Stella Vivian mendeklarasikan dirinya sebagai wanita yang bisa menaklukan seratus pria sekaligus. Wajah cantik dan bentuk tubuhnya memang tidak diragukan lagi, hingga ia dengan mudahnya mendapatkan pria mana pun yang ia inginkan.
Stella Vivian tidak menyia-nyiakan kecantikan yang ia miliki, Ia memanfaatkan kecantikannya itu untuk menggaet para pria kaya, mulai dari pria single hingga pria beristri sekali pun. dan kemudian ia akan hidup bermewah-mewahan dengan uang yang ia dapat dari pria-pria tersebut.
Namun, suatu hari kekacauan terjadi saat pria yang ia goda dan membuat hatinya luluh ternyata adalah suami kakak angkatnya sendiri.
Apakah Stella Vivian akan menyerah dan menjauhi pria tersebut demi saudarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI BERHASIL
"Hah? Apa katamu?!" seru Darius, yang terlihat benar-benar terkejut akan permintaan yang baru saja Vivian utarakan.
Gendong aku, adalah kalimat yang sebelumnya tidak pernah Darius dengar dari bibir wanita mana pun, termasuk dari Virginia, wanita yang sekarang telah menjadi istrinya.
Akan tetapi, sekarang Darius malah mendengar kalimat itu keluar dari bibir wanita lain yang sama sekali tidak ia kenal.
"Aku bilang, gendong aku." Vivian menjawab sembari menyeka air matanya yang meninggalkan jejak di pipinya yang merona merah.
Darius menyisir rambutnya dengan jemari, lalu ia menatap Vivian dengan tatapan yang terlihat bingung dan sedikit merendahkan. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang wanita meminta untuk digendong oleh pria yang baru ditemui sebanyak dua kali, dan pertemuan itu pun pertemuan yang tidak disengaja.
"Kamu tidak mau menggendongku?" tanya Vivian, Suaranya sedikit keras kali ini, hingga membuat Darius tersentak.
Darius yang terkejut segera menggeleng. "Jangan coba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku pikir kamu berbeda dengan wanita kebanyakan, tapi ternyata kamu sama saja. Kamu berusaha untuk merayuku, benar begitu, 'kan?"
Mendengar ucapan Darius, Vivian refleks menghembuskan napas dengan kesal, lalu dengan berat hati ia menendang tulang kering Darius dengan sebelah kakinya yang tidak sakit. Vivian terpaksa melakukan hal itu agar Darius tidak curiga bahwa ia memang sedang berusaha untuk mendekati pria itu, karena menurut penyelidikan rahasia yang dilakukan oleh Anita, Darius sangat membenci wanita yang mencoba untuk merayunya dengan cara apa pun. Dengan kata lain, Darius sangat membenci wanita murahan dan wanita genit.
"Argh, apa yang kamu lakukan? Beraninya kamu menendangku?!" Darius melompat-lompat sambil mengangkat satu kakinya yang baru saja mendapatkan tendangan dari Vivian.
"Kenapa? kamu tidak suka?" Vivian memelototi Darius sekarang.
"Tentu saja aku tidak suka. Mana boleh kamu menendang orang sembarangan seperti ini dan--"
"Kalau begitu jangan asal bicara. Memangnya kamu itu raja dunia, sampai-sampai aku harus merayumu. Kalau kakiku tidak terkilir tidak mungkin aku meminta untuk digendong olehmu. Kenapa, sih, harus ada manusia yang sepede dan senarsis dirimu di dunia ini. Astaga,menyebalkan sekali." Vivian, menggerutu, lalu mulai memberanikan diri untuk melangkah menuju mobilnya yang masih terparkir di area parkir.
Akan tetapi, baru selangkah Vivian meninggalkan Darius, ia langsung terjatuh di atas paving yang kasar, membuat lututnya mengeluarkan darah.
"Ah, sial sekali aku," gumam Vivian sambil menyeka air matanya yang kembali menetes.
Sadar bahwa dirinya telah membuat hati Vivian terluka, Darius pun segera menghampiri Vivian dan menggendong Vivian menuju area parkir. Ia melakukannya begitu saja tanpa permisi, hingga Vivian cukup terkejut saat kedua tangan Darius menyentuh tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Vivian, terbata-bata.
"Jangan banyak bicara. Bukankah kamu tadi minta digendong," ujar Darius dengan sengit, lalu menambahkan, "Aku akan mengantarmu pulang sekalian. Kamu tidak bisa menyetir dengan kaki terkilir seperti ini. Dan tidak usah berterima kasih, anggap saja aku menembus kesalahanku yang telah berprasangka buruk padamu. Dengan begitu kita impas."
Vivian mengerutkan bibirnya seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi oleh ayahnya, dan apa yang Vivian lakukan itu sangat mengganggu Darius, karena Vivian terlihat begitu menggemaskan, begitu cantik, dan sangat feminin.
"Siapa juga yang mau berterima kasih," gumam Vivian, menanggapi pernyataan Darius sebelumnya. "Aku sama sekali tidak akan mengucapkan terima kasih. Pokoknya tidak akan."
Darius tidak menjawab, ia hanya mendelik sejenak sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke sembarang arah, berusaha untuk mengabaikan sosok cantik dan manja yang sekarang berada di dalam dekapannya.
Bersambung.