Jika cinta tak harus memiliki, aku rela untuk melakukannya! Biarkan aku saja yang menanggung akibatnya karena telah menjatuhkan hatiku ke padamu..
Cinta itu seperti matahari yang menyinari bumi, selalu menerangi kegelapan dan tak meminta balasan...
Mungkinkah cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan ataukah mendapat balasan?
Inilah kisahku, ikuti aku dan cerita hidupku...
Hai Sky, aku menyukaimu.. By Cloud...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angela Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C & S 14
Hayo siapa yang kangen dedek Cloud dan babang Sky? Tunjuk tangan, wkwkwkw, aku, iya aku.. 😂😂😂 Monmaap ga jelas banget, selamat malam kakak2 semua, jangan lupa tap like ya, no spam please....
_______________________________________
Claudya membuka matanya perlahan, membiarkan cahaya masuk ke dalamnya. Sesaat ia bingung, namun kembali sadar bahwa ia tak berada di tempat asing. Di ruangan itu berkumpullah beberapa orang selain dirinya.
Mami, Om Ricko dan Dewa. Dewa? Apa yang dilakukan laki - laki itu disini?
Mami yang berada di samping putrinya segera meraih jemari lentik Claudya, mengecup punggung tangannya.
"Ada apa denganmu, Sayang? Mami khawatir melihat kamu seperti itu tadi, kamu sakit apa, Sayang? Kita periksa ke rumah sakit yuk," ajak Mami dengan raut wajah panik.
Om Ricko yang berada di belakang tubuh Mami mendekati ibu dan anak itu dengan tatapan teduh.
"Maura, jangan panik seperti itu, sebentar lagi sahabatku akan datang untuk memeriksa Claudya. Sabar ya..." ucap Om Ricko mencoba menenangkan.
"Aku baik - baik saja, Mami. Mami nggak perlu khawatir secara berlebihan seperti itu, dan satu lagi nggak perlu diperiksa, mungkin aku cuma kecapekan aja," tolak Claudya secara halus pada niat baik Om Ricko. Claudya memalingkan wajahnya, dan memilih menatap dinding yang dilapisi wallpaper berwarna biru muda.
"Lebih baik aku keluar dulu, sepertinya Claudya ingin memiliki lebih banyak waktu denganmu, Ra. Om Ricko keluar dulu ya, Claudya..." pamit Om Ricko pada dua perempuan di ruangan itu dan diikuti Dewa.
Sepeninggal dua laki - laki berbeda generasi itu, Claudya memberanikan diri menatap wajah sang ibu yang sedari tadi tak sedetikpun berpindah dari wajahnya. Wajah ayu itu tengah khawatir pada keadaannya.
"Mami...." ucap Claudya lirih, Mami meraih sebotol air mineral yang tadi beliau pesan pada office girl dan memberikan pada anak gadisnya.
"Minumlah dulu," titah Mami.
Claudya meneguk minumannya dengan perlahan dan setelah merasa tenggorokannya basah, ia meletakkan botol itu di meja yang tak jauh dari jangkauan tangannya.
"Mami, aku mau bicara serius," ucap Claudya, sejenak is menjeda ucapannya sambil menatap ekspresi Mami.
Mami mengangguk dan mengusap halus bahu sang putri.
"Bicara saja, Sayang. Mami akan dengan senang hati mendengarkan. Sepertinya masalah ini begitu penting sampai ekspresi kamu serius sekali, awas loh nanti cepet tua, ingat kamu belum menikah," ucap Mami mencoba mencairkan suasana.
Claudya memposisikan tubuhnya untuk lebih dekat pada ibunya.
"Mami, maafin Claudya, selama ini Claudya hanya bisa membuat Mami sedih, marah, ngambek, cuek, egois dan masih banyak lagi ke Mami. Maafkan anakmu yang tak tahu diuntung ini, Mami. Hiks, hiks," Claudya mulai terisak.
"Sayang, kamu kenapa? Jangan menangis seperti ini, Mami nggak mau lihat kamu sedih. Karena kamu adalah segalanya buat Mami. Mami bahagia memilikimu, Sayang..."
"Kalau Mami bahagia sama Claudya, lebih baik kita hidup berdua saja, Mi. Nggak perlu ada tambahan orang lagi," pinta Claudya, Mami melepaskan pegangan tangannya di bahu Claudya. Ia paham maksud ucapan sang putri.
Mami memegangi kepalanya yang terasa berat. Keningnya berkerut dalam, ia mencoba mengolah kata yang tepat untuk disampaikan pada Claudya. Ia tahu benar anaknya tak menyetujui hubungan cinta yang telah ia bina bersama Ricko dua tahun ini.
"Sayang, coba kamu pikir baik - baik. Jika suatu saat nanti kamu telah menikah, lalu Mami bersama dengan siapa?"
"Mami ikut Claudya, temani Claudya sampai kita tua, Mi. Aku adalah anak kandungmu, Mi. Aku ingin selalu bahagia bersamamu. Apa Mami bohong sama Claudya?"
"Bohong apa, Sayang?"
"Mami nggak benar - benar sayang sama Claudya! Seharusnya Mami paham maksud ucapan Claudya! Claudya nggak mau punya pengganti Papi! Papi Claudya cuma satu yaitu Jeremy, bukan Ricko!" pekik Claudya, ia menahan emosi, namun kepalanya pening seperti tadi, ia menyandarkan kepala di bahu sofa panjang yang ia duduki.
