Sebuah kisah yang menceritakan perjalanan seorang anak yang harus menghadapi kepahitan dalam hidup, berjuang dan di asingkan oleh keluarga kandungnya demi menyelamatkan dan mempertahankan identitas dirinya.
Dia adalah Griffin, seorang anak yang harus merasakan sakitnya hidup dalam pembullyan orang-orang sekitar, serta perjuangan yang mengharuskanya hidup di tengah kondisi yang sangat menyedihkan.
Dia hanya tinggal bersama dengan kakeknya, Jesper. Bahkan, dia tidak di perbolehkan untuk mengetahui wajah orang tua kandungnya.
"Kakek, mengapa aku tidak boleh mengenal orang tua ku ?" tanyanya setiap kali merasa sesak ketika melihat teman-temannya berjalan dengan orang tua mereka.
"Suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya Griffin, berjuanglah," balas Jesper dengan tersenyum lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrieta rendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji dan Sumpah
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
“Lord apa yang kamu lakukan-?” tanya Jesper yang merasa tidak enak dengan Arvan yang notabenya adalah penguasa nomor satu Dunia, kini berlutut di hadapanya yang posisnya jauh di bawah.
Arvan hanya diam dan mengambil kedua tangan Jesper, lalu meletakanya di atas kepala miliknya.
“Berjanjilah dan bersumpahlah! Kamu akan merawat dan menjaganya seperti dulu kamu menjaga Alson, aku memohon kepadamu, untuk cucu kita Griffin.” Pintanya dengan bersungguh-sungguh.
Tanpa dia sadari jika perilakunya seperti ini, membuat yang lainya merasa kecewa akan sikap Arvan yang menurut mereka sudah terlalu berlebihan.
“Aku berjanji dan bersumpah Lord. Akan merawat dan menjaga serta membesarkan Griffin dengan segenap jiwa dan ragaku, bahkan nyawaku akan di pertaruhkan jika terjadi sesuatu yang buruk di kemudian hari,” Jesper mengucapkan sumpah dan Janjinya dengan penuh keyakinan, tanpa sedikitpun ada keraguan atau kebohongan dari sorot matanya itu.
Arvan tersenyum canggung mendengar sumpah yang keluar itu.
“Baiklah, sudah waktunya kita berdoa kepada Jesus untuk memberkati dan menyertai setiap langkah Griffin,” seru Mario yang mulai memimpin bimbingan doa penyertaan yang di hadapkan oleh salib dan patung Jesus di hadapan mereka.
Yang lainya menganggukan kepalanya setuju, kecuali Valen yang menyingkir karna dia merupakan satu-satunya muslim yang berada di ruangan itu.
Sedangkan Zein, masih mengikuti aliran Kristiani mengikuti agama Papahnya yang di ajarkan oleh Mario dan Eden, serta Stella dan Arnon yang juga menjadi orang tua bagi Zein.
Jenni berusaha tersenyum menggengam tangan putranya Alson, “ayo anak, kita berdoa pada Jesus agar menyertai dan memberikan kasihnya kepada Griffin kita.” Ucap Jenni dengan lembut kepada putra pertamanya Alson, kakak kembar dari mendiang Albert.
Alson tersenyum menangkupkan tanganya, untuk berdoa bersungguh-sungguh. “Ayo Mah, kita serahkan semua pada keajaiban tanganya,” Balas Alson dengan ramah.
Dan ketika seluruhnya mulai menangkupkan tangan dan ingin berdoa bersungguh-sungguh. Berbeda dengan Arvan yang menatap Pahatan Salib dengan penuh kebencian.
Mario yang melihat itu langsung mendekat ke arah Arvan. “Apakah kamu tidak ingin berdoa bersama-sama untuk memberikan berkatmu oada cucu kita Van?” tanya Mario dengan ramah.
Namun Arvan hanya diam dan menatap kepada Jesus dengan penuh kebencian, “aku tidak akan lagi mengakuinya,” jawabnya lalu pergi melangkahkan kakinya keluar, membiarkan yang lainya berdoa terlebih dahulu.
Mario dan Jenni hanya saling memandang dan mencoba untuk mehami suasana.
“Baiklah, mari kita berdoa kepada Jesus kristus agar selalu mengiringi perjalan Baby kita.” Seru Mario yang mulai memimpin doa ini.
Dan terlihat masing-masing dari mereka telah menangkupkan tanganya serta memejamkan matanya masing-masing, berdoa dengan segenap hati yang tulus .
“Ya Kristus, betapa baiknya Engkau kepada kami, karna telah menganugerahkan bayi yang begitu baik dan lucu, terima kasih karna telah mempercayakan dia kepada kami keluarganya untuk mengasuh dan mendidiknya. Tuhan jadikanlah dia sosok yang akan selalu berbakti dan selalu ingat akan Engkau. Namun tentu selama perjalanan hidupnya ini, pastinya akan ada banyak rintangan dan penuh tantangan lain ke depanya, baik dalam lingkungan tempat tinggal,sekolah maupun pecintaan. Bersama masyarakat yang lain maupun dengan pasangannya, jadikanlah Griffil kami sebagai anak yang kuat dan sabar dalam menghadapi kesulitan apapun. Tuhan saat ini kami sudah tidak bisa terus merawat dan mengawasi Griffin kami, dan sudah saatnya kami melepaskanya di pengasingan untuk kedamaian dirinya sendiri. Untuk itu,dengan segala kerendahan hati kami memohon kepada-Mu agar mau menyertai dan memberikan bekatmu di setiap perjalanan langkah kehidupanya, agar dia bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas,kuat serta memiliki hati yang besar untuk menghargai orang lain. Kami hanya ingin Griffin kamu tumbuh menjadi anak yang baik di lingkungan masyarakatnya nanti. Ya Kristus, hanya kepada-Mu kami bisa berharap, dengan segala kelapangan hati kami memohon agar Griffin kami bisa dibimbing dan di bantu oleh-Mu agar selallu selamat di manapun dan kapanpun di jauhkan dari marabahaya dan tindak kejahatan dari musuh lainya. Dalam nama Tuhan Jesus kami berdoa, Ameeenn,” doa Mario yang telah selesai di nyatakan.
“Amennn.” Sahut mereka serentak.
Mario dan Eden kembali tersenyum menatap dan bermain bersama dengan Griffin.
Perpisahaan ini benar-benar sangat berat bagi mereka, walaupun ini hanya sementara namun Mario merasa sangat gagal menjadi seoarang Daddy dan Kakek untuk putri dan cucunya.
Bukan hanya Arvan yang merasa bersalah karna hal ini, namun Mario jauh lebih bersalah karna pada malam penyerangan itu dia tidak berhasil menyelamatkan putri dan menantunya.
“Apakah kalian sudah selesai,” seru Arvan yang kembali masuk ke dalam ruangan, setelah melihat mereka semua telah selesai berdoa.
Mario dan lainya langsung menjawab dengan menganggukan kepalanya lemah.
“Baiklah, James,Martin dan Vincent kalian bisa pergi terlebih dahulu menggunakan Jet number 293, dan sampai di sana kalian akan di arahkan oleh orang suruhan ku yang akan mengantarkan kalian ke tempat pemberkataan yang sudah saya siapkan untuk pernikahaan kalian. Dan setelah itu kalian akan membawa istri kalian masing-masing ke rumah yang juga sudah saya siapkan.” Ucap Arvan dengan penuh penekanan menjelaskanya kepada tiga sahabat putranya ini.
“Baik Lord,” jawab mereka serentak dengam penuh kehormatan.
Arvan memandang sendu kembali ke arah mereka, “jangan pernah berkhianat, ingatlah jika Griffin adalah keponakan kalian, jaga dia dengan sebaik mungkin, anggap saja ini adalah sebuah penghormatan terkakhir unyk Albert putraku.” Seru Arvan lagi, dengan sedikit tersenyum menahan air matanya yang ingin tumpah kembali.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*