Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.
Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.
Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"
Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!
!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Interogasi Larut Malam
Saat Valeria Francesca terbangun dari tidurnya, matahari sudah bertengger tinggi di langit. Baru saja ia melangkah turun ke lantai bawah dengan rambut acak-acakan khas orang baru bangun tidur untuk mengambil segelas air hangat, ia menerima sebuah pesan WhatsApp dari Meisya yang mengajaknya bermain mahjong hari ini.
Valeria menghela napas pendek. "Hari ini absen dulu ya."
Di seberang sana, Jovanka ikut menimpali, "Loh, bukannya beberapa hari lalu kamu sendiri yang merengek minta dibantu mengusir bosan? Kenapa mendadak berubah pikiran?"
Valeria sudah telanjur berjanji pada Alessandro Dirgantara bahwa ia tidak akan bermain mahjong untuk sementara waktu. Jika ia nekat kabur keluar rumah lagi, pria itu bisa mengira dirinya sengaja menghindar. Padahal, kenyataannya ia memang sempat sengaja menghindarinya selama beberapa hari belakangan.
Valeria mengetik balasan, "Belakangan ini aku terlalu sering menghabiskan waktu bersama kalian, Alessandro sampai agak kurang senang."
Jovanka melempar emoji senyum penuh arti. "Wah, sudah baikan ya sama Pak CEO Alessandro?"
Valeria terbatuk kecil dengan perasaan bersalah. "Siapa juga yang sedang bertengkar?"
Jovanka tersenyam jahil namun memilih tidak membongkar kedok sahabatnya. "Iya deh, iya, aku tahu kamu dan Alessandro lagi mesra-mesranya. Manfaatkan beberapa hari ini untuk memupuk hubungan kalian. Oh ya, bukankah tempo hari aku prinsipnya mau mengirimkan sesuatu yang bagus untuk belajar? Nanti akan kukirimkan ya."
Valeria penasaran. "Hal bagus apa?"
Jovanka berlagak misterius. "Nanti juga kamu tahu sendiri."
Melihat Jovanka bertingkah sok rahasia, rasa penasaran Valeria pun terusik. Namun seberapa pun ia mendesak, Jovanka tetap bungkam. Mau tidak mau ia harus sabar menunggu dokumen itu dikirimkan.
Karena sudah berjanji pada Alessandro untuk tidak bermain mahjong, ia menghabiskan waktu dengan merangkai bunga di rumah untuk mengusir jenuh. Di luar dugaan, hobi baru ini ternyata cukup menyenangkan. Ia mendengarkan musik sambil memotong dan menata bunga, tanpa terasa waktu sudah bergulir malam.
Begitu Alessandro kembali, ia mendapati Valeria sedang berjongkok di depan meja kopi ruang tamu, menundukkan kepalanya sambil merapikan tangkai mawar dan bersenandung kecil dengan riang. Dengan seulas senyuman manis yang tersungging di bibirnya, penampilannya benar-benar seperti orang yang sepenuhnya berbeda jika dibandingkan dengan wanita sombong dan ketus di masa lalu.
Gema langkah kaki di belakangnya tidaklah pelan. Valeria bahkan tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk tahu bahwa itu adalah Alessandro. Tanpa menoleh, ia menyapa, "Kamu sudah pulang?"
Namun setelah keheningan yang cukup lama, mutlak tidak ada sepatah kata pun jawaban dari arah belakangnya. Dilanda kebingungan, Valeria memutar tubuhnya dan melihat Alessandro sedang berdiri kaku di dekat pintu masuk. Pandangan mata hitamnya yang dalam terkunci lurus ke arahnya, memancarkan seberkas ekspresi rumit yang sulit diartikan.
Valeria mengerjapkan matanya bingung. "Kenapa diam saja?"
Alessandro hanya terus menatapnya tajam, seolah ingin melubangi raga wanita itu menggunakan pandangan matanya. Kenapa pria ini bertingkah sangat aneh hari ini?
Valeria meletakkan gunting bunganya lalu bertanya hati-hati, "Apa kamu merasa kurang sehat?"
Alessandro akhirnya membuka suara, namun rentetan kalimat berikutnya seketika sukses membuat Valeria syok setengah mati.
"Soal Surat Laporan Pemeriksaan Medis kamu hari itu... apakah perkaranya memang sesederhana salah ambil dokumen?"
Jantung Valeria seketika langsung mencelos jatuh ke dasar lambung. Kenapa Alessandro mendadak menanyakan masalah yang sudah berlalu cukup lama?
Ia memaksakan otot wajahnya agar tetap tenang. "Kenapa mendadak menanyakan hal itu?"
Tatapan tajam Alessandro mengunci netra matanya. "Bukan sekadar salah ambil dokumen, kan?"
Keringat dingin seketika membanjiri seluruh permukaan punggung Valeria. Apakah Alessandro diam-diam pergi memeriksa riwayat rekam medisnya ke rumah sakit? Namun begitu pemikiran buruk itu muncul, ia segera menepisnya jauh-jauh. Jika Alessandro tahu dirinya sedang hamil, pria itu dipastikan tidak akan bisa bersikap setenang ini. Setidaknya, ia tidak akan meluncurkan kalimat interogasi tipis seperti sekarang.
