Dinda yang berawal mengetahui jika rumah tangganya selalu baik-baik saja, ternyata salah. Kehadiran orang ketiga membuatnya harus berpisah dengan suaminya, yang bernama Dimas.
Awalnya ia rapuh, namun ketika ucapan Dimas penuh dengan penghinaan terhadap Dinda, akhirnya ia bangkit untuk mencari kehidupannya sendiri.
Dimas yang menyesal dengan perbuatannya, perlahan mendekati kembali Dinda untuk meminta maaf. Namun, adanya kehadiran seorang pria yang selalu menjadi pelindung Dinda.
Siapakah dia? Saksikan terus ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Suryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Kau bisa mengajariku?
"Bu Dinda, perkenakan nama saya Ningrum. Saya akan menemani Ibu selama disini, jika perlu apapun maka katakanlah. Dengan senang hati saya akan melayani Anda". Ucap Ningrum, wanita paruh baya yang di tetapkan untuk menjaga Dinda selama ia berada di rumah sakit.
Dinda melongo keheranan, siapa yang menyuruhnya? Kenapa harus ada yang menemaninya? Ah, sangat rumit mungkin kehidupannya.
"Siapa yang menyuruhmu? Sebenarnya saya tidak keberatan jika harus berada disini sendirian". Ucap Dinda yang memang masih kebingungan.
'Tinggal di sini juga aku bingung bayarnya, bagaimana membayar gajinya. Mungkin gak perlu di temani juga gak apa, toh banyak perawat'. Gumam Dinda dalam hati.
"Tuan Kevin menyuruh saya untuk melayani Anda, maka jangan sungkan jiga Anda menginginkan apapun, nanti saya akan melayaninya". Jawab Ningrum dengan ramah.
"Pak Kevin? Kenapa dia harus repot-repot seperti ini?" Tanyanya.
"Saya kurang tahu, mungkin bisa Anda tanyakan langsung jika nanti beliau ke sini". Jawab Ningrum.
'Siap-siap potong gaji nih.. Yang kemarin aja belum selesai, ini udah nambah lagi. Astagfirullah..' Lirihnya mengeluh sembari menggaruk kepala yang tak terasa gatal.
**
Saat malam tiba, Kevin memaksa untuk memejamkan matanya agar bisa tertidur. Namun rasa kantuk tak pernah menyapanya, yang kini ia rasakan hanyalah kecemasan.
Entah darimana datangnya perasaan itu, namun semakin ia menjauh dari Dinda, rasa cemas selalu menghantuinya berulang kali.
"Kenapa ini? Wanita itu sudah aku beri penjagaan ketat dan pelayan di kamarnya, tetapi kenapa aku selalu mengingatnya?" Ucapnya berbicara pada dirinya sendiri.
"Apa aku harus kesana? Tapi apa yang harus ku katakan setelah sampai di sana? Pasti ia akan menanyakan mengapa secara tiba-tiba aku menemuinya? Hhaahh.. Sungguh menjengkelkan". Racaunya yang terus menerus terlontarkan dari mulutnya.
Ia tak pernah menyadari hal aneh pada dirinya sendiri, ia selalu menganggapnya hal wajar antara atasan dan karyawan. Tapi rasa khawatir yang terlalu berlebihan selalu saja datang tak pandang kapan dan dimana pun.
Hingga racauan itu terdengar senyap, dan akhirnya ia tidur dengan sendirinya.
**
Jam menunjukan pukul 03.00, Dinda selalu terbiasa bangun di jam seperti ini. Ia turun dan melangkahkan kakinya menuju toilet untuk mengambil whudu.
Setelah itu, ia melakukan shalat tahajud beberapa rakaat dengan khusyu. Kebiasaanya seperti ini sudah dari sebelum ia menikah, sehingga ia tak perlu di bangunkan oleh alarm lagi karena sudah terbiasa.
Selesai dengan shalat tahajudnya, ia mengangkatkan tangan dan beberapa do'a telah ia ucapkan. Kemudian diteruskan dengan melantunkan ayat suci Al-Qur'an.
Suaranya yang merdu, membuat Ningrum yang masih tidur terbangun dan tertegun mendengar lantunan tersebut. Sampai-sampai matanya masih menutup, namun pendengarannya fokus terhadap suara merdu Dinda.
'Kalau seperti ini aku bisa betah lama-lama tinggal sama bu Dinda'. Gumamnya dalam hati, namun matanya masih terpejam.
**
Seseorang dari balik pintu ruangan Dinda hanya bisa mematung, suara lantunan Dinda membacakan ayat suci Al-Qur'an menggetarkan hatinya.
"Kenapa mendengarnya membaca sesuatu, tanganku sampai gemetar seperti ini? Apa yang dia baca?" Gumam Kevin yang masih berdiri di depan pintu dan tak berani masuk ke dalam.
Lantunan tersebut cukup lama terdengar, hingga kini tak terdengar lagi olehnya. Ia pun beranjak masuk, ingin menuntaskan perasaan hatinya yang semalaman mengingat Dinda. Sampai Kevin rela bangun sepagi ini, untuk memastikan keadaanya saat ini.
Setelah pintu terbuka, Kevin melihat Dinda yang tengah menunaikan shalat subuh. Ia menyernyitkan dahi, terlihat heran.
Ia pun berjalan menuju Ningrum yang terlihat masih tertidur, lalu membangunkannya dengan menepuk-nepuk pundaknya.
"Bi.. Hei, bangun.." Ucap kevin.
"Ahh.. Iya, Tuan. Ada apa?" Tanya Ningrum yang terperanjat begitu bangun tidur, Kevinlah yang berdiri di hadapannya.
