Sebuah karya novel bergenre horor yang sangat menyeramkan tentang perjalanan mahasisiwa teknik geologi yang terjebak didalam desa yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riski riko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Kedua
Setelah film sudah hampir 30 menit, Rio pun akhirnya selesai mandi, Bayangkan betapa lamanya Rio mandi.
Rio datang kekamar Danu dengan memakai handuk kecil yang Dia pakai, Dan memegang sebuah handuk kuning di tangan kiri, Kemudian berkata "Ko ni handuk Lo kan?"
Aku dan Danu langsung kaget,Soalnya ketika Aku dan Danu mencarinya benar benar tidak ada.
"Di mana Lo nemu" Ucap ku dengan cepat.
"Di balik pintu, Mata kalian tu yang rabun" Jawab Rio
"Gua cari juga gak nemu tadi" Ucap Danu juga.
"Ah kalian berdua memang sama sama rabun" Ucap si Rio.
Rio yang masih berdiri didepan pintu kamar,Langsung melemparkan handuk Kuning itu kepada Ku sambil berkata.
"Ni ambil handuk Lo"
Kemudian kembali kekamar sebelah.
Aku pun langsung menangkapnya lalu berkata.
"Terimakasih Bro"
Aku heran, Soalny ketika aku mencarinya benar benar kagak ada,Kok ketika Rio yang mandi langsung ketemu.
"Suerrr !. Tadi pas Gua cari emang gak ada beneran" Ucap si Danu.
"Kalian mungkin salah liat" Gumam Wisnu.
"Ah kagak mungki lah, Gua beneran gak nemu, Danu mencari juga gak nemu, Ya kan Dan? ". Tanyaku kepada Danu.
" Iya benar, Suerr ta kewer kewerlah, Benaran gak nemu juga Gua" Ucap Danu untuk meyakinkan si Wisnu.
"Ah kok bisa ya ?" Masak siang bolong ada hantu juga" Ucap si Wisnu merasa penasaran.
"Siapa tau aja hantu fersi terbaru, Gak mandang siang apa malam, Mungkin aja tadi hantunya lagi mandi, Terus selesai mandi Dia tarok lagi tu handuk Hahahah" Ucap Danu sambil tertawa.
Aku yang berada disampingnya langsung saja menampar pahanya Danu, kemudian berkata.
"Sembarangan loh kalau ngomong"
"Siapa tau aja kan" Ucap Danu
"Masak rumah ini ada penghuni ke lima ?"
Ucap si Wisnu.
"Mungkin aja gitu Wis ! " ucap si Danu.
Aku hanya diam seribu bahasa di atas kasur itu, Aku masih heran, Bagaimana bisa handuk ku tiba tiba menghilang terus tiba tiba muncul lagi. Itu adalah sebuah yang mustahil. Aku tambah yakin, Pasti di rumah ini ada apa apanya.
"Sudahlah bukan waktunya memikirkan hal yang aneh, yang penting kami semua selamat dan Sehat selalu" Ucap didalam hati ku.
Aku pun kembali kekamar untuk meletakkan handuk kuning yang sudah ketemu itu.
Didalam kamar terlihat Rio yang lagi menyisir rambutnya.
"Habis ini kita sarapan dulu kerumah bapak Gilang Alias Ketua Adat sini" Ucap ku ke Rio sambil meletakkan handuk kuning.
"Bentar bentar, Gua harus terlihat keren, Siapa tau Bapak Gilang punya anak cantik, Kan gua harus kelihatan ganteng gitu" Ucap si Rio.
"Ya elah, Lo mau berapa jam pun nyisir rambut, Gak bakalan ganteng juga " Jawab ku
"Hahahahah Lo liat aja nanti kalau Gua beraksi" Jawab si Rio kembali.
"Eh Lo tau dari siapa kita nanti sarapan di rumah Ketua Adat?" Tanya Rio kembali.
"Tadi pihak fakultas ngechat Gua, Trus bilang gitu" Ucap ku.
"Emangnya Elu tau rumahnya Ketua Adat? " Tanya lagi si Rio
"Manalah Gua tau, Nanti kita tanya warga, Malu bertanya sesat dijalan" Ucap ku kepada Rio.
"Ok ok, Gua udah siap, Ayo berangkat" Jawab Rio sambil meletakkan sisir rambut disamping cermin tua yang berada diatas lemari.
"Coba Lo tanya ama Danu dan Wisnu, Udah siap !, Apa belom mereka? " Ucap ku.
Setelah itu Rio pun keluar kamar untuk menanyakan perihal itu.
Kemudian Dia kembali lalu berkata "Ok siap Bos,Si Wisnu sudah kelaparan banget kayaknya"
"Lest go" Ucap ku.
Kamipun keluar rumah, Dan pergi untuk mencari Rumah bapak gilang.
Karena warga banyak yang ke kebun dan ke sawah, Jadinya Desa terlihat sedikit sepi, Kami tidak tau mau bertanya kepada siapa, Jalan setapak kecil itulah yang kami lalui.
Hanya ada anak anak kecil yang lagi bermain di depan rumah, Kamipun terus berjalan, Sudah beberapa Rumah yang telah kami lewati.
Kami berharap ada orang Dewasa disekitar itu, Biar kami bisa bertanya.
Akhirnya ada seorang ibu ibu, Yang lagi menyapu halaman rumahnya. Ibu itu seperti berumuran sekitar 50 tahun lebih.
Aku menghampirinya mencoba untuk bertanya dimana letak Rumah Ketua adat.
Aku pun bertanya dengan memakai bahasa jambi.
