Novel nya gak usah di baca yaa, soalnya author bikin krn gabut doang😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Setelah ibu Sintia pergi, Dea pun melajukan mobil nya dan segera pulang ke rumah nya. Awal nya Dea ingin ke rumah Aurelia namun Dea mengurungkan niat nya karena Dea berkali kali menelfon Aurelia namun Aurelia tidak mengangkat nya karena masi sibuk menghias Cafe Shop.
"Aishh kemana si Aurelia, kenapa dia tidak mengangkat telfon nya" Kesal Dea dan tampa sadar mobil yang Dea kendarai menabrak sebuah pohon.
Bruuukk Braakkk
"Aaauuuuww" keluh Dea saat berhasil keluar dari mobil nya yang penuh dengan asap karena menabrak pohon besar.
Dan dengan kesadaran yang mulai hilang, Dea meminta tolong kepada warga sekitar agar menyelamat kan mobil nya dan membawa Dea ke rumah sakit karena kepala Dea mengeluarkan banyak darah.
Beberapa warga pun mulai berdatangan dan menolong Dea dengan membawa nya ke rumah sakit.
Sesampai nya di rumah sakit Dea masi tersadar dan dengan cepat dokter yang berjaga pun menghampiri Dea.
"Cepat bawa keruang UGD" Ujar seorang dokter yang tak lain adalah Aiden kakak Evan.
Di sela kesadaran nya, Dea melihat dan mengagumi wajah tampan dokter yang tengah mendorong tempat tidur pasien. hingga akhirnya Dea pun pingsan.
Dua jam kemudian Dea terbangun dengan memegang kepala nya yang sudah di perban namun masi terasa sakit.
"Dokter" Teriak Dea sembari memegangi kepala nya yang sakit. Beberapa menit kemudian Aiden pun melewati ruangan Dea.
"Dokter" Teriak Dea lagi namun Aiden tidak mendengar nya. Dan dengan cepat Dea turun dari tempat tidur pasien dan mengikuti langkah Aiden.
Aiden yang baru saja masuk kedalam ruangan nya dan memeriksa data pasien UGD berjingkat kaget saat seseorang menepuk pundak nya dari belakang. Aiden yang memakai jas dokter lengkap itu sontak memegang dada nya.
"Ada perlu apa" Tanyak Aiden yang masi terlihat Cool padahal Aiden sangat terkejut melihat Dea yang berdiri di belakang nya dengan wajah yang sangat pucat. Apalagi Aiden yang baru saja dari ruang mayat untuk memeriksa sesuatu.
"Dokter tidak menelfon ibu ku kan" Tanyak Dea dengan cecengesan karena melihat expresi Aiden yang sangat terkejut walau pun masi bersikap tenang.
"Memang nya aku tau ibu siapa?" Tanyak Aiden balik dengan wajah dingin nya.
"Ehh iya yaa" Ucap Dea tampa dosa sedikit pun sembari tersenyum.
"Kau kesini hanya untuk menanyakan hal itu saja" Tanyak Aiden lagi dan Dea hanya mengangguk "Kan ada nurse call, ngak seharus nya kau keluyuran di sini apalagi ini sudah larut malam" Omel Aiden merasa kesal.
"Aku takut dok di kamar sendirian, gimana kalau ada mayat yang datang ke kamar ku" Dea pun berpura pura ketakutan dengan wajah memelas. Padahal Dea sama sekali tidak penakut malah saiton yang takut pada Dea yang barbar ini.
Aiden pun mengalihkan pandangan nya dan melihat ke sekitar. Entah siapa yang dia cari hingga akhirnya Aiden menatap Dea kembali.
"Di mana keluarga mu? apa perlu aku telfon keluarga mu agar datang kesini?" Tanyak Aiden.
"Emm tidak usah.. Mama ku baru saja berangkat ke prancis aku tidak mau membuat nya khawatir. Gimana kalau dokter saja yang temani aku" Ujar Dea berterus terang.
"Sepertinya otak mu tergeser, Apa perlu aku periksa sekarang" tanyak Aiden dengan tatapan dingin nya.
"Tidak perlu dok" Ujar Dea terkekeh "Tapi mendadak jantung ku sedikit sakit karena berdebar terlalu kencang" Lanjut Dea.
"Coba aku periksa" Ujar Aiden sembari mendekati Dea.
"Ahh tidak perlu dok" Ucap Dea dengan mundur perlahan "Sepertinya Jantung ku berdebar karena berada di dekat dokter ganteng, jika dokter mendekat lagi, aku yakin aku akan terkena serangan jantung" Dea terkekeh.
"Sana balik ke kamar mu, aku masi banyak kerjaan" Perintah Aiden merasa di permainkan oleh bocah ingusan.
"Aku takut sendirian" Dea mengubah expresi wajah nya yang memelas.
Aiden menaikan sebelah alis nya "Kau tidak punya keluarga di indonesia" tanyak Aiden dan Dea dengan cepat mengangguk.
"Tunggu di sini, aku akan memanggil suster untuk menemani mu" Kata Aiden sembari berjalan keluar dan belum sempat sampai di pintu tangan Aiden pun di tarik oleh Dea.
"Aku ikut dok, aku takut di sini" Dea beralasan agar bisa terus bersama dokter Aiden.
Aiden pun mendengus kesal dan kembali berjalan mencari suster yang masi terjaga. Aiden bener bener jengkel karena Dea terus menempel pada nya.
Setelah dua puluh menit Aiden tidak mendapati seorang suster yang masi terjaga karena memang sudah larut malam.
"Hoaaaammmm" Dea menguap tampa rasa malu sedikit pun.
"Kau sudah mengantuk" tanyak Aiden sembari melihat Dea yang terus bergelayut di tangan nya.
"Yaa" jawab Dea singkat.
"Kembali lah ke kamar mu" pinta Aiden yang merasah risih dengan Dea. Dea hanya menggeleng tanda tidak setuju.
"Hais merepot kan saja" dengus Aiden merasa kesal. Aiden pun mengajak Dea kembali ke dalam kamar nya. Sesampai nya di kamar Dea pun di suruh berbaring oleh Aiden dan dengan patuh Dea mengikuti perintah Aiden.
"Tidur lah" Ucap Aiden.
"Dokter tidak akan pergi kan" Tanyak Dea penuh Harap dan Aiden hanya mengangguk. Tak butuh waktu lama Dea pun akhirnya tertidur dan Aiden segera keluar dari kamar Dea sebelum Dea terbangun.