NovelToon NovelToon
Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: samudra lee

Meninggalnya Sang Istri saat melahirkan membuat Tama Wijaya enggan membuka hati untuk wanita lain, termasuk gadis bernama Kinara Larasati, wanita yang baru saja dirinya nikahi beberapa saat yang lalu.

"Kamu hanya ibu sambung untuk kedua anakku. Jadi, jangan pernah berharap kalau aku akan menganggapmu istri. Ingatlah! Pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan. Aku sudah membantumu melunasi semua hutang tante dan pamanmu. Sebagai gantinya kamu sudah setuju untuk menjadi ibu dari kedua anak kembarku. Jadi, jangan pernah berharap lebih dari itu!" Tama memberi peringatan keras kepada wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.

Derai air mata yang jatuh di kedua pipi Nara-wanita itu biasa disapa, tak lantas membuat hati Tama luluh. Laki-laki itu semakin kokoh membangun dinding pembatas antara dirinya dan Nara.

Bagaimana kelanjutan rumah tangga Tama dan Nara disaat tujuan keduanya hidup berumah tangga itu berbeda? Dan mampukah Nara mengambil hati Tama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Aku tahu apa yang telah kalian lakukan selama ini kepadanya. Dengan dalih telah membesarkan dia dan membiayai kuliahnya kalian jadikan dia sapi perah bahkan sejak Kinara belum lulus sekolah. Kalian bahkan menggadaikan rumah milik orang tuanya untuk kesengangan kalian, dan sekarang, kalian bahkan menyuruhnya membayar hutang kalian sebesar 100 juta kepada rentenir bernama Danu." Tama mengutarakan dengan gamblang hal-hal buruk yang sudah sepasang suami istri itu lakukan kepada calon ibu sambung anaknya.

Tama sudah menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang Kinara, sejak kedua putranya menginginkan wanita itu menjadi ibu sambung mereka.

"Me-memangnya kenapa? Dia saja tidak keberatan," jawab Susanto.

"Dia mungkin tidak keberatan, tapi aku yang keberatan. Aku tidak ingin kalian mengusik hidup Kinara lagi setelah kami menikah atau.... " Tama menjeda kalimatnya.

"Atau apa?" tantang Susanto.

"Atau aku akan menjebloskan kalian ke penjara dengan pasal pemerasan dan penipuan," ancam Tama dengan tatapan nyalangnya.

"Pemerasan? Penipuan? Kami tidak pernah tuh memeras atau menipu Kinara. Dia sendiri yang dengan sukarela mau melunasi hutang-hutang kami." Susanto masih kukuh bahwa apa yang dia lakukan tidaklah salah.

"Ohya? Bagaimana kalian memberikan penjelasan kepada pihak kepolisian soal tandatangan palsu Kinara yang kalian jadikan jaminan agar bisa menggadaikan rumahnya? Karena jelas tanpa tandatangan dari Kinara kalian tidak akan bisa menggadaikan itu." Seperti biasa, Tama tetap terlihat tenang. Meski sebenarnya dia sudah siap menerkam mangsanya.

"Bagaimana Pak Pengacara, mereka bisa diseret dengan kasus itu kan?" Tama bertanya kepada pengacaranya.

"Tentu saja Pak Tama. Kita bahkan bisa meminta ganti rugi atas semua harta Kinara yang sudah mereka gadaikan," jawab pengacara yang ikut mendampingi Tama, Hendrawan.

"Ohya, Pak Pengacara. Aku bisa menyertakan kasus eksploitasi anak dibawah umur yang mereka lakukan juga kan?" Tama kembali bertanya kepada pengacaranya.

"Eksploitasi apa?" Susantu dan Reni mulai panik.

"Kalian tidak lupa kan kalau kalian menyuruh Kinara bekerja bahkan ketika dia masih berusia dibawah 17 tahun dan kalian selalu meminta semua gajinya tanpa menyisakan sedikitpun untuk Kinara." Lagi. Tatapan nyalang Tama membuat om dan tante Kinara itu terintimidasi.

"Tentu saja bisa, Pak. Kita bisa bekerjasama dengan komnas perlindungan anak soal eksploitasi ini," jawab Handrawan.

"Apa yang harus kami lakukan agar Anda tidak melaporkan kami ke polisi?" Reni yang ketakutan memilih untuk tidak lagi melawan.

"Ternyata Anda jauh lebih pintar dibanding suami Anda," sarkas Taman.

"Ren, jangan takut. Dia hanya menggertak kita," bisik Susanto. Pria berumur 53 tahun itu masih belum mau menyerah.

"Tapi, Mas. Aku takut kalau kita beneran harus di penjara," cicit Reni.

"Ren, dia tidak punya bukti. Jadi, mana bisa dia melaporkan kita," sanggah Susanto.

"Oh... Anda meragukan kemampuanku untuk mendapatkan bukti ya?" sahut Tama. "Anda lupa? Dengan uang yang aku punya, aku bisa membeli mulut orang-orang yang pernah mempekerjakan Kinara. Aku juga bisa meminta mereka untuk bersaksi melawanmu!" Tama kembali menatap tajam Reni dan Susanto.

