Marah dan kecewa pada sang ayah yang tak menganggapnya anak membuat Anesha memilih kabur dari rumahnya dan pergi ke kota.
Anesha pikir dia akan mudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal. Namun ternyata dia salah, dua hari di kota tanpa uang dan arah tujuan justru membuatnya terlunta-lunta bahkan nyaris mati kelaparan.
Hingga akhirnya sosok bak dewa penyelamat itu datang di saat yang tepat.
"It's ok baby girl, Daddy's here." Sebuah kalimat penenang yang akhirnya membuat Anesha tanpa sadar jatuh cinta pada pria dewasa yang sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri.
Akankah Alesha memperjuangkan perasaannya atau justru memilih mundur saat mengetahui sang Daddy bukanlah seorang pria single?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pekerjaan
"Ayo kita sarapan bersama honey," ajak Tara saat melihat suaminya berjalan ke arah meja makan. Namun bukannya menjawab ajakan sang istri, Daniel justru mendekati sang putri yang duduk diam menikmati sarapannya.
"Pagi sayang." Daniel mencium sekilas kening putrinya.
Sedangkan disisi lain Tara hanya bisa memanyunkan bibirnya saat melihat perhatian Daniel pada putrinya. Tara hanya bisa iri. Namun sama sekali tak bisa protes ketika sang suami mengabaikan keberadaannya, karena satu saja kalimat protes yang keluar dari mulut Tara, maka Daniel tak akan memberinya uang belanja seperti yang sudah-sudah.
"Pagi Dad." Danisa menjawab ala kadarnya. Gadis itu mengusap sudut matanya yang basah sembari memaksakan untuk tersenyum. Namun tak ada satu orang pun yang menyadari hal itu, karena Daniel sendiri justru sudah berjalan ke arah dapur bersih yang berada satu ruangan dengan meja makan.
"Pesanan saya udah di siapin Bi?" tanya Daniel pada salah satu asisten rimah tangganya yang tengah membuat jus apel.
"Sudah Tuan." Wanita paruh baya itu mengambil tas bekal di atas meja dapur dan memberikannya pada tuannya.
Daniel menerima tas bekal itu dengan senyum bahagia. "Makasih Bi."
Setelah mendapatkan apa yang dirinya inginkan, Daniel kembali berjalan ke arah meja makan. Dan sekali lagi mengecup kening putrinya. "Dad berangkat dulu ya. Hari ini kamu di antar sekolah sama sopir dulu gak pa-pa kan?"
Danisa menganggukan kepalanya. Dia hanya bisa menatap kepergian sang Daddy dengan tatapan sedihnya.
Beberapa hari yang lalu Danisa tak sengaja mendengar percakapan Tara dengan seseorang di telepon.
Mommy-nya itu mengatakan pada seseorang jika Danisa bukan anak kandung Dad Daniel. Awalnya Danisa tak percaya. Karena selama ini dirinya merasa sangat di ratukan oleh Daddy-nya. Hingga semalam akhirnya Danisa mendengar langsung dari Daniel sendiri yang mengatakan jika dirinya memang bukan putri kandung sang Daddy.
Kecewa, sedih semua bercampur menjadi satu. Namun Danisa tak bisa marah. Apalagi selama ini Daniel sudah merawat Danisa layaknya putri kandungnya sendiri.
Apapun yang Danisa butuhkan dari seorang ayah, Daniel memberikannya. Kasih sayang, perhatian, pelukan, bahkan semua keinginan Danisa selalu Daniel wujudkan apapun caranya. Bahkan sampai Danisha tak menyadari jika cinta pertamanya itu bukanlah ayah kandungnya.
...***...
"Pagi Anesha," sapa Daniel begitu masuk kedalam apartemennya. Dia tersenyum saat melihat senyum Anesha yang terlihat begitu manis.
"Pagi juga Om." Anesha berjalan mendekat lalu meraih tangan Daniel dan menciumnya takzim.
Daniel masih tersenyum, dia yang pada dasarnya memang seorang pria penyayang lantas mengusap puncak kepala Anesha dengan lembut.
"Ayo sarapan." Ajak Daniel sembari berjalan menuju ke arah ruang makan. Namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Anesha.
"Sebentar lagi Om, Anesha selesaikan dulu menyapu lantainya." Daniel memperhatikan Anesha yang tengah memegang sapu di tangannya. Ternyata terlalu fokus pada senyum gadis itu membuat Daniel tak menyadari jika Anesha bersih-bersih apartemennya.
"Kamu gak usah bersih-bersih. Karena setiap dua hari sekali akan ada Bibi yang datang membersihkan apartemen ini." Daniel menatap Anesha yang nampak bingung. Hingga akhirnya dirinya kembali menjelaskan pada gadis itu. "Mungkin selama tiga hari tinggal disini, kamu belum sekalipun melihatnya datang. Itu karena Bibi sedang sakit. Jadi beliau meminta izin untuk beristirahat."
