Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.
Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Nadia sedang menggendong bayinya, di apartemen hanya ada dia dan bayinya suasana sepi. Lampu ruang tamu redup.
Di tengah kelelahannya mengurus seorang bayi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan samar di pintu. Nadia menoleh cepat dan menghampiri pintu pintu itu.
“Mas,” teriaknya. “kamu lupa pin lagi.”
Nadia lalu membuka pintu apartemennya tapi
tidak ada siapa-siapa.
“Siapa…?”bisik Nadia bergetar.
Ia segera menutup pintunya lalu berjalan pelan ke arah dapur. Tiba-tiba suara tangisan seorang pria terdengar samar dari arah kamar. Nadia pucat, kemudian memeluk bayinya erat bayinya.
“Tidak mungkin… kamu sudah mati Ryan! Aku sendiri yang—”
Seketika bayinya menangis kencang , membuat Nadia hampir menjatuhkannya. Tangannya gemetar, wajahnya pucat penuh ketakutan.
Nadia berusaha tenang ia duduk di sofa, menyuapi bayinya dengan susu botol. Tiba-tiba bayi itu muntah, lalu tubuhnya panas tinggi. Nadia panik, menyentuh kening anaknya itu.
“Astaga, kenapa panas sekali sayang? Jangan… jangan ada apa-apa denganmu!”
Ia lalu berlari ke kamar, mencari obat, tangannya gemetar. Bayinya menangis semakin keras. Nadia panik, air matanya jatuh.
“Apakah ini karma karena aku sudah… membunuhnya? Dosa itu kembali padaku,” Batinnya.
Ia terduduk di lantai, memeluk bayinya sambil menangis histeris.
“Jangan… jangan hukum aku lewat anakku… Aku tidak kuat!”
Tiba-tiba Reza masuk rumah, terkejut melihat kekacauan Nadia ia menangis histeris dengan penampilan berantakan.
“Nadia! Kamu Kenapa?” kenapa kamu membiarkan bayi ini menangis!”
“A-aku tidak tahu, Mas! Tiba-tiba panas… aku takut…” jawab nadia gemetar
Reza lalu segera menggendong bayi itu wajahnya tegang dan sedikit panik.
“Kita ke rumah sakit sekarang juga, Nad!”
Sesampainya di ruang IGD. Dokter memeriksa bayi dengan serius. Nadia duduk lemas di kursi, wajahnya pucat. Sedangkan Reza mondar-mandir gelisah. Tak lama kemudian seorang menghampiri mereka berdua.
“Anak ini demam tinggi, hampir kejang. Untung cepat dibawa ke sini. Kami butuh pemeriksaan lebih lanjut, kemungkinan harus dirawat inap,” ucap sang Dokter.
Reza mengangguk pelan sedangkan Nadia menunduk, air matanya jatuh.
“Kamu gimana sih, Nad jaga anak aja gak bisa Kalau aku tidak cepat pulang cepat tadi apa yang akan terjadi pada anak kita,” kata Reza kesal sambil menatap Nadia kesal.
“Maaf, Mas… aku benar-benar tidak sengaja. Aku panik tadi takut kehilangannya.”
Reza menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah anaknya yang sedang tertidur lelap di ranjang. Nadia menunduk, wajahnya penuh rasa bersalah.
Untuk menenangkan diri, sejenak Nadia duduk sendirian di koridor. Ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela. Bayangan itu seolah menyeringai, mengingatkan pada mantan kekasihnya Ryan yang ia lenyapkan. Nadia terisak, menutup wajahnya.
“Kalau ini balasanmu… tolong jangan pada anakku. Hukum aku saja,” lirih Nadia.
Nadia.hancur, air mata mengalir deras. Suara tangisan bayi terdengar samar dari ruang perawatan. Ia bergegas berlari ke sana ia kemudian duduk di samping ranjang bayinya. Perawat-perawat berbisik-bisik sambil meliriknya. Nadia mulai gelisah.
“Itu bukannya orang yang viral di medsos yah cewek yang ngerebut laki orang gosipnya,” Bisik seorang perawat kepada rekannya.
“Shh! Jangan keras-keras!”
Nadia menatap mereka berdua. wajahnya pucat, lalu buru-buru menunduk. Air matanya kembali jatuh. Karena kelelahan akhirnya Nadia memutuskan untuk pulang ke rumah sebentar biarlah bayinya saat ini di jaga oleh Reza. Ia hendak mandi. Saat masuk ke kamar ia mendengar suara pria samar: “Kau tidak bisa sembunyi selamanya…”
Nadia terdiam sejenak, wajahnya pucat, tangannya gemetar. Ia melihat ke cermin, seolah sosok mantannya menatap balik. Nadia berteriak histeris.