Mengandalkan sisa harapan yang ada, Valeria kembali berpura-pura bodoh. "Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku sama sekali tidak paham."
Alessandro menatapnya lekat dalam keheningan. "Apa kamu tidak merasa kalau tabiatmu belakangan ini terasa sangat aneh?"
Valeria beneran panik total. Benar saja, ketajaman insting Alessandro akhirnya mulai mengendus kejanggalan.
Valeria memaksakan seulas senyuman kaku yang terlihat teramat dipaksakan. "Masak sih?"
Alessandro menatap lurus tepat di sela matanya, memancarkan raut wajah yang dengan jelas menegaskan kata 'ya'. Tekanan aura intimidasi di sekeliling ruangan terasa begitu pekat hingga Valeria merasa kesulitan untuk mengembuskan napas secara normal. Jika ia tidak segera menemukan sebaris alasan logis untuk mengelabui pria pintar ini, Alessandro dipastikan akan turun tangan langsung untuk menyelidikinya sendiri.
Ia memejamkan sepasang matanya erat-erat, memasang gestur tubuh pasrah seolah-olah telah menyerah kalah. Nada suaranya berubah menjadi sarat akan kepasrahan batin. "Baiklah, aku mengaku. Hari itu aku memang sudah berbohong padamu."
Sepasang alis tegas Alessandro tampak bergerak berkedut samar. "Berbohong soal apa?"
Sepasang bola mata Valeria bergerak gelisah ke segala arah, tidak berani beradu pandang langsung dengan sang pria. Memori otaknya dipaksa memeras kreativitas secepat kilat murni untuk merangkai sebaris kebohongan darurat di tempat. "Sebenarnya... hari itu aku divonis menderita penyakit tumor."
Mendengar vonis penyakit mengerikan tersebut, seberkas riak emosi kekhawatiran akhirnya resmi mendobrak ketenangan di dalam sepasang manik mata hitam Alessandro. "Tumor?"
"Waktu aku nekat mendobrak masuk ke dalam ruang rapat tempo hari, arah maksudku sebenarnya ingin menceritakan hal itu padamu." Valeria menaikkan tempo kecepatan bicaranya untuk memperkuat alibi sandiwaranya. "Saat itu aku sangat panik dan mau bertanya harus berbuat apa, tapi kamu sama sekali tidak memberikan aku kesempatan berbicara dan justru menyuruhku menunggu di ruangan kerja kamu. Tidak lama kemudian, pihak rumah sakit meneleponku kembali dan mengonfirmasi kalau hasil laporanku tertukar dengan milik pasien lain."
Alessandro menurunkan sedikit kelopak matanya, di mana memori otaknya secara otomatis langsung memutar kembali cuplikan visual saat Valeria menerobos masuk ke dalam ruang rapat direksi dengan kondisi emosional yang teramat terguncang hebat waktu itu. Jadi, rahasia besar itulah yang ingin wanita itu sampaikan padanya saat itu. Mengingat kembali bagaimana detail keraguan serta kegelisahan Valeria saat memberikan kalimat penjelasan lanjutan sesudahnya, seluruh teka-teki misteri perubahan tabiat ini seketika langsung terasa masuk akal di dalam logikanya.
Alessandro menegakkan pandangan matanya menatap sang wanita. "Jadi, seluruh lompatan perubahan tabiatmu belakangan ini terjadi murni karena kamu sempat mengira umurmu tidak akan lama lagi?"
Valeria dengan gerakan cepat langsung meluncurkan gerakan anggukan kepala penuh semangat, menyambar jalur aman yang baru saja disediakan oleh sang pria. "Tentu saja! Aku sempat mengira sisa kuota hari-hari hidupku di dunia ini sudah berada di ambang batas kematian, makanya aku mendadak mendapatkan seberkas pencerahan batin. Urusan harta, uang, ataupun barang mewah... pada esensinya hanyalah seonggok benda fana yang tidak akan dibawa mati."
Demi membuat totalitas akting sandiwaranya terlihat kian riil dan meyakinkan, ia sengaja mengendus-endus hidungnya pelan, memasang ekspresi wajah penuh kedukaan semu serta sisa ketakutan yang mendalam.
Alessandro sempat terdiam membisu meluncurkan keheningan batin selama beberapa detik. "Mengapa saat itu kamu tidak langsung menceritakannya kepada saya?"
"Bukankah hasilcopy akhirnya ternyata cuma alarm palsu?" Valeria meluncurkan alasan pembelaan diri yang teramat masuk akal. "Lagipula, perkara salah vonis seperti itu kan sebenarnya memalukan untuk dicerita kembali. Aku juga tidak mau membuat fokus pikiranmu pecah karena mengkhawatirkanku."
