NovelToon NovelToon
Kisah Yang Belum Tuntas

Kisah Yang Belum Tuntas

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuryanthi Sudarma

Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.

Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pelukan erat antara anak dan Ibu itu berlangsung cukup lama. Tidak ada kalimat yang keluar dan hanya diwakili air mata rindu yang merambat di pipi.

"Akhirnya kamu pulang, Neng," kata Ibunya Kaluna saat mengurai pelukan. Dia seka air mata yang merambat di pipi anaknya. Lalu matanya tertuju pada anak laki-laki yang berdiri di samping Kaluna. Menatap aneh pada mereka. "Siapa ini?" Ibunya Kaluna berjongkok menyamakan tinggi dengan Vano.

"Arvano. Ibuku sering memanggil aku Vano. Nenek juga bisa manggil aku begitu."

Vano yang ceriwis begitu mudah mengambil perhatian dari orang-orang baru yang ditemuinya. Begitu juga dengan ibunya Kaluna.

"Ayo masuk. Di sini walaupun matahari sudah di atas tetap aja dinginnya kerasa," kekeh Titin-Ibunya Kaluna membawa mereka masuk ke rumah yang tampak sunyi.

"Bapak di mana, Bu?" Luna memperhatikan seisi rumah yang tidak berubah. Dia tahu dari Aas kalau bapaknya sakit namun dia tetap menanyakan keberadaan ayahnya.

"Bapak masih di rumah sakit. Semalam drop, ibu juga baru pulang dari sana karena gak enak meninggalkan mereka yang bekerja di sawah." Titin menjawab sambil memindahakan jajanan pasar yang tadi dia beli sebelum tiba di rumah. "Ayo di coba," katanya yang langsung dicomot oleh Vano.

"Enak," komentarnya, "Boleh semua buat aku?" Matanya yang bulat dengan netra berwarna hitam legam itu mengerjap memohon.

"Boleh, nanti nenek belikan lagi."

Tatapan Titin beralih pada Luna, ujung matanya selalu basah saat mengingat hari itu. "Kamu berhasil membesarkannya, Neng."

"Enggak mudah, Bu. Tapi aku juga gak mungkin tega membuang darah dagingku sendiri."

Titin mengangguk. "Ibu paham, maafkan Bapak sama Ibu yang mendiamkan kamu saat itu."

"Aku yang harusnya minta maaf, Bu. Aku pergi tanpa pamit, aku gak kuat melihat kesedihan Ibu dan Bapak atas gunjingan tetangga. Aku yang salah kenapa mereka malah menghakimi kalian."

"Tapi kesedihan kami tak hilang begitu saja dengan kepergian kamu. Kami ingin mencari tapi tak tahu harus kemana. Bapak paling parah. Tiap hari dia pulang malam untuk mencari kamu sampai lupa makan. Bahkan sekarang kesehatannya menurun."

Tak sanggup lagi bicara, Luna peluk seerat mungkin tubuh Ibunya yang tak lagi subur seperti dulu. Tubuhnya tampak menyusut, bagian matanya juga terlihat cekung.

Setelah menyediakan makan siang untuk para pekerja di sawah, Titin membawa Luna serta Vano ke rumah sakit. Luna terpaku menatap sebuah pintu ruangan di mana jelas di dalam sama ayahnya tengah di rawat.

"Bapak juga pasti nunggu kamu, Neng." Titin mengelus pundak anaknya yang diam mematung di depan pintu. Dia mengerti bahwa masih ada ketakutan di dalam diri anaknya.

Ketuka pintu dibuka, tatapan Luna dengan ayahnya langsung bertemu. Halim yang tengah duduk itu seolah memang sedang menanti seseorang. Dan ternyata yang datang adalah istri serta anaknya. Dia hendak turun, ingin memeluk sang anak yang akhirnya kembali. Tetapi langkah Luna lebih cepat membuat sang ayah urung turun.

"Pak!" Luna langsung meraih tangan Halim serta menciumnya takdzim. Tangan itu tak lagi sekekar dulu. Enam tahun perpisahan memang banyak perubahan yang tidak dilihat Luna.

"Ini anak kita, Bu?" Halim menoleh pada istrinya seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.

"Iya, dan ini cucu kita."

