WARNING!!!
Bisa menyebabkan kram pipi!
Bagaimana jadinya jika di dalam Rumah tangga hanya ada sebuah pura-pura untuk mengelabuhi kedua orangtuanya. Padahal masing-masing diantaranya masih menjalin hubungan dengan pasangannya.
Matcha Aurora seorang sekretaris dari Milo Anggara harus terjebak dalam sebuah pernikahan pura-pura demi menolong bosnya yang sangat dia hormati. Sayangnya setelah pernikahan itu berlangsung hari-hari Matcha semakin rumit ditambah lagi dengan perasaan yang dia sadari jika dirinya telah jatuh cinta kepada bosnya. Disisi lain Milo tak bisa meninggalkan kekasihnya.
Apakah Matcha harus menimbun dalam-dalam perasaannya atau dia harus memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Lii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epsd 14. Hanya gara-gara warisan
Diruang kerja Milo, Matcha terus saja menolak ajakan Milo menikah dengannya.
"Bagaimana bisa bapak melakukan ini? saya kan belum mengatakan iya, kenapa bapak pake mutusin segala kalau saya setuju," Mathca atau yang sering dipanggil Acha ini protes saat bosnya mengatakan akan menikah dengannya.
"Berisik banget sih lu! gue bosnya, jadi terserah gue dong mau mutusin kek gimana." Sahut Milo kepala direksi perusahaan bidang marketing ekspor import Anggara Group.
"Elu tuh cuma ngejalanin perjanjian kita. Ga usah banyak ceng-cong, mau gue cabut perjanjian kita!" Ancam Milo.
'Hisss... Lama-lama aku keluarin juga jurus seribu khayalan, eh seribu kahyangan.' Batin Matcha sangat kesal.
"Kalau gue kagak nikah sama elu, kakek gak bakal kasih warisannya ke gue. Karena cuma elu saat ini kesayangan kakek." Ucap Milo seenaknya.
'WHAT? yang aku dengar hanya untuk warisan? keterlaluan, aku gak bisa diginiin!' Batin Matcha tak terima.
"Maaf Pak bos sombong yang terhormat, alasan anda menjadikan saya sebagai jembatan warisan sungguh tidak etis sama sekali. Bahkan ini terkesan sangat merendahkan saya, meskipun saya begini saya bisa mendapatkan pria baik-baik yang bisa mencintai saya dengan tulus bukan sekedar warisan." Sahut Matcha sengaja menyindir Milo.
"Lu ngatain gue gak baik?" Milo langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Matcha. Tatapan mata yang tajam itu menghunus langsung ke mata Matcha sehingga membuat Matcha mengedipkan matanya seperdetik kemudian.
"Gak kok... saya gak ngatain bapak, tapi kalau bapak sendiri ngerasa ya baguslah...," sahut Matcha.
Milo sudah bersiap menerkam Matcha hidup-hidup. Kali ini, dia tak bisa menahan emosinya. Milo mengejar Matcha dengan umpatan kesalnya.
"Dasar anak gak tau diri! lu tu udah gue angkat dari kemiskinan malah berani sama gue...," umpat kesal Milo sambil mengejar Matcha.
"Ye... siapa juga yang mau diangkat oleh bapak, kan saya juga gak mau saat itu. Bapak aja yang maksa," cibir Matcha mengingatkan Milo saat pertama mereka bertemu.
"Isssshhh! pokoknya elu kudu mau nikah sama gue, gak ada penolakan. TITIK!" Ucap Milo terakhir lalu keruang ruangan sambil membanting pintu.
Matcha memejamkan mata, akhirnya tangis yang selama ini dia tahan keluar juga. Sakit rasanya menjadi wanita yang tak dihargai sama sekali.
"Papa... maafkan Matcha karena belum bisa menemukan cinta sejati Matcha," ucap Matcha dengan lirih.
Tiar yang tak sengaja melihat ikut merasakan sedih, apalagi dirinya menyadari jika menyimpan rasa untuk Matcha. Hanya saja Tiar belum sadar akan perasaan sebenarnya.
"Cha... lu disini rupanya... gue cari-cari ternyata diruangan Milo. Kalian sedang merencanakan pesta pernikahan yang konsepnya outdoor atau indoor nih?" Ucap Tiar mencoba menghibur Matcha.
Tanpa balasan, Matcha langsung berhambur ke dada bidang Tiar. Matcha menangis terisak meluapkan isi hatinya. Tiar sendiri paham dengan apa yang dirasakan Matcha, bagaimana bisa suatu hubungan pernikahan tanpa dilandasi dengan cinta. Sedang Tiar tau jika Milo masih mencintai Lisa.
Melihat dan mendengar isak tangis Matcha, ingin sekali Tiar memeluknya. Tapi enggan dia lakukan. Tiar masih menahan tangannya agar tak memeluk Matcha.
"Menangislah sepuas elu Cha... luapkan rasa kesal dan sedih elu, gue bisa ngerti bagaimana perasaan elu." Ucap Tiar.
**
"Apa pa? papa gak bercanda kan?" tanya mama Rika.
"Papa serius ma... Milo anak kita sudah menemukan calon istri. Mama mau tau siapa calon istri yang dimaksud?" balik tanya papa Angga.
"Memangnya siapa pa?" tanya mama Rika penasaran.
"Kau pasti tak akan menduganya Rika, karena cucuku Milo akan menikah dengan Matcha." Jawab kakek Hermawan.
"Kalian berdua tidak sedang menge-prankku kan?!" Mama Rika masih tak percaya.
"Rika, kau segera cari wedding organizer terkenal di negara ini. Aku mau pesta pernikahan cucuku dirayakan dengan sangat meriah." Pinta kakek Hermawan.
"Baik pa... Rika akan mencari wedding organizer terbaik untuk anakku Milo...," sahut mama Rika dengan bahagia.
**
"Sayang... akhirnya kau menemuiku. Kau tau aku tak bisa tenang selepas kejadian tadi pagi. Maafkan aku karena sudah berbuat kasar." Ucap Lisa terlihat bahagia karena Milo mengajaknya ketemuan.
"Lisa, ada yang ingin aku bicarakan."
"Apa itu?" tanya Lisa.
"Sebelumnya aku minta maaf karena tak membicarakan ini sebelumnya denganmu, tapi percayalah aku masih mencintaimu meski sesuatu tak sesuai harapan kita." Jawab Milo.
"Milo... apa yang kau ucapkan? aku sama sekali tak mengerti." Sahut Lisa.
"Aku dan wanita itu akan menikah." Ucap Milo pada akhirnya.
Terlihat mata Lisa berkaca-kaca. Kemarin yang sebelumnya menggenggam terlepas begitu saja.
"Kau bercanda Milo, ini tak mungkin. Kita sudah sepakat untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Katakan kalau ini bercanda Milo... hiks... hiks...,"
"Lisa maafkan aku, aku terpaksa melakukannya karena batas waktuku mencari istri sudah habis. Aku terpaksa memilih dia." Sahut Milo menjelaskan.
"Tapi kenapa harus dia Milo... seharusnya kau tau kalau aku tak pernah suka dengan wanita itu!" Suara Lisa meninggi dia tak terima Milo memilih Matcha menjadi istrinya.
"Lisa... Lisa...," Milo langsung meraih tubuh Lisa kedalam pelukannya.
"Kau jahat Milo...! kau jahat! hiks... hiks..."
"Maafkan aku, tapi percayalah aku tak akan pernah mencintainya. Karena cintaku hanya untukmu seorang." Ucap Milo berusaha menenangkan Lisa.
**
"Udah dong meweknya, muka lu jelek mirip kodok kebelet kawin!" Ucap Tiar berusaha menghibur Matcha.
"Kemarin bebek kebelet kawin sekarang gantian kodok kebelet kawin, sebenarnya yang kebelet kawin itu mereka atau bapak sih? dari kemarin ngomongin mereka kawin mulu...," sahut Matcha berhasil teralih dengan candaan Tiar.
Jelas saja Tiar tertawa terbahak-bahak.
"Lu itu gemesin banget sih Cha...," Tiar bahkan tak sengaja mencubit pipi chubby Matcha.
"Ih... bapak nih sakit tau pipiku, kalau kempes gimana coba...," sahut Matcha mengelus pipinya.
"Cha... lu gak mau gitu ngajakin gue piknik," Lagi-lagi Tiar memancing Matcha lagi.
"Aduh pak... kepalaku ini sudah pusing, kenapa bapak malah minta ngajakin piknik...," sahut Matcha.
"Kan elu bentar lagi mau married tuh sama si susu kesehatan, partner kerja gue pasti hilang. Gak mungkin kan elu bekerja lagi," keluh Tiar.
"Eh siapa bilang aku gak kerja lagi? meski nanti aku menikah, aku akan tetap bekerja. Aku harus menjadi wanita mandiri pak, kalau suatu hari nanti suami nyuruh aku keluar dari rumahnya, setidaknya aku masih bisa tabungan buat kelanjutan hidupku kedepan." Ucap Matcha dengan mantap.
"Lu yakin, Milo bakal ngijinin elu kerja setelah married?" tanya Tiar.
"Harus ijinin lah pak, toh pak bos menikah itu supaya dia gak dicoret dari ahli waris. Oups!" Jawab Matcha keceplosan. Terlihat dia ketakutan setelah mengungkapkan yang sebenarnya.
"Cha... elu gak perlu takut ya, gue bakal selalu ada buat elu," ucap Tiar.
...----------------...
Selamat malam minggu kakak semua... Sambil menunggu bab selanjutnya mampir juga ke karya temanku ya...