Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Totalnya tiga ratus tujuh puluh dua ribu."
"Ini mbak," ucap Davin sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Ini aja, Pak," ucap Arini yang juga meyerahkan empat lembar uang seratus ribu.
"Udab simpan aja," ujar Davin sambil menerpikan tangan Arinj dengan pelan. Saat ini mereka sedang berada di gerai makanan ayam goreng yang sangat terkenal.
"Kamu bantu bawain ini," ujar Davin lagi. Ia meminta Arini membawa baki yang berisikan minuman dan es krim, sedang Davin membawa baki yang berisikan piring beserta ayam dan nasi.
Davin melangkah lebih dulu ke meja dimana sudah ada Aya, Aziza, Adit dan juga Alig yang menunggu.
"Sudah datang," ucap Davin ketika meletakkan baki yang ia pegang. Setelahnya ia mengambil baki yang dipegang oleh Arini yang masih berdiri dibelakangnya, dan kemudian meletakkannya diatas meja.
"Makan nasi ayam dulu baru makan eskrim," unar Arini tatkala melihat tangan Adit yang sudah menjangkau eskrim.
Keempat bocah itu makan dengan tenang. Si bungsu, Alif makan masih disuapkan oleh Arini agar tidak berantakan.
"Terimakasih ya, Pak traktirannya. Jadi ngga enak," ucap Arini disela-sela makannya.
Dijadikan enak aja, Rin. Sesekali juga," ucap Davin.
Arini hanya tersenyum menanggapi ucapab Davin.
"Kita jadi ke Gramedianya kan, Bun?" tanya Aya memastikan kalau pensil warna yang ia inginkan tetap jadi dibeli.
"Jadi. Habiskan makannya dulu, ya," jawab Arini.
"Mau beli apa, Ay?" tanya Aziza yang memang tidak tahu agenda keluarga itu.
" Mau beli pensik warna, Kak," jawab Aya.
"Pa, kita juga ke Gramedia, ya," ucap Aziza pada Davin. Daripada nanti harus merajuk lagi, pikirnya.
Usai makan, mereka langsung beranjak menuju toko buku yang cukup besar di Mall itu. Aya dan Aziza berjalan beriringan paling depan, Arini dan Alif ditengah, sedang Davin denga. Adit menyusul paling belakang. Mereka semua tampak bahagia, layaknya sebuah keluarga dengan empat orang anak.
Saat telah tiba di toko buku, Aya langsung menuju tempat letaknya pensil warna yang ia cari.
"Yang ini ya, Bun," ucapnya sambil memperlihatkan barang yang ia mau pada Arini.
"Boleh, " jawaba Arini.
"Aziza mau juga, boleh Pa?" tanya Aziza pada Davin. Davin mengangguk tanda iya. Kemudian pria itu melihat ke bawah, ke arah Adit yang berdiri di sampingnya.
"Adit mau juga? Atau ada yang lain yang mau Adit beli?" tanya Davin.
"Mau cari buku cerita, boleh Om?" tanya bocah itu.
"Boleh," jawab Davin.
"Rin, saya pergi sama Adit sebentar, ya. Titip Ziza sebentar," lanjutnya.
"Mau kemana, Pak?" tanya Arini heran. Kemana pria itu akan membawa putranya.
"Adit mau cari buku cerita katanya," jelas Davin.
"Sama saya aja, Pak," ucap Arini sungkan.
"Ngga perlu. Biar sama saya aja. Kamu temanin yang lain aja, ya. Nanti kita ketemu didekat kasir aja," ucao Davin dan pria itu langsung berlalu dengan Adit.
Setelah berkeliling, Arini dengan timnya Aya, Aziza, dan Alif langsung menuju kasir untuk pembayaran belanjaan milik mereka. Masing-masing anak itu sudah memegang barang yang mereka inginkan. Ternyata dikasir sudah ada Davin yang sedang mengantri bersama Adit.
"Sini mana belanjaannya," ucap Adit.
Aziza memberikan barang yang ia pegang pada Davin.
"Punya Aya sama Alif sini sekalian," ucapnya lagi.
"Ngga usah, Pak. Ini biar saya saja," jawab Arini sungkan.
"Udah sekalian saya saja," ucap Davin yang langsung saja mengambil barang yang dipegang Aya dan juga Alif.
"Pak," cegah Arini.
"Udah, Rin!"
Tiba giliran Davin kini untuk membayar.
"Dipisah ya, mbak plastiknya," ucap Davin yang langsung memisahkan belanjaan Aziza dan anak-anak Arini.
"Terimakasih, Pak. Padahal ngga usah repot-repot. Saya saja yang bayar punya anak-anak," ucap Arini sungkan.
"Tak apa, sesekali juga ngga tiap hari," jawab Davin. Davin memberikan plastik belanjaan milik anak-anak Arini pada Arini.
Usai membayar, kini mereka berjalan keluar dari area toko buku itu. Davin masih setia memegang tangan Adit.
"Selanjutnya kalian mau kemana?" tanya Davin.
"Pulang, Pak. Rencananya memang hanya mau ke timezone dan Gramedia aja," jawab Arini.
Jika tidak mengenal mereka, mungkin orang-orang akan beranggapan mereka adalah keluarga kecil yang bahagia dan kompak yang sedang menikmati hari libur di Mall.
"Semoga ngga ketemu Indah sama yang lain disini," batin Arini.
Saat berjalan, Aziza berkata yang membuat langkah Davin terhenti.
"Pa, Aziza mau ikut kerumah Tante Arini, boleh?"