NovelToon NovelToon
Aku Bukan Actor Genius

Aku Bukan Actor Genius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Firmansyah

Apa anda serius?...... AKU BENAR BENAR HANYA INGIN MENJADI PENULIS NOVEL, Mengapa sistem ini Memaksaku untuk Menjadi Aktor ?........

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Frank 01

"Oke, James, siap jadi selebgram?" Arthur berkata dengan semangat, matanya berbinar-binar menatap layar laptop di hadapannya.

setelah pulang kerja james dan arthur yang menunggunya pulang bersama menuju motelnya karena arthur benar benar keras kepala.

James, yang duduk di samping Arthur, hanya bisa menghela napas pasrah. "Lakukan sesukamu saja," jawabnya malas. Ia masih belum mengerti mengapa Arthur begitu bersemangat membuatnya terjun ke dunia media sosial.

"Tenang saja, aku ahlinya," Arthur menepuk dada dengan bangga. "Aku akan membuatkanmu profil Instagram dan Twitter yang super keren. Kita akan tunjukkan pada dunia pesonamu yang tersembunyi!"

James hanya bisa memutar bola matanya, menyerahkan sepenuhnya urusan media sosialnya pada Arthur. Ia lebih tertarik mengamati hiruk-pikuk jalanan kota Sacramento dari jendela apartemen Arthur. Gedung-gedung tinggi menjulang, mobil-mobil hilir mudik, dan orang-orang berlalu-lalang dengan berbagai kesibukan mereka. Sebuah pemandangan khas kota metropolitan di Amerika Serikat.

"Nah, selesai!" Arthur berseru, membuyarkan lamunan James. "Lihat ini!"

Arthur memutar layar laptop ke arah James, menampilkan sebuah profil Instagram dengan nama pengguna @james.official. Foto profilnya adalah potret James yang diambil Arthur secara candid beberapa hari sebelumnya. James terlihat tengah tersenyum tipis sambil menatap ke kejauhan, menciptakan aura misterius dan menarik.

"Keren, kan?" Arthur menyeringai bangga. "Aku juga sudah menuliskan bio yang singkat dan menarik. Lihat nih: 'James. Aktor. Penulis. Penjelajah Kehidupan.' Gimana? Puitis, kan?"

James mengamati profil Instagram itu dengan seksama. Ia harus mengakui bahwa Arthur memang berbakat dalam hal media sosial. Profil itu terlihat profesional dan menarik, jauh dari kesan asal-asalan yang ia bayangkan sebelumnya.

"Lumayan," komentar James singkat dimana sebenarnya dia tidak mengeti apapun itu semua.

"Lumayan?" Arthur berteriak dramatis. "Ini lebih dari lumayan, James! Ini adalah mahakarya!"

James hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Arthur yang lebay.

"Oh, iya, aku juga sudah membuatkanmu akun Twitter, TikTok, dan Facebook," Arthur menambahkan dengan santai.

"Apa?" James menatap Arthur dengan kaget. "Kenapa begitu banyak?"

"Tenang saja, bro. Semua akun itu terhubung satu sama lain. Jadi, kau cukup posting sekali, dan otomatis akan terposting di semua platform," jelas Arthur.

"Tapi aku bahkan tidak tahu cara menggunakan TikTok dan Facebook," protes James.

"Gampang, nanti aku ajari," Arthur menepuk pundak James. "Yang penting sekarang, kau sudah punya modal untuk jadi selebgram terkenal!"

James menghela napas pasrah. Ia merasa hidupnya semakin rumit saja sejak bertemu dengan Arthur dan sistem misterius itu.

********

esoknya, James berdiri di sebuah set yang cukup besar layaknya sebuah kota dengan banyak kain yang menutupi sekeliling sepertinya untuk cgi film Oasis dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan pakaian kasual yang telah disiapkan oleh tim wardrobe—kemeja putih, celana chino beige, dan sepatu sneakers putih. Rambutnya ditata rapi, memberikan kesan fresh dan profesional.