"Ya sudah ayo sarapan dulu. Om sudah bawa makanan buat kita berdua." Daniel mengangkat dan menunjukan tas bekal yang di bawanya.
Anesha dengan sigap menyiapkan peralatan makan. Mulai dari piring dan sendok. Tak lupa Anesha juga menyiapkan dua gelas air putih untuk dirinya dan Daniel.
Daniel memperhatikan Anesha yang sibuk mengambilkan nasi goreng untuknya. Sudah lama sejak ibunya meninggal, Daniel tak pernah mendapatkan perhatian semacam ini saat di meja makan.
"Segini cukup Om?" Daniel terkesiap, namun selanjutnya dia tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Anesha kembali meletakan sebuah telur mata sapi dan dua buah ebi furai ke piring Daniel namun pria itu menolaknya.
"Telur saja, ebi furainya gak usah."
Anesha menatapnya dengan bingung. "Kenapa?"
"Saya alergi udang. Ebi furai ini khusus buat kamu."
Anesha nampak bahagia. Tentu saja, udang merupakan salah makanan yang sangat Anesha sukai. Namun karena kondisi ekonomi keluarganya yang bisa di bilang sulit, Anesha pun menjadi sangat jarang bahkan bisa di bilang tak pernah makan makanan olahan laut.
Keduanya mulai memakan sarapan masing-masing. Sesekali Anesha melirik ke arah pria di hadapannya itu. Ada sesuatu yang ingin dia katakan. Namun Anesha ragu.
"Kenapa?" tanya Daniel yang menyadari sejak tadi Anesha menatap ke arahnya.
Anesha menunduk, dia mulai menimbang apakah akan mengatakan apa yang ada di kepalanya atau tidak. Hingga akhirnya keputusan itu dirinya ambil dalam waktu singkat. Anesha akan mengatakan apa yang dia inginkan.
"Om, apakah Om bisa membantu mencarikan Anesha pekerjaan?" tanya Anesha sedikit ragu dan tak enak hati.
"Pekerjaan?"
Anesha menganggukan kepalanya yakin. Dia harus mencari pekerjaan agar bisa membiayai hidupnya termasuk menyewa sebuah kamar kos, agar tak lagi tinggal di apartemen ini dan terus merepotkan Daniel.
"Untuk apa pekerjaan?" tanya Daniel tak mengerti.
"Anesha butuh penghasilan, biar gak ngerepotin Om terus."
"Siapa bilang kamu ngrepotin saya?" tanya Daniel tak suka. Melihat itu, Anesha hanya bisa menundukan kepalanya. Dia tak berani untuk menatap Daniel lagi.
Daniel menghela nafas panjang. Sepertinya dirinya terlalu ketus ketika berbicara dengan Anesha. Buktinya gadis itu terlihat ketakutan. "Berapa usiamu?"
"Sebulan lagi genap tujuh belas tahun Om," jawab Anesha tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Umur segitu seharusnya kamu sekolah. Bukan bekerja," ujar Daniel sedikit kesal. Masa depan Anesha masih panjang. Tapu gadis itu bukannya memikirkan pendidikannya malah memikirkan pekerjaan.
Anesha semakin menundukan kepalanya. Daniel mengomelinya. Dan dia merasa takut. Takut akan di usir dari apartemen ini dan kembali terlunta-lunta di jalanan tanpa memiliki pekerjaan apalagi uang.
"Kamu sekolah kelas berapa?" tanya Daniel, karena seharusnyabanak-anak di usia tujuh belas tahun belum lulus SMA. Kecuali gadis di hadapannya itu mengikuti kelas akselerasi.
"Seharusnya kelas dua belas Om."
Daniel menghela nafas berat. Benar dugaannya, Anesha memang seusia Danisa. Namun bedanya Danisa baru menginjak kelas sebelas. "Lebih baik kamu lanjutkan sekolahmu. Ini demi masa depan kamu. Lagi pula siapa yang mau mempekerjakan anak di bawah umur sepertimu?"
"Tapi...."
"Kalau kamu memang belum mau pulang ke rumah orang tuamu, kamu bisa sekolah disini dulu." Daniel tahu, Anesha pasti belum siap pulang kerumahnya. Sedangkan jika di apartemen, gadis itu pasti akan merasa bosan. Mungkin dengan kembali bersekolah, Anesha bisa memiliki kegiatan dan kembali bersemangat meraih cita-citanya.
"Tapi Om."
"Saya tak suka di bantah. Dan untuk biaya dan dimana tempat kamu akan bersekolah, akan menjadi urusan saya." Anesha hanya bisa pasrah walau sejujurnya dia juga senang. Namun perasaan tak enak pada Daniel tetap saja menghantui hatinya.
ko blm di up sate lagi
penasaran nih
kenapa ga di lanjut
penasaran nih sama
kisah nya anesha dan daniel