Tak ada yang menyangka jika orang yang dianggap musuh ternyata orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam hidupnya.
Walau banyak sekali rintangan untuk mengucap janji suci. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak rintangan seberat apapun tidak akan mengalahkan tekadnya.
Gama Alexander berubah menjadi posesif ketika sudah menjadi suami Elata. Tegas dan mempunyai karismatik yang menawan. Sehingga tak banyak yang kagum pada sesosok pengusaha muda tersebut.
Elata wanita yang dari dulu sangat dicintai dan diinginkan Gama. Siapa yang tidak kenal dengan wanita jutek itu. Tapi, setelah menikah dengan Gama, Elata berubah menjadi sosok yang ramah. Berbeda jika pada saat dengan Gama, wanita cantik itu akan berubah 180 derajat. Tingkah absurdnya akan kembali.
Apakah Gama dan Elata akan tetap bertahan dengan pernikahannya seperti waktu mereka pacaran dulu dengan cobaan yang akan datang menimpa pernikahan mereka. Ataukah akan sebaliknya?
Simak di MEIML
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburukah ?
Tamu undangan mulai berdatangan satu persatu. Mereka yang sudah datang mulai mengisi buku tamu yang di sediakan di depan taman rumah Ariska.
Pesta yang mewah. Para tamu mengedarkan pandangan ke setiap sudut taman yang di dekorasi. Waw... Semua mata terpana akan dekorasi yang sangat indah.
"Ris, teman-teman mu sudah datang semua?" Mama Ariska bertanya pada sang putri karna acara tak kunjung di mulai.
"Bentar ya, Ma. Aris lagi nunggu teman special Aris dulu" Jawabnya gadis yang sedang berulang tahun itu menunggu di depan meja yang menyediakan buku tamu.
Rara yang di samping Ariska, memicingkan matanya. Seakan bertanya. Siapa teman special yang di maksud Ariska?
Mama Ariska mengangguk dan berlalu kembali ke taman. Menemani rekan-rekan kerja Papanya yang turut hadir karna di undang sang Papa.
"Siapa yang loe maksud teman special loe, Ris?" Tanya Rara penasaran
Tak lama dua mobil terparkir di depan taman rumah Ariska. Elata keluar dari mobil Marsel. Begitu juga Flora dan Cindy menyusul.
Apa Marsel yang di sebut Ariska sebagai teman specialnya? Gumam Rara dalam hati
"Hai Ris, happy birthday, ya" Elata menyalami Ariska dan memberikan hadiah yang ia bawa di tangannya. Begitu juga Flora dan Cindy melakukan hal yang sama.
"Thank's"
"Cel, loe cocok sama Elata" Ariska tersenyum penuh arti pada Marcel" kalian nikmati ya pestanya!" Ariska mempersilahkan tamunya masuk ke taman sebagai tempat pesta ulang tahunnya.
Rara tak suka melihat kehadiran Elata. Di tambah Ariska yang so akrab dengan Elata. Rara hanya menatap Elata sinis. Yang di tatap cuek bebek saja, tak peduli dengan Rara yang tak menyukainya. Elata, Marsel dan ke dua temannya masuk setelah di persilahkan.
"Ris, teman special loe 'kan udah datang. Loe nunggu siapa lagi?" Rara masih menyangka Marcel lah teman special yang di maksud Ariska.
"Dua menit, lagi. Nanti loe juga bakalan tau siapa yang gue maksud"
Dan tak lama mobil berhenti di tempat yang di sediakan untuk parkir. Dua pemuda tampan turun dari mobil itu. Ariska tersenyum senang dan langsung menyambutnya. Rara diam terheran-heran.
"Hai.." Ariska menyambut Abram dan Gama
"Langsung masuk aja ya! Gak usah pake daftar hadir"
Abram dan Gama mengiyakan. Dan langsung masuk. Ariska mengikutinya di belakang. Tiba-tiba tangannya di cekal Rara.
"Maksud loe, Abram teman yang loe specialkan?" Rara masih penasaran
"Bukan"
"Terus?"
"GAMA" Ariska menekan kata nama yang ia sebutkan. Senyum di wajahnya yang tak dapat di artikan Rara.
"Maksud, loe?"
Nih anak gak ngerti juga apa yang di maksud Ariska.
Ariska berlalu tanpa menjawab lagi. Kemudian Rara juga menyusul di belakangnya.
Baiklah nanti akan Rara tanyakan apa maksud omongan Ariska yang menyebutkan Gama sebagai teman specialnya.
****
"El, Gama tuh" Cindy berbisik pada Elata, mengarahkan pandangannya ke arah Gama. Elata kemudian mengikuti arah mata Cindy.
"Terus?"
"Loe lihat deh gunung es loe itu. Keren!" Cindy mengacungkan dua jempolnya.
"Biasa aja: Elata hanya cuek melihat penampilan Gama yang memang tak biasa. Walau hatinya mengagumi penampilan dan ketampanan Gama. Tapi gengsi dong kalau Elata harus mengakatakan 'iya Gama ganteng' Bisa turun derajatnya Elata kalau sampe mengatakan itu.