Ia mengamati kesibukan di sekitarnya dengan penuh minat. Truk-truk besar berlalu-lalang, membawa peralatan syuting yang beraneka ragam. Para kru film berjalan hilir mudik, sibuk dengan tugas masing-masing. Beberapa aktor dan aktris terlihat sedang berlatih dialog atau mendapatkan sentuhan makeup dari para penata rias. Suasana di sana penuh energi dan semangat, menciptakan atmosfer yang mendebarkan bagi James yang baru pertama kali menginjakkan kaki di lokasi syuting sebuah film besar.

"James!" sebuah suara memanggil namanya.

James menoleh dan melihat seorang wanita muda dengan rambut pirang dan senyum ramah berjalan ke arahnya. Ia mengenakan kaos polo hitam dengan menggunakan baju Oasis dan celana jeans biru. Sebuah ID card tergantung di lehernya, menandakan ia adalah salah satu kru film.

"Hai, saya Sarah, asisten sutradara," wanita itu memperkenalkan diri. "Saya yang akan mendampingi Anda hari ini."

"Halo, Sarah," James menyapa balik dengan sopan.

"Mari saya antar Anda ke ruang makeup," Sarah mengajak James berjalan menyusuri lorong studio.

Di ruang makeup, James disambut oleh seorang penata rias yang ramah. Ia dengan cekatan membersihkan wajah James dan memberikan sedikit makeup natural untuk menonjolkan ketampanannya.

"Anda punya kulit yang bagus," puji penata rias itu. "Tidak perlu banyak makeup."

James tersenyum kecil, merasa sedikit gugup dengan perhatian yang ia terima.

"Anda terlihat gagah dengan kostum itu," Sarah berkomentar saat James keluar dari ruang ganti. dimana james menggunakan pakaian kasual sederhana dengan tambahan luka di wajahnya .

"Terima kasih," jawab James singkat.

Sarah kemudian mengantarkan James ke lokasi syuting. Adegan yang akan ia perankan berlokasi di sebuah gudang tua yang telah disulap . Di sana, ia melihat berbagai peralatan syuting yang canggih, seperti kamera, lampu, dan layar hijau. Beberapa aktor dan aktris sudah berada di posisi mereka, siap untuk memulai syuting.

James berdiri di sudut ruangan, mengamati hiruk-pikuk aktivitas di lokasi syuting dengan rasa takjub yang tertahan. Di sekelilingnya, para kru film bergerak dengan sigap, mengatur pencahayaan, kamera, dan properti. Beberapa aktor berlalu-lalang, berlatih dialog atau bercanda dengan rekan mereka, menciptakan atmosfer yang hidup dan dinamis. James merasa seperti terdampar di dunia yang sama sekali baru, dunia yang penuh dengan keajaiban dan kreativitas.

Seorang asisten sutradara menghampirinya, menyodorkan sebuah naskah tipis. "Ini naskah untuk adeganmu, James," katanya dengan senyum ramah. "Silakan dipelajari saya hanya dberikan 1 jam untuk anda membaca oleh director Lynn kuharap anda bisa ."

"B baik" sedikit gugup

James menerima naskah itu dengan hati-hati, membuka halaman pertama dengan rasa penasaran. Judul adegannya tertulis dengan huruf tebal: "FRANK" dengan tulisan "The oasis"  Ia mulai membaca dialognya, merasakan sebuah perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Karakter yang ia perankan, Frank, adalah seorang mantan narapidana yang baru saja dibebaskan dari penjara. Ia dihantui oleh masa lalunya yang kelam dan berusaha untuk menebus kesalahannya. Namun, dunia luar tidak menerimanya dengan mudah. Ia dikucilkan, dipandang dengan curiga, dan dipaksa untuk berjuang sendirian.

