Randy merupakan seorang anak remaja berusia 19 tahun, orang yang suka menyendiri dan diasingkan oleh keluarganya hidupnya penuh akan kepahitan namun sesuatu merubah hidupnya.
kini dia hidup sebagai perempuan dan menggantinya namanya menjadi Risa, perlahan dia harus menerima dirinya yang ini namun perlahan juga semakin berubah hidupnya apa yang sebenarnya terjadi apakah Randy akan menerimanya diri atau tidak sebagai perempuan atau bagaimana lihat novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusti m.Ainnur f., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Hari terus berlalu tiap hari selalu saja sama lokerku dirusak lah, semua barang ku dihancurkan dipalak lah, dimanfaatkan.
Di pukul lah, dihina, tertawakan semua sudah kurasakan aku benar-benar tidak mempunyai teman sama sekali sekarang.
Bahkan tidak ada seseorang yang mau sekelompok samaku, kali ini aku lagi di pojokan.
Dia menahan ku dengan yang lain menendang kepuasan menghancurkan beberapa banyak buku kesukaan novelku.
Dan mencoret-coret sepatuku, merusak bekal, dan semua yang ada di tasku.
Mereka menikmati itu semua, aku hanya terus bisa pasrah dan hanya terus menangis saat mereka memperlakukanku seperti itu.
Bahkan tawa canda itu terus datang, dan hinaan aku dijadikan bahan lelucon sampai kapan begini terus.
Tiba-tiba ada seseorang berteriak.
"Sudah cukup hentikan!" teriak seseorang.
Sesaat setelah suara itu muncul darimana, semua orang melihat ke arah siapa yang berbicara itu.
Begitu juga diriku ternyata saat dia menunjukkan dirinya, rupanya sih gadis itu.
Yang selalu mengikuti ku dan mengawasi ku, apa yang dia inginkan.
Dia datang mendekat ke arah diriku, yang ditahan oleh dua orang anak buah cowok ini.
Awalnya mereka masih menahan ku namun gadis itu meminta mereka untuk melepaskan ku, dan segera sesuai perkataan dia.
Para cowok itu melepaskan ku sekarang dan saat aku hampir tidak kuat lagi-lagi aku tengkurap.
Dia membantuku berdiri dan merangkul dengan tangannya.
"Kau tidak apa-apa kan maaf iya aku baru bisa datang sekarang" ucap gadis itu.
Saat dia mengatakan itu aku hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
Aku bahkan memalingkan mukaku dari gadis itu sampai akhirnya cowok itu berbicara.
"Sivia apa yang kau lakukan kenapa kau disini dan menolong orang seperti dia" balas cowok itu.
Saat aku mendengar dia mengatakan aku baru tau bahwa nama gadis ini sivia, wajar aku tidak mengenalinya karena dia juga berbeda kelas denganku.
"Memangnya kenapa kalau aku menolongnya, apa karena bapaknya seorang criminal dan bagi kalian dia ini hanya pembawa kerusakan dan kesialan dari semua orang. begitu" balasnya.
"Hei kalian dengar iya apa yang kalian lakukan itu sudah cukup keterlaluan tau tidak, membully suka menghajar, selalu mengejek menghina, menjadi bahan candaan apakah kalian senang melakukan semua itu hah!" ucap Sivia dengan marah.
"Tapi memang seharusnya seperti itu kan, kau tau bisa aja dia berpura-pura kan karena bapaknya seorang pembunuh, koruptor, dan lainnya anak nya pasti juga punya ajaran sesat bisa aja kan membahayakan orang-orang disini" jelas cowok itu.
"Kalian setuju kan denganku?" lalu dia bertanya ke semua orang.
"Setuju!" jawab semuanya.
"Mungkin kalian berpikir seperti itu tetapi aku tidak, justru kalianlah yang lebih pantas dipanggil seseorang pembunuh, apa yang kalian lakukan bisa mengancam nyawanya" balasnya.
"Sudah berapa banyak kalian menyiksanya, sudah berapa banyak darah yang jatuh dari dirinya, sudah berapa banyak semua itu hah kalian tidak sadar yang kalian lakukan sama saja dengan seorang kriminal tidak ada bedanya tau tidak!" dia menambahkan.
"Sudah kau tidak perlu berbicara seperti itu, mereka benar orang seperti ku juga seharusnya tidak disini kan aku hanya akan merusak semuanya, aku mungkin bisa menjadi penjahat nanti" balasku.
"Jangan berpikiran seperti itu kau tidak seperti itu tau" ucapnya dan melihat ke arahku.
"kalau kalian ingin dia pergi maka aku juga akan pergi aku tidak peduli lagi kalian akan merasa kesepian tiada diriku, ataupun tidak sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan kalian" balasnya.
"Puas sekarang kalian puas kan sadarlah diri kalian dengan hati busuk kalian itu, kalian terlalu memandang buruk seseorang tanpa melihat kebaikannya asal kalian tau kalian itu tidak ada bedanya dengan para kriminal, bahkan ke depan harinya kalian bisa lebih buruk dibanding mereka" jelasnya.
Tidak lama semua orang terdiam, dan tidak mengatakan apa-apa lalu guru-guru datang.
Dan mencegah semua keributan ini, dan beberapa dari semua orang, baik kelas manapun.
Yang menghinaku, membully ku dan aku disuruh untuk ke lapangan.
Di lapangan guru membicarakan sesuatu, betapa kecewanya apa yang telah terjadi dengan semua ini.
Bahkan tanpa sadar karena ini semua nama SMP sini sudah tercemar tidak lama lagi, ini juga akan di tutup.
Karena pandangan buruk para masyarakat dengan smp ini setelah semua pembicaraan selesai.
Guru mengajak ku ke ruang BK, dan bertanya tentang beberapa hal padaku.
"Apa kau sudah merasa lebih baik Fira?" tanya guru bk.
"Iya Bu sudah aku merasa lebih baik" balasku.
"Ibu tau apa yang sudah kau alami itu pasti sangat sulit untukmu, menjadi seorang yang dibenci semua orang memanglah bukan hal mudah untuk diatasi" balas guru bk.
"Bahkan ibu juga tidak menyangka kau bisa tetap bertahan dan melewati semua itu" guru bk menambahkan.
"Meski aku bisa bertahan bagaimanapun luka disini, akan terus ada terlebih lagi pihak sekolah juga tidak begitu tau dengan masalahku bahkan kalian, hanya menyimak dan menganggap ini sebagai bercanda kan" balasku.
"Hmm uh saya sudah menduga kau, akan menganggapnya seperti itu tapi apa yang kau katakan tidak salah juga karena kepala sekolah juga tidak begitu peduli dengan masalahmu, tapi saya sebagai guru bk berbeda dengan yang lain" jawab guru bk.
"Saya sebenarnya sangat khawatir dengan keadaanmu, tiap hari saya selalu memantau mu dan memperhatikanmu, namun ibu juga tidak menyangka perbuatan mereka sampai seperti ini" guru bk menambahkan.
"Lalu terlepas dari masalah sini apa yang harus kulakukan sekarang?" bingungku.
"Iya untuk apa yang kau lakukan sekarang, bagaimanapun kau harus fokus terhadap pendidikan mu sekolah ini akan ditutup, karena ini juga sudah mencemari sekali nama baik" balas guru bk.
"Dan iya kau akan bersekolah kembali, raih yang kau impikan Fira biaya sekolah atau apapun itu biar ibu yang atasi untuk masalah pindahan kamu ini" tambah guru bk.
"Begitu rupanya tapi meski aku pindah ke sekolah baru pasti semuanya akan sama kan seperti disini" balasku.
"Tentu saja tidak Fira di sekolah barumu itu akan lebih baik untukmu dibanding disini percaya saja pada ibu ok, kau akan menemukan kehidupan yang baru dan lebih baik dibanding sini" jelasnya.
Jujur saja aku masih ragu dengan semua ini hingga Bu guru bk ku menanyakan beberapa hal lainnya.
Bagaimana saat aku belajar, pengalaman buruk apa yang ku alami, dan kenapa bapakku bisa berubah padahal dulu baik sekarang jadi criminal.
Masalah keluarga dan bahkan lainnya, banyak sekali pertanyaan seolah aku diintrogasi haha.
"Terima kasih Bu sudah membantu saya, jujur aku merasa tidak enak karena merepotkan ibu" balasku.
"Kau tidak merepotkan ku sayang tenang saja ok, sudah lebih baik kau istirahat saja kau sudah boleh pulang sekarang untuk masalah esok harinya biar ibu yang tangani" jawab guru bk.
"Baik Bu" sahutku.
Dan tidak lama aku keluar dari ruangan BK, dan saat aku keluar aku bisa melihat sih Sivia dia sedang berdiri dia terlihat seperti menungguku.
"Oh kau sudah selesai?" tanyanya.
"Uh hmm iya kira-kira begitulah" balasku dan tersenyum.
"Hmm baiklah kalau gitu, sebelumnya apa saja yang kau bicarakan tadi dengan Bu Tia", jawab Sivia.
"Iya itu-"
Aku pun menjelaskan semua nya tentang bagaimana perpindahan sekolah, lalu jika sekolah ini ditutup apa yang ingin kulakukan seterusnya.
Banyak sekali pertanyaan dari guru bk mulai dari pendidikan, pertemanan, masalah, keluarga dan lainnya.
"Eh jadi kau akan pindah sekolah?" kata Sivia.
"Kira-kira begitulah" balasku.
"Kalau itu memang yang terbaik untukmu aku bisa maklumi sih, apa yang Bu Tia juga bilang juga benar sih kau harus menjalankan hidup mu dengan sesuatu yang baru" balasnya.
"Bagaimanapun itu Fira dunia akan terus berputar kan, jadi setelah kau pindah ke sana dan memulai hidup baru dan melupakan semua ini pada akhirnya kau akan senang dan menyukainya" tambahnya.
"Aku akan senang dan menyukainya, entahlah aku tidak tau pasti" balasku dengan murung.
"Jangan terlalu berputus asa karena masalah ini ok, aku akan pindah ke sekolah bersama dirimu dan aku akan menjadi teman yang baik untukmu" balasnya.
"Jadi kalau kau ada masalah atau apa aku akan membantumu, walau kau memulai hidup baru aku merasa tidak enak meninggalkanmu sendiri di sana" tambahnya.
"Kau akan berpindah sekolah yang sama denganku dan menjadi sahabat, apakah kau yakin?" tanya.
"Make nanya segala kamu ini tentu saja aku yakin, sampai kapanpun dan dimanapun mulai sekarang kita akan selalu bersama dan kita tidak akan berpisah" balasnya.
"Ini janji dariku aku akan selalu berada di sisimu" tambahnya.
"Janji?" bingungku.
"Iya janji baik suka duka kita akan selalu bersama, semua masalah yang datang kita akan selalu mengatasi, saling melengkapi satu sama lain dan kita akan selalu terikat dimanapun itu" jelasnya dan dia tersenyum.
Melihat Sivia mengatakan itu membuatku merasa lebih baik dan aku cukup menyukainya, apa yang dibilang ternyata benar.
Memang ada suatu saat bahwa aku akan menemukan seseorang yang mengakui keberadaan ku, seseorang yang selalu membantuku, dan seorang yang mengerti ku dan selalu menemaniku.
Iya aku sudah menemukannya itu dia untuk pertama kali aku bisa mendapatkan seorang teman.
-Masa sekarang-
Semua itu memang sudah lama tapi bagaimanapun aku merupakan temannya.
Karena kami akan selalu membantu dimanapun itu, tidak hanya Sivia Risa juga adalah temanku.
Jujur saja aku sangat khawatir dengannya, aku pun langsung memasuki pintu kamar.
Sivia yang tidak dikunci aku dapat melihat Sivia yang masih duduk sangat murung.
"Uh kau ngapain kemari bukankah sudah kubilang untuk pergi aku ingin sendiri" katanya.
"Siv kau akan terus seperti ini sampai kapan, jadi kau putus asa dan sangat kecewa karena berpikir Risa sudah tidak bisa ditolong" balasku.
"Apa maksudmu?" bingung Sivia.
"Kau yang pernah bilang kan bahwa seorang sahabat sampai kapanpun akan selalu terikat, baik suka duka, terlebih lagi kau juga selalu ada untukku di saat aku terluka dan menemaniku, tapi kali ini tidak lagi siv aku akan membalas kebaikanmu" balasku.
"Maka dari itu mari kita mencari Risa sendiri karena polisi tidak dapat di percaya sama sekali, terlebih lagi kasus ini dengan mudah mereka lupakan" tambahku.
"Percuma saja lagipula bagaimana kita mencarinya kita saja tidak tau tempatnya!" balasnya.
"Tidak juga aku tau dimana letaknya Risa diculik" balasku.
"Tunggu apa kau tau memangnya dimana?!" Sivia terkejut.
"Sebenarnya tidak jauh dari sini, yang jelas ada di sebuah hutan dan itu adalah markas mereka di rumah kosong, maaf aku tidak memberikan info ini kepadamu" balasku.
"Bahwa sebenarnya para polisi itu sudah menemukan lokasi Risa disekap, dan segera mereka akan ke sana" aku menambahkan.
"Terus jika begitu kenapa kita tidak menunggu para polisi kesana" balasnya.
"Ya seperti kata kau, daripada menunggu polisi terlalu lama kan jadi lebih baik kita selesaikan dengan cepat" balasku.
"Aku masih tidak bisa mempercayai mereka untuk ke sana dengan cepat, jadi kita sendiri lah yang akan ke sana dan menyelamatkan Risa" aku menambahkan lagi.
"Begitu rupanya haha bagus deh, kau benar menunggu polisi hanya buang waktu, terima kasih Fira maaf aku terlalu galak padamu tadi aku hanya terlalu terbawa emosi saja" balasnya.
"Aku bisa mengerti kok Sivia karena aku dulu pernah mengalami hal seperti itu, kehilangan seseorang teman yang berharga itu memang menyakitkan" balasku.
"Aku tau itu jadi lebih baik kita lupakan saja" aku menambahkan.
"Iya kau benar, jadi kira-kira kapan kita akan pergi ke apartemen itu?" tanya sivia.
"Besok para polisi datang pada jam 12:00, jadi kita akan datang kesana lebih awal, tepat pada jam 10:00 dan mengambil kembali Risa" balasku.
"Aku tau ini beresiko tapi untuk menyelamatkan teman kita bagaimanapun kita harus lakukan ini!" aku menambahkan.