Bia Aziya, berumur 21tahun.Hidup dari toko ke toko demi memenuhi kebutuhan nya sendiri.Ia rela menjadi pekerja paruh waktu,bahkan terkadang menjadi pembawa belanjaan milik ibu ibu yang ia tak kenal satu pun.
Kehidupan nya membawa kesebuah perjodohan karena Ibu Risma yang sangat baik hati,melihat seorang anak gadis yang dengan gigih bekerja untuk diri nya sendiri tanpa malu dan gengsi bahkan di kota besar dan di tengah tengah banyak nya anak muda yang sangat modis dan glamor.
"Aku rasa tidak penting Mah,jika hanya untuk ini Mamah berdrama sakit.Umur tidak menjadi patokan untuk menikah!"
Antonio pria yang sangat dingin dan kaku,ia bahkan tak pernah berfikir jika Mamah nya beralasan ingin bertemu nyatanya untuk memohon menikahi gadis yang sama sekali tidak di kenal.
"Ingat,aku tidak suka wanita mandiri dan pekerja seperti mu.Gayamu sangat biasa saja tak terlihat seperti perempuan.Kau bukan tipe ku.Jadi jangan berharap aku mencintai mu!"
Mendengar itu Bia hanya bisa menghela nafas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ♍Virgo girL 🥀🌸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 14 Tamu
Setelah mandi dan memakai baju tidur setelan,Bia keluar dari kamar terburu buru berlari menuruni tangga.Bahkan ia sama sekali tak melihat ke bawah dan terus berlari.Melewati mbak Dian yang sedang menutupi jendela,wanita itu bahkan terperanga karena melihat Bia yang berlari.
Ceklek!!!
Membuka pintu utama,dan keluar tanpa alas kaki.Ponsel pun di genggaman tangan nya.
"Pak Security buka kan,itu teman saya!"
Suara nya lantang,padahal jaraknya masih lebih dari dua puluh meter.Bia pun melangkahkan kaki nya kembali dengan cepat.Tangan nya mengaitkan rambutnya ke atas karena terlalu berkibar.
"Non,tidak pake alas kaki?"
Mendengar ucapan security Bia pun menunduk melihat ke bawah.
"Panas pak,tapi cepatlah buka!" terus mengganti tumpuan kaki nya untuk menghindari panas.
Pak Security pun membuka gerbang dan mengijinkan seseorang masuk.Ya tentu hanya di pintu gerbang saja.
"Ayo Ndra buruan,mana bantal dan guling ku?" ucap Bia,dan Candra pun tersenyum.
"Pakailah,akhir akhir ini memang cuaca aneh Bi.. Sudah sore tapi tetap panas!" Candra berjongkok memakaikan sandal nya lalu menoleh ke atas melihat langit,tak sengaja ia melihat seseorang di balkon terus menatap nya dan Bia.
Apa itu yang di ceritakan Bia?
Candra pun pura-pura tidak melihat nya,namun tangan nya mencoba menyentuh kaki Bia,lalu menarik tangan Bia untuk membantu nya berdiri.
"Ishhh apa sih Ndra,kamu tuh berat!"
"Kaki ku tiba tiba tadi sakit,mungkin karena salah gerak pada saat jongkok!" Candra pun tertawa hambar.
"Terimakasih sudah membelikan ini,kembalian nya untuk mu saja!" ucap Bia pada Candra
Kedua nya pun tertawa terbahak,sudah biasa mereka seperti itu.Hidup sendiri dan mandiri,pekerjaan Bia sekarang pun karena campur tangan Candra,awalnya hanya mengikuti nya ke pasar tapi Bia tak menyangka jika Candra banyak di kenal orang di sana.
Satu bantal dan satu nya lagi guling,lalu Candra tak lupa membelikan sarung nya sekalian.Berwarna pink bercampur biru tak lupa gambar love juga ada di sana.
Bia mendekat dan berjinjit pas di depan telinga Candra.
"Heh,gambar nya norak!"
Kedua nya pun tersenyum. "Ahh sudahlah.Pulang sana,nanti kau di cariin emak Ndra! Bilang pada nya,aku kangen!"
"Kalau kangen ikut pulang yuk!!" Candra reflek menggandeng tangan Bia meletakkan di bahu lalu berbalik menarik nya.
"Sialan,kamu pikir aku si buta dari gua hantu!" ucap Bia,ia memukul punggung Candra.Namun lelaki itu tak marah sedikit pun melainkan tersenyum.
"Sudah sana pulang, sebentar lagi magrib!" tangan Bia mendorong bahu nya.
Candra pun mengangguk,sebelum berbalik ia mengusak rambut Bia.