Saat James tenggelam dalam karakter Frank, sebuah panel biru muncul di hadapannya, menampilkan analisis naskah yang ia pegang.

[Analisis Naskah]

Judul: Frank's Redemption

Tingkat: B+

Keterangan: Naskah ini memiliki struktur cerita yang kuat, karakter yang kompleks, dan dialog yang bermakna. Adegan ini memiliki potensi untuk menjadi salah satu momen penting dalam film.

'Jika F itu terendah ini B + itu berarti akan A , Kau tidak faham apapun soal penulisan naskah namun bukankah ini artinya Ini terlalu bagus untuk scene kecil'

James terkejut melihat nilai yang diberikan oleh sistem. B+? Itu cukup tinggi untuk sebuah adegan kecil yang hanya melibatkan satu karakter. Ia mulai merasa penasaran dengan adegan ini dan bagaimana ia akan memerankannya.

Ia melanjutkan membaca naskah, dan sebuah rasa tidak nyaman mulai menyeruak di hatinya. Ternyata, Frank tidak sepenuhnya ingin menebus kesalahannya. Ia masih memiliki sisi gelap yang haus akan kekerasan. Di akhir adegan, Frank terlibat dalam sebuah perkelahian brutal yang berujung pada kematian lawannya.

[Mulai Membaca Tekan YA]]

melihat itu james masih tidak faham apapun soal sistem ini.

tapi karena diberi waktu 1 jam dia menekan 'YA'.

seketika membuat james berada di pandangan orang ketiga dimana scene ia lihat langsung dari matanya.

James menutup naskah itu, merasa sedikit mual. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan memerankan karakter sekejam itu. Namun, ia juga merasa tertarik dengan kompleksitas karakter Frank. Ada sebuah pergulatan batin yang mendalam dalam diri Frank, sebuah pertentangan antara keinginan untuk berubah dan dorongan insting yang sulit dikendalikan.

Ia baru saja keluar dari penjara dan merasa tersesat di dunia yang telah berubah. Ia mengenakan pakaian lusuh dan wajahnya dipenuhi bekas luka. Tatapan matanya tajam dan liar, mencerminkan kegelisahan dan kemarahan yang mendalam.

James merasakan  karakter Frank, merasakan kepahitan dan keputusasaan yang dialaminya. Ia membayangkan diri sebagai Frank, seorang pria yang terbuang dan tidak diinginkan. Ia merasakan rasa sakit karena dikucilkan, rasa marah karena diperlakukan tidak adil.

Tiba-tiba, seorang pria muncul dari balik bayangan, menghadang jalan Frank. Pria itu bertubuh besar dan berwajah garang. Ia menatap Frank dengan tatapan penuh hinaan.

"Kau Frank, kan?" tanya pria itu dengan nada mengejek. "Mantan narapidana yang membunuh istrinya sendiri?"

Frank mengerutkan kening, matanya menyipit. "Apa maumu?" tanyanya dengan suara serak.

"Aku ingin memberimu pelajaran," jawab pria itu sambil menyeringai sinis.

Pria itu menyerang Frank, melepaskan pukulan bertubi-tubi. Frank mencoba untuk menghindar, namun ia terlalu lemah dan lambat. Ia jatuh tersungkur, menerima hantaman demi hantaman tanpa bisa melawan.

James merasakan rasa sakit yang dialami oleh Frank. Ia merasakan tulang rusuknya retak, darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Ia merasakan kebencian yang membara di dalam dirinya, kebencian yang membuatnya ingin membalas.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Frank bangkit dan menyerang balik. Ia menghantam pria itu dengan kepalanya, menendangnya di bagian vital, dan mencekiknya dengan kedua tangannya.

James merasakan adrenalin yang terpompa deras di dalam tubuhnya. Ia merasakan kekuatan yang puasan saat melihat pria itu meronta-ronta kesakitan.