Tok Tok Tok
Ketukan seseorang dari luar menghentikan perdebatan ibu dan anak tersebut. Mami mempersilakan masuk. Pintu terbuka sedikit demi sedikit hingga menimbulkan deritan, seorang wanita memasuki ruangan Mami dengan senyum ramah dan gaya yang anggun.
Claudya memperhatikan wanita asing itu yang semakin mendekat ke arahnya.
"Maya, masuklah. Pasti Ricko yang menyuruhmu datang kemari! Maaf ya, kamu pasti sibuk," ucap Mami sungkan.
"Kamu ini seperti tak kenal calon suamimu saja! Aku tidak merasa direpotkan olehmu. Btw, apa ini anakmu?" tanya Tante Maya pada Mami.
Mami mengangguk dan senyuman hangat itu kembali terlihat saat Mami memperkenalkan sang putri pada sahabat calon suaminya.
Calon suami? Sudah sejauh itukah hubungan Mami dengan Om Ricko? Sepertinya aku sudah kehilangan banyak hal tentang Mami!
"Siapa namamu, Cantik?" tanya tante Maya mencoba berbasa - basi untuk dekat dengan Claudya.
"Namaku bukan Cantik, Tante. Namaku Claudya, tante kesini pasti mau memeriksaku. Ayo tante, periksa sekarang saja, aku tidak punya banyak waktu. Lelah sekali hari ini," paksa Claudya pada wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut.
Sungguh ini bukan sifat asli Claudya, namun situasi dan kondisi yang memaksanya melakukan hal itu.
Tante Maya tersenyum setelah mendengar ucapan Claudya yang sebenarnya ia jelas tahu pasti gadis kecil itu malas berurusan apalagi bertemu dengan dirinya.
Dengan gerakan gesit, Tante Maya memeriksa tubuh Claudya dan memberi pertanyaan seputar keluhan yang gadis itu alami.
"Oh ya, anak kamu hanya kelelahan saja, Maura. Jadi kamu nggak perlu khawatir ya," ucap tante Maya pada Mami. "Claudya yang cantik, lain kali selalu ingat makan dan minum teratur ya, biar nggak gampang sakit atau pingsan kayak tadi. Badannya buat istirahat, jangan sampai kecapekan seperti ini, okay?" pinta Tante Maya pada Claudya.
Claudya mengangguk paham lalu menyambar tasnya dan memilih pulang terlebih dahulu. Sebelum pergi, ia mencium pipi kanan dan kiri sang Mami lalu menyalami tante Maya.
🌺 🌺 🌺 🌺
"Maura, sepertinya anak kamu kebanyakan pikiran. Sebenarnya banyak hal yang membuatnya pingsan, tidak hanya karena kelelahan saja, tapi juga bisa disebabkan anemia, dehidrasi atau syok," jelas tante Maya pada Mami.
"Maksud kamu?"
"Dari yang aku lihat tadi, sebenarnya banyak dugaan tapi salah satunya bisa karena adanya tekanan emosional, itu yang membuat anakmu banyak pikiran. Bukan maksudku untuk mencampuri urusan kalian, tapi kalau ada masalah lebih baik selesaikan dengan baik. Jangan sampai nanti ada penyesalan. Aku tahu kamu sangat menyayangi anakmu,"
" Jujur, May, anakku nggak setuju dengan hubunganku sama Ricko. Padahal aku dan Ricko sudah membahas sampai ke jenjang yang lebih serius. Menikah, itu harapan kami berdua, tapi dari sikap dan ucapan Claudya sepertinya ia tidak ingin aku melanjutkan hubunganku dengan Ricko. Apa yang harus aku lakukan, May?"
" Lebih baik, temui anakmu dan bicarakan baik - baik. Aku yakin jika ini menyangkut kebahagiaan ibunya, dia pasti bisa mengerti," saran dari Tante Maya membuat Mami menatap ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.
"Claudya sepertinya masih mengharapkan aku kembali dengan Papinya. Padahal dia sendiri pun tak tahu kemana perginya sang Papi yang selalu ditunggu sampai saat ini. Apa aku salah jika aku juga ingin bahagia?" Mami memukul dadanya berkali - kali.
"Iya, aku tahu bagaimana perasaanmu, Ra. Aku yakin suatu saat nanti Claudya mengerti maksud dari semua kejadian ini. Kamu pantas untuk bahagia, Ra!" Tante Maya meraih bahu Maura dan mendekap erat tubuh wanita yang hatinya melemah tersebut dan menyalurkan kekuatan yang ia miliki.
Mami tak mampu lagi menahan sesak di dada, malam itu ia menumpahkan segala beban di hati pada Maya. Tangisan yang awalnya pelan kini mulai memenuhi isi ruangan, Claudya yang berada di luar pintu karena pintu tak sepenuhnya tertutup membuatnya bisa dengan jelas mendengarkan obrolan dua wanita itu dengan bersusah payah menahan tangis.
Tanpa Claudya tahu bahwa sepasang mata tengah memperhatikan dirinya yang saat ini lemah dan membutuhkan pelukan juga kekuatan untuk menghadapi masalahnya. Orang tersebut juga ikut merasakan sakitnya hati Claudya.
🌺 🌺 🌺 🌺
sini peluk (づ ̄ ³ ̄)づ
Salam dari Clarissa ❣️
Salam dari "CLARISSA"