Seperti itulah penampilan Gama. Gama memang tak suka dengan penampilan formal. Jadi ia hanya mengenakan pakaian non formal saja ke acara pesta Ariska.
"Ris, mulai aja ya acaranya!"
"Iya, Ma"
Semua tamu berkumpul untuk memulai acaranya.
Nyanyian selamat ulang tahun dan potong kue sudah biasa di lakukan di acara tersebut. Terlalu ke kanakan memang. Tapi setiap tanggal kelahiran slalu ingin di ingat dan slalu ingin di kenang setiap saat. Begitulah mereka yang slalu menginginkan kejutan di hari kelahirannya.
Tetapi berbeda dengan Elata. Gadis yang satu ini tidak suka dengan acara ulang tahun. Menurutnya seperti anak TK saja. Gadis itu hanya mengikuti setiap acara yang akan di langsungkan dengan wajah yang penuh dengan kebetean. Dia bosan. Sangat bosan.
Mending gue tidur di rumah, dari pada harus ngikuti acara kek bocah TK ini. Begitu pikirnya. Dia terlalu malas kalau saja Flora tak memaksanya.
Ariskan menyuapi orang tuanya setelah nyanyian itu selesai. Dan tiba-tiba di suapan ke tiganya, Ariska melangkah ke depan Gama.
What? Rara merasa di bohongi oleh temannya sendiri. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya. Dia ingin marah. Wajahnya memerah. Tapi tak bisa Rara lakukan, karna itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri.
Elata hanya memandangnya dengan mata penuh penekanan. Elata tak suka. Kenapa Elata merasa perasaannya aneh jika harus melihat Ariska melangkahkan kakinya untuk memberikan kue pada Gama.
"Gam, makasih ya loe udah mau datang ke acara ulang tahun gue" Ariska menyodorkan kue yang ia bawa. Tersenyum senang karna gadis itu bisa melakukannya. Ariska sudah tak peduli lagi dengan Rara yang ia tau Rara sangat menyukai Gama. Tapi bagaimana lagi, nyatanya Ariska juga ingin Gama menjadi miliknya.
"Thank's " Gama menerima kue itu dengan ragu. Matanya sekilas melirik ke arah Elata yang tengah menekuk wajahnya. Kok Gama tiba-tiba jadi merasa bersalah.
"Ya sudah, loe makan kuenya!"
Gama hanya mengangguk. Tentu saja Gama tidak memakan kue itu. Ia malah memberikannya pada Askan. Yang di kasih mah mau aja. Jarang-jarang Askan makan kue kaya gitu.
****
Acara demi acara berlangsung dengan baik.
Ariska menyuruh MC untuk mengumumkan acara selanjutnya.
Dimana acara itu Ariska mengundang Gama dan teman-temannya untuk perfomance.
Gama dan yang lainnya mulai dengan penampilan mereka. Gama mengcover lagu 'Bertahan ' milik five minutes.
Ariska merasa di ulang tahunnya yang sekarang sangat bahagia. Wajahnya selalu menampilkan senyuman. Dia berdiri paling depan.
Semua orang sangat menikmati perfomance yang Gama suguhkan.
****
Ketika Ariskan sedang menikmati penampilan Gama. Tiba-tiba Rara menarik tangannya dengan paksa.
"Apa-apaan sih, loe?" Ariska tak suka cara Rara yang menarik tangannya pergi menjauh dari kerumuyan.
Plak
Ariska mengusap pipinya yang sakit akibat tamparan Rara.
"Loe yang apa-apaan?" Teriak Rara. Gadis itu sudah geram. Ia sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya.
Ariska tersenyum sinis.
"Kenapa? Loe gak suka gue deket sama Gama?" Gadis itu Melipatkan tangannya di dada. Ia sudah mulai menunjukan sipat aslinya pada Rara.
"Dasar pengkhianat!" Ucapnya tajam. Telunjuknya mengarah ke wajah Ariska
"Terus kalau gue pengkhianat, loe mau apa?" Jawabnya tanpa dosa
Ingin sekali Rara mencabik mulut Ariska. Tapi tak ia lakukan. gadis itu hanya mengepalkan ke dua tangannya. Kemudian pergi dari hadapan Ariska. Tak ada gunanya untuk saat ini dia mencari masalah di kandang macan. Yang ada dia sendiri yang akan di makan macan.
Tanpa mereka sadari di sisi pintu lain Andra melihat Rara dan Ariska. Saat itu perfomancenya sudah selesai dan Andra pergi ke toilet.
****
"Loe, mau gak dansa sama gue?" Ini bukan seperti bertanya, tapi seperti sebuah ajakan.
"Gue gak bisa dansa, Ris" Tolak Gama secara halus
"Ayolah. Gak baik loh nolak gadis yang sedang berulang tahun!" Lah... Kok si Ariska jadi maksa gini. Gama tak suka di paksa "kan?
Ariska menarik tangan Gama secara paksa ke tengah-tengah kerumuyan orang. Gama merasa malu. Kenapa pemuda itu gak nolak coba?
