir pengen jd anaknya, ziyaa
Yoona
masih nyimak duli
Abel Incess
jadi makin ber tny" apa yg udh terjadi sm ahen
Abel Incess
hah knp bisa ahen ngk sm alena???
jadi pinisirin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!