"Wanita itu sedang ngapain? Kenapa dia melakukan hal tersebut?" Tanya Kevin yang kebingungan melihat Dinda.
"Oh, Bu Dinda sedang melaksanakan shalat, itu merupakan ibadahnya umat islam". Jelas Ningrum sambil tersenyum.
Kevin hanya merespon dengan anggukan, ia terus memandangi Dinda. Ia merasa tenang saat melihat shalat, seperti beban berat yang sedang ia pikul perlahan berkurang. Kevin pun setia menunggu Dinda, sampai Dinda selesai melaksanakan shalatnya.
**
"Pak Kevin.. Sejak kapan Anda berada di sini?" Tanya Dinda terkejut melihat keberadaan Kevin yang tiba-tiba ada di ruangannya, apalagi hari masih terlalu pagi.
"Saya baru saja sampai, bagaimana keadaanmu?" Tanya Kevin.
"Alhamdulillah, saya sudah baikan. Mungkin hari ini saya pulang". Jawab Dinda.
Keheningan pun melanda ruangan tersebut, rasa penasaran Kevin terhadap apa yang dilantunkan Dinda. Ingin ia tanyakan, namun mulutnya terasa berat untuk menanyakannya.
Canggung dengan keadaan hening seperti ini, Dinda pun melanjutkan membaca ayat suci Al-Qur'an kembali, tanpa bersuara.
"Dinda.." Sapa Kevin.
"Iya, Pak!" Jawabnya dengan segera menutup Al-Qur'an.
"A-apa yang kamu baca?" Tanya Kevin.
"Maksud bapak, Al-Qur'an ini?" Tanya balik Dinda yang di balas anggukan oleh Kevin.
"Ini kitab umat islam, yang bernama Al-Qur'an. Dengan membacanya hati kita akan terasa tenang. Banyak pahala yang akan kita dapat, untuk menuju surganya Allah". Jelas Dinda.
"Kau bisa mengajariku?" Pinta Kevin.
Sekejap Dinda terbelalak mendengar ucapan Kevin, ia merasa bingung. Kenapa ia ingin Dinda mengajarinya? Sedangkan di luar sana banyak orang lain yang lebih pantas mengajarinya, di bandingkan dengan Dinda.
"Kenapa Anda ingin saya mengajarkan Anda tentang ini?" Tanya Dinda.
"Jujur, saya penganut agama islam. Namun dari kecil, saya tidak di ajarkan seperti yang kamu lakukan tadi. Ayah dan Ibu saya selama ini sibuk di luar negeri. Apa kamu bersedia mengajarkan saya?" Pintanya dengan sedikit memancarkan wajah yang agak sedih.
"Baiklah, saya akan mengajari Anda". Jawab Dinda dengan tersenyum.
"Pasti kamu sangat bersedia untuk itu, saya sudah menebaknya. Karena saya memang pria tampan yang banyak wanita tak akan menolak permintaan saya. Termasuk kamu". Ujarnya dengan mengusap-usap rambutnya.
"Terserah Pak Kevin saja". Ucap Dinda yang memutar bolanya merasa malas.
'Cih, dia itu memang menyebalkan. Tadinya haru malah jadi pilu dengernya'. Gumamnya dalam hati.
"Kenapa raut wajahmu jadi muram seperti itu? Tenang saja, untuk itu saya akan rajin belajarnya. Saya memang pria pintar, jangan ragukan kemampuan saya". Ucapnya dengan tersenyum dan merasa bangga terhadap dirinya sendiri.
'Sabarkan aku Ya Allah, dari godaan pria yang terkutuk ini. Astagfirullah..' Keluh Dinda dalam hati, sambil mengusap dadanya.
**
Sinar mataharipun semakin memancarkan keceriaanya, namun tidak bagi Dimas. Setelah sidang perceraiannya kemarin, ia terlihat lebih murung dari biasanya.
"Gadis sia*an itu kenapa malah memaksa masuk kedalam pikiranku? Kenapa tak henti-hentinya ia mengganggu pikiranku?" Geramnya.
Mengingat persidangan kemarin, membuatnya semakin terasa sesak. Apa Dimas menyesal telah berpisah dengan Dinda?
Suara ponsel terdengar, dengan cepat ia mengambilnya. Terlihat dari layar tersebut, bertuliskan 'Lidya'. Ia pun menekan tombol warna hijau.
"Ada apa?" Tanya Dimas dengan agak ketus.
"Sayang, kita sarapan di luar yuk? Aku udah siap nih, kamu jemput aku ya?" Ucap Lidya.
"Maaf, lain kali aja ya? Aku udah sarapan barusan, kamu sendiri aja dulu sarapannya". Jawab Dimas bernadakan malas.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini ko seperti berubah? Apa jal*ng itu mengganggumu kembali, saat pertemuan kalian kemarin?" Tebaknya dengan mengepalkan tangannya, menahan emosi.
"Enggak, mungkin aku sedikit lelah akhir-akhir ini, sudah dulu ya. Nanti aku telpon kamu lagi". Ucapnya dengan mematikan sambungan telpon, tanpa menunggu persertujuan terlebih dulu dengan Lidya.
"Ta-tapi.. Sayang.. Hallo.. Iihh.. Kenapa kamu matiin sih?"
Kesal dengan sikap Dimas, Lidya pun membantingkan ponselnya ke atas kasur. Ia geram dan merasakan penasaran dengan perubahan sikap Dimas akhir-akhir ini.
"Jika memang ini ada sangkutannya dengan wanita itu, aku gak akan segan-segan untuk membuat perhitungan terhadapnya". Geram Lidya.
good dinda