Tatapan Halim beralih pada Vano yang tersenyum, lalu mendekat. Melakukan hal yang sama seperti ibunya. Halim yang selama ini jarang terlihat menangis kini tak kuasa menahan air mata. Sedih sekaligus bahagia bercampur jadi satu. Dia dekap, dia kecup kening putrinya. Meskipun dia tidak mengatakan apa pun tapi air mata dan gerakannya mewakili apa yang seharusnya terucap.

"Jangan bertindak seperti itu lagi ya. Kamu harus janji sama bapak " kata Halim saat mengurangi pelukannya. Dia meminta Vano duduk di sampingnya. "Ini kakek, bapaknya Ibu kamu. Terima kasih ya sudah menjaganya dengan baik."

Vano mengangguk, "Aku memang akan selalu menjaga Ibu. Soalnya ibu baiiiiiiik banget. Ibu juga cantik jadi aku sayang sama Ibu."

"Bapak sudah makan?" tanya Titin saat melihat jatah makanan dari rumah sakit masih ada.

"Sudah tapi sedikit."

"Kalau begitu bapak makan lagi, biar aku yang suapi," kata Luna mengambil nampan dari tangan ibunya.

"Padahal bapak lagi tidak enak makan, tapi karena harus sembuh agar bisa bermain dengan Vano. Ya terpaksa," kekehnya.

Suasana di dalam ruangan yang biasanya sepi itu tampak hangat. Tidak terlihat lagi gurat kesedihan di wajah mereka. Apalagi Vano yang ceria dan ekspresif menambah kehangatan yang tercipta.

"Pasti banyak cerita selama kamu berpisah dari kami, Nak," kata Halim beberapa saat kemudian. Setelah Vano tidur karena capek akibat perjalanan.

"Aku tidak ingin berbagi kesedihan, Pak. Pokoknya bapak harus sehat lagi, Vano selalu bertanya di mana kakek neneknya. Makanya saat dibawa ke sini dia senang banget."

Halim mengangguk menatap anak yang tidur di karpet dan diselimuti kain jarik. Tidak rewel padahal tidurnya hanya beralaskan karpet tipis yang pasti tidak akan nyaman.

"Apa pria itu pernah menemui kalian?" tanya Halim lagi.

"Sering. Bahkan sekarang dia ingin mengambil Vano," kata Luna yang kembali terlihat muram saat membahas hal itu.

"Jangan diberikan. Dia tidak punya hak atas Vano. Dia milikmu, milik ibunya sampai kapan pun. Andai saat itu yang lahir anak perempuan, pria itu bahkan haram menyentuh anaknya. Jangan pernah. Bapak yang tidak ikut membesarkannya saja tidak rela apa lagi kamu kan?"

Luna mengangguk, dan menoleh ke pintu saat melihat ibunya yang tadi pamit hendak mengambil obat datang bersama seorang pria muda sepantaran dirinya.

"Pak Halim ... maaf baru bisa besuk sekarang," katanya.

"Gak apa-apa, Nak Aziz. Kan setiap orang punya kesibukan masing-masing. Apalagi nak Aziz juga harus mengajar," balas Halim. "Oh iya ini Luna, anak saya."

Luna mengangguk saat pria yang disebut Aziz itu menoleh dan juga mengangguk ke arahnya. Luna menjauh, memberi ruang untuk pria itu berbincang dengan ayahnya. Sementara dirinya duduk di samping ibunya. Dia sandaran kepala pada pundak yang sangat dia rindukan. Pundak yang selalu memberinya rasa nyaman.

"Tinggalah dulu di sini untuk beberapa hari. Kami belum selesai mengurai Rindu, Nak," kata Titin mengusap puncak kepala Luna.

***

Di jakarta.

Pekerjaan yang banyak telah menyita banyak waktu Adnan pula. Dia baru bisa bernafas lega saat hari sudah gelap. Rasa rindu pada Vano membuat dia membawa mobilnya berbelok ke arah perumahan Luna. Namun saat tiba di sana rumah itu tampak sepi. Beberapa kali mengetuk pintu pun tak mendapat jawaban.

"Apa mereka sudah tidur ya," gumam Adnan menolah pada jam tangannya. "Masih jam delapan, gak mungkin juga kayaknya."

Adnan masih menunggu beberapa saat, namun karena tak ada tanda-tanda akan ada orang yang membuka pintu, dia pun memutuskan untuk pulang. Dia akan datang lagi hari esok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!