“Pergi! Aku tidak bersalah! Jangan ganggu aku lagi!” teriaknya.
Nadia mengalami delusi akibat rasa bersalah kepada Ryan. Ia terpuruk dan merasa sendirian.
Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Reza masuk kantor, beberapa rekan langsung berhenti bicara. Saat ia melangkah menuju ruangannya Ia sadar tengah jadi bahan gosip. Reza menatapnya dingin rekannya itu lalu berbalik tanpa menyapa mereka.
“Dasar orang-orang sok suci,” dengkus Reza kesal.
Reza kemudian masuk ke ruangannya sambil membanting pintu. Ia menyalakan komputer, namun pikirannya tak bisa fokus. Setiap kali mengetik, ia merasa tatapan rekan-rekannya menusuk punggungnya.
“Lihat orang-orang gak punya kerjaan itu lebih suka bergosip daripada bekerja?” gumamnya, menahan amarah.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk yang ternyata dari sang ibunya.
Reza, Mama dengar gosip yang nggak enak tentang rumah tangga kamu dan Alya. Mamah butuh penjelasan langsung dari Reza!”
Setelah membaca pesan itu Reza menghela napas panjang, lalu menatap layar ponsel dengan getir. Bahkan keluarga besarnya pun mulai mendengar. Dadanya semakin sesak.
“Kalau begini terus, aku bisa gila,” desisnya.
Sementara itu, Nadia masih berada di ruang pemulihan rumah sakit. Sang anak sudah mulai membaik tidak lagi menolak susu, tangisannya pun sudah kembali normal membuat hati Nadia sedikit lega.
Nadia menatap anaknya dalam-dalam ia merasa jika wajah anaknya semakin mirip Ryan. Sesekali bayangan Ryan muncul di benaknya membuat dadanya kembali sesak.
Perawat bergantian mengecek keadaan bayi Nadia dan akhirnya sudah bisa kembali ke rumah.
Malam itu di apartemennya, Nadia berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kota berkelip jauh dibawah sana. Ia berbisik lirih,kepada seseorang yang tak kasat mata:
“Ryan… maafkan aku, aku menyesal.”
Tidak lama suara ketukan keras pintu terdengar. Nadia menoleh, dan segara ia membuka pintu apartemennya seketika darahnya terasa membeku.
“Reno…” bisiknya lirih.
Ya, pria itu adalah Reno yang merupakan kakak dari Ryan, sekaligus orang yang sejak lama ia hindari. Kehadirannya bagai mimpi buruk yang menjadi nyata.
Reno melangkah masuk tanpa diminta. mereka berdua dalam ketegangan.
Reno menatap Nadia tanpa berkedip, penuh amarah yang tertahan.
“Akhirnya aku berhasil menemukan kamu Nadia,” ucap Reno datar, tapi nadanya menekan.
Nadia bergetar. Tangannya mencengkeram erat bajunya seakan itu satu-satunya pegangan.
“Ka…mu bagaimana bisa menemukan tempat tinggalku aku…”
“Kamu tahu tujuan ku mencarimu bukan?” potong Reno cepat. “Atau kau mau pura-pura lupa kalau kau yang membuat Ryan mati?”
Air mata Nadia mengalir deras. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari pisau.
“Aku tidak pernah ingin dia mati, percayalah, hanya…”
“Hanya apa?” Reno mendekat, wajahnya kini tepat di depan Nadia. “Hanya menghancurkan hidupnya? Dan menghilangkan nyawanya?”
Nadia menutup wajahnya, mencoba menahan tangis. Tapi Reno tak berhenti.
“Kau bisa menipu orang lain, tapi tidak aku. Kau akan selamanya jadi pembunuh bagi keluarga kami.”
Hening menelan ruangan. Hanya isak tangis Nadia yang terdengar. Reno akhirnya mundur selangkah, namun tatapannya tetap menusuk.
“Ingat, Nadia. Tidak ada rahasia yang bisa kau kubur selamanya. Cepat atau lambat, semua orang akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya.”
Tiba-tiba suara pintu terbuka. Reza baru pulang dari kantor terkejut melihat sosok pria asing sedang bersama istrinya.
“Siapa kau!”Bentak Reza.
Tak berkata sepatah katapun Reno langsung berbalik, meninggalkan Nadia yang masih terkejut tubuhnya bergetar hebat, pikiran kacau, rasa bersalah makin menindih. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar tidak punya tempat lagi di dunia ini.
Bersambung...
kasih like yah...🥰