"Jaga dirimu baik-baik disini,jika ada apa apa hubungi aku segera.Aku tidak bisa melakukan apa-apa jika kamu yang meminta ku untuk diam.Dan lagi untung Mamah mertua mu baik!"
Bia hanya mengangguk dan melambaikan tangan.Candra pun berbalik lalu keluar dari gerbang menaiki sepeda motor nya dan pergi dari sana.
Begitu pula dengan Bia yang mendekap bantal dan guling nya,membawa masuk ke dalam tanpa melihat ke atas,tatapan nya lurus ke depan.
Antonio yang di atas sana melihat semua kontak fisik Bia dan lelaki yang tak di kenal dari mulai Candra datang meminta di buka kan gembok gerbang hingga pulang dan Bia masuk kembali.
.
.
.
"Nona,sebentar lagi makan malam.mau masak sendiri atau bagaimana?" tanya mbak Dian.
Bia pun menoleh ke sana kemari,melihat semua nya sudah bersih dan rapih.
"Mbak Dian pulang saja,mbak Dian butuh istirahat nanti biar aku yang memasak!"
Senyum mbak Dian pun terbit seketika,Ibu bos nya memang tidak salah pilih menantu.
Meletakkan bantal guling nya di sofa,Bia pun lalu ke dapur bersama mbak Dian.
"Mbak jika sup tadi pagi dan ayam masih ada di bawa pulang saja mbak,aku baru makan sekali saat sarapan tadi pagi,mungkin juga masih karena aku yakin Tuan bos mu itu tidak makan masakan ku mba!" ucap Bia.
Namun dugaan Bia salah,masakan nya bahkan habis tak tersisa dan piringnya pun sudah di cuci sekalian.
"Non Bia,seperti nya nona salah sangka.Masakan nya habis tak tersisa,Bang Antonio juga sudah mencuci piring dan mangkok nya!"
Bia pun menoleh pada mbak Dian dan mendekati nya.
"Apa benar mbak?"
Anggukan Mbak Dian menandakan jika dia tak bohong,Bia pun menghampiri piring yang ada di sana dan ternyata benar.
"Aku pikir tidak suka masakan ku!" gumam Bia.
"Ya sudah non,mbak Dian pulang dulu ya?.. Jangan berantem akur akur ya?!" ucap mbak Dian,dan Bia mengangguk.wanita itu entah apa tiba-tiba berbicara seperti itu,seolah dia tahu jika Antonio dan Bia tak baik baik saja.
.
.
.
Bergelut dengan bahan bumbu masakan dan yang lain,Bia bahkan paham dia akan memasak apa jika yang ada hanya brokoli dan wortel.
Menambahkan jantung ayam tak banyak lalu ia masak menjadi satu tanpa banyak bumbu hanya bawang,cabai dan juga sedikit kecap seafood.
Tak lama masakan sudah terhidang di sana.Bertepatan dengan Antonio yang turun lalu duduk di meja makan.
Menyiapkan minum dan mengambilkan air untuk Antonio,mereka pun mulai makan dengan perlahan.
"Tumben masakan Mbak Dian ada rasanya?!"
"Itu aku yang masak bukan Mbak Dian!" jawab Bia,dan seketika Antonio berhenti mengunyah.
"Lain kali tidak usah!!" jawab cepat Antonio.
"Ma-maksud ku biar Mbak Dian saja yang memasak!"
Mendengar itu Bia hanya mengangguk tak melihat Antonio,beberapa menit berlalu ia pun meletakkan sendok dan langsung berdiri berjalan meninggalkan Antonio sendiri di meja makan.
Mengambil bantal guling yang di letakkan di sofa lalu melanjutkan lagi membawa nya hingga ke kamar.
"Tunggu!.."
Lagi lagi Antonio sudah menyusul dan membuka kamar nya,ia menahan Bia yang akan menaruh bantal dan guling di atas kasur lipat nya menoleh.
"aku tidak suka barang barang yang sudah terkena orang lain atau bukan penghuni sini ikut masuk ke kamar ku!" ucap Antonio tegas.
Bia pun menghela nafas nya.Rasanya sudah capek untuk berdebat dengan manusia arogan di sebelahnya.
"Ya sudah tidak apa-apa,selagi Bu Risma tidak ada biar aku tidur di sembarang tempat saja!"
Bia menumpuk kasur lipat kemudian bantal dan gulingnya,lalu menangkup semua nya dan mencoba membawa keluar.
Tak menyangka jika Bia akan semudah itu untuk berpindah tanpa perlawanan apapun.Keluar dari kamar dan entah dimana ia tidur malam ini.Antonio tidak ingin menyusul dan mencari tahu nya juga.
.
.
.
To be continue