"Permisi mak, Kami ko nak nanyo, Dimano gena Rumah Ketuo Adatnyo? ( Permisi buk, Kami ini mau bertanya, Dimana letak Rumah Ketua Adantnya?) "
Ibu itu pun langsung menjawab "kulop jalan be terus, Agek ado tu rumah panggung warno ijo, Di muko rumah tu ado batang jambu ( Anak jalan aja terus, Nanti ada Rumah panggung warna hijau,Di depan rumah itu ada pohon jambu) " Sambil menunjuk rumah yang ada pohon jambunya.
"Terimokaseh banyak mak, Kami pegi dulu mak ( Terimakasih banyak buk, kami pergi dulu buk)" Ucap ku sambil menundukkan kepala.
Kamipun pergi menuju sebuah rumah panggung yang berwarna hijau dan didepan rumah itu terdapat pohon jambu.
Tidak lama kemudian akhirnya kami berada tepat didepan rumah yang di bilang ibu itu tadi.
"Beneran yang ini ko?" Tanya si Rio.
"Rumah panggung warna hijau, Terus ada pohon jambunya , Nah kan cuma ini doang, Gak ada yang lain" Ucap ku
Pintu rumah itu tampak tidak tertutup sama sekali . Sepertinya kami sudah di tunggu.
"Ayo dah kita naik" Gumam si Danu.
"Gua udah gak kuat nahan lapar ni" Ucap si Wisnu alias si Raja makan.
"Iya iya, Ayo kita naik" ucap ku sambil melangkah menaiki tangga, Aku beridir tepat di pintu masuk rumah panggung itu, kemudian aku memberi salam.
"Assalamau'alaikum pak gilang?"
Aku sudah memberi salam tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Mungkin Pak Gilang lagi gak ada" Ucap si Wisnu yang lagi berada dibawah rumah bersama Rio dan Danu
"Ah mustahillah, Pengurus Fakultas aja ngasih tau Gua nyuruh kesini". Ucap ku sambil melihat lihat didalam rumah.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara wanita yang begitu indah dan begitu lembut.
" Wa'alaikum salam"
Aku langsung melihat ke arah suara itu, Ternyata ada seorang wanita cantik nan ayu, Yang lagi berjalan dari belakang, menuju pintu rumah.
"Kakak kakak yang dari jakarta ya.?" Tanya si wanita cantik itu.
"Iya benar dek" Jawab ku sambil tersenyum.
"Ayo kak masuk, Udah ditunggu sama bapak di belakang" Ucap si Wanita cantik itu dengan sangat lembut.
"Iya dek " Jawab ku, Setelah itu aku langsung melihat ke arah bawah, Rio,Wisnu Dan Danu sudah menunggu lama.
"Ayo naik, Kita udah di tunggu Ketua Adat di belakang" Ucap ku Kepada Rio,Wisnu Dan Danu.
Kami semua pun naik kerumah Bapak Ketua Adat Yang di Panggil Oleh warga Bapak Gilang.
Rumah panggung yang sederhana namun memiliki Kualitas seni yang tinggi, Terlihat beberapa lukisan indah terpampang di dinding papan rumah itu, Seni seni ukir pun ikut serta tertempel Rapi di setiap suduk rumah. Walaupun sederhana namun terkesan mewah dan memiliki nilai seni yang tinggi.
Kami berempat pun langsung menuju ke ruang belakang, Ruangan khusus untuk keluarga.
Disana sudah siap makanan sarapan kami sudah tersusun rapi diatas meja, Dari buah buahan, Teh anget, Dan ada nasi goreng juga.
Bapak Ketua Adat, Ibu Ketua Adat, Dan Anaknya Bapak Ketua Adat sudah duduk di meja makan itu.
"Ayo nak Silahkan duduk, Kita sarapan dulu" Ucap Bapak Ketua Adat dengan sangat sopan.
Yang pastinya si Rio pasti ingin dekat dengan Anaknya bapak Gilang.
Tampak dari gerak geriknya.
"Pasti mau bikin ulah lagi ni anak" Gumam didalam hatiku.
"Saya boleh duduk disini pak? " Tanya Rio kepada Bapak Ketua Adat sambil menunjuk kursi yang disamping wanita cantik alias anaknya Bapak Ketua Adat.
"Ayo ayo silahkan, Dimana aja boleh" Jawab Bapak Ketua Adat.
Dari gerak geriknya, Aku dari pertama sudah tau, Rio kalau ketemu ama cewek cantik pasti bakalan keluarin jurus andalan.
Rio pun duduk tepat disebelah kiri anak Bapak Ketua Adat.
"Terimakasih banyak pak udah ngerepotin" Ucap ku kepada bapak Gilang.
"Iya gak apa apa dek, Ini sudah menjadi kewajiban Tuan rumah " Jawab bapak Gilang.
"Oh ya bagi adek adek yang belum tau nama bapak! ,Perkenalkan nama bapak Adalah Bapak Gilang Aditia bin Gun Harapan." Ucap bapak Ketua adat sambil memperkenalkan dirinya.
"Kalau ini istri bapak, Namanya Ibu Risma" sambil menunjuk kearah istrinya.
" Kalau yang satu ini, Anak bapak,Namanya Rika Anggelina" Ucap bapak Gilang Sambil menunjuk lagi kearah Adek Rika Anggelina.
Adek Rika Anggelina tampak hanya tersenyum kecil ketika diperkenalkan oleh ayahnya.
#Bersambung#
Jazakumullahulhoiron bagi teman tman yang sudah setia membaca. dan yang sering komentar, Like dan memveri votenya.
Dan sekarang setelah 3 tahun hilang²an, akhirnya lanjut baca lagi 'Desa Yang Hilang' 😅 Makasiiih ya author