Mendengar rentetan penjelasan emosional tersebut, seluruh sisa kegelapan misterius di dalam sepasang manik mata Alessandro seketika lenyap tak berbekas, digantikan oleh gurat ekspresi yang melembut. "Jadi, kondisi fisik tubuhmu saat ini benar-benar steril dari masalah medis?"
Valeria meluncurkan seulas tawa formalitas yang sedikit dipaksakan. "Seratus persen tidak ada masalah sama sekali, Ales. Tubuhku saat ini beneran sehat bugar dan segar benderang."
Menatap bagaimana cerahnya rona kulit wajah serta pancaran energi lincah dari tubuh Valeria saat ini, wanita di hadapannya memang mutlak sama sekali tidak memancarkan aura sesosok manusia yang sedang didera oleh penyakit kronis.
Alessandro melepaskan sebaris suara gumaman bariton tipis penuh kelegaan, "Baguslah kalau begitu."
Valeria diam-diam mengamati setiap sela perubahan raut wajah Alessandro. Setelah memastikan pria itu sudah mempercayai seratus persen dongeng karangannya, beban berat yang mengimpit rongga dadanya seketika langsung sirna menguap. Untung saja alasan penyakit tumor itu berhasil mengecoh fungsinya. Bagaimanapun juga, manusia normal mana yang akan sanggup menyusun teori gila bahwa jiwa di dalam raga fisik wanita ini sebenarnya sudah resmi tertukar dengan entitas jiwa asing dari dimensi dunia lain? Teori supranatural seperti itu terlampau absurd untuk dipikirkan oleh akal sehat manusia.
Meskipun situasinya sudah terkendali aman, Valeria masih didera rasa penasaran untuk meluncurkan sebuah tes pengujian lanjutan. Ia bertanya dengan intonasi suara yang sengaja dibuat santai dan acuh tak acuh, "Alessandro... apakah di dalam kamus logika kamu pribadi, kamu percaya dengan adanya fenomena supranatural seperti pertukaran jiwa manusia?"
Tanpa perlu meluangkan waktu satu milidetik pun untuk berpikir, Alessandro langsung menyahut menggunakan intonasi bariton yang teramat tenang namun sarat akan kepastian absolut, "Tidak percaya."
Valeria mengerucutkan bibirnya pelan, dilanda perpaduan rasa bingung antara merasa kecewa atau justru merasa lega. Sudah diduga, bahkan jika di kemudian hari dirinya nekat mengumpulkan seluruh keberanian mental murni untuk membongkar fakta kebenaran transmigrasinya... seorang Alessandro dipastikan bersumpah mutlak tidak akan pernah sudi murni untuk mempercayai dongeng gilanya tersebut. Pria itu justru berpotensi besar menuduh dirinya sedang meluncurkan taktik kelicikan baru murni untuk melarikan diri dari tanggung jawab masa lalu, lalu berakhir mengeksekusi kematiannya lebih cepat.
Alessandro kemudian melangkah mengayunkan kaki tegapnya menuju ke lantai atas untuk menunaikan ibadah mandi malam. Sementara itu, Valeria yang sudah merebahkan raga fisiknya dengan santai di atas ranjang kasur, mendadak menerima sebuah notifikasi pesan WhatsApp baru dari akun pribadi Jovanka.
"Beb, cuma sebatas ini doang bantuan maksimal yang bisa kuberikan buat kelangsungan hidup asmaramu."
Pesan singkat tersebut turut diiringi oleh sebuah stiker emoji seringai jahil yang teramat mencurigakan. Tepat pada detik berikutnya, selembar lampiran dokumen digital berukuran besar mendadak muncul di ruang obrolan. Judul nama dokumen digital tersebut tertulis dalam deretan huruf tebal: 【Kelembutan Pria Tangguh: Interogasi Larut Malam】.
Valeria meminta maaf dalam hati karena sempat mencurigai sahabatnya; ternyata Jovanka hanya mengirimkan dokumen novel roman modern.
Tepat pada detik krusial di saat ujung jemari tangannya baru saja secara tidak sengaja mengeklik ikon unduh untuk membuka isi dokumen tersebut... gema suara klik dari arah daun pintu kamar mandi utama mendadak bergaung memecah kesusunyan kamar.
Alessandro tampak melangkah keluar dengan balutan setelan piyama tidur satin hitam, di mana helaian rambut hitam pendeknya terpantau masih berada di dalam kondisi basah kuyup melepaskan sisa tetesan air hangat. Bulir-bulir air tampak mengalir perlahan melewati sela garis rahang tegasnya sebelum akhirnya menghilang menyusup masuk menembus celah kerah piyama tidurnya.
Belum sempat Valeria meluncurkan sepersen pun gerakan taktis darurat untuk mengunci kembali layar ponselnya... sebuah suara lenguhan rendah wanita yang teramat mesra, mendayu, dan sarat akan gairah dewasa... mendadak bergaung hebat melepaskan diri dari balik lubang pengeras suara ponselnya mengisi seluruh penjuru sudut kamar tidur utama malam itu!
___
Bersambung~~
Jangan lupa like~