"Mas, sudahlah. Kita jangan melawan dia. Percuma, ujung-ujungnya kita pasti yang akan kalah," bujuk Reni.

"Baiklah, sepertinya kita memang tidak bisa melawan orang kaya itu," jawab Susanto. "Sekarang apa yang harus kami lakukan untukmu agar kamu tidak melaporkan kami ke pihak yang berwajib?"

"Pak Hendra, suruh mereka membaca surat kesepakatan yang aku minta kemarin dan suruh mereka menandatangani itu!" Tama memberikan perintahnya.

Hendrawan mengambil surat yang diminta oleh Tama dari dalam tas kerjanya dan memberikan surat itu kepada Reni dan Susanto untuk dibaca.

Dalam surat itu dijelaskan bahwa mereka (Reni dan Susanto) tidak boleh meminta apapun lagi kepada Kinara, baik itu berupa barang apalagi uang. Dan jika mereka tetap bersikeras melakukan hal tersebut, maka keduanya akan mendekam di penjara.

"Jadi... setelah kami menandatangani surat ini, kami tidak boleh meminta apa pun dari keponakan kami?" tanya Reni.

"Keponakan?" Tama mencebik. "Sejak kapan kalian menganggap Kinara sebagai keponakan? Bukankah selama ini kalian hanya menganggap dia sebagai mesin uang kalian?!"

Reni dan Susanto menunduk, keduanya tidak bisa menyangkal hal tersebut.

"Tapi, kalian tenang saja. Aku masih punya sedikit belas kasih. Jadi, kalian bisa ambil uang yang ada didalam amplop tersebut dan sisanya akan aku berikan setelah aku dan Kinara menikah."

"Hanya segini? Kamu mau menikahi Kinara dengan memberikan uang sekecil ini kepada kami? Tidak! Kami tidak akan setuju kalian menikah!" Susanto kembali menolak.

Tama menggeleng. Dia tidak menyangka, jika om dan tante Kinara lebih tamak dari yang ia bayangkan.

"Tidak masalah kalau kalian menolak. Tapi, jangan salahkan aku jika kalian malah tidak akan mendapat uang sepeserpun begitu aku melimpahkan semuanya ke polisi." Tak mau kalah, Tama kembali memberikan ancamanya.

"Mas, sudah. Terima saja. Daripada kita tidak dapat apa-apa." Reni berbisik. "Lagian uang dalam amplop itu sepertinya banyak. Dia juga sudah berjanjikan akan memberikan uang lagi setelah dia menikah dengan Nara."

"Tetap saja, Ren. Itu terlalu kecil buat orang kaya seperti dia. Harusnya dia memberikan uang kepada kita 1 milyar atau bahkan 10 milyar," jawab Susanto dengan berbisik pula.

"Tapi, kalau kita bersikeras menolak. Dia akan melaporkan kita pada polisi dan kita nggak akan dapat apa pun, Mas." Reni sudah ketakutan.

"Bagaimana? Apa kalian mau menerima atau menolak kesepakatan ini?" tanya Tama lagi.

Reni menarik-narik lengan baju suaminya agar menerima kesepakatan tersebut.

1
ms. S
mirna ini ART ga tahu diri, ngelunjak dan ga pantas buat dipertahankan mmg lbh baik dipecat daripada kita mumet mikirin dia
Jisa Ajach
luar biasa
prima yanary
Luar biasa
sari tambang
Kecewa
Anaknya Baba: coba baca novel Poppen kak, siapa tahu sesuai selera kakak.
total 1 replies
sari tambang
Buruk
Rosi Artika
Luar biasa
Misaza Sumiati
waduuuh Mirna ke ngarep banget
Dwi Nur
Luar biasa
TongTji Tea
orang aneh ...anaknya juga udah meninggal bertahun2 yang lalu.Kalo Tama tunduk sama mantan mertua ,laki2 g punya pendirian sih
TongTji Tea
seketika nyanyi lo baca namanya taki .
" taki-taki...taki-taki ...rumbaaa "...🎤🥁🪇
kiy
Luar biasa
sherly
susanto nih emang hrsnya kamu tinggalkan Ren... dah pemalas, pengangguran plus tukang utang
sherly
Bu Reni kayaknya suamimu tu lebih baik kamu tinggal aja, ngk ada gunanya sama sekali deh...
sherly
Mirna ooh Mirna. hahahhahah strategimu kurang pass .. bukannya kembali kerja malah dikembalikan ke kampung...
sherly
ujung2 nya Mirna kena tipu Ama paman dan bibi si Nara... malangnya nasibmu Mirna pengen banget jd istri Tama hadewww.... mimpinya ketinggian
sherly
tdnya tegar giliran mau dikasi duit 5 JT mulai deh gamang... dasar
sherly
hahahha Tama bisa salto salto dia diruangan HBS kena gombal si naara
sherly
hahahahaja Pepet terus Nara jgn kasi kendor tu si tama
sherly
pecat aja si Mirna...
sherly
hadew pecat aja sih simirna , kembar titip Ama nenek bintang dulu pulang kerja br dijemput.. seblm ada pangasuh yg baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!