NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Menantu Pria/matrilokal / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:91.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Mengikhlaskan Yohana menjadi istri kakaknya bukanlah hal yang mudah untuk Beni, sebab teman sekelasnya itu adalah cinta pertamanya, selama enam tahun ia harus jaga jarak untuk memulihkan patah hati, hingga akhirnya kakaknya meninggal karena kecelakaan motor.

Tiga bulan kemudian ia diminta pulang oleh ibunya. Kepulangannya ternyata untuk dinikahkan dengan Yohana, kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Abah Dimakam Bang Sigit

Hari ini aku pulang ke rumah. Sebelumnya, ku sempatkan membeli oleh-oleh. Bedak untuk bunda, panganan kipang untuk Abah, tas untuk Ami dah Snek untuk Alif yang aku tak tahu apakah ia akan suka atau tidak. Aku hanya membeli Snek kesukaanku saat masih sekolah dulu. Semua itu aku beli sesuai dengan apa yang menurut ku mereka suka dan butuhkan saat ini berdasarkan pengamatan ku saat beberapa hari ada di rumah kemarin.

Setelah di rasa cukup barulah aku pulang.

Sebenarnya aku membeli semua itu bukan tanpa alasan, tapi karena sesuatu hal. Aku melakukan itu untuk memperbaiki semuanya. Mengobati luka di hati bunda sebab aku sempat membantah bunda yang memintaku menikah dengan Yohana, menjadi musuh besar Abah di rumah dan juga tak dekat dengan Ami dan Alif. Padahal aku Abang dan omnya. Aku sangat berharap pertikaian di rumah segera berakhir dan hubungan kami bisa membaik agar normal seperti orang lain.

Meski sebenarnya keluargaku sejak dulu memang tak pernah akur. Abah, meksipun ia alim ulama yang dikenal berilmu dalam lingkungan masyarakat, namun punya perangai yang tidak baik pada keluarganya. Abah suka memaksakan kehendak pada anak dan istrinya. Suka main tangan bila keinginan tidak dituruti. Menjadikan istrinya samsak kemarahan dan anak-anaknya di perlakukan bak budak yang bisa diperintahkan apapun yang ia mau tanpa memikirkan perasaan kami. Abah selalu beralasan surga anak ada pada ibunya, Sementara surga istri ada pada Ridha suaminya. Jadi semuanya harus tunduk padanya tanpa ada pengecualian.

Selesai dengan urusan oleh-oleh, aku segera tancap gas menuju rumah. Sebelum masuk ke gang rumah, motor ku belokkan dulu ke arah pemakaman milik komplek, dimana bang Sigit dimakamkan. Sejak bang Sigit meninggal tiga bulan lalu, aku tak pernah lagi ziarah ke sini. Hubunganku dengan bang Sigit memang tak terlalu dekat. Selain usia kami yang terpaut cukup jauh, ditambah bang Sigit yang memang sejak dulu "dipaksa" mengekor pada Abah. hingga kami berjarak. Ia sering dibawa Abah kalau sedang mengisi kajian, sering harus mengikuti kehendak Abah. Sementara aku terbiasa bebas dan selalu menjaga jarak dengan Abah.

Kalau ku pikir-pikir, bang Sigit cukup kasihan sebenarnya. Ia dulu pernah mengatakan ingin menjadi pemain bola, tapi Abah marah besar, Abah ingin ia jadi ustadz juga. Makanya Abah selalu membawa Abang kemanapun Abah mengisi kajian. Bang Sigit dipaksa menyukai semua yang Abah sukai, menjauh apapun yang tidak Abah sukai, termasuk bola.

Aku pernah melihat dengan mata kepala sendiri, Bang Sigit dipukuli Abah karena ia lebih memilih ekskul bola ketimbang les bahasa Arab. Baju, sepatu dan bola yang ia beli dengan tabungannya sendiri pun habis dihancurkan Abah. Kondisinya saat itu sangat menyedihkan, tapi gak ada seorangpun di rumah yang berani membela apalagi menolongnya, bisa-bisa berbalik malah jadi bahan amukan Abah selanjutnya. Kami hanya bisa menonton dari balik jendela kamar masing-masing.

Kedatanganku kali ini, selain ingin ziarah juga ingin menceritakan tentang Yohana dan Alif. Juga tentang perasaanku padanya yang sudah tidak marah lagi. Aku sudah merelakan semuanya hingga bang Sigit bisa pergi dengan tenang. Aku sebenarnya menyesal, baru bisa ikhlas setelah beberapa waktu, namun ini jauh lebih baik dari pada menyimpan dendam untuk selamanya.

Dulu, sehari setelah menikah, bang Sigit pernah berusaha menemuiku, tapi aku menolaknya mentah-mentah. Bahkan aku mengamuk, mengusirnya dari kosanku. Aku benar-benar benci dan marah sebab ia tak jauh beda dengan Yohana. Menghancurkan cinta dan harapanku. Bang Sigit yang sempat menangis akhirnya pergi meninggalkan kosanku dan sejak itu kami tak pernah lagi bertegur sapa.

Motor ku parkir di depan, aku berjalan menuju makan bang Sigit yang berada paling pojok. Meski baru ke sana, tapi aku cukup hafal tempat peristirahatan terakhir abangku itu.

Beberapa blok lagi menuju makam bang Sigit, langkahku terhenti. Ada Abah di sana. Tengah duduk, menatap batu nisan bang Sigit. Yang membuatku langsung bersembunyi adalah karena melihat Abah menangis dengan mulut bergerak-gerak seperti sedang bercakap-cakap, tapi entah Abah mengatakan apa, karena jarak yang lumayan dan suara Abah sangat pekan membuatku tak bisa mendengarkan.

Aku tak salah lihat. Abah benar-benar menangis. Ia membelai lembut batu nisan Abang seperti membelai kepala bang Sigit. Apa ini? Ini adalah sisi lain Abah yang tak pernah aku ketahui sebelumnya. Dua puluh empat tahun aku hidup sebagai anak Abah, tak pernah kulihat laki-laki keras kepala itu menitikkan air mata, bahkan saat bang Sigit meninggal dunia. Abah seperti biasa, melengos, meninggalkan kami yang otomatis menangis, sementara jika ada tamu yang ia rasa patut dihormati maka barulah ia akan menemui dan mengajak bicara.

Ku pikir, kepergian Abang yang tiba-tiba bisa membuat Abah berubah. Tapi tidak, laki-laki itu tetap berkepala batu. Ia tetap diktator yang memaksakan kehendaknya pada kami Keluarganya. Tak ada yang berubah dan sepertinya ia memang tak punya hati dan akan seperti itu untuk selamanya.

Abah masih khusyu di depan makan bang Sigit. Ia masih menangis. Aku semakin penasaran apa yang membuat Abah melakukan semua itu. Baru hendak memperbaiki posisi mengintip, tiba-tiba Abah bangkit, membuat jantungku berdebar, takut ketahuan Abah dan jadi masalah baru. Padahal tujuan kepulanganku untuk memperbaiki hubungan dengan semua anggota keluarga, terutama Abah. Memang kata orang susah mengubah sifat orang, tapi tak ada salahnya mencoba.

Setelah Abah pergi, aku mendekati makam abangku. Lelaki yang darahnya sama dengan darahku, tapi tak pernah dekat denganku. Aku mengusap nisannya. Tak terasa air mata pun mengalir.

"Bang ... Ben rindu," kataku. "Abang, andai saja waktu bisa diputar, Ben ingin dekat dengan Abang. Ingin memperbaiki hubungan kita yang terasa asing. Sayangnya semua sudah sangat terlambat. Bahkan mengucapkan selamat tinggal saja aku gak bisa, bang. Sekarang aku menyesal, bang. Tapi aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan membuat keluarga kita jadi lebih baik lagi ke depannya. Abang ... tenang di sana ya. Aku berdoa agar Abang mendapatkan tempat terbaik. Aku juga akan berusaha menjaga anak Abang dengan baik. Saat ini ia sebatang kara, setelah Abang pergi, ibunya pun pergi. Tapi tenang, bang, ada aku juga, yang meski tak akan pernah bisa mengganti posisi Abang di hatinya, tapi aku akan berusaha menjadi om yang baik untuk Alif " kataku. Bulir-bulir bening yang sudah terlanjur jatuh kini ku seka dengan tangan kanan. Seikat mawar yang tadi ku beli di depan kini telah berada di atas batu nisan bang Sigit, tapi ketika aku hendak bangkit, mataku tertuju pada sesuatu yang ada di samping kakiku. Buku bersampul hitam.

1
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
nah itu, hidup itu adalah pilihan. cari jalan sendiri ben
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
berasa abah dia itu makhluk yang sempurna, dia ngerasa betul sendiri
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
itulah kelemahan bundamu, terlalu nurut. surga nya istri ada di ridho suami, tapi bukan untuk di siksa atau di sakiti hati nya 🙄
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
coba di selidiki ben
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
abahku teu boga otak, agama di no satu kan, semua agama, dia sendiri sudah berkelakuan seperti yang di ajar kan agama?
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
agama pake alasan 🤦‍♀️
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
padahal kalau di lawan kalah tenaga tuh, wkwkwk ngajarin gak bener aku🤦‍♀️
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
malangnya nasib mu Ben, paling menyebalkan punya ayah diktator punya ibu yang gak bisa membela, nasib kita kok sama ya🥲
Nurrosi Qolby
Luar biasa
Badai Putih
Seru banget episode yang ini.. jangan lama-lama update bab barunya ya
NewJerseyJack
Lanjut dong Thor! Aku mah nangis kalau cerita ini gak lanjut :(
monsoonblooms
thor up nya jan lama" yaaahhh😃 ⓈⒺⓂⒶⓃⒼⒶⓉ ⓉⒽⓄⓇ 🔥🔥
MouthofMexico
Thor udah ga tahan nih pengen baca bab baru hihi
Nightingale Soakage
Iiiii ditunggu kelanjutannya! *baru kali ini aku ninggalin jejak nih uwuwuwu
Yuni Rahma
lanjut
Yuni Rahma
cerita nya bagus, tetap semangat nulis thor. d tunggu up ny
Yuni Rahma
Ben jd laki g peka bgt sih, setiap masalah yg ada krn ketidak pekaan dia.
Arkana
up thor
Nova
ichhhhh tambah penasaran....ayooooo kak othor.....up lg...jgn Ampe aku sakit Krn penasaran
Nova
aduchhhh si abah.....kgk ada sopan santunnya ya...ngusir tamu seenaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!