Ia terus mencekik pria itu hingga ia tidak bergerak lagi. Ia melemparkan tubuh pria itu ke tanah dengan kasar, napasnya terengah-engah.

James menatap tangannya yang berlumuran darah, merasa ngeri dengan apa yang telah ia lakukan. Ia baru saja membunuh seorang manusia.

Tiba-tiba, suara ledakan yang dahsyat mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh dan melihat sebuah pesawat ruang angkasa raksasa muncul di langit, menebarkan cahaya yang menyilaukan. Dari pesawat itu, muncul sejumlah alien bertubuh tinggi dan berkulit abu-abu. Mereka bersenjatakan senjata canggih yang mampu menghancurkan apapun yang mereka temui.

Para alien itu mulai menyerang manusia tanpa ampun. Mereka menembaki gedung-gedung, menghancurkan kendaraan, dan membunuh siapapun yang mereka temui.

James terpaku di tempatnya, terperanjat melihat kehancuran yang terjadi di hadapannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Salah satu alien itu melihat James dan mulai mengarahkan senjatanya ke arahnya. James berteriak ketakutan dan berlari mencari perlindungan.

Ia berlari sekuat tenaga, menghindari serangan para alien. Ia melompat melewati reruntuhan bangunan, merangkak di bawah mobil yang terbakar, dan bersembunyi di balik tembok yang runtuh.

Tiba-tiba, ia melihat seorang gadis muda yang akan di injak oleh alien yang besar. Gadis itu menangis ketakutan, tidak bisa bergerak.

James merasakan sebuah dorongan kuat untuk menyelamatkan gadis itu. Ia tidak peduli dengan bahaya yang mengancamnya. Ia harus menyelamatkan gadis itu.

Ia berlari ke arah gadis itu, menerobos hujan tembakan para alien. ia mendorong gadis itu seketika membuatnya terinjak oleh kaki yang besarnya melebihi besar tubuhnya

James berteriak kesakitan saat tulang-tulang di tubuhnya remuk. Ia merasakan kesadarannya mulai menghilang. Ia melihat wajah gadis itu yang penuh ketakutan dan penyesalan.

Lalu, semuanya menjadi gelap.

[pembacaan selesai 100%]

James membuka mata dan sadar Dia duduk di tenda memegang naskah yang tidak tebal itu , lalu menyentuh pipinya . air mata di kanan matanya mengalir . 'oh '

1
ADYER 07
oy thorr up ngakkkk?
Hari Sptra
authornya kemana dah nih di tinggal bae
Kiki Ginanjar
lanjut dong ini bagus
Kiki Ginanjar
kenapa gak di lanjut padahal seru loh
Fadli
up dong
Kiki Ginanjar
kenapa gak up lagi/Grin/
Baday ys
bague
Baday ys
mantab...up up
ADYER 07
walau penjabaran nya bertele² tapi alurnya lumayan bagus.
Hr⁰ⁿ
yang bener *arghhh bikin orng khawatir saja*
Hr⁰ⁿ
maaf Thor kritik dikit,
saya baru baca dan kosa katanya masih agak berantakan,ayo Thor smngt untuk memperbaiki tulisannya
Go Anang
Luar biasa
Farah Umaiha
thor gak up??🤔
RidhoNaruto RidhoNaruto
up
Farah Umaiha
bentar lagi hp Arthur mati itu(meledak) 🤣🤭
Farah Umaiha
bagus
Farah Umaiha
bangus banget😀👍👍👍
Was pray
kok james gak tahu nominal uang dlm kontrak kerjanya? emang gitu ya dlm dunia perfilman ya thor? aktor gak tahu apa2 isi kontrak kerjanya?
Smeliy: dia sahabat James mereka sudah seperti saudara, Dan Arthur akan jadi orang paling berpengaruh pada cerita
total 4 replies
Farah Umaiha
ceritanya seru banget thor🤣😂😂😭😭💪💪
RidhoNaruto RidhoNaruto
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!