Disini Gama merasa bukan dirinya. Jika di sekolah Gama bisa seenaknya. Tak peduli orang itu mau maksa atau apapun. Yang pasti jika Gama tak suka maka tak akan ia lakukan. Disini Gama merasa tak enak. Karna orang tua Ariska.
Memangnya kenapa dengan orang tua Ariska?
Ya Gama hanya menghargai orang tua Ariska. Itu saja. Gak mungkin dong Gama marah-marah di depan Ariska karna memaksanya untuk dansa? ntar yang ada dia bisa di cincang sama orang tuanya karna memperlakukan anaknya dengan tak baik. Bahaya kan reputasi seorang Gama.
Dengan terpaksa Gama berdansa dengan gadis yang mengajaknya.
Elata marah. Matanya menatap Gama tajam. Ke dua tangannya ia kepalkan, sampai buku- kukunya memutih.
Cemburukah?
Gak mungkin Elata cemburu pada Gama. Memangnya dia siapa? Pantaskah jika Elata cemburu dengan statusnya yang hanya sebagai teman kecil Gama?
Elata membalikkan tubuhnya. Gadis itu hendak berlalu. Matanya mulai merasa perih karna menahan tetesan kristal bening yang hendak terjatuh ke pipinya. Saat Elata akan melangkah, tangan seseorang menahannya.
"Loe mau kemana, El?" Ternyata Marsel yang menahan tangannya.
"Gue udah mulai bosan, gue mau balik aja" Jawabnya datar
"Gimana kalau kita juga dansa? Biar loe gak bosan" Ajaknya Marsel. Ingin sekali Elata menolak, tapi Marsel menarik tangan Elata. Hingga kini dua pasangan sedang berdansa. Seperti pasangan sungguhan saja.
Marsel menyunggingkan senyumnya pada Elata. Kali ini Marsel merasa menang. Begitu juga dengan Ariska. Senyum penuh arti dari ke duanya di tampilkan di wajah mereka.
Tidak dengan Gama begitu juga Elata. Mereka merasa canggung. Elata hanya menundukan kepalanya. Dan Gama, pemuda itu memandang Elata dengan wajah yang tak dapat di baca.
Saat Gama melihat tangan Marsel mulai menyentuh pinggang Elata. Gama merasa marah. Kenapa Gama marah? Bukannya Gama juga memegang pinggang Ariska? Kenapa harus marah? Bukannya berdansa memang seperti itu. Tangan prianya berada di pinggang wanita?
Gama berlalu begitu saja. Meninggalkan Ariska yang heran. Gama merasa ini tidaklah benar. Apa Gama juga cemburu pada Elata? Tapi siapakah dia? Dia hanya teman yang selalu di anggap musuh oleh Elata.
"Gam, loe mau kemana?" Abram, Askan dan Andra menyusul Gama. Mereka tau jika prasaan Gama sedang tak baik.
"Gue mau balik"
"Ya sudah. Gue antar, loe!" Tawar Abram, yang tadi berangkat dengan Gama. Lagian Gama mau pulang pake apa? Ia kan gak bawa kendaraan. Mau pulang jalan kaki Bang? Atau naik becak? Kalau ada becaknya, kalau gak ada gimana coba?
Gama mengiyakan tawaran Abram. Kemudian berlalu meninggalkan Andra dan Askan.
"Loe juga mau balik?" Tanya Andra pada karibnya yang abstrak itu
"Gue mau nungguin Flora dulu "
"Ngapain?" Andra penasaran
"Kepo banget dah, loe" Jawab Askan tanpa dosa.
Ya, Askan ingin mendekati Flora. Pemuda itu kan sudah kecantol sama cewek yang menurut dia tuh unik.
Akhirnya Andra pergi dengan mobilnya sendiri tanpa yang menemani.
Setelah Elata melihat Gama pergi dari dansanya. Tak lama gadis itu juga pergi dari Marsel. Prasaannya kini sedang amburadul kaya kapas yang tetiup angin. Berterbangan kemana-mana.
****
Di mobil Abram. Gama hanya berdiam tak bersuara. Abram yang melihatnya jadi heran.
"Loe cemburu?" Tanya Abram tho the poin. Matanya sesekali melirik Gama, kemudian kembali ke arah depan.
Gama hanya diam tak menjawab. Matanya terpejam
"Gam..."
Masih terdiam
"Gam, Woyyy..." Abram sedikit berteriak
"Berisik"
"Loe kenapa sih? loe cemburu lihat Elata dansa sama Marsel?" Tanyanya Abram lagi.
Gama masih tak menjawab. Matanya tetap terpejam. Tangannya ia lipatkan di atas dada.
Ya sudahlah Abram menyerah, tak mau bertanya lagi. Dia kan tau sahabatnya yang satu ini. Pelit ngomong.. Kayanya harus di kasih bon cabe biar mulutnya gak diem terus.
****
TBC
Jangan lupa jempolnya para reader's !!!
kasih vote nya juga ya. Biar authornya semangat..
Udah pada fallow iG author belum nih?
Kalau belum segera fallow ya!!
Maacihhhh 😘😘😘😘😘