NovelToon NovelToon
Hate You, Love You

Hate You, Love You

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Obsesi / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: MeeGorjes

Amara berencana untuk menyusul tunangannya ke Amerika setelah ia selesai menyelesaikan pendidikan pasca sarjananya. Ia dan Danis akan menikah di sana. Danis yang terikat kontrak kerja, tak bisa pulang ke Indonesia hingga Amara lah yang harus pergi ke sana.

Tapi kenyataan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Amara mengalami malam naas bersama seorang lelaki yang bernama Giovanni Abraham hingga dirinya hamil.

Sebagai anak orang kaya dan dari keluarga terpandang Gio harus menjaga nama baik keluarganya. Ia terpaksa menikah dengan Amara.

"bayi kita menangis Ara, susui dia !!"

"jangan panggil aku, Ara ! dan dia bukan bayi kita, dia anakmu !" balas Amara dengan suara meninggi.

"kecuali... kecuali kamu bisa membayarku dengan harga tinggi, mungkin aku mau untuk melakukannya," lanjut Amara dengan tatapan penuh rasa benci pada lelaki yang saat ini menjadi suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkap

"Amara !!" Cepat-cepat Gio menangkap tubuh Amara yang meluruh jatuh dengan kedua tangannya. Ia pun langsung menggendong Amara seperti pengantin baru. Kepala Amara yang lemas membuat tudungnya terlepas hingga Gio bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.

Ada gelenyar aneh yang merambat masuk ke dalam hati lelaki itu. Entah apa yang Gio rasakan karena ia pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Satu yang pasti, Gio ingin mempertanggungjawabkan semua kesalahannya.

Sebenarnya bisa saja ia melenggang pergi dan menikmati kebebasannya karena Amara tak menuntut apapun darinya. Tapi entah mengapa Gio tak bisa lakukan itu. Apalagi saat kedua tangannya bisa merasakan tubuh kurus Amara dalam dekapannya, membuat Gio semakin merasa bersalah.

Gio sendiri tak tahu jika sebelumnya apakah Amara memang sekurus itu atau tidak. Tapi bagi Gio, tubuh ringkih itu terlalu ringan. Dan wajah Amara yang pucat dengan lingkar mata yang bersemu hitam menandakan gadis dalam pelukannya ini memiliki beban pikiran yang menyiksanya.

"Bertahanlah Amara, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Gio lirih.

"Kenapa Pak ?" Tiba-tiba beberapa orang mendatangi Gio yang sedang menggendong tubuh Amara. Mereka adalah orang-orang yang akan menunggu kedatangan bis di halte.

"Is- istri saya pingsan. Bisa bantu buka kan mobil saya ?" Kata Gio. Dan seseorang pun dengan suka rela membantu Gio.

***

Amara terbaring tak sadarkan diri di bangku belakang. Beberapa kali Gio melihat keadaannya dari kaca spion yang berada di atas kepalanya. Debaran jantung Gio masih saja kencang karena rasa cemas yang luar biasa.

"Sebentar lagi kita akan sampai, bertahanlah," ucap Gio padahal Amara tak bisa mendengarnya.

Gio memacukan mobilnya secepat yang ia bisa. Menyalip beberapa mobil di depannya dengan begitu cekatan. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera tiba di rumah sakit.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Gio tiba di salah satu rumah sakit yang jaraknya paling dekat. Memang itu bukan rumah sakit ternama tapi tak masalah. Yang terpenting adalah Amara segera mendapatkan pertolongan.

Tiga orang perawat datang setelah Gio berlari untuk meminta bantuan. Dengan pertolongan mereka, Amara di naikkan ke atas blangkar dan di bawa ke ruang gawat darurat. Sedangkan Gio menunggunya di luar.

Lelaki jangkung itu berjalan mondar-mandir karena rasa cemasnya tak juga hilang. Beberapa kali ia mengintip dari kaca, berharap dirinya segera dipanggil untuk mengetahui keadaan Amara.

Gio mengatur nafasnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Ya Tuhan... Semoga semua baik-baik saja," mohon Gio dalam hati. Ia melirik jam yang membelit pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah waktunya Gio berada di rumah. Tapi ia tak bisa lakukan itu. Meninggalkan Amara sendirian adalah hal yang tak akan dilakukannya. Gio lebih memilih untuk berhadapan dengan sang ayah daripada harus meninggalkan Amara di sana.

Dengan kepala tertunduk lesu, Gio mendudukkan tubuhnya di atas kursi tunggu. Waktu berjalan terasa lambat sekali bagi Gio yang sedang menunggu. Perasaannya yang kacau tak karuan membuat semuanya terasa menjadi sangat buruk.

Pintu ruangan unit gawat darurat pun terbuka. Seorang perempuan dengan seragamnya yang serba putih menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Keluarga Ibu Amara Mahreen ?" Tanya perempuan itu pada beberapa orang yang duduk di ruang tunggu.

"Saya !" Spontan Gio berdiri dan menghampirinya.

"Telah dilakukan pemeriksaan pada Ibu Amara, dan kini istri anda sudah siuman," ucap perempuan yang berprofesi sebagai perawat itu.

Gio sedikit terheran. Seingatnya, Gio tak pernah mengatakan jika Amara adalah istrinya tapi bagaimana bisa perawat itu berkata demikian.

Dengan dada berdebar kencang, Gio berjalan mengikuti perawat tadi. Keduanya akan menuju Amara yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ranjang yang Amara tiduri, dikelilingi tirai dan samar-samar terdengar dua orang yang tengah bercakap-cakap.

"Sebaiknya Ibu banyak beristirahat dan makan makanan yang bergizi," ucap seorang dokter wanita pada Amara yang terbaring lemah. Wajah tirus gadis itu terlihat sangat pucat.

"Ah anda suaminya ?" Tanya dokter itu saat ia melihat kedatangan Gio. Membuat lelaki itu bingung dibuatnya.

"Sa- saya,"

"Selamat Pak, sebentar lagi Anda akan menjadi ayah. Ibu Amara dalam kondisi yang lemah, tapi itu adalah sesuatu yang wajar di awal-awal kehamilan. Dukungan suami sangat penting dalam masa ini,"

Deg !

Jakun Gio bergerak naik- turun, menandakan jika lelaki itu tengah menelan ludahnya sendiri dengan sangat susah payah. Debaran jantungnya kian menggila. Kata-kata yang ingin Gio ucapkan tercekat di tenggorokan hingga ia tak bisa mengucapkannya.

"Selamat ya !" Ucap dokter itu lagi dan Gio hanya mengangguk pelan.

"Ibu Amara bisa meninggalkan ruangan ini jika rasa pusingnya telah hilang. Saya akan memberikan resep vitamin dan obat penguat kandungan. Anda bisa menemaninya sekarang,"

Lagi-lagi Gio hanya bisa anggukan kepalanya sebagai tanda jawaban. Semua yang terjadi, tak pernah Gio duga sebelumnya. Sungguh lelaki itu merasa limbung, tak tahu harus bagaimana menjawab semua pernyataan dokter itu.

Gio mendudukkan tubuhnya di kursi yang letaknya tepat di sebelah ranjang Amara. Gadis itu terbaring dengan membelakanginya. Pundak Amara naik turun dan isakkan tangis pilu terdengar oleh Gio, membuat lelaki itu semakin dihantui rasa bersalah.

Hening untuk beberapa saat karena Gio pun tak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini. Tapi satu yang pasti, Gio tak akan lari. Ia telah merusak Amara yang merupakan gadis baik-baik, maka Gio akan bertanggungjawab atas semua perbuatannya.

"Jangan menangis, Amara. Aku akan bertanggung jawab. Aku tak akan lari," ucap Gio lirih. Ia tak mau suaranya terdengar hingga luar.

Pundak Amara semakin bergetar, menandakan jika gadis itu tengah menangis hebat. Perasaan Amara sangat hancur, dunianya runtuh dalam sekejap. Terbayang wajah kecewa kedua orangtuanya dan jiga terbayangkan wajah Danis yang melihatnya dengan hina. Saat ini Amara merasa lebih baik mati daripada harus menanggung malu dan terjebak dengan lelaki yang sangat dibencinya yaitu Gio.

"Amara... Aku akan bertanggung jawab. Aku akan mendatangi kedua orangtuamu untuk melamarmu. Aku juga akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada orangtuaku. Dengan begitu aku bisa menikahimu secara resmi agama dan juga negara," ucap Gio.

Mendengar hal itu membuat perasaan Amara semakin kacau tak karuan. Ia tak mau terjebak pernikahan dengan lelaki yang dibencinya itu. Amara pun mancari akal agar Gio pergi.

"Untuk apa kamu menikahiku ?" Tanya Amara dingin.

"Dia bukan anakmu !" Lirih Amara sembari memutar tubuhnya hingga kini ia bersititatap dengan Gio.

"Tentu saja dia anakku, aku yang memperk*sa mu malam itu dan aku benar-benar menyesalinya. Jadi, biarkan aku bertanggung jawab dengan menikahimu. Kita akan rawat anak itu bersama-sama,"

"Apa kamu tuli ?" Desis Amara dengan matanya yang melotot marah.

"Dia bukan anakmu !! Dia adalah anakku dengan Danis !"

Mendengar hal itu membuat Gio mengerutkan dahinya tak paham. "Danis ?" Tanya Gio sembari memicingkan matanya.

"Ya Danis ! Danis adalah tunangan ku yang sedang bekerja di Boston. Lihat cincin ini, Gio !! Ini adalah tanda bahwa aku terikat dengan Danis," jawab Amara seraya memperlihatkan cincin tunangannya. Dan Gio melihatnya dengan sinis.

"Dia anakku !" Desis Gio bersikukuh.

"Dia anak Danis ! Asal kamu tahu, aku dan Danis sangat sering melakukanya !! Kami berci*ta sepanjang waktu. Jadi tak mungkin dia anakmu karena aku tak mengenalmu !"

Gigi Gio gemeletuk menahan rasa marah, entah mengapa ia tak suka dengan kata-kata Amara yang menyebutkan jika dirinya sering berci*ta dengan tunangannya itu, karena Gio tahu jika Amara sedang berbohong.

"Jika memang kamu sering berci*ta dengan tunangamu ? Lalu kenapa darah peraw*nmu berceceran di atas tempat tidurku, Huh?" Tanya Gio dan itu membuat wajah pucat Amara semakin pias saja. Gadis itu terdiam membisu.

"Kenapa aku terbangun dengan celanaku yang terbuka dan banyak darah mengering di kemal*anku ? Jika kamu sudah tak suci lagi, seharusnya itu tak terjadi...,"

"PLAAAKKKKK !!!"

Wajah Gio tertoleh ke samping karena tamparan keras yang Amara berikan. Hingga lelaki itu tak bisa menyelesaikan kalimatnya.

"Aku benci kamu !!! Aku benci kamu, lelaki jahat !!! Aku benci kamu !!!"

bersambung...

kalau komennya banyak aku dobel update deh

1
Heny Sri Wahyuti
semangat kk , abaikan org² yg iri akan karyamu .
Fat Imah
ya mungkin juga efek pemerkosaan jdi. darahnya banyak
Meggy Natonis Tuulima
ya elah pada nyalahin Amara helloo dia itu di perkaos tdk gampg menerima org yg sdh melakukan itu
yenny pendang
cerita yg sangat bagus, keren. /Heart/ top markotop/Good//Good//Good//Good/
Anafiya
aku suka cerita nya thor..... ini cerita yg masuk akal dan nyambung baca nya.. ngak bosan bacanya thor
j@s🙄n
Karya luar biasa
Efratha
logika maneh teh timana koneng,ma inya ninggalkeun salaki demi tunangan,aissss rujit maneh mah
Efratha
si batu amara
Efratha
jangan lakukan itu Gio,kamu sama Dea aka
Efratha
tikung aja Dea,jangan kasih ampun 🤣🤣
Efratha
ambil aja Dea,sayang dianggurin
Efratha
menurutku di usia segitu gak setrauma itulah,itu namanya berlebihan,makanya buka hati jangan kepala batu,orang gionya juga karna mabuk kan,tapi kesannya si pemarah ini memposisikan gio seperti penjahat kelamin
Efratha: baiklah jelessss
total 2 replies
Efratha
dah langsung lahiran aja Thor,trus berangkatkan lah si pemarah itu ke Danis,habis tuh Gio nikah sama Dea
Efratha
Thor harusnya ending cerita ini,si Gio Ama si Dea berjodoh
Efratha
dah deh Gio,kamu juga cari cewek lain jugalah,secara kamu kan ganteng dan kaya,biar nyaho eta si betina si tukang selingkuh
Efratha
sampai usia kehamilan 7 bulan,dia belum bisa menyayangi anaknya,padahal usianya sudah dewasa,izin Thor saya tambahin namanya jadi "AMARAH YANG TAK PERNAH PADAM"
Efratha
nitip batu Thor,buat nimpuk kepala si amara,biar waras dikit,itu laki dah baik bertanggung jawab,kaya lagi,eh malah pengen gugurin bayi biar bisa ngasih apem bekas ke Danis
Efratha
baru Nemu wanita dewasa yang tidak sayang sama janinya,padahal bapak si janin bertanggung jawab,

lieurrrrrr aing mah,Cinta Danis,cinta Danis,makan tuh Danis
Komang Diani
amara pikiran kolot,, kata nya mahasiswa berprestasi tp kok pikirannya??
Komang Diani
amara kok gitu